Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PERHIASAN TERKUTUK

PERHIASAN TERKUTUK

Teror mengerikan melanda siapa saja yang terlibat dalam proses pemulasaraan jenazah Budhe Sastro. Satu demi satu, mereka dihantui oleh sosok arwahnya yang tak tenang hingga berujung pada kegilaan dan kematian tragis. Apa motif di balik kemarahan sang roh yang terus mengejar mereka tanpa ampun? Apakah ada rahasia gelap atau kesalahan fatal yang dilakukan para pengurus jenazah tersebut hingga Budhe Sastro menuntut balas dari alam kubur?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku masih bergidik melihat jenazah Budhe Sastro yang baru saja kami kafani. Mbak Tum langsung mencarii kain jarik dan menutupi jenazah Budhe Sastro agar tidaķ menarik perhatian karena bagian bawah kain kafan itu cukup pendek. Kemudian Bu RT membuka pintu dan memberitahu bahwa jenazah Budhe Sastro sudah siap dimakamkan.

Aku, Bu Sas dan Bu RT menemani Mbak Tum di dapur untuk membuat kopi dan cemilan untuk baPak-baPak yang membantu. Ibu-ibu yang lain pun segera membantu memasak dan mencuci piring. Dapur hening ketika kami bekerja. Suasana memang agak berbeda. Apalagi dengan Mbak Tum yang seperti menghindari semua orang secara langsung. Mungkin dia sedih.

Setelah semua selesai, Mbak Tum menghampiriku.

"Bu Nur aku mau bicara," katanya pelan agar tidak menarik perhatian orang lain.

Aku mengangguk. Mbak Tum mengajak masuk ke salah satu kamar di rumah Budhe Sastro. Bulu kudukku langsung meremang. Kamar yang remang-remang ini membuatku takut.

"Bu Nur, tadi sebelum meninggal budhe bilang sama saya untuk membuka kotak kecil di kamarnya ini," kata Mbak Tum.

Aku menelan ludah.

"Kotak apa, Tum?" Bisikku.

"Nggak tahu, Bu," jawabnya lagi.

Kami duduk berhadap-hadapan dengan kikuk dan bingung mau apa.

"Terus kenapa kamu mengajakku melihat kotak itu, Tum? Apa tidak apa-apa?"

Mbak Tum menggeleng.

"Saya takut kalau kotak itu berisi uang atau perhiasan, Bu. Makanya saya minta Bu Nur menemani saya," jawab Mbak Tum.

"Saya panggil Bu RT juga, ya, Mbak biar ada saksinya," kataku. Mbak Tum menganggukkan kepalanya.

Ketika aku memanggil Bu RT, aku melihat Bu Sas melirik sinis. Waktu itu tidak terlalu kupikirkan, yang penting cepat terselesaikan. Setelah Bu RT masuk, Mbak Tum sudah mengambil kotak kecil dari kayu berukir itu. Kami mengelilingi kotak kayu itu.

"Kapan budhe Sastro bilang kamu suruh buka ini, Tum?" tanya Bu RT kebingungan.

"Tadi pagi, Bu."

"Budhe bilangnya gimana?"

"Hanya bilang kalau beliau meninggal saya diminta mengambil kotak kayu di dalam lemari bajunya dan membukanya," kata Mbak Tum.

"Terus?" Tanya Bu RT tidak sabar.

Mbak Tum terdiam.

"Budhe bilang nanti isi kotak kayu semuanya untuk saya," jawab Mbak Tum pelan.

Aku berpandangan dengan Bu RT dan saling mengangguk. Budhe Sastro memang tidak memiliki anak, suaminya sudah lama meninggal. Sepertinya tidak ada yang tahu keluarganya yang lain. Maka tidak heran, kalau peninggalannya akan diberikan kepada Mbak Tum.

"Ya sudah, Mbak Tum, kotaknya dibuka. Kita lihat bersama-sama apa isinya," kataku.

Bu RT mengangguk mengiyakan.

Perlahan Mbak Tum membuka kotak itu. Dari dalam terlihat kilauan emas dan berlian terkena lampu. Mbak Tum terkesiap. Kami semua terkesiap. Mbak Tum langsung meletakkan kotak itu.

"Saya nggak bisa menerima semua ini, Bu," kata Mbak Tum langsung membuang muka.

"Jangan begitu, Tum. Budhe Sastro memang ingin kamu memilikinya. Kamu kan, selama ini menemani Budhe Sastro," Bu RT meyakinkan Mbak Tum.

Mbak Tum menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Saya sudah digaji, Bu. Setiap bulan saya digaji," kata Mbak Tum menjauhi kami.

"Buat Bu RT dan Bu Nur saja," kata Mbak Tum, tiba-tiba dia berbalik dan memberikan kotak itu pada Bu RT.

"Jangan becanda, Tum. Ini warisan Budhe Sastro untukmu," kata Bu RT mengembalikan kota kayu itu kepada Mbak Tum.

Kami bertiga terdiam.

"Ya, sudah semua perhiasan ini saya berikan untuk kas RT saja, Bu," kata Mbak Tum ringan.

Kami berpandangan lagi.

"Sudah, ya Bu, saya tinggal keluar. Takut pada bertanya-tanya apa yang kita lakukan di sini," kata Mbak Tum dan dia langsung keluar kamar. Tidak mempedulikan panggilan Bu RT.

Sekarang aku berdua dengan Bu RT di kamar itu. Tanpa Mbak Tum kamar itu tiba-tiba menjadi lebih gelap dan pengap. Tiba-tiba aku merinding lagi.

"Bu Nur, kenapa Tum membuka kotaknya sekarang, nggak nunggu besok-besok, kan budhe baru saja meninggal, kayaknya kok, nggak sopan," bisik Bu RT dengan wajah mencibir.

Aku mengangkat bahu.

"Tapi kalau seandainya besok-besok mungkin orang akan curiga, ya melihat Tum masuk kamar budhe," kata Bu RT lagi, "Bu Nur, sekarang begini saja. Daripada nanti saya bingung menjelaskan kepada warga tentang perhiasan ini, bagaimana kalau perhiasan ini kita bagi dua saja," kata Bu RT berbisik.

Kami berdua tersenyum. Aku mengangguk setuju. Dan kami mulai membagi perhiasan itu sama rata. Pembagian itu kami lakukan dengan terkikik-kikik bahagia.

**

POV TUMINI

SEBELUM BUDHE SASTRO PERGI

Aku melihat ke arah Budhe Sastro dengan penuh kebencian. Punggung wanita tua nampak begitu kurus dan renta. Dia yang telah membuat anakku pergi. Dia yang telah menggunakanku untuk membuatnya lebih muda. Aku menjengit. Lebih muda? Kita buktikan saja.

Tiba-tiba bu budhe Sastro menoleh ke arahku, seakan-akan tahu aku sedang memandanginya. Aku tersenyum kepadanya dan menyapa.

"Budhe sarapan dulu," kataku, berpura-pura ramah padanya.

Beliau mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

"Nanti untuk makan siang masak lodeh, ya , Tum. Sama siapkan kopi pahit dua gelas," kata budhe.

Aku mengangguk.

"Sorenya jangan lupa nyetrika," katanya lagi. Aku mengiyakan.

"Masak apa?"

"Nasi goreng budhe, nggak papa, kan?"

Budhe tersenyum.

"Nggak papa, aku suka masakanmu, enak," kata budhe sambil makan dengan lahap.

Seperti biasa aku menemani budhe makan, setelah itu aku melanjutkan pekerjaanku. Tapi kali ini budhe memintaku memijitinya. Budhe bilang badannya pegal-pegal.

"Dari dulu aku itu punya 'cekelan', Tum," kata budhe ketika aku mulai memijiti kakinya.

"Cekelan itu apa budhe?"

"Cekelan itu pegangan, kata lainnya bekal. Bekal gaib dalam tubuhku," jawab budhe.

Aku bergidik.

"Bekal itu membuat daganganku laris dan orang-orang segan padaku. Aku sudah punya bekal itu sejak kecil. Aku sudah sering pergi ke tempat-tempat sulit untuk membuatku semakin sakti."

Bulu kudukku meremang. Mungkin itu yang membuat suasana rumah ini begitu dingin dan agak remang-remang. Selalu terlihat remang-remang.

"Tapi aku sudah tua. Aku tahu waktuku sudah dekat," lanjut budhe.

"Jangan bilang seperti itu budhe," kataku, pura-pura merajuk. Padahal dalam hati aku bersorak, kalau memang budhe sudah merasa seperti itu berarti aku tidak salah.

"Nggak Tum, aku sudah tua. Sudah tahu sebentar lagi aku akan menghadap yang kuasa," dia berhenti sejenak, "menyusul suamiku," lanjut budhe lagi.

Entah kenapa aku merasakan seperti ada angin dingin yang bertiup samar-samar di ruangan itu. Aku sepenuhnya merasa takut.

"Sudah, Tum. Kamu nanti capek. Minta tolong aku dimasakkan lodeh, ya. Jangan lupa kopi pahitnya," kata budhe, "aku mau tiduran dulu," lanjut budhe.

Aku mengiyakan dan segera berjalan ke dapur. Aku tersenyum. Sepertinya obat yang kumasukkan ke dalam nasi goreng tadi sudah bereaksi, tinggal menunggu hasilnya nanti. Mungkin agak sore atau malam. Aku tersenyum lagi. Dan anehnya aku merasa lega karena tahu aku akan berpisah dengan Budhe Sastro yang telah membunuh anakku.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JTV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JTV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, yatim piatu yang selamat dari tragedi kebakaran, memiliki kemampuan melihat hantu. Selama seminggu, sesosok arwah wanita terus menguntitnya demi sebuah permintaan ganjil: menghibur suaminya yang berduka. Meski sempat menolak, Erina akhirnya luluh dan menemui Eldrick Damiano. Pertemuan itu justru menumbuhkan benih cinta di hati Erina. Namun, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah hanya akan mencintai mendiang istrinya selamanya.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
9.1
Dalam novel modern bergenre horor misteri berjudul Jeritan yang Tak Terdengar, nasib tragis menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya. Dituduh mendorong sepupunya hingga cedera, Yolanda harus menerima kemarahan brutal sang ayah yang memukulinya hingga sekarat. Demi memberi pelajaran, ia dikurung di ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati tubuh putri kandungnya yang telah hancur dan membusuk dalam kesunyian.
Sampul Novel Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
8.1
Ketika seorang gadis meregang nyawa di tangan pembunuh keji di rumah sebelah, sang ibu justru mengabaikan panggilan daruratnya demi menemani sang adik yang bersiap ujian. Menganggap permohonan tolong putrinya sebagai kebohongan belaka, ia menutup telepon dengan makian. Tiga hari berselang, sebuah kasus pembunuhan sadis terungkap. Sebagai ahli forensik, ibu tersebut diminta memeriksa sesosok mayat tanpa kepala di meja autopsi, tanpa menyadari bahwa jasad yang ia bedah adalah putri yang selalu ia benci.