Sampul Novel Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Perceraian: Jangan Berharap Kembali

8.3 / 10.0
Dalam romance modern Perceraian: Jangan Berharap Kembali, Tari membangun toko kue demi melupakan Deo. Saat sang mantan suami berusaha kembali, Tari justru terjebak komitmen tak terduga dengan Noah. Baca kisah romantis ini di webnovel untuk melihat pilihan sulit Tari.
Ringkasan Perceraian: Jangan Berharap Kembali
Pasca memergoki perselingkuhan Deo, Tari memilih bercerai dan fokus mengelola toko kue miliknya. Meski Deo terus memohon kesempatan kedua hingga rela dipermalukan, hati Tari telah tertutup rapat. Di tengah gangguan sang mantan, Tari terlibat kedekatan dengan Noah, tetangganya yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tari memanfaatkan Noah untuk menghindari Deo, namun sebuah insiden di ranjang mengubah segalanya. Kini, Noah justru menuntut pertanggungjawaban darinya.
Baca Selengkapnya

Perceraian: Jangan Berharap Kembali Bab 1

Di dalam dapur berukuran 3×5 itu, bau harum dari dalam oven menguar. Perempuan yang tengah berkutat dengan buku resep buatannya itu begitu fokus. Hingga suara ting dari oven terdengar, perempuan itu baru bangkit, menggapai oven glove.

Ketika tutup oven dibuka, bau harum langsung menyerbu keluar. Perempuan itu, Tari, tersenyum senang melihat resep barunya berhasil. Dia mengeluarkan nampan dari dalam ovel, lalu meletakkannya di meja.

"Cantiknya."

Kue dengan kombinasi abstrak warna merah dan putih. Tari sendiri memang suka membuat resep baru yang terinspirasi dari resep lainnya. Dia mempunyai sebuah toko kue yang dia bangun sendiri. Dengan uang tabungannya selama kuliah, yah tentu saja uang sakunya dia dapat dari orang tuanya.

"Oby pasti suka," ujarnya, menyebut panggilan sayang untuk suaminya, Deo.

Ponsel yang tergeletak di sampingnya bergetar. Tari menggapainya, melihat nama Oby tertera di layar. Dia melepas oven glove di tangannya, lalu menjawab panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga kiri.

"Ada apa by?"

Dua detik kemudian baru terdengar suara. Namun, itu bukan suara Deo, melainkan seorang pria yang tak Tari kenal. Alisnya mengernyit, mendengar suara di sebrang bergumam canggung.

"Siapa?" tanya Tari.

"Sorry … lo istrinya Deo, kan? Gue bartender di club tempat dia tampil malam ini. Gue ambil hpnya buat hubungin lo karena dia mabuk berat. Tadi hampir adu tinju sama pacar Nadine."

Alis Tari bertaut. Dia merubah ponselnya ke telinga kanan. "Nadine? Kok bisa? Eh, nggak usah diceritain. Club Hourse, kan? Gue ke sana sekarang."

"Iya—"

Tari mematikan sambungan sepihak. Dia langsung melepas apronnya, melipatnya asal. Kaki melangkah cepat, menggapai long blazer dan kunci mobil di atas meja.

"Ada-ada aja. Bisa-bisanya berantem sama pacar orang. Pacarnya si uler lagi," gerutunya, berlari cepat keluar unit apartemennya.

…

Tari memarkir mobilnya di tengah mobil-mobil kecil dengan harga selangit. Tentu saja. Club yang dia datangi adalah salah satu club terbesar di Jakarta, yang hanya bisa didatangi orang-orang ber-uang. Biaya masuknya saja lebih mahal dari harga menginap di hotel bintang lima.

Tari tersenyum pada kedua penjaga di pintu, yang dibalas denagn anggukan kecil. Dia tak perlu membayar atau memesan dahulu. Pelanggan VIP kalau kata Deo, karena suaminya yang tampan itu adalah disjoki kebanggaan Hourse Club.

"Tar!"

Seorang perempuan berambut merah berlari mendekat. Dia adalah teman SMA Tari dan Deo, Cloe namanya. Anak orang kaya, yang sukanya bermain di club bahkan sejak masih SMA.

"Lo lihat Deo nggak?" Tari menggelengkan kepala, melihat Cloe yang terhuyung-huyung.

"Enggak, tuh! Kenapa? Dari pada urusin suami lo itu, mending ikut gue seneng-seneng yok! Ada bule di sana beb!" Nada bicara Cloe naik turun, tak beraturan.

"Lo minum berapa botol sih?" Aroma alkohol menyapa hidung Tari, membut kepalanya pening. Dia tidak suka minuman yang memiliki rasa tajam itu. "Lo beneran nggak lihat Deo? Katanya ada job di sini malam ini. Oh, iya. Dia tadi juga ada ribut sama pacar Nadine."

Cloe menggaruk kepala dengan bibir mengerucut. "Nadine …? Oh! Iya, beb. Tadi ada Nadine di sini. Sendirian kok, dia langsung ke sana."

Telunjuk Cloe bergetar, mengarah ke lorong gelap. Tari mengernyitkan alis, sangat tahu tempat apa itu. Tempat para pasangan yang ingin menuntaskan kesenangan, melewati malam-malam penuh jrit mesra bersama-sama.

"Nadine ke sana sendirian?"

Cloe mengangguk. Tari berdecak, dia memberi tepukan singkat di bahu Cloe. "Jangan minum lagi, pulang aja," nasihatnya, sebelum memutuskan melihat tempat yang Cloe maksud.

Setahunya Nadine akhir-kahir ini hidup dengan benar. Dia juga beberapa kali mendengar dari Deo kalau Nadine sudah tidak pernah mabuk-mabukan di club, atau menari dengan pakaian minim di atas lantai dansa seorang diri.

Tari menghentikan langkahnya setelah masuk lumayan jauh ke dalam lorong temaram itu. "Gue ngapain ke sini? Nadine mau ngapain juga bukan urusan gue."

Tujuannya adalah mencari Deo, sang suami yang entah ada di mana. Dia jadi meragukan ucapa si penelpon yang berbeda dengan Cloe. Dia hampir saja kembali, tapi seorang pria yang menggenggam ponsel dengan gantungan serupa dengan miliknya membuatnya berhenti.

Gantungan kupu-kupu dengan sayap berwarna merah dan biru. Itu ponsel milik Deo. "Lo! Stoo!" Melangkah cepat, Tari menghampiri pria bertopi hitam itu. Tanpa aba-aba dia menarik ponsel Deo, memastikan itu benar-benar ponsel suaminya.

"Lo yang nelpon gue?" tanyanya, setelah melihat wallpaper ponsel, fotonya bersama dengan Deo.

Pria itu mengangguk. "Deo ada di salah satu kamar," ucapnya.

Tari menoleh ke belakang, melihat kamar-kamar yang tertutup dengan alis mengernyit. "Dia semabuk itu?" tanyanya.

Pria bertopi hanya mengangguk singkat. "Nomor 25," beritahunya.

"Oke. Makasih, yah." Dia kembali melangkah di lorong dengan lampu redup berwarna-warni itu. Matanya menatap awas sampai menemukan papan bertulis angka 25. Sebelum mendorong pintu, Tari menatap pria bertopi lagi untuk memastikan.

Pintu kayu itu dia dorong perlahan. Kegelapan menyambut Tari. Tangannya meraba-raba dinding, menekan saklar di dekat pintu. Seketika ruangan itu diterangi cahaya dari lampu di langit-langit. Tari bisa melihat dengan jelas setiap inci dalam kamar itu.

Di atas ranjang, dua orang tengah saling menindih, tanpa satupun busana di tubuh mereka. Si wanita mendongak menatap langit-langit, membiarkan pria di atasnya bermain-main di lehernya.

Tari mengerjap pelan. Dia hampir saja menutup pintu lagi, kalau tidak menangkap tato kupu-kupu di bahu si pria. Alisnya bertaut, mulutnya terbuka kecil.

"D-deo?"

Gerakan pria itu terhenti. Dia mengangkat kepala, tanpa sengaja beradu pandang dengan Tari. Mulut Tari terbuka lebar, melihat wajah yang teramat familier itu. Dia membuang muka, di detik selanjutnya dia keluar dan membanting pintu kasar.

"Ah! S-sial! Apa-apaan!"

Menjambak rambut, Tari berkedip beberapa kali menatap pintu yang tertutup. Dia ganti melihat pria bertopi yang hanya berdiri diam. Tangan Tari kembali menyentuh gagang pintu. Tetapi, dia tidak mampu untuk mendorong sebilah pintu itu.

"Bangsat!"

Memilih pergi, Tari melangkah cepat menjauh dari kamar itu. Dia berhenti sejenak di samping pria bertopi yang kini menunduk. Tari baru bisa mengenali wajah pria itu, dia mantan pacar Nadine yang dicampakkan beberapa bulan lalu.

"Sial! Lo nggak mau putus sendiri?"

Dengan sengaja Tari menabrak bahu pria itu. Keluar dari lorong menyesakkan itu. Dia melangkah bertambah cepat, membelah kerumunan orang yang makin ramai karena sudah malam. Dia tidak peduli walau beberapa orang berteriak marah karena tertabrak olehnya.

Keluar dari club, Tari merogoh saku blazer untuk menemukan smart key, menekan salah satu tombol hingga mobilnya berbunyi. Tari berlari menghampiri mobilnya. Tangannya yang bergetar menarik pintu mobil kuat.

Dia masuk, menutup kembali pintu lalu langsung berusaha menyalakan mesin mobil. "Ahh!" Tetapi, mesin tak juga menyala. Dia kembali mencoba, hingga percobaan ke lima baru berhasil.

Namun, wajah Deo tiba-tiba muncul di kaca jendela. Pria itu mengenakan kaus yang terpasang terbalik, memukul-mukul kaca sambil berteriak memanggil Tari. Sekalipun Tari tak menoleh. Dia segera menginjak gas, memutar setir keluar dari parkiran.

Dia masih bisa mendengar umpatan Deo, yang langsung berteriak mencari kunci mobilnya. Tari tak peduli, menambah kecepatan hingga mobilnya sampai di jalan raya. Pandangannya kabur, membuatnya tak bisa melihat dengan benar.

Berada di jalan dua arah, hampir saja Tari melewati garis batas. Beberapa mobil membunyikan klakson, membuat Tari terkejut dan menginjak rem. Klakson semakin kencang orang bunyikan saat mobil Tari berhenti di tengah jalan.

Perempuan itu panik, menginjak gas dan menepikan mobil ke kiri. Napasnya memburu, kepalanya terasa pening bukan main. Menjambak rambut hingga ikatannya berantakan.

Tari membenturkan kepalanya ke setir beberapa kali. Dia menggeram keras, mengertakkan gigi kuat. Tangannya mengepal, memukul setir hingga memerah.

"Ahh!" teriaknya. Dia menggigit bibir kuat, membuang muka ke jendela, menatap beberapa pejalan kaki yang berjalan di trotoar. Tanpa bisa dia cegah, air matanya menetes begitu saja.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover
8.0
Tujuh belas tahun lamanya Song Dasom memendam rasa pada aktor Yoo Junsu. Tak disangka, sang idola membalas perasaannya hingga mereka berkencan. Namun, di balik perhatian itu, Junsu menyimpan rahasia kelam: ia hanya mendekati Dasom karena kemiripannya dengan sang mantan kekasih yang ternyata ibu kandung Dasom sendiri. Saat kebenaran terungkap, Junsu harus menebus dosanya dengan bersimpuh memohon ampun. Di tengah luka dan rintangan, mereka berjuang untuk saling memulihkan.
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit jiwa, Nayla Putri Anissa terpaksa menyamar sebagai pengantin pengganti. Ia menggantikan putri majikannya yang kabur tepat sebelum pernikahan dimulai. Dengan wajah tertutup masker, Nayla harus mengikuti skenario rumit demi menghadapi Arga Dewantara, CEO muda yang dikenal sangat dingin dan arogan. Mampukah Nayla menjaga rahasia ini saat ijab kabul berlangsung, ataukah Arga akan segera menyadari tipu daya di balik cadar tersebut?
Sampul Novel Titik Noda
8.9
Pengkhianatan menghancurkan rumah tangga saat sang suami mengaku khilaf atas perbuatan dosanya. Luka hati sang istri kian perih mengingat sosok yang mereka tolong untuk disekolahkan justru menjadi penyebab kehancuran ini. Janji mengangkat derajat keluarga orang lain malah berujung nestapa mendalam. Terinspirasi dari kisah nyata, novel ini mengulas hukum tabur tuai yang nyata. Akankah ada hikmah di balik ujian pedih yang menimpa pernikahan mereka ini?
Sampul Novel Ultimatum Kejam Sang CEO, Kebangkitanku
8.9
Bima dan aku membangun bisnis bersama, namun aku menyamar jadi developer junior demi kesepakatan satu tahun kami. Saat presentasi investor krusial, Bima justru membelanya Jihan, wanita yang menyiram tanganku dengan kopi panas. Di depan publik, tunanganku sendiri menuntutku meminta maaf demi menjaga perasaan pengganggu itu. Muak dengan pengkhianatannya, aku menunjukkan luka bakarku ke kamera dan menelepon ayahku untuk menghancurkan segalanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan