
Perang Ego Dalam Jodoh Paksa
Bab 2
Alina terbangun keesokan harinya dengan kepala yang masih berdenyut akibat malam yang penuh dengan kecemasan. Tidur yang nyenyak sepertinya telah menjadi barang langka dalam hidupnya. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan-kue-kue yang harus dijual, uang yang harus dikumpulkan, dan tentu saja, takdir yang seakan menjeratnya tanpa ampun. Namun, yang paling mengganggu pikirannya adalah Rayan. Kata-katanya yang tajam terus terngiang di telinganya, mengulang-ulang perasaan terhina yang tidak bisa dia lupakan.
Pagi itu, Alina berusaha melupakan pertemuan yang menghancurkan hatinya. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan di rumah, membantu neneknya yang sedang sakit. Neneknya satu-satunya keluarga yang dimiliki Alina setelah kedua orang tuanya meninggal. Mereka berdua sudah seperti dua jiwa yang saling bergantung, hidup dalam dunia kecil mereka yang penuh dengan kenangan pahit. Alina berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah, meskipun dunia terasa begitu berat.
Namun, seperti takdir yang tidak pernah memberi ruang untuk penghindaran, Rayan datang lagi ke kantin tempat Alina bekerja. Kali ini, dia tidak datang sendirian. Di sampingnya, ada seorang pria paruh baya yang tampak sangat berkuasa. Seorang pengusaha besar yang tidak asing di telinga siapapun. Namanya, Darius Syahmir, ayah dari Rayan.
Alina terkejut melihat kedatangan mereka. Rayan mendekat, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius, hampir seperti seseorang yang membawa beban besar. Darius, yang merupakan orang yang penuh karisma, menatap Alina dengan tatapan yang sulit dibaca. Alina merasa cemas, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Alina Darya, bukan?" Darius memulai percakapan dengan suara yang dalam dan penuh tekanan. "Saya dengar kamu anak yang tangguh, meskipun kehidupanmu tidak mudah."
Alina terdiam sejenak, bingung dengan arah percakapan yang baru saja dimulai. "Iya, Pak. Itu saya," jawabnya perlahan.
Rayan berdiri di sebelah ayahnya, wajahnya tetap tertutup, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Alina merasa seperti dia sedang menjadi bahan perbincangan yang tidak diinginkan.
"Begini," Darius melanjutkan. "Rayan dan saya telah mempertimbangkan beberapa hal. Kamu tahu, keluarga kami membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang memiliki kualitas tertentu. Kami berpikir... kamu mungkin bisa membantu kami."
Alina merasa seakan bumi berguncang di bawahnya. Apa yang mereka maksud dengan "membantu"? Rayan, yang sedari tadi diam, akhirnya membuka mulut, suaranya terdengar seperti perintah.
"Kamu akan menikah dengan saya, Alina."
Kata-kata itu datang begitu saja, memukul Alina seperti petir yang menerpa tanah kering. Jantungnya berhenti sejenak. Semua yang ada di sekitar seakan menghilang. Di matanya, hanya ada wajah Rayan yang penuh dengan kebencian tersembunyi.
"Menikah? Dengan... kamu?" Alina berkata, suaranya hampir tidak terdengar, kebingungannya membuatnya kehilangan kata-kata.
"Ya," jawab Rayan dingin. "Kamu tidak punya pilihan. Pernikahan ini sudah diatur. Kamu tidak punya hak untuk menolak."
Alina memandang Rayan, namun kali ini tidak ada rasa tertarik yang ia rasakan sebelumnya-hanya kemarahan yang perlahan mengalir dalam dirinya. "Kenapa? Kenapa saya?" tanya Alina dengan suara yang sedikit gemetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tegar.
Darius melangkah maju, menyampaikan alasan yang lebih jernih. "Kami tahu tentang kondisi keluargamu. Dan kami juga tahu kamu tidak punya banyak pilihan. Pernikahan ini adalah solusi terbaik bagi kita semua."
Rayan menambahkan dengan nada yang lebih keras, "Tidak ada yang lebih mudah daripada itu. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kita akan menikah, dan kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami."
Alina merasa dunia terhenti. Apa yang sedang mereka bicarakan? Pernikahan terpaksa ini adalah hasil dari rencana yang lebih besar, sebuah pengorbanan yang dipaksakan. Namun, satu hal yang Alina tahu pasti-dia tidak bisa melarikan diri dari takdir ini. Hidupnya sudah berubah, dan tidak ada jalan mundur. Rayan, dengan segala keangkuhannya, telah mencap dirinya sebagai bagian dari permainan ini.
Malam itu, setelah percakapan yang menyesakkan dan tak terhindarkan, Alina kembali ke rumah neneknya dengan langkah berat. Setiap langkah yang ia ambil seakan semakin mengarah ke jurang yang lebih dalam, ke pernikahan yang tidak diinginkan. Di dalam hati, dia berdoa agar semuanya berubah, agar takdir yang kejam ini bisa diubah menjadi kebahagiaan.
Namun, meski berdoa sekeras apapun, dia tahu satu hal: hidupnya kini berada di tangan orang lain. Keputusan yang tidak bisa dia hindari akan segera terjadi. Rayan dan keluarganya sudah merencanakan segalanya, dan Alina hanya bisa mengikuti arus tanpa bisa melawan.
Pernikahan terpaksa ini adalah awal dari sebuah perjalanan yang penuh dengan kegelapan. Tetapi, mungkin di balik semua itu, ada secercah cahaya yang akan membawa perubahan. Atau justru, kebahagiaan yang diharapkannya hanyalah sebuah mimpi yang tak akan pernah terwujud.
Anda Mungkin Juga Suka





