Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perasaan Setelah Jadi Abu

Perasaan Setelah Jadi Abu

Demi menyelamatkan cinta pertamanya yang sekarat akibat gagal ginjal, seorang suami tega memaksa istrinya menggugurkan janin berusia enam bulan agar bisa mendonorkan ginjal. Ancaman bunuh diri sang suami membuat sang istri tak punya pilihan selain naik ke meja operasi. Namun, prosedur tersebut berakhir tragis dengan kematian sang istri dan bayinya. Sementara sang rival berhasil bertahan hidup, sang suami justru kehilangan akal sehatnya setelah menyadari bahwa istrinya telah tiada selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Candra, Ibu sudah lama nggak bertemu kalian. Besok ajak Susan pulang buat makan di rumah. Telepon Susan nggak bisa dihubungi sejak lama. Kalian sibuk apa akhir-akhir ini?" Beberapa hari kemudian, Lisa, ibunya Candra pun menelepon. Pada saat itu, Yuli sedang bersandar manja di dada Candra.

Begitu mendengar suara Lisa, mataku mendadak terasa perih. Lisa adalah sahabat terbaik ibuku. Setelah orang tuaku kecelakaan, dia membawaku ke rumahnya.

"Bu. Dia memang nggak tahu berterima kasih. Walau dia marah padaku, dia seharusnya tetap jawab telepon Ibu!" Ekspresi Candra sangat kesal ketika menyebut namaku.

Aku berdiri di depan Candra dan menertawakan diriku sendiri. Cinta yang dulu sudah lenyap. Dia bahkan mengatakan bahwa aku orang yang tidak tahu berterima kasih.

"Candra, aku tahu di hatimu ada wanita itu. Tapi, kamu sudah menikahi Susan. Kamu harus bertanggung jawab padanya. Kalau nggak, gimana aku menjelaskan ini pada ibunya?" Lisa berkata dengan cemas.

Ekspresi Candra pun menjadi suram. Dia jawab seadanya sebelum menutup telepon.

Lalu, Candra menatap Yuli dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ingin menenangkan hatinya.

"Candra, Susan akhir-akhir ini nggak menghubungimu, ya?" Yuli bertanya dengan lirih, seolah-olah baru teringat sesuatu.

"Hubungi aku?" Candra mengerutkan kening. "Dia hampir saja membuatmu mati. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Baguslah kalau dia menghilang."

"Yuli. Tunggu aku. Begitu aku resmi cerai dengannya. Aku akan memberimu sebuah status." Candra tiba-tiba berjanji dengan serius.

Aku hanya melihat Yuli memeluk Candra dan bersandar dengan manja di dadanya. "Aku nggak masalah. Asalkan … Asalkan Susan nggak membenciku."

"Memangnya dia berani?" Candra memotong, memeluk bahu Yuli, menarik Yuli lebih dekat ke dadanya, dan menenangkan dengan nada lembut.

Aku menyaksikan semua ini dengan mataku sendiri. Dadaku terasa panas, seolah terbakar oleh api yang tak bernama.

Mungkin karena berniat membicarakan perceraian, setelah hari itu, Candra pulang ke rumah untuk pertama kalinya.

Begitu sampai di rumah, Candra tidak menemukan keberadaanku.

Secara logika, dengan kemampuan dan koneksi yang Candra miliki, mencariku bukanlah hal yang sulit.

Namun, Candra masih belum menemukanku hingga sekarang. Bukannya dia tidak mampu, tetapi dia jelas-jelas tidak ingin melakukannya. Dia hanya menungguku untuk muncul sendiri.

Ketika hari-hari berlalu tanpa kabar dariku, dia mulai gelisah. Dia mulai meneleponku berkali-kali. Dia makin tidak sabar dan penuh amarah.

Hingga suatu hari, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal meneleponnya. Dia mengira itu adalah aku. Dia langsung menekan tombol terima tanpa berpikir panjang. "Susan. Kamu hebat juga, ya. Berani-beraninya nggak angkat teleponku."

"Apa Anda keluarga Nona Susan? Jenazahnya sudah disimpan di rumah sakit selama hampir dua bulan. Mohon Anda segera datang untuk melakukan proses identifikasi." Petugas medis menelepon dan berkata dengan nada dingin.

Aku melihat Candra langsung berdiri dan tubuhnya menegang. Tangannya membeku beberapa detik di udara sebelum tersenyum sinis. "Jangan konyol. Susan, si sialan itu, meski dunia kiamat, dia belum tentu rela mati."

"Maaf, Pak. Bapak satu-satunya kontak darurat yang terdaftar atas beliau. Kami hanya bisa menghubungi Bapak."

"Huh! Kalau begitu anggap saja jenazah nggak dikenal!" Candra menjawab dengan nada dingin dan menutup telepon begitu saja.

Aku melihat tatapan matanya suram. Candra pasti marah.

Aku pun tertawa.

Sepertinya, Candra sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hidupku benar-benar sudah berakhir.

Di mata Candra, aku hanyalah seorang perempuan licik yang akan melakukan apa pun demi mencapai tujuanku. Dia sangat berharap aku yang dia benci ini bisa meninggal.

"Kirana, di mana Susan? Suruh dia segera kembali. Jangan coba-coba sembunyi." Begitu menutup telepon, Candra menelepon Kirana dan berkata dengan nada bicara yang menggebu-gebu.

Kirana adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya.

"Candra, apa kamu gila? Aku justru mau tanya, kamu bawa Susan ke mana? Sudah sekian lama dia nggak bisa dihubungi." Kirana yang ada di ujung telepon juga tersulut emosi karena kemarahan Candra.

"Kamu kasih tahu dia. Suruh dia segera pulang besok. Kalau nggak, meski dia mati di luar sana pun, aku nggak akan mengurus jenazahnya!" Candra panik. Aku tidak tahu kenapa Candra begitu panik hingga napasnya begitu tidak beraturan.

"Candra. Susan hilang! Kalau terjadi sesuatu padanya, aku nggak akan pernah melepaskanmu!" Kirana berteriak dan memaki Candra sambil menangis.

Namun, Candra malah tertawa sinis dan berkata dengan nada mencemooh, "Ini trik barunya, ya? Pura-pura menghilang supaya aku merasa bersalah? Ah. Sungguh murahan."

Air mata membuat pandanganku kabur. Ketika Candra mengatakan hal itu, perasaanku padanya benar-benar mati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra CEO kaya, terperosok dalam gaya hidup kelam dan gemar mempermainkan wanita. Namun, hidupnya berubah saat ia terobsesi pada Melati, kekasih sahabatnya sendiri. Tindakan Bisma justru membawa penderitaan bagi gadis yang ia harap mampu mengubahnya menjadi pria lebih baik. Kini, ia dihantui peringatan masa lalu bahwa kebahagiaan takkan pernah ia raih. Apakah ini kutukan atas segala dosanya? Bisma harus memilih antara melepaskan atau terus mengejar cinta.
Sampul Novel Di Balik Topeng Cinta Pertama
8.1
Suami wanita ini tega menyuap dokter untuk memberikan jantung putri mereka kepada anak dari teman masa kecilnya. Akibatnya, sang putri meninggal dalam pelukannya, sementara sang suami merayakan keberhasilan operasi itu dengan membagikan bonus. Di duka mendalam saat divonis leukemia stadium lanjut setelah muntah darah, ia pulang membawa guci abu anaknya. Namun, suaminya justru berencana pergi keliling dunia bersama teman masa kecil dan putrinya untuk merayakan kehidupan baru mereka.
Sampul Novel Foreman I Love You
8.3
Ghina mengalami pengkhianatan pahit di pabrik tempatnya bekerja. Namun, kejadian itu justru membawanya bertemu Arie, sang foreman. Untuk membalas rasa sakit hati pada sang mantan, Ghina nekat menikahi Arie secara rahasia. Kini mereka harus bersembunyi demi mematuhi aturan perusahaan. Akankah pernikahan ini bertahan saat rahasia terungkap? Ghina pun dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap bekerja atau pindah demi mendukung karier suaminya.
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
William Samsons MacRay, arsitek ternama berusia 37 tahun, tak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan saat tertimpa sial di bandara. Emmy, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta, ternyata adalah karyawan baru di perusahaan milik William. Ketertarikan mendalam membuat William selalu membawa Emmy dalam perjalanan bisnis dunianya hingga hubungan mereka berkembang menjadi sugar daddy dan baby. Namun, perjodohan dari orang tua William mengancam cinta beda usia ini.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Banyak yang menganggap Briella Moretti sangat beruntung dapat dinikahi oleh putra sulung keluarga Maven yang terpandang. Namun, di balik kemewahan itu, Adrian Maven hanya menyimpan niat keji untuk menghancurkan hidup Briella sebagai bentuk balas dendam pribadi. Adrian bertekad menyiksa batin sang istri, tapi ketulusan hati Briella justru mulai menggoyahkan komitmennya. Kini, Adrian terjebak antara ego dendamnya atau perasaan cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
9.7
Brendan meninggalkan pernikahan demi wanita lain dan yakin aku akan memohon untuk kembali. Namun, keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kami. Saat dunia mengira aku terpuruk, Edrence, sang pangeran sekaligus paman Brendan, justru mengunggah bukti pernikahan kami. Brendan yang panik segera mendatangi kediamanku, namun ia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Sambil bersandar pada suamiku, aku bertanya sinis, Ada urusan apa kemari, Ponakan?