
Perfect Bastard
Bab 3
Matahari sudah hampir berada di atas kepala, menandakan waktu sudah hampir tengah hari. Seorang wanita yang sedang bergelung dalam selimut mulai menggerakan tubuhnya. Perlahan-lahan matanya terbuka, dia menguap lebar-lebar sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Abelian menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal, entah dia salah posisi tidur atau memang badannya kelelahan sehingga membuat beberapa bagian tubuhnya sakit. Abelian meregangkan otot-otot tubuhnya dan otot lehernya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat minum-minuman semalam.
"Sial! Seharusnya aku tidak minum terlalu banyak. Hari ini ada pemotretan penting, jangan sampai aku mengacaukannya atau bayaranku akan berkurang." monolog Abelian.
Abelian pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari ranjang dan menuju kamar mandi, dia harus segera membersihkan tubuhnya karena hari ini dia ada pemotretan. Tak peduli meskipun kepalanya masih terasa sakit, dia harus tetap datang ke pemotretan karena ini adalah pemotretan brand ternama dunia. Abelian tidak ingin mengecewakan orang yang sudah mempercayakan dirinya sebagai model untuk produk terbarunya. Terlebih, bayarannya sangat mahal untuk satu kali pemotretan.
Lima belas menit kemudian Abelian pun selesai membersihkan tubuhnya, dia segera keluar dari kamar mandi dan menuju lemari pakaian. Mengambil asal pakaian yang akan digunakan hari ini. Abelian tak pernah mempermasalahkan soal pakaian yang digunakan, selama itu cocok untuknya dan nyaman dipakai, dia akan percaya diri memakainya. Toh apa pun yang dipakainya tidak akan membuat kecantikannya berubah menjadi buruk rupa. Abelian tetap saja cantik dan mempesona bagi kaum pria.
Setelah berpakaian Abelian pun merias diri senatural mungkin, dia hanya memakai pelembab, tabir surya, dan bedak yang dipoles tipis-tipis kemudian memakai pewarna bibir. Abelian mempersiapkan diri secepat mungkin dan setelah semuanya selesai dia segera keluar dari unit apartemennya.
“Hai, Bel.”
“Astaga!” Abelian berjengit kaget begitu membuka pintu, di depannya sudah berdiri pria yang sangat tidak ingin dia temui. Untuk apa lagi Leon menemuinya?
"Kau! Bagaimana kau bisa tahu apartemenku?" tanya Abelian, dia menatap tajam Leon yang tengah tersenyum di depannya. Terlihat sangat menyebalkan bagi Abelian.
"Mudah bagiku untuk menemukan tempat tinggalmu, Bel." jawab Leon kemudian terkekeh, dia menunduk sedikit agar sejajar dengan Abelian, "Kau masih hutang satu ciuman padaku, dan juga kencan kita yang kemarin gagal." bisik Leon.
Abelian tertawa sinis, kemudian menutup pintu dan berlalu meninggalkan Leon begitu saja. Leon mengikuti langkah Abelian yang berada di depannya.
"Bel, setelah pulang pemotretan aku akan menunggumu ditempat kemarin."
Abelian menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya, berhadapan dengan Leon secara langsung. Abelian mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Leon.
"Sudah aku ingatkan kalau aku tidak tertarik padamu, jadi jangan temui aku lagi. Kau belum tahu siapa aku sebenarnya. Ini peringatan terakhir." ucap Abelian dengan nada penuh ancaman.
Leon tidak menganggap serius ucapan Abelian, dia malah menangkap jari telunjuknya dan membawanya ke dalam mulutnya. Abel membulatkan matanya kemudian menarik tangannya.
"Kau! Menjijikan!" teriak Abelian, dia mengibaskan tangannya kemudian mengambil hand sanitizer dari dalam tasnya untuk membersihkan bekas saliva Leon.
"Tidak ada yang menjijikkan, kau juga akan menikmatinya kalau kita bertukar saliva. Mau mencobanya?"
"Sialan!" maki Abelian kemudian mendengus kesal, dia sudah hampir telat pemotretan tapi harus melayani pria gila di depannya.
***
Setelah berdebat dengan Leon cukup lama hingga Abelian harus mengeluarkan pukulan, akhirnya dia bisa pergi dengan tenang setelah memberikan tendangan di pusakanya. Abelian paling benci jika ada yang memaksakan kehendak padanya. Tidak ada satu orangpun yang boleh mengendalikan dirinya.
Abelian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak dipedulikan jalanan yang ramai. Dia menyalip satu mobil ke mobil lainnya dan baru berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Ponsel Abelain berdering, dia kemudian mengambil earpods dan menyambungkannya dengan ponsel agar memudahkannya menjawab panggilan.
“Halo.”
>>”Bel, kau dimana?
“Ada apa?
>>”Ck. Pemotretan sudah dimulai, cepat datang.”
“Oke.”
Setelahnya panggilan pun diputuskan secara sepihak oleh Abelian. Begitu lampu berwarna hijau, dia langsung menekan gas dan meluncur menuju tempat pemotretan. Tidak sampai lima belas menit Abelian sudah sampai di hotel, tempatnya melakukan pemotretan untuk hari ini.
Setelah memarkirkan mobilnya, Abel langsung keluar dan melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai atas. Sejujurnya Abelian malas jika harus melakukan pemotretan karena mood-nya sedang tidak bagus.
Begitu masuk lift, Abelian bertemu dengan Vero yang juga baru sampai. Mereka menuju lantai paling atas bersama.
“Tumben sekali kau telat, Bel,” tanya Vero basa basi.
“Bukan urusanmu,” jawab Abelian dengan ekspresi datarnya.
"Semua yang berhubungan dengan dirimu adalah urusanku, kau tahu itu, Bel," ucap Vero.
Abelian yang sejak tadi sudah menahan rasa kesalnya pun menatap Vero dengan wajah datarnya. "Kau bisa diam? Kalau tidak aku yang akan membuatmu diam dengan caraku sendiri dan aku yakin kau akan menyesalinya," ucap Abelian
Vero hendak mengatakan sesuatu, tapi ditelan kembali melihat Abelian yang menatapnya tajam. Vero hanya bisa menelan saliva dengan kasar dan mengangguk. Abelian sedang dalam mode berbahaya untuk didekati.
Denting pintu besi di depannya berbunyi pertanda mereka sudah sampai di lantai paling atas. Abelian keluar lebih dulu meninggalkan Vero di belakang. Dia segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya mengenakan pakaian yang sudah disediakan.
Abelian menuju meja rias begitu selesai mengganti pakaian. Di sana sudah terdapat make up artist yang sedang menunggunya. Abel duduk dan mempersilahkan kepada MUA untuk meriasnya.
“Perutku sakit sekali.” gumam Abelian.
“Kau habis minum alkohol semalam?” tanya perias tersebut.
“Sedikit,” jawab Abelian singkat.
“Minumlah ini terlebih dahulu,” kata perias tersebut sambil menyodorkan botol beling yang mirip seperti botol sirup.
“Apa ini?” tanya Abelian, dia penasaran karena tidak pernah melihat minuman seperti ini.
“Minum saja, ini akan membantu meredakan sakit perut. Aku jamin itu,” kata perias tersebut.
Abelian mengangguk kemudian membuka tutup botol dan meminum isinya hingga habis. Abel membuang botol yang sudah kosong di tempat sampah samping meja rias kemudian mengucapkan terima kasih.
***
“Kau sangat payah Ver, sudah lama kau bersama Abel tapi tidak ada peningkatan sama sekali.” cibir Arfa, salah satu model asal Indonesia yang ikut pemotretan hari ini.
“Diamlah!” kata Vero, kesal.
Arfa tertawa mengejek. Pasalnya Vero yang biasanya selalu dikejar wanita kini harus gantian mengejar wanita. Semua berawal dari kejadian dua tahun yang lalu. Di saat Abelian baru saja meniti karir di dunia modeling, dia merupakan satu-satunya wanita yang tidak tergila-gila pada Vero. Sejak hari itu, Vero dan teman-temannya pun taruhan untuk mendapatkan Abelian. Semua sudah ditolak, tak terkecuali Vero. Namun, karena rasa penasaran dan harga dirinya yang tinggi, Vero tidak pernah berhenti mengejar Abelian. Tidak terhitung berapa kali Vero ditolak.
Vero beruntung karena dia menjadi satu-satunya model pria yang dikontrak bersama Abelian. Menjadi rekan kerja Abelian membuat Vero punya banyak kesempatan untuk semakin dekat. Tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Abelian. Dia masih sama saja dengan Abelian yang dulu. Tidak tertarik pada Vero atau pria manapun.
Terkadang Vero berpikir jika Abelian adalah penyuka sesama jenis, tapi hal itu tidak terbukti. Abelian masih wanita normal, hanya saja sangat sulit untuk dirayu. Abelian cenderung berbuat kasar jika ada yang mencoba melecehkannya. Ah tidak, bahkan menyentuhnya sedikit saja maka Abelian tidak akan segan memukulnya. Kecuali saat pemotretan, dan itu pun harus seizin Abelian. Dia sangat membatasi diri dalam kontak fisik terhadap lawan jenis. Abelian tidak akan menerima pemotretan yang mengandung banyak kontak fisik.
Dan Vero bukan sekali dua kali melakukannya. Dia pernah mencoba menciumnya saat pemotretan gaun pengantin. Bukannya berhasil mencicipi bibir manisnya, justru Vero mendapatkan sebuah cubitan maut di perutnya. Cubitan Abelian bukan main sakitnya, bahkan bekasnya tampak kebiruan.
Vero juga pernah merasakan sakit di ‘asetnya’ karena ditendang oleh Abelian saat dia tidak sengaja memandang Abelian dengan lapar. Abelian sangat tidak menyukai tatapan mesum yang dilayangkan Vero ataupun pria lain. Menurut Abelian itu adalah sebuah pelecehan. Sejak mengalami hal itu, Vero pun memilih jalan lain untuk mendapatkan Abelian. Sungguh, Abelian adalah wanita yang sulit ditaklukan.
“Kenapa kau tidak menggunakan jalan pintas saja?” bisik Arfa di telinga Vero.
“Aku belum siap mati muda. Kau tahu aku belum puas bermain-main.” balas Vero.
Arfa terkekeh mendengar jawaban Vero. Siapa yang tidak tahu kebiasaan Vero. Bermain dengan wanita berbeda setiap harinya. Tapi tetap saja tujuan utamanya adalah mendapatkan Abelian Pimenova.
Vero memperhatikan Abelian yang tengah berpose diatas kursi panjang mengenakan bikini yang mengekspos hampir seluruh tubuhnya. Ini adalah pemotretan kedua setelah selesai pemotretan dengan gaun pesta. Sial! pose yang Abelian lakukan sangat menggoda.
“Damn! dia sangat seksi.” bisik Vero pada dirinya sendiri.
Arfa yang mendengar ucapan Vero pun menimpali.”Tapi sayang dia tidak berhasil kamu taklukan.” cibir Arfa lagi.
“Diamlah atau aku akan membuatmu diam dengan caraku sendiri,” kata Vero menatap tajam Arfa yang justru ditertawakan olehnya.
“Oke, bagus. Sekarang giliran di dalam kolam. Vero, kau masuk kolam juga,” kata sang fotografer.
Vero yang sedang berbincang dengan Arfa langsung berdiri dan menceburkan diri ke dalam kolam. Tak lama setelah itu Abelian pun ikut menceburkan diri. Air kolam yang terasa hangat karena terkena sinar matahari membuat tubuh Abelian jauh lebih baik.
“Abel, coba lebih dekatkan tubuhmu ke Vero, kalungkan tanganmu di lehernya dan Vero letakan kedua tanganmu di pinggang Abel.” Sang Fotografer mengarahkan gaya yang sesuai untuk mereka.
“Bukankah sudah aku katakan tidak ada kontak fisik berlebihan,” kata Abelian pada sang fotografer.
Vero tersenyum licik, tanpa aba-aba dia menarik pinggang Abelian dan merapatkannya. Abelian yang belum siap dengan tarikan Vero pun membulatkan matanya. Melihat Vero yang tersenyum smirk padanya Abelian kemudian mencubit perut Vero.
“Awh” Vero meringis dan melepaskan rengkuhannya.
“Perhatikan letak tanganmu, sialan!” bisik Abelian tajam.
Vero masih mengusap perutnya yang terasa panas akibat cubitan Abelian.
‘Sialan! kalau saja kamu wanita lain sudah aku bungkam mulutmu dengan ciuman.’ batin Vero berucap.
***
Waktu berlalu begitu cepat, matahari pun sudah hampir kembali ke peraduannya. Abelian sudah selesai pemotretan dan saat ini ia sedang duduk sambil menikmati senja. Tubuhnya sudah berbalut kimono untuk menutupi bikini yang masih dipakainya.
Abelian merasa begitu damai dan tenang saat menatap senja ditemani segelas jus dan semilir angin sore. Dia memejamkan matanya sejenak, meresapi ketenangan yang tercipta setelah lelah bekerja.
“Bel, ponselmu dari tadi berbunyi terus.” ucap Vero yang masih ada disana bersama Arfa dan juga yang lainnya. Biasanya mereka akan turun setelah senja berlalu.
“Biarkan saja!” ucap Abelian, paling yang menelponnya adalah Selena. Sahabatnya itu pasti ingin mengajaknya untuk ke tempat hiburan malam dan ia sedang tidak ingin kemanapun malam ini.
“Bel, ponselmu.” ucap Vero lagi. Abelian mengabaikannya lagi, tapi Vero terus memperingatkannya.
“Siapa sih yang menelpon? mengganggu saja.” Abelian merasa kesal karena ponselnya terus-terusan berdering. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, ia mematikan panggilannya, tapi sedetik kemudian ponselnya kembali berdering.
Abelian melihat nomor yang tertera di layar, dan ternyata itu panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Abelian kembali mematikan panggilan itu karena menurutnya tidak penting. Belum ada satu menit Abelian meletakan ponselnya, lagi-lagi ponsel itu berdering. Karena kesal Abelian pun menjawabnya.
“Halo, siapa ini?”
Abelian menunggu hingga dua menit lamanya, tapi tidak terdengar jawaban apapun dari seberang telepon sana.
“Kau tidak punya pekerjaan apa selain mengganggu orang yang sedang bekerja?”
Hening! Lagi-lagi tak ada jawaban apa pun dari seberang sana. Abelian mendengus sebal.
“Kalau masih tidak mau berbicara lebih baik aku matikan panggilannya. Mengganggu saja!”
>>”Ini aku.”
Abelian mengernyitkan alisnya. Dia seperti mengenali suara itu, tapi siapa?
“Kau…siapa?”
Hening! kembali tak ada jawaban dari seberang sana membuat Abelian kesal.
“Terserah. Siapapun anda, tolong jangan hubungi nomor ini lagi.”
Abelian langsung mematikan panggilannya dan menghidupkan mode senyap. Ia mengingat-ingat kembali kepada siapa dia memberikan nomornya baru-baru ini. Tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Dan lagi, suaranya terdengar tidak asing ditelinga Abelian.
“Tidak! ini tidak mungkin dia, kan?” monolog Abelian.
Andai pria itu yang menelponnya, Abelian benar-benar akan memakannya hidup-hidup. Ah tidak. Bisa-bisa dia dipenjara. Lagipula dia tidak segila itu. Mungkin memberinya sedikit pelajaran akan menyenangkan.
“Coba saja kalau kau berani muncul dihadapanku lagi.” ucap Abelian sambil tersenyum iblis.
Anda Mungkin Juga Suka





