Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penuh Luka Penderitaan

Penuh Luka Penderitaan

Valeria terpaksa bekerja lembur demi menghindari perundungan rekan kerjanya. Saat sedang membersihkan meja di ruang CEO baru, seorang pria asing yang perkasa tiba-tiba menariknya ke sebuah kamar rahasia yang mewah. Valeria terhempas ke atas tempat tidur besar di bawah kungkungan tubuh kekar pria tersebut. Tanpa daya, ia kini terjebak dalam cengkeraman sosok misterius dari dunia yang berbeda, yang secara paksa menuntutnya untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Valeria terdiam, tubuhnya masih tergeletak di atas kasur king-size yang terasa aneh. Begitu banyak pertanyaan berputar di benaknya, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Pikirannya masih terhenti pada apa yang baru saja terjadi-kehadiran Dmitri yang begitu mendominasi, kata-kata tajamnya yang penuh makna ganda. Semua itu terasa seperti sebuah permainan yang dimainkan oleh seseorang yang jauh lebih kuat dan berpengalaman.

Suaranya yang rendah, penuh perhitungan, masih terngiang di telinganya. "Kamu akan tahu apa yang aku maksud, tetapi hanya jika kamu mau bermain sesuai aturanku."

Apa artinya itu? Apa yang diinginkannya darinya? Valeria menatap langit-langit ruangan dengan perasaan cemas yang semakin dalam. Ia merasa terkunci dalam sebuah permainan yang tidak ia pilih, dan ia tidak tahu apakah ia memiliki kekuatan untuk keluar dari situasi ini.

Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik yang berlalu menambah ketegangan dalam dirinya. Setiap detik itu seperti menyimpan ancaman yang lebih besar, sesuatu yang lebih mengerikan yang ia belum pahami sepenuhnya. Ia ingin melarikan diri, tetapi ia tahu itu tidak mungkin. Dmitri adalah sosok yang terlalu berkuasa, dan meskipun ia belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi, ia tahu bahwa mencoba melawan hanya akan memperburuk keadaan.

Valeria memaksa dirinya untuk duduk di tepi kasur, meremas tangan dengan kuat, berusaha untuk mengendalikan perasaan paniknya. Beberapa menit berlalu, dan ketegangan di dalam dirinya semakin memuncak. Ia harus mencari tahu apa yang Dmitri inginkan darinya. Lebih penting lagi, ia harus mencari cara untuk bertahan, untuk keluar dari sini dengan utuh.

Akhirnya, pintu terbuka kembali. Langkah kaki berat Dmitri terdengar mendekat, dan Valeria segera berdiri, berusaha menampilkan wajah yang lebih tegas, meskipun hatinya berdegup kencang. Pria itu tidak memberi isyarat apa-apa saat memasuki ruangan, hanya menatapnya dengan tatapan penuh teka-teki, seolah sedang menilai reaksi setiap gerakan Valeria.

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Dmitri, suaranya dingin, namun ada ketegasan yang menggetarkan dalam kata-katanya.

Valeria menelan ludah. "Saya... saya tidak tahu apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan Dmitri," jawabnya dengan suara pelan. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut yang masih menguasainya, meskipun napasnya terasa terengah-engah.

Dmitri mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajah Valeria. "Kamu benar-benar tidak tahu?" katanya dengan senyum tipis yang sulit dimengerti. "Kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu hadapi?"

Ada rasa bahaya yang menyelimuti kalimat itu. Valeria merasakan tenggorokannya tercekat. "Saya... saya hanya ingin melakukan pekerjaan saya, Tuan. Saya tidak ingin terlibat dalam apapun yang tidak seharusnya saya lakukan."

Dmitri tetap diam beberapa saat, menatapnya dengan tatapan tajam yang hampir menembus dirinya. Sepertinya ia sedang menganalisis setiap kata yang keluar dari bibir Valeria, mencari sesuatu yang tersembunyi.

Akhirnya, Dmitri membuka mulutnya, suaranya tetap rendah namun penuh dengan kekuatan. "Kamu sudah terlibat lebih dari yang kamu kira, Valeria. Tidak ada jalan mundur. Ini bukan soal pekerjaanmu lagi. Ini tentang siapa yang kamu pilih untuk menjadi, dan bagaimana kamu bertahan di dunia yang penuh dengan kekuasaan dan intrik."

Valeria merasa tubuhnya kaku. "Saya tidak mengerti, Tuan."

Dmitri mendekat lagi, kali ini menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam, seolah menelusuri isi hatinya. "Kamu sudah ada di sini terlalu lama, Valeria. Terlalu lama berada di bawah bayang-bayang orang lain. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi ini adalah kesempatanmu. Peluang untuk mengendalikan takdirmu sendiri."

Valeria merasa cemas, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Apa yang harus saya lakukan?"

Dmitri tertawa pelan, suaranya seperti desir angin yang dingin. "Itu bukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang tepat adalah, apakah kamu berani mengambilnya?"

Perasaan cemas yang sebelumnya hanya muncul sebagai bayangan kini berubah menjadi gelombang emosi yang mengguncang seluruh tubuhnya. Valeria merasa dirinya terperangkap dalam permainan yang tidak ia pilih. Sepertinya, Dmitri sedang menawarkannya sesuatu-sesuatu yang sangat besar, dan itu akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi apakah ia siap untuk itu?

"Jika kamu ingin bertahan, jika kamu ingin menjadi lebih dari sekadar pion dalam permainan ini," lanjut Dmitri, "maka kamu harus menunjukkan kekuatanmu. Kamu harus tahu bagaimana cara bertahan, dan lebih penting lagi, bagaimana cara menguasai dunia ini."

Valeria terdiam, bingung. "Tapi saya hanya seorang asisten. Apa yang bisa saya lakukan?"

Dmitri mendekat lebih jauh, kini hanya beberapa inci dari wajahnya. "Tidak ada yang namanya 'hanya seorang asisten', Valeria. Kamu hanya perlu tahu bagaimana memanfaatkan apa yang ada di depanmu."

Ia menarik mundur sedikit, menatap Valeria dengan tatapan yang tajam. "Kamu akan mengerti lebih cepat daripada yang kamu kira. Tetapi ingat, dunia ini bukan tempat untuk orang yang lemah. Ini adalah dunia kekuasaan."

Valeria merasa tercekik oleh kata-kata itu. Dunia kekuasaan. Ia telah mendengar banyak hal tentang dunia seperti itu-tentang bagaimana seseorang bisa mendapatkan segalanya dengan kekuatan dan pengaruh. Namun, ia selalu merasa bahwa dunia itu terlalu jauh untuknya. Sekarang, Dmitri mengingatkannya bahwa ia telah memasuki dunia itu tanpa disadari.

"Saya... saya tidak tahu apakah saya siap untuk itu, Tuan," Valeria berkata pelan, hampir seperti berbisik.

Dmitri tersenyum tipis, senyum yang begitu dingin dan penuh perhitungan. "Kamu tidak perlu siap, Valeria. Kamu hanya perlu mengikuti jalan ini. Jika kamu ingin bertahan hidup di sini, kamu harus belajar cara bertindak tanpa ragu, tanpa rasa takut."

Kata-kata Dmitri menggema di benaknya, dan dalam diamnya, Valeria tahu bahwa ia berada di persimpangan jalan. Dunia yang baru ini, dunia yang penuh dengan permainan kekuasaan dan ketegangan, bukan sesuatu yang bisa ia hindari lagi. Ia telah terperangkap, dan meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tahu satu hal-kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.

Seiring dengan semakin banyaknya perasaan dan pemikiran yang berputar di dalam dirinya, Valeria tidak bisa menghindari kenyataan bahwa ia harus memilih. Ia harus memilih untuk bertahan atau menyerah. Tetapi jika ia memilih untuk bertahan, maka harga yang harus dibayar mungkin lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan.

Dmitri kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Valeria yang masih terdiam, terperangkap dalam pikiran dan perasaan yang semakin menggelora. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya-apakah ia akan menjadi bagian dari permainan ini atau terjerat dalam jebakan yang lebih dalam. Tapi satu hal yang pasti, malam ini, ia telah melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda.

Dan dunia itu tidak akan pernah membiarkannya pergi begitu saja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Satu Milyar
8.0
Nara harus menelan pil pahit saat ibu kandungnya menjual kesuciannya di usia delapan belas tahun demi melunasi utang. Niat hati merantau ke kota demi mencari sang ibu yang menghilang sejak ia kecil, Nara justru terjebak dalam nasib kelam. Pertemuan yang ia dambakan malah menghancurkan masa depannya secara total. Kini, tiga tahun telah berlalu sejak kejadian tragis tersebut, dan Nara terpaksa menjalani kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebagai seorang sugar baby.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel CEO in My Bed
8.6
Mahesa, pria kaya yang skeptis terhadap cinta akibat masa lalu kelam, mengajukan tawaran gila kepada Athalia. Ia berjanji membiayai pengobatan adik Athalia asalkan gadis itu bersedia menjadi teman tidurnya selama satu bulan. Di tengah tuntutan dingin sang CEO yang kerap merendahkan wanita, Athalia bertahan dengan ketulusan hatinya. Akankah pengabdian dan kasih sayang Athalia mampu meruntuhkan dinding keangkuhan Mahesa dan membuatnya percaya pada cinta?
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dijual oleh ayahnya sendiri kepada Fahreza Murni, seorang CEO dingin, sang putri liar mengira ia dicintai hingga pengkhianatan menyakitkan terjadi. Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, wanita manipulatif yang ia bela meski telah menghina warisan tersebut. Setelah diseret ke rehabilitasi, cinta berubah menjadi dendam membara. Saat Fahreza kembali memohon maaf, ia menerimanya hanya untuk menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel ISTRI LUMPUH TUAN NATHAN
8.0
Violetta harus menelan kenyataan pahit dalam pernikahannya dengan Nathan. Meski telah memberikan seluruh hatinya, ia menyadari bahwa cinta tulus yang ia harapkan tidak akan pernah terbalas. Nathan tetap menjaga jarak yang tak tertembus, membuat Violetta merasa seperti orang asing yang tak dianggap. Harapan untuk menjadi bagian utuh dari hidup pria itu sirna, meninggalkan luka mendalam bagi Violetta yang terabaikan dalam hubungan yang dingin ini.