
Perjanjian Rahim
Bab 3
Pagi itu, Calista duduk termenung di balik jendela apartemennya. Hujan rintik-rintik menetes perlahan, seolah turut mengiringi gelombang perasaannya yang sedang kacau. Pesan terakhir yang diterimanya seperti bayang-bayang gelap yang terus menghantuinya. Ancaman yang tidak hanya mengancam masa depan anak dalam rahimnya, tapi juga nyawanya sendiri.
Ia tahu, jika ingin selamat dan melindungi bayi yang ia kandung, ia harus berani menghadapi semuanya-Mireya, Darian, bahkan keluarganya sendiri.
Pikiran Calista berkecamuk. Keputusan untuk melawan bukan sesuatu yang mudah, apalagi dengan keadaan dirinya yang semakin rapuh secara fisik dan mental. Namun, ia tidak ingin menjadi pion dalam permainan kotor itu.
Ia mengangkat telepon dan menghubungi Raka.
"Kau harus bantu aku, Raka," suaranya lirih tapi penuh tekad. "Aku perlu bukti-bukti. Bukti bahwa Mireya dan Darian punya agenda tersembunyi. Ini sudah bukan soal aku lagi. Ini soal nyawa anakku."
Raka mengerti betapa seriusnya situasi ini. "Tenang, aku akan cari apa saja yang bisa aku temukan. Tapi kau juga harus jaga diri, jangan sampai mereka curiga."
Dalam hitungan jam, Raka mengirimkan serangkaian dokumen digital dan rekaman suara yang berhasil dia ambil secara diam-diam. Calista membukanya dengan tangan gemetar. Di sana, ia menemukan bukti-bukti yang mengerikan: percakapan rahasia antara Mireya dan seseorang yang diduga kuat adalah rival bisnis keluarga Darian, rencana-rencana manipulasi, bahkan bukti bahwa bayi yang ia kandung bisa menjadi alat untuk mengamankan aliansi gelap.
Air mata mengalir tanpa henti. Semua yang selama ini ia jalani ternyata hanyalah bagian dari skema yang jauh lebih kejam daripada yang ia bayangkan.
Sementara itu, Mireya tidak tinggal diam. Ia tahu Calista mulai mencari-cari bukti dan berusaha melawan. Di balik senyum dinginnya, Mireya merancang strategi baru untuk menjatuhkan Calista.
Di sebuah pertemuan rahasia dengan Darian dan seorang pria bertubuh besar, Mireya berbicara dengan suara dingin dan penuh perhitungan.
"Kita harus hentikan Calista sebelum dia buka semua ini ke publik. Jika bocor, bisnis keluarga kita bisa hancur. Anak itu harus tetap jadi kartu kita," ujarnya.
Darian mengangguk, namun ada keraguan di matanya. "Aku tidak yakin. Aku mulai merasakan hal lain tentang Calista. Aku tidak ingin menyakiti dia."
Mireya menatap Darian dengan tajam. "Jangan bodoh. Ini bukan soal perasaan. Ini soal bertahan."
Hari-hari berlalu, dan ketegangan antara Calista dan Mireya semakin menjadi-jadi. Calista yang merasa dikhianati semakin kuat melawan, bahkan mulai mendekati Darian dengan cara berbeda.
Suatu sore, saat Darian datang menjenguknya di apartemen, Calista menatapnya dalam-dalam.
"Kau bilang kau peduli, tapi kenapa kau biarkan semuanya terjadi? Kenapa kau pilih Mireya daripada aku?" tanyanya dengan suara bergetar.
Darian terdiam sejenak. "Aku terjebak di antara dua dunia, Cal. Mireya adalah bagian dari keluargaku, dan aku punya tanggung jawab yang berat."
Calista menggenggam tangan Darian erat. "Aku hanya ingin kau jujur. Aku ingin tahu siapa sebenarnya kau."
Darian menunduk, dan untuk pertama kalinya ia membuka hati.
"Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi aku janji, aku akan lindungi kamu dan anak kita."
Namun, di balik kata-kata itu, Calista tahu perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Mireya semakin agresif. Ia mulai menyebarkan rumor dan fitnah yang membuat Calista sulit percaya pada orang di sekitarnya.
Di kantor, para kolega mulai memandangnya dengan sinis. "Dia hanya boneka Mireya," bisik seorang rekan kerja.
Calista berusaha menahan sakit, tapi hatinya hancur. Ia mulai kehilangan dukungan, bahkan dari orang-orang yang ia anggap teman.
Satu malam, saat Calista sedang sendiri di apartemen, suara pintu diketuk keras. Jantungnya berdegup kencang. Saat membuka pintu, ia menemukan seseorang yang tidak ia sangka: Maya, adik Mireya yang selama ini jarang muncul.
Maya masuk dengan ekspresi serius. "Aku tahu apa yang terjadi, dan aku di sini untuk membantumu."
Calista terkejut, tapi juga sedikit lega. "Kenapa kau ingin bantu aku?"
Maya menatap lurus. "Karena aku benci semua kebohongan yang dibuat Mireya. Aku tidak mau keluarga kami hancur."
Maya mulai membocorkan rahasia keluarga yang selama ini tersembunyi rapat-rapat. Ternyata, Mireya sudah lama mengatur segalanya demi ambisinya sendiri, bahkan sampai mengorbankan Darian dan Calista.
Bersama Maya dan Raka, Calista mulai merancang strategi balas dendam yang akan membuka semua kebohongan dan menyelamatkan dirinya serta anaknya.
Tetapi di tengah perjuangan itu, Darian semakin menjauh. Ia terjebak dalam konflik batin yang semakin berat.
Suatu malam, Darian mengajak Calista bertemu di tempat yang sepi.
"Aku harus pergi untuk sementara," katanya berat.
Calista menggenggam tangannya. "Tinggalkan aku? Saat aku paling butuhmu?"
Darian menggeleng. "Ini untuk keselamatan kita semua, termasuk anak kita."
Dengan berat hati, Calista menerima kenyataan itu. Namun, kepergian Darian justru membuka peluang bagi Mireya untuk semakin menguasai segalanya.
Calista, Maya, dan Raka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.
Calista yang sendirian di apartemen, menerima sebuah paket misterius berisi sebuah USB berisi file rahasia yang bisa mengguncang seluruh kerajaan keluarga Darian.
"Ini saatnya semua kebenaran terbuka," pikir Calista dengan mata berapi-api.
Anda Mungkin Juga Suka





