
Perjalanan Cinta Si Cupu Yang Menjadi CEO
Bab 3
Bab 3
Drrrttt
Drrrttt
Gawai itu bergetar, tepat berada di samping bantal tidur Keyla. Ia sengaja, mengatur alarm di ponselnya tepat pukul enam pagi. Tangannya meraba, mencari benda tersebut. Sementara matanya masih terpejam.
Keyla masih merasa sangat mengantuk. Setelah tadi malam, ia memutuskan untuk begadang. Karena menonton episode terakhir dari drakor favoritnya tadi malam.
Berhasil meraih ponselnya, Keyla memilih mematikan alarmnya. Rasanya begitu mengusik telinga. Keyla malah memilih untuk tidur lagi. Padahal hari ini, adalah hari pertamanya bekerja.
“Huah! Masih terlalu pagi untuk bangun. Aku ingin tidur 15 menit lagi," tawarnya sambil menguap.
Satu jam berlalu. Matahari terbit sangat cerah pagi ini. Bunyi bising motor pun mulai terdengar lalu lalang, di pekarangan halaman depan rumah.
Terlihat juga lelaki paruh baya yang kini tengah memanaskan mesin motor. Mungkin usianya sekitar 45 tahun.
Lelaki itu ialah Pak Arman, ayah kandung Keyla. Arman lelaki yang bertanggung jawab dan rajin. Meski hanya memiliki satu putri, yang sudah dewasa. Ia masih memutuskan untuk tetap bekerja.
Arman tidak ingin, melimpahkan beban dan tanggung jawab keluarga kepada Keyla. Meski Keyla kini besar dan mandiri. Baginya, sampai kapanpun ia tetap kepala keluarga. Dan bertanggung jawab penuh atas keluarganya.
“Pak! Sarapan sudah siap. Ayo makan dulu!" ajak wanita yang kini usianya sudah tak muda lagi. Namun, masih terlihat cantik dan anggun. Separuh wajahnya sangat mirip dengan putrinya Keyla.
Diana Rose istri Pak Arman. Merupakan ibu kandung dari Keyla. Usianya terpaut, lebih muda 2 tahun dari suaminya. Diana adalah putri dari keturunan orang kaya di kampungnya. Dia adalah anak pemilik perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar.
Namun, Diana muda telah memilih menambatkan hatinya, pada Arman. Pemuda tampan sederhana, tetapi pemberani yang bersahaja. Yang pasti dia bertanggung jawab dan pekerja keras.
Kegigihan perjuangan cinta Arman, untuk mendapatkan Diana. Mampu meluluhkan hatinya. Namun ibunya, kala itu sempat menentang hubungan mereka.
Nenek Keyla takut, kalau Arman tidak bisa mencukupi nafkah pada putrinya Diana. Sebab, Arman hanyalah seorang montir motor, yang bekerja di bengkel kecil dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kini, Arman bisa membuktikan jika dirinya mampu dan layak disebut sebagai kepala keluarga. Nenek pernah menawarkan tinggal bersama di kampung. Dan semua biaya hidup di tanggung olehnya. Dari harta warisan yang melimpah peninggalan mendiang suaminya.
Namun Arman sama sekali tidak tertarik, menumpang hidup pada mertua. Ia yakin ia bisa. Dengan pengorbanan dan kerja kerasnya, untuk membahagiakan putrinya Keyla dan Diana istri tercinta.
Hal itu membuat Diana semakin jatuh hati pada Arman. Hingga akhirnya ia mantap untuk tinggal di kota, bersama anak dan suaminya.
Arman tersenyum sumringah, menatap istrinya di depan pintu. “Keyla mana, Bu?! Apa dia sudah bangun?”
“Belum, Pak! Sepertinya tadi malam dia begadang.”
Ya ampun Keyla! Ini sudah jam 7, Bu! Bukannya Keyla hari ini harus masuk bekerja?” timpal Arman menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu.
Diana mengernyit, “Oh iya, ya Pak! Aduh Keyla kebiasaan."
Diana menghampiri Keyla ke dalam kamarnya.
Sedangkan Arman ke dapur untuk sarapan.
“Keyla! Ayo bangun, sudah siang sayang!" bisik Diana lembut ke telinga putrinya. Keyla yang masih tengkurap mengucek matanya.
“Emh … memangnya sudah jam berapa Bu?”
“Jam 7 sayang!" bisiknya lagi.
Seketika mata Keyla terbelalak. ‘Hah jam tujuh!’
batin Keyla cemas.
“Aduh, Ibu! Kenapa tidak dari tadi membangunkan Keyla?!” gerutunya kesal. Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keyla membangkitkan tubuhnya. Dari kasur, dan menyingkap selimutnya.
“Ibu sibuk, Sayang! Ayo cepat mandi dan sarapan!” timpal Diana mengingatkan.
Byur … byur …
Keyla menyelesaikan mandinya, secepat kilat. Ia mengguyurkan air ke tubuhnya, sekenanya saja. Bahkan, rambutnya pun tidak basah. Tak sampai 5 menit Keyla keluar dari kamar mandi. Keyla terburu melilitkan handuk ke tubuhnya. Keluar kamar mandi dengan berlari.
“Keyla hati - hati!” teriak ibunya yang juga ada di dapur. Lantai rumah pun menjadi basah karena ulahnya.
Di kamar, selesai mengeringkan badannya dengan handuk. Keyla berlari menuju lemari. Ia bergegas, mengenakan kemeja kerjanya. Keyla memakai blouse berwarna putih cream. Di padu dengan rok hitam selutut. Membuatnya terlihat elegan.
Wanita ini beruntung, mempunyai ibu yang sangat baik. Yang begitu teliti memperhatikan semua kebutuhan putri cantiknya. Semua baju, dan pakaiannya tertata rapi di dalam lemari. Sehingga ia tinggal memilih dan menggunakannya saja. Di depan cermin, Keyla menyisir rambutnya yang sedikit kusut. Ia memberikan sedikit sentuhan hair spray. Karena rambutnya, yang kering terlihat seperti tidak mandi. Ia tidak percaya diri, jika harus berhadapan dengan Dion. Dengan tampilan kucel dan kusam.
“Hari ini kubiarkan saja rambutku tergerai," ucapnya sembari menepuk spons bedak tabur ke pipinya yang chubby.
“Aku tak punya banyak waktu untuk menatanya," sambungnya lagi sambil mengoleskan tipis, lipstik ke bibir dengan warna favoritnya yaitu pink cherry.
Selesai!
Keyla menutup riasannya. Dengan sedikit olesan maskara ke bulu matanya yang sudah lebat. Cantik! Wanita ini memang asli cantik.
Keyla meraih tas selempang yang ada di meja kamarnya. Langsung menuju ruang dapur. Di meja makan, sudah tersedia susu hangat dan roti selai bakar. Menu tiap hari yang selalu tersaji untuknya.
Keyla menghabiskan susunya dengan cepat. Matanya terus melirik jam di tangannya. Karena takut telat.
“Pelan - pelan sayang!” tegur Diana pada putrinya yang masih saja bersifat kekanak - kanakan. Usai meletakkan gelas, Keyla segera menghampiri ibunya untuk berpamitan.
“Keyla berangkat ya, Bu!" ucapnya manja sembari tersenyum centil mencium pipi ibunya.
“Rotinya di makan dulu sayang! Nanti maag kamu kambuh lo?!” paksa Diana lagi. Tetapi Keyla tidak menggubris ibunya. Ia malah meraih punggung jemari sang ibu dan menciumnya lagi.
“Sudah ya, Bu! Nanti Keyla terlambat," tolaknya. Sang ibu yang merasa gemas, dan tidak ingin berdebat mencubit lembut hidung Keyla. Ia memilih mengiyakan saja kemauan putrinya yang sedikit keras kepala karena sifat manjanya.
“Iya, Sayang! Hati - hati!”
Dengan langkah cepat Keyla menuju keluar rumah. Memakai high heelsnya. Ayahnya sedari tadi sudah menunggunya. Terlihat telah menaiki motor. “Ayo!” ajak ayahnya.
“Sabar, Yah!" pinta Keyla sedikit kesulitan memakai sepatu berhak tinggi tersebut, ke sepasang kakinya.
Mereka berdua berangkat berboncengan. Karena perjalanan mereka yang satu arah. Lagi pula Arman khawatir kalau harus melepas putri tunggalnya pergi sendirian. Pernah, tapi hanya sesekali.
Di pertengahan jalan. Sepertinya nasib kurang beruntung hari ini, di alami Keyla. Tiba - tiba saja, laju motor yang mereka bonceng bergerak kian lambat dan motor pun akhirnya terhenti mendadak.
Beberapa kali Arman mencoba menyalakannya, akan tetapi kuda besi tua itu, seolah merajuk. Karena usaha ayahnya tidak membuahkan hasil Keyla buru - buru turun, dan melepaskan helmnya.
“Duh! Kenapa, Yah motornya?” keluh Keyla cemberut. Tampak Arman mengerutkan keningnya, ia tengah berpikir.
“Ayah baru ingat kalau aki motornya sudah lama tidak diganti," jawab Arman merasa bersalah pada putrinya.
Keyla kembali melirik jam tangannya. Yang sudah hampir menunjukkan pukul 8.
“Jadi, Keyla harus bagaimana?”
“Mau bagaimana lagi? Kamu naik angkot saja! Ini masih setengah jalan lagi,” sahut Arman memaparkan.
Anda Mungkin Juga Suka





