
PERHIASAN TERKUTUK
Bab 2
Aku berusaha memejamkan mata. Kematian Budhe Sastro yang begitu mendadak, Bu RT yang di hantui budhe Sastro, Tum dan Bu Nur yang didatangi budhe Sastro membuatku gentar. Aku tahu mungkin semua memang salahku, tapi aku kan hanya perantara, ya kan?
Dulu budhe Sastro berjualan emas di pasar. Aku sering menjualkan emas di toko kecilnya. Kami berbisnis cukup lama. Setahuku budhe Sastro tidak suka menjadi tua. Dia tidak suka kulitnya berkeriput dan bergelambir. Budhe Sastro bercerita padaku kalau dia mendatangi seorang dukun di sebuah lereng gunung untuk membuatnya selalu cantik dan awet muda. Tapi ada syaratnya tentu saja. Dan syaratnya cukup berat.
"Kamu mau bantu, aku Sas?" tanya budhe.
Aku menelan ludah. Sulit sekali tugas yang harus kulakukan.
"Saya tidak tahu harus bagaimana budhe," jawabku jujur.
"Carikan aku wanita hamil, carikan saja. Kamu tidak perlu ngapa-ngapain lagi," jawab Budhe Sastro.
Sekali lagi aku menelan ludah.
"Wanita hamil itu mau diaPakan budhe?"
Budhe tersenyum.
"Aku butuh bayinya," jawabnya singkat.
"Untuk apa? Budhe nggak Pake pesugihan, kan?" tanyaku dengan gemetar. Pasti ada hubungannya dengan hal gaib, aku percaya itu.
"Sebenarnya aku butuh ibu dan bayinya, tapi sementara bayinya dulu tidak apa-apa," jawab Budhe Sastro ringan.
"Saya mau carikan, tapi budhe harus cerita dulu bayi dan ibunya itu mau diaPakan," jawabku tegas.
Budhe melihat ke arahku. Seperti sedang menilaiku.
"Apa kamu yakin mau dengar, Sas?"
Kami berpandangan. Aku tahu budhe Sastro melihat ketakutan di mataku.
"Baiklah kalau kamu mau tahu rencanaku. Aku butuh kafan bayi yang baru lahir. Kafan itu kusimpan dilemariku selama sebulan. Kalau sudah sebulan kafan itu akan kubuat baju dan kuPakaikan pada ibunya. Setelah itu akan menjadi muda lagi," bisik budhe Sastro, masih dengan santai.
Aku terhenyak. Apa tidak salah yang kudengar ini? Budhe sastro tersenyum mengejek.
"Baju dari kain kafan itu akan menyedot usia si ibu dan memberikannya kepadaku. Mungkin setelah aku berhasil aku bisa menjadi lebih muda lagi," kata budhe lagi.
Aku masih terhenyak. Hatiku berdesir, menahan takut, dan juga ragu. Karena sebenarnya tawaran Budhe Sastro benar-benar menggiurkanku.
"Mau nggak, Sas? Kamu, kan tinggal cari orang hamil di desa ini, beritahu padaku siapa saja. Nanti aku yang bertinda." Budhe Sastro melanjutkan sambil melinting rokok kreteknya.
Aku mengamati budhe Sastro merokok dengan gamang, dan kemudian tanpa kusadari aku sudah mengangguk.
"Saya mau, Budhe, beri saya waktu satu minggu," kataku mantap, tanpa rasa ragu membayangkan uang yang akan kudapatkan.
**
Tumini memang seperti pertolongan yang diberikan gusti Allah kepadaku. Ketika berbelanja di pasar aku bertemu dengannya. Perutnya membuncit berisi janin. Hatiku bersorak gembira.
"Wah, kamu hamil, to, Tum," kataku sambil mengelus perutnya.
"Iya, Bu Sas. Alhamdulillah sudah delapan bulan," jawabnya dengan rona kebahagiaan.
"Eh, la kok sudah hampir lahiran. Aku malah baru tahu," jawabku dengan kebahagiaan setulusnya, karena membayangkan imbalan yang akan kudapatkan.
"Iya, bu. Saya baru dari kota," kata Tum lagi.
Kami berbasa basi sebentar, sebelum akhirnya berpisah jalan. Aku langsung berlari ke rumah Budhe Sastro.
**
Sejak saat itu aku selalu menjadi kurir untuk budhe Sastro.
Selalu diminta membantu mengantar makanan atau barang untuk Tumini. Tumini sama sekali tidak curiga, bahkan dia sangat senang.
"Kok, Budhe Sastro itu repot to, bu? Saya jadi malu," kata Tum ketika aku mengantarkan gulai ayam di rumahnya sore itu.
"Nggak, kok Tum. Budhe Sastro ikut senang ada tetangganya yang mau melahirkan. Sudah hampir lahir, kan, ya?"
"Iya, bu. Tinggal menunggu waktunya saja. Ini sudah sembilan bulan lebih 8 hari."
"Ealah, semoga lahir lancar selamat, ya Tum."
"Aamiin, matur nuwun bu."
**
Dua hari kemudian aku mendengar kabar bayi Tumini meninggal.
Ketika takziah aku merasa begitu bersalah. Secara tidak langsung aku juga yang menyebabkan kematian bayi itu. Dan yang lebih parah lagi, ternyata ini bayi Tumini yang kedua yang meninggal.
Aku semakin trenyuh melihat Tumini lemas lunglai melihat bayinya diantar ke liang lahat. Beberapa orang memeganginya. Tanpa sadar air mataku ikut menetes. Hatiku yang paling dalam merutuk diriku sendiri. Aku memang pembunuh.
**
Sejak saat itu aku berusaha untuk bertobat dengan banyak belajar ilmu agama. Tanpa dinyana Tumini pun melakukan hal yang sama, dan kami pun menjadi dekat karena sering belajar ilmu agama bersama. Beberapa kali aku ingin bilang pada Tumini kalau bayinya memang dibunuh olehku secara tidak langsung. Tapi... hanya terhenti sampai di ujung lidah saja. Aku tidak tega.
Dan kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar Tumini bekerja dengan budhe Sastro. Ketakutanku menganak sungai. Apalagi ketika kami bertemu di pengajian Tumini bercerita kalau dia diberi baju oleh budhe Sastro yang baik hati itu. Hatiku mencelos.
Dengan polos aku pura - pura bertanya.
"Bajunya seperti apa, Tum? Bagus, ya?"
"Bagus, Bu. Ada renda-rendanya. Warnanya merah itu. Cocok banget dengan kerudungku. Tapi Budhe Sastro sering ngasih aku baju, kok, Bu. Tapi yang satu ini rasanya beda. Bagus banget," kata Tumini.
Wanita desa bernama Tumini itu memang lugu sekali. Dia tidak tahu apa-apa.
"Buat saya aja bajunya, boleh nggak?" kataku, membuat beberapa orang yang duduk disekitar kami menjengit.
Bu RT langsung meradang.
"Eh, bu Sas yang benar saja, sampeyan itu. Maksa mau minta baju sama Tumini. Ngawur sampeyan, itu," kata Bu RT mencak-mencak.
"Iya bu Sas, saru, nggak pantes," kata Bu Nur pedas.
Tumini kebingungan.
"Jangan dikasih, Tum. Bu Sas hanya becanda," kata ibu-ibu yang lain. Tumini dan aku berpandangan. Kulihat kilatan air mata di matanya. Kugigit bibirku kuat-kuat agar tidak berbicara sejujurnya.
**
"Bu Sas, sini dulu. Saya mau bicara," kata Bu Nur.
Di sampingnya sudah ada Bu RT. Wajah mereka berdua sangat tidak menyenangkan.
"Coba Bu Sas jelaskan kok mau minta bajunya Tumini. Apa nggak kasihan sama Tumini. Anaknya baru meninggal, baru dapat pencerahan sedikit, baru dapat hiburan sedikit, eh kok malah mau minta bajunya. Apa sampeyan itu tidak salah omong?" cecar Bu RT setelah aku duduk di depan mereka. Wajah Bu Nur tidak kalah sangarnya. Aku tahu sekarang saatnya sudah tiba.
"Maaf, Bu. Saya mau cerita," kataku dengan tenang.
Setelah aku menceritakan semua, mereka berdua seperti orang bengong, saling berpandangan.
"La kok bisa kayak gitu? Sampeyan itu ngawur, bu," kata Bu Nur. Walaupun nadanya tidak tinggi tapi tersirat kebencian kepadaku. Aku pantas mendapatkannya.
"Saya tahu saya ngawur, Bu. Karena itu saya ingin menebus semua kesalahan saya dengan menggagalkan apapun yang akan dilakukan Budhe Sastro," jawabku mantap.
"Kalau begitu sepertinya kita harus ke rumah Tumini dan menceritakan semuanya," kata Bu RT. Kami mengangguk.
**
Ketika kami datang Tumini baru saja menyapu halaman. Dia cukup terkejut melihat kami bertandang ke rumahnya. Tapi tetap mempersilahkan kami masuk ke dalam.
"Tum, aku minta maaf," kataku perlahan.
Tumini tersenyum dan mengangguk.
"Tidak apa-apa, Bu," jawabnya pendek.
"Bu Sas punya alasan kenapa dia minta bajumu, Tum," lanjut Bu RT.
Tum yang sering dipanggil Mbak Tum agak tidak percaya dengan perkataan Bu RT. Dia melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya. Dan kemudian aku pun menceritakan semuanya kepada Tumini. Wanita desa lugu yang harus merana karena ulahku dan keserakahanku. Dan, kulihat dia menangis. Dia menyetujui saran Bu RT untuk meMbakar semua baju pemberian Budhe Sastro dan meruqyah dirinya dan rumahnya. Walaupun masih kulihat kilat kepedihan di matanya.
**
Hari berganti hari, bulan pun terus bertambah. Tanggal 5 waktu itu. Budhe Sastro datang ke rumahku dengan penuh kemarahan.
"Kamu aPakan Tumini?" tanyanya berapi-api.
Aku menjawab tidak tahu.
"Kalau ada apa-apa dengan aku, kamu yang pertama menanggung akibatnya!" sumpah Budhe Sastro.
"Maksudnya apa, Budhe? Apa yang akan terjadi pada budhe?" tanyaku berani.
"Sas, cuma kamu yang tahu apa yang kulakukan pada Tumini dan bayinya. Beberapa bulan yang lalu aku kembali muda. Tapi lihat sekarang kulitku kembali keriput..."
"Tua memang bukan untuk dihindari, Budhe," potongku.
Wajah budhe Sastro merah membara. Belum pernah aku melihat budhe semarah itu.
"Tunggu pembalasanku, Sas!!" desis budhe sambil beranjak pergi sambil memandangku sekilas dengan kemarahan.
Dan seminggu kemudian aku mendengar kabar budhe Sastro meninggal mendadak dalam tidurnya. Aku tahu waktuku akan tiba. Aku tahu konsekuensi bermain-main dengan dunia gaib. Aku tahu pembalasan Budhe Sastro, atau mungkin lebih tepatnya pembalasan jin yang menyertai budhe Sastro kepadaku akan tiba.
Karena aku seorang pengkhianat, yang menggagalkan rencana jahat mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





