Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam

Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam

Pasca dikhianati, Amara dijebak sahabatnya dalam satu malam penuh gairah di Michigan hingga ia hamil. Empat tahun kemudian, Amara yang telah menjadi dokter bedah membawa putranya, Ethan, memulai hidup baru di New York. Di sana, ia bertemu Damian Sinclair, dokter bedah anak yang aromanya membangkitkan memori lama. Namun, Damian bukanlah sosok penyelamat; ia justru menyimpan dendam mendalam dan bertekad membalas luka masa lalunya kepada Amara.
Bab
Bagikan

Bab 3

Amara berjalan menyusuri trotoar yang basah oleh hujan ringan, payung hitam di tangan menahan air yang menetes. Kota New York terlihat berbeda dalam hujan; lampu jalanan memantul di permukaan aspal, membentuk garis-garis cahaya yang bergerak seiring langkahnya. Suasana dingin dan lembab tidak membuatnya nyaman, tapi ia merasa lebih aman di luar daripada menatap bayangan yang selalu menghantui apartemennya.

Ethan berjalan di sampingnya, jaketnya kebesaran sedikit, topi hujan tergelincir dari kepalanya. "Mama, aku ingin punya teman baru di sekolah. Tapi aku takut..." katanya pelan, suara hampir tenggelam oleh hujan yang rintik.

Amara tersenyum tipis, menahan rasa sakit di dada. "Aku tahu, sayang. Tapi kadang, kita harus berani mengambil langkah pertama. Aku akan selalu ada di sisimu, oke?"

Mereka berjalan di bawah payung bersama-sama, namun setiap langkah Amara terasa berat. Ketika ia menatap ke jalan, bayangan Damian muncul di ingatannya, wajahnya tenang tetapi mata itu penuh rahasia. Ia tidak tahu bagaimana pria itu selalu bisa muncul di pikirannya, seperti hantu yang terus mengikuti.

Keesokan harinya, Amara menghadapi jadwal yang padat di rumah sakit. Ada pasien baru yang harus segera diperiksa: seorang gadis kecil yang mengalami gangguan pencernaan kompleks. Orang tua pasien tampak panik, berbisik-bisik, dan menatap Amara dengan harapan yang menekan.

Damian Sinclair muncul tanpa permisi, membawa dokumen medis yang tampak penting. "Dr. Amara, aku ingin melihat rencana perawatan untuk pasien ini. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan." Suaranya lembut tapi tajam, membuat Amara menelan ludah.

Ia menyadari satu hal: Damian bukan hanya hadir secara fisik. Ia selalu memengaruhi setiap keputusan yang Amara buat, seolah-olah menguji ketahanan dan profesionalismenya.

Selama pemeriksaan, Amara mencoba tetap fokus. Namun Damian berdiri di sisi lain ruangan, menatap catatannya, menatapnya, kadang menanyakan pertanyaan yang terdengar profesional, tapi selalu ada lapisan makna yang tidak bisa Amara baca. Perasaan terancam, penasaran, dan cemas bercampur menjadi satu.

Setelah selesai, Amara pergi ke kantin untuk minum kopi. Hujan telah reda, tetapi kota masih basah dan dingin. Ia duduk di sudut, mencoba mengatur napas. Laptop di mejanya menampilkan laporan medis yang belum selesai, tetapi pikirannya tidak bisa fokus.

Tiba-tiba, Damian muncul lagi. "Dr. Amara, kau tampak kelelahan. Istirahat sebentar tidak apa-apa." Suaranya tenang, wajahnya tidak menunjukkan emosi, tetapi matanya tetap memantau setiap gerak Amara.

Amara menatap pria itu, merasa ada perasaan aneh yang sulit diungkapkan. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat, tetapi suaranya terdengar lebih lemah daripada yang ia inginkan.

Damian duduk di meja seberang, tidak berbicara lagi. Hanya menatap Amara, diam tapi penuh tekanan psikologis. Ia tidak memberikan komentar atau saran lagi, tetapi kehadirannya sendiri cukup membuat Amara merasa waspada.

Sore itu, Amara pulang lebih cepat dari biasanya. Ethan menunggu di balkon apartemen mereka, wajahnya cemas. "Mama, ada orang dewasa yang menunggu di luar sekolahku lagi..." katanya pelan.

Amara terkejut. "Siapa, sayang?"

Ethan menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu. Dia selalu menunggu di ujung jalan. Tapi matanya... seperti dia tahu banyak hal tentang kita."

Amara menelan ludah. Rasa takutnya meningkat. Ia tahu masa lalunya dan kehadiran Damian mulai memengaruhi keamanan mereka. Ia memeluk Ethan erat, mencoba menenangkan dirinya sendiri juga.

Malam itu, Amara duduk di ruang tamu, menatap kota yang gemerlap dari jendela. Teleponnya bergetar-pesan dari kolega:

"Hati-hati dengan interaksimu dengan Dr. Sinclair. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan aku rasa ini lebih dari sekadar profesionalisme."

Amara menutup mata, mencoba menenangkan perasaan yang bercampur antara rasa takut, penasaran, dan marah. Ia menyadari satu hal: tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengabaikan Damian, tetapi ia harus menemukan cara untuk menghadapi pria itu.

Hari berikutnya, Amara kembali ke rumah sakit. Ia menemukan Damian sedang menunggu di ruang konferensi, menatap data pasien baru dengan serius.

"Dr. Amara, kita perlu diskusi mengenai kasus yang kompleks ini," katanya. "Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, dan aku ingin memastikan kau setuju dengan setiap langkah yang akan diambil."

Amara duduk di meja seberang, menatap dokumen. Ia merasakan ketegangan yang meningkat, bukan karena pasien, tapi karena cara Damian menatapnya-tidak hanya sebagai rekan kerja, tetapi seperti seseorang yang memahami lebih banyak daripada yang seharusnya ia ketahui.

Seiring diskusi berlangsung, Amara mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar ketegangan profesional. Ada rasa bahwa setiap gerakannya diperhatikan, dianalisis, dan dinilai. Ia harus berhati-hati, tidak bisa membuat kesalahan, tetapi juga harus tetap tegas.

Setelah diskusi selesai, Damian berdiri, menatap Amara. "Dr. Amara, kau luar biasa. Tapi aku penasaran-apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari semua orang?"

Amara menelan ludah. "Aku tidak menyembunyikan apa pun." Suaranya terdengar mantap, tapi hatinya berdebar.

Damian tersenyum tipis, bukan senyum hangat, tetapi senyum yang penuh misteri dan teka-teki. "Kau selalu mengatakan itu," katanya. "Tapi aku bisa merasakan lebih dari kata-kata."

Malam itu, Amara pulang dengan perasaan campur aduk. Ethan tertidur, tapi matanya menangkap bayangan Damian di pikirannya. Ia menyadari satu hal: Damian bukan hanya seorang dokter yang cerdas, ia adalah ancaman yang tersembunyi, bayangan yang bisa menembus kehidupan mereka tanpa terlihat.

Beberapa hari berikutnya, ketegangan semakin meningkat. Damian selalu ada di tempat yang sama dengan Amara-di laboratorium, di ruang konsultasi, bahkan di aula rumah sakit saat Amara harus menghadiri rapat staf. Tidak ada kontak fisik, tidak ada kata-kata kasar, tetapi kehadirannya selalu terasa.

Amara mulai merasa lelah, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Setiap keputusan, setiap gerakan, seolah-olah diatur dan dinilai. Ia mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri, meskipun ia tahu bahwa ia adalah dokter yang kompeten.

Suatu malam, Amara duduk sendirian di balkon, menatap kota yang tak pernah tidur. Lampu-lampu berkelap-kelip, tapi hatinya terasa gelap. Ia tahu satu hal: permainan Damian baru saja dimulai, dan tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali Amara menemukan cara untuk menghadapi bayangan itu sebelum terlambat.

Di sisi lain kota, Damian menatap foto lama Amara, tersenyum tipis. "Kau tidak akan bisa menghindar selamanya," gumamnya. "Suatu hari nanti, kau akan menyadari bahwa masa lalu yang kau pikir terkubur, sebenarnya masih hidup... dan aku yang akan menyalakan kembali luka itu."

Dan malam itu, Amara menyadari satu hal yang menakutkan: hidupnya dan Ethan perlahan-lahan terjerat dalam jaringan yang Damian buat, dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk melepaskan diri, kecuali ia berani menghadapi bayangan masa lalu yang kini berjalan di sisinya.

Hujan deras menimpa jendela apartemen Amara, membasahi balkon dan menimbulkan bunyi ritmis yang hampir menenangkan, tapi hatinya tetap gelisah. Ethan duduk di lantai, menyusun puzzle, wajahnya serius, tapi sesekali menoleh ke ibunya dengan mata yang penuh pertanyaan.

“Mama, kenapa kamu selalu tampak khawatir sekarang?” tanya Ethan tiba-tiba.

Amara menatap putranya, menelan ludah. “Mama… hanya memikirkan pekerjaan dan sekolahmu, sayang,” jawabnya pelan, mencoba menutupi rasa takut yang kian menumpuk.

Namun Amara tahu, ada hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan pada Ethan. Bayangan Damian Sinclair semakin nyata dalam hidup mereka. Bukan hanya di rumah sakit atau di jalanan kota, tetapi di pikirannya sendiri, menimbulkan ketegangan yang sulit diabaikan.

Keesokan harinya, Amara memasuki rumah sakit lebih awal dari biasanya. Ruangan masih sepi, aroma antiseptik menyengat, dan lampu neon memberikan cahaya putih yang membuat suasana terasa dingin.

Saat ia menuju kantin untuk secangkir kopi, ia merasakan sesuatu yang aneh—bayangan seseorang di ujung koridor. Matanya menangkap jas putih yang familier. Damian Sinclair berdiri, menatapnya dengan mata yang tak mudah dibaca.

“Selamat pagi, Dr. Amara,” suaranya terdengar ringan, namun ada tekanan halus yang membuat Amara menelan ludah.

“Selamat pagi,” jawab Amara singkat, mencoba tetap profesional dan mengabaikan perasaan gelisah yang mulai muncul.

Damian berjalan mendekat, tidak berbicara lebih banyak, hanya berdiri di samping Amara, menatapnya dengan intens. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada gestur agresif—tetapi kehadirannya cukup untuk membuat Amara merasa tegang, seolah seluruh dunia mengerucut pada satu titik: dirinya.

Setelah beberapa saat, Damian meninggalkan kantin tanpa sepatah kata lagi. Amara menatap punggungnya pergi, merasakan ketegangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Shift pagi berjalan tanpa insiden besar, tetapi rasa waspada Amara meningkat. Ia mulai menyadari bahwa Damian bukan sekadar rekan kerja—ia adalah bayangan yang selalu mengikuti setiap langkahnya. Bahkan cara Damian menatap, cara ia berbicara, semuanya dirancang untuk memengaruhi psikologis Amara.

Siang hari, Amara kembali ke ruang konsultasi. Ia menemukan Ethan sedang bermain di sudut ruang keluarga rumah sakit, ditemani seorang volunteer. Matanya mencari Amara, lalu tersenyum tipis.

“Sudah makan siang, sayang?” tanya Amara, duduk di kursi dekatnya.

“Sudah, Mama. Tapi aku takut… tadi ada pria yang melihat kita dari jendela,” jawab Ethan. Suaranya terdengar polos, tetapi ada ketakutan di baliknya.

Amara menelan ludah, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu Ethan mulai menangkap ketegangan yang ia rasakan sendiri. “Mama akan selalu menjagamu, Ethan. Tidak ada yang akan menyakitimu, aku janji,” ucapnya, memeluk putranya erat.

Malam itu, Amara duduk di balkon apartemen, menatap hujan yang mereda. Teleponnya bergetar, menampilkan pesan dari Dr. Harper:

“Hati-hati. Aku yakin Damian tidak sekadar ingin profesionalisme. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan itu berhubungan denganmu secara pribadi.”

Amara menutup mata, menarik napas panjang. Setiap kata terasa seperti alarm di dalam pikirannya. Ia tahu bahwa sesuatu dari masa lalunya sedang muncul kembali, lebih dekat, dan lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Hari berikutnya, rumah sakit dipenuhi kegaduhan ketika seorang pasien kritis masuk ke ruang ICU. Amara harus menangani kasus ini seorang diri sementara Damian mengawasi dari sisi lain ruangan, memberi arahan halus yang terdengar profesional tetapi membawa tekanan psikologis terselubung.

“Dr. Amara, pertimbangkan opsi ini,” katanya, suaranya tenang tapi intens. “Jangan terburu-buru, tapi pastikan setiap langkah diperhitungkan.”

Amara menatap Damian, merasa ada kombinasi antara rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih gelap di matanya. Ia mencoba fokus pada pasien, tetapi setiap kata Damian menimbulkan ketegangan dalam dadanya.

Setelah shift selesai, Amara pulang dengan perasaan campur aduk. Ethan menunggunya di balkon, wajahnya pucat sedikit karena hujan tadi.

“Mama… aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria itu,” kata Ethan pelan, matanya menatap ibunya.

Amara menelan ludah, merasakan rasa takut yang meningkat. Ia tahu Ethan mulai menangkap ketegangan yang selama ini ia sembunyikan. “Mama akan pastikan semuanya baik-baik saja, Ethan. Percayalah,” ucapnya, meskipun hatinya sendiri ragu.

Di sisi lain kota, Damian menatap foto Amara lama di ponselnya. “Dia akan merasakan apa yang dulu ia sebabkan,” gumamnya, suara serak tipis. “Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghindar.”

Beberapa hari berikutnya, ketegangan semakin nyata. Damian muncul di hampir setiap lokasi rumah sakit di mana Amara berada—kantin, ruang observasi, laboratorium. Tidak ada kontak fisik, tidak ada kata-kata kasar, tetapi kehadirannya selalu membuat Amara merasa diawasi dan dinilai.

Amara mulai merasa lelah secara mental. Setiap langkahnya, setiap keputusan medis, bahkan interaksi kecil dengan pasien, terasa seakan diuji. Ia mulai meragukan dirinya sendiri meskipun ia tahu kompetensinya.

Malam itu, Amara menatap Ethan yang tertidur, wajahnya polos dan damai. Ia merasakan tekanan di dadanya—tidak hanya sebagai ibu, tetapi sebagai seseorang yang harus melindungi masa depan anaknya dari bayangan masa lalu yang kini muncul dalam bentuk Damian Sinclair.

Ia membuka kotak lama berisi dokumen, foto, dan catatan dari malam yang telah ia lupakan sebagian. Membaca kembali, ia merasakan denyut yang familiar dan asing sekaligus. Ia tahu satu hal: Damian bukan sekadar dokter yang kompeten, tetapi bayangan masa lalu yang membawa ancaman tersembunyi.

Dan di malam yang sunyi itu, Amara menyadari satu hal menakutkan: Ethan dan dirinya perlahan-lahan terjerat dalam permainan psikologis yang dirancang Damian. Setiap langkah mereka, setiap keputusan, dan setiap detik kehidupan mereka kini berada di bawah pengawasan seorang pria yang menyimpan dendam, rahasia, dan rencana gelap yang belum terungkap sepenuhnya.

Amara menarik selimut lebih rapat di tubuhnya, menatap kota yang berkilauan dari jendela, dan berbisik pada dirinya sendiri: “Aku harus melindungi kita… apapun yang terjadi.”

Namun ia tidak tahu, permainan Damian baru saja memasuki tahap yang lebih berbahaya, dan satu kesalahan bisa menghancurkan dunia yang ia bangun bersama Ethan selama empat tahun terakhir.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Havva, gadis 17 tahun asal desa kecil di Ankara, terpaksa menikahi Irlan demi membiayai pengobatan ibunya dan meringankan beban ayahnya. Irlan yang kaya raya jatuh hati pada kecantikan alami Havva saat berlibur di penginapan tempat ayah Havva bekerja. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk karena Irlan sudah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis dan sinis, terus mengintimidasi Havva. Mampukah gadis polos ini bertahan di tengah tekanan istri tua?
Sampul Novel Diatas Ranjang Papa Angkatku
9.5
Bianca dibesarkan oleh Emanuel Carlos, pemimpin mafia kejam yang menghabisi keluarganya. Tumbuh menjadi gadis cantik, Bianca mengira Emanuel adalah ayah kandungnya meski pria itu selalu bersikap dingin dan acuh. Namun, rahasia besar terungkap bahwa ia hanyalah anak angkat. Bukannya menjauh, Bianca justru kian terobsesi menaklukkan hati pria tampan itu. Di tengah sikap keras Emanuel, Bianca bertekad mengubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih.
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Sampul Novel Istriku Punya Nama
7.9
Hananan, gadis mandiri berusia 25 tahun, terkejut saat mengetahui dirinya bukan anak kandung keluarga petani yang membesarkannya. Hidupnya berubah drastis ketika dijemput paksa ke sebuah rumah mewah, bukan untuk disambut hangat, melainkan dipaksa menggantikan adik kembarnya, Nazia, yang kabur demi cinta. Ia harus menikahi pengusaha kaya sebagai pengganti. Tanpa kasih sayang orang tua kandungnya, mampukah Hananan menemukan kebahagiaan sejati?