
PERHIASAN TERKUTUK
Bab 3
Aku masih bergidik melihat jenazah Budhe Sastro yang baru saja kami kafani. Mbak Tum langsung mencarii kain jarik dan menutupi jenazah Budhe Sastro agar tidaķ menarik perhatian karena bagian bawah kain kafan itu cukup pendek. Kemudian Bu RT membuka pintu dan memberitahu bahwa jenazah Budhe Sastro sudah siap dimakamkan.
Aku, Bu Sas dan Bu RT menemani Mbak Tum di dapur untuk membuat kopi dan cemilan untuk baPak-baPak yang membantu. Ibu-ibu yang lain pun segera membantu memasak dan mencuci piring. Dapur hening ketika kami bekerja. Suasana memang agak berbeda. Apalagi dengan Mbak Tum yang seperti menghindari semua orang secara langsung. Mungkin dia sedih.
Setelah semua selesai, Mbak Tum menghampiriku.
"Bu Nur aku mau bicara," katanya pelan agar tidak menarik perhatian orang lain.
Aku mengangguk. Mbak Tum mengajak masuk ke salah satu kamar di rumah Budhe Sastro. Bulu kudukku langsung meremang. Kamar yang remang-remang ini membuatku takut.
"Bu Nur, tadi sebelum meninggal budhe bilang sama saya untuk membuka kotak kecil di kamarnya ini," kata Mbak Tum.
Aku menelan ludah.
"Kotak apa, Tum?" Bisikku.
"Nggak tahu, Bu," jawabnya lagi.
Kami duduk berhadap-hadapan dengan kikuk dan bingung mau apa.
"Terus kenapa kamu mengajakku melihat kotak itu, Tum? Apa tidak apa-apa?"
Mbak Tum menggeleng.
"Saya takut kalau kotak itu berisi uang atau perhiasan, Bu. Makanya saya minta Bu Nur menemani saya," jawab Mbak Tum.
"Saya panggil Bu RT juga, ya, Mbak biar ada saksinya," kataku. Mbak Tum menganggukkan kepalanya.
Ketika aku memanggil Bu RT, aku melihat Bu Sas melirik sinis. Waktu itu tidak terlalu kupikirkan, yang penting cepat terselesaikan. Setelah Bu RT masuk, Mbak Tum sudah mengambil kotak kecil dari kayu berukir itu. Kami mengelilingi kotak kayu itu.
"Kapan budhe Sastro bilang kamu suruh buka ini, Tum?" tanya Bu RT kebingungan.
"Tadi pagi, Bu."
"Budhe bilangnya gimana?"
"Hanya bilang kalau beliau meninggal saya diminta mengambil kotak kayu di dalam lemari bajunya dan membukanya," kata Mbak Tum.
"Terus?" Tanya Bu RT tidak sabar.
Mbak Tum terdiam.
"Budhe bilang nanti isi kotak kayu semuanya untuk saya," jawab Mbak Tum pelan.
Aku berpandangan dengan Bu RT dan saling mengangguk. Budhe Sastro memang tidak memiliki anak, suaminya sudah lama meninggal. Sepertinya tidak ada yang tahu keluarganya yang lain. Maka tidak heran, kalau peninggalannya akan diberikan kepada Mbak Tum.
"Ya sudah, Mbak Tum, kotaknya dibuka. Kita lihat bersama-sama apa isinya," kataku.
Bu RT mengangguk mengiyakan.
Perlahan Mbak Tum membuka kotak itu. Dari dalam terlihat kilauan emas dan berlian terkena lampu. Mbak Tum terkesiap. Kami semua terkesiap. Mbak Tum langsung meletakkan kotak itu.
"Saya nggak bisa menerima semua ini, Bu," kata Mbak Tum langsung membuang muka.
"Jangan begitu, Tum. Budhe Sastro memang ingin kamu memilikinya. Kamu kan, selama ini menemani Budhe Sastro," Bu RT meyakinkan Mbak Tum.
Mbak Tum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya sudah digaji, Bu. Setiap bulan saya digaji," kata Mbak Tum menjauhi kami.
"Buat Bu RT dan Bu Nur saja," kata Mbak Tum, tiba-tiba dia berbalik dan memberikan kotak itu pada Bu RT.
"Jangan becanda, Tum. Ini warisan Budhe Sastro untukmu," kata Bu RT mengembalikan kota kayu itu kepada Mbak Tum.
Kami bertiga terdiam.
"Ya, sudah semua perhiasan ini saya berikan untuk kas RT saja, Bu," kata Mbak Tum ringan.
Kami berpandangan lagi.
"Sudah, ya Bu, saya tinggal keluar. Takut pada bertanya-tanya apa yang kita lakukan di sini," kata Mbak Tum dan dia langsung keluar kamar. Tidak mempedulikan panggilan Bu RT.
Sekarang aku berdua dengan Bu RT di kamar itu. Tanpa Mbak Tum kamar itu tiba-tiba menjadi lebih gelap dan pengap. Tiba-tiba aku merinding lagi.
"Bu Nur, kenapa Tum membuka kotaknya sekarang, nggak nunggu besok-besok, kan budhe baru saja meninggal, kayaknya kok, nggak sopan," bisik Bu RT dengan wajah mencibir.
Aku mengangkat bahu.
"Tapi kalau seandainya besok-besok mungkin orang akan curiga, ya melihat Tum masuk kamar budhe," kata Bu RT lagi, "Bu Nur, sekarang begini saja. Daripada nanti saya bingung menjelaskan kepada warga tentang perhiasan ini, bagaimana kalau perhiasan ini kita bagi dua saja," kata Bu RT berbisik.
Kami berdua tersenyum. Aku mengangguk setuju. Dan kami mulai membagi perhiasan itu sama rata. Pembagian itu kami lakukan dengan terkikik-kikik bahagia.
**
POV TUMINI
SEBELUM BUDHE SASTRO PERGI
Aku melihat ke arah Budhe Sastro dengan penuh kebencian. Punggung wanita tua nampak begitu kurus dan renta. Dia yang telah membuat anakku pergi. Dia yang telah menggunakanku untuk membuatnya lebih muda. Aku menjengit. Lebih muda? Kita buktikan saja.
Tiba-tiba bu budhe Sastro menoleh ke arahku, seakan-akan tahu aku sedang memandanginya. Aku tersenyum kepadanya dan menyapa.
"Budhe sarapan dulu," kataku, berpura-pura ramah padanya.
Beliau mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
"Nanti untuk makan siang masak lodeh, ya , Tum. Sama siapkan kopi pahit dua gelas," kata budhe.
Aku mengangguk.
"Sorenya jangan lupa nyetrika," katanya lagi. Aku mengiyakan.
"Masak apa?"
"Nasi goreng budhe, nggak papa, kan?"
Budhe tersenyum.
"Nggak papa, aku suka masakanmu, enak," kata budhe sambil makan dengan lahap.
Seperti biasa aku menemani budhe makan, setelah itu aku melanjutkan pekerjaanku. Tapi kali ini budhe memintaku memijitinya. Budhe bilang badannya pegal-pegal.
"Dari dulu aku itu punya 'cekelan', Tum," kata budhe ketika aku mulai memijiti kakinya.
"Cekelan itu apa budhe?"
"Cekelan itu pegangan, kata lainnya bekal. Bekal gaib dalam tubuhku," jawab budhe.
Aku bergidik.
"Bekal itu membuat daganganku laris dan orang-orang segan padaku. Aku sudah punya bekal itu sejak kecil. Aku sudah sering pergi ke tempat-tempat sulit untuk membuatku semakin sakti."
Bulu kudukku meremang. Mungkin itu yang membuat suasana rumah ini begitu dingin dan agak remang-remang. Selalu terlihat remang-remang.
"Tapi aku sudah tua. Aku tahu waktuku sudah dekat," lanjut budhe.
"Jangan bilang seperti itu budhe," kataku, pura-pura merajuk. Padahal dalam hati aku bersorak, kalau memang budhe sudah merasa seperti itu berarti aku tidak salah.
"Nggak Tum, aku sudah tua. Sudah tahu sebentar lagi aku akan menghadap yang kuasa," dia berhenti sejenak, "menyusul suamiku," lanjut budhe lagi.
Entah kenapa aku merasakan seperti ada angin dingin yang bertiup samar-samar di ruangan itu. Aku sepenuhnya merasa takut.
"Sudah, Tum. Kamu nanti capek. Minta tolong aku dimasakkan lodeh, ya. Jangan lupa kopi pahitnya," kata budhe, "aku mau tiduran dulu," lanjut budhe.
Aku mengiyakan dan segera berjalan ke dapur. Aku tersenyum. Sepertinya obat yang kumasukkan ke dalam nasi goreng tadi sudah bereaksi, tinggal menunggu hasilnya nanti. Mungkin agak sore atau malam. Aku tersenyum lagi. Dan anehnya aku merasa lega karena tahu aku akan berpisah dengan Budhe Sastro yang telah membunuh anakku.
Anda Mungkin Juga Suka





