
Penjara Cinta Sang CEO
Bab 2
"Teman anda peduli dengan kesehatan ya, cuma sariawan tapi udah ke dokter," kata mbak perawat membicarakan Trey.
Vano berhati-hati agar tidak sampai keceplosan, "Iyalah Mbak Per, kesehatan itu kan penting. Mana dia itu sering bisnis trip ke luar negeri, daya tahan tubuh kudu jreng," jawabnya ngawur.
"Bisnis trip?" tanya perawat itu heran kerja apaan.
"Iya bisnis trip, si biang kerok itu meski tampangnya mesum begitu. Tapi dia itu pemimpin perusahaan Mbak Per, kalo di novel online itu CEO gitu. Jangan lihat tampangnya yang kadang agak kayak bodoh, dia punya jabatan itu karena hibahan." Vano semakin nyaring gibah soal temannya.
Si perawat mengangguk, "Pekerjaan bagus," pujinya.
"Oya Mbak Per, boleh minta nomer gak? Biar sepik-sepik bisa lanjut lagi nanti," rayu Vanno melancarkan jurus kadal.
"Boleh," jawab si perawat malu-malu, digoda orang ganteng.
"Cakep, etapi itu kok tiba-tiba kepikiran sama si Trey ya," gumam Vanno melongok koridor yang sunyi. Dibawa periksa apa dipakai buat tumbal itu anak.
"Anda tidak perlu kuatir, dr. Shan itu baik, juga bagus," ucap si perawat.
"Gitu ya, sukur deh," gumam Vanno kembali mengalihkan pandangannya kepada orang cantik.
"Iya benar, mana dr. Shan itu cantik, pasti temannya kerasan di sana." Si perawat menambahkan info yang tidak penting.
Vanno yang semula tersenyum ganjen segera diam, "Eh gimana? Cantik?" tanyanya cepat.
"Iya," jawab si perawat.
"Loh bukannya laki?" tanya Vano kaget.
"Bukan, dr. Shan itu cewek." Si perawat tersenyum.
"Buset, bisa ditelen sama Trey aku nanti, waduh," gumam Vanno kebingungan.
Vano meringis, waduh itu jelas bahaya. Apalagi semua gejala yang dikeluhkan oleh Trey sepertinya adalah penyakit kelamin. Kalau umpama dokter yang memeriksanya adalah cewek, bagaimana rasanya. Baiklah, mereka terbiasa dengan cewek bahkan menidurinya juga, tapi kasus ini beda, sangat beda. Vanno menelan saliva dengan berat, ini kalau bertemu dengan Trey, dirinya sudah pasti akan dihajar. Jadi, mending kabur sajalah. Bodo amat dia nanti pulang pakai apaan.
"Mbak Per saya pamit, nanti kalo kawan saya nyari bilang lagi kebelet," kata Vano berpamitan.
"Di sini ada toilet," jawab si mbak perawat.
"Gak jadi kebelet Mbak, itu ini ada panggilan mendadak," kata Vanno kesulitan beralasan.
"Panggilan?" tanya si perawat heran, macam dokter saja on call.
"Itu, itu ... ada urusan. Kalo temen saya ntari bilang saya dicari emak, suruh beli gula. Pamit dulu, nanti saya telpon kamu ya cantik," pamit Vano segera pergi meninggalkan tempat itu, bodo amat Trey masih di dalam.
Bagaimana mungkin, itu nama dokternya kenapa mirip laki. Yang bikin nama siapa sih.
***
Shan memandang ke arah pintu yang baru saja terbuka itu, seorang perawat tampak mengantarkan seorang pria yang umurnya tidak jauh dengan dirinya. Baiklah harus diakuinya kalau dia terlihat tampan, untuk ukuran orang sakit dia lumayan tampan. Shan segera memasang senyum manis dengan wajah ramah, tapi entah kenapa orang itu malah menatapnya seperti melihat hantu. Memangnya ada masalah apa, perasaan dirinya juga tidak jelek amat.
"Maaf Dok gak jadi," kata Trey segera membalikkan badannya.
"Oh ... ya, silahkan," jawab Shan dengan pandangan bingung.
"Makasih," jawab Trey dingin.
"Tapi ... boleh kenapa?" tanya Shan kaget, ada masalah apa.
"Anda, perempuan," jawab Trey dengan polos.
Shan segera mengernyitkan kening, hari begini masih juga bicara gender. "Memang kenapa kalau saya perempuan?" tanyanya tegas, dan lebih ke galak.
"Saya mau konsul ke dokter pria," jawab Trey tanpa menyadari itu sudah seperti penghinaan.
Shanln segera berdiri, "Maaf, apa anda punya masalah dengan saya?" tanyanya sedikit kesal.
Trey salah tingkah, wanita itu memandangnya dengan wajah menyiratkan banyak pertanyaan. "Tidak, tapi ... saya kira tadi anda dokter pria, maaf," ucapnya segera keluar.
Shan merasa geram, bagaimana bisa ada orang yang tidak sopan seperti itu. Memang kenapa dengan perempuan, memangnya hanya pria saja yang mempunyai keahlian begitu, perempuan juga sama. Gelar dokternya diraih dengan susah payah dan sekarang ada seorang pasien yang tidak jadi masuk ke ruang prakteknya hanya karena dia adalah perempuan. Kurang ajar sekali. Segelas air di sebelahnya segera diminum hingga habis, kesal.
Seorang perawat masuk ke ruangannya dengan heran, "Ada apa Dok?" tanyanya.
"La, emang tampangku kayak setan?" tanya Shan dengan galak.
"Gak lah Dok, cantik," jawab Mila heran, kesambet apa dr. Shan.
"Ngomongin cantik kuntilanak katanya juga cantik La," gerutu Shan membereskan peralatannya, tidak ada pasien lagi sebaiknya dia pulang saja.
"Da apaan sih Dok?" tanya Mila yang membantu beres-beres.
"Tau pasien tadi? Mentang-mentang ganteng sombongnya selangit, masa kemari abis liat aku trus keluar lagi bilang gak jadi, kutanya alasan cuma karena aku cewek. Kan gak sopan," ungkap Shan kesal.
"Yang namanya Trey Vallois itu? Ganteng tapi Dok," kata Mila ganjen.
"Ganteng kalo gak ada akhlak buat apa, dahlah kesel aku. Dah gak ada pasien lagi kan? Pulang ya," pamit Shan dengan kesal menggunung.
"Gak ada lagi Dok, pak Trey tadi pindah ke dr. Joko," jelas Mila polos berniat memberi informasi tapi malah menyulut emosi.
"Da masalah apa tu orang sampe gak mau sama dokter cewek alergi apa gimana," gumam Shan dendam.
"Kali aja pobia cewek Dok, kayak yang pernah kubaca di novel online. Apa dia alergi, Deket cewek langsung kekebalan tubuhnya mengeluarkan histamin trus dia gatel-gatel," sahut Mila.
"Pinter bener ngelawaknya, dah bodo amat. Gak usah bahas orang bernama siapa tuh? Trey? Punya nama kok ya aneh banget," ucap Shan terus menggerutu.
Mila tidak berani lagi membalas, rupanya dr. Shan benar-benar kesal. Memang, kalau seperti itu ya menjengkelkan. Tapi mungkin saja si pak Trey itu punya pertimbangan lain. Atau benar-benar punya alergi terhadap cewek. Kasihan sekali, Mila menutup ruang praktek itu sementara partner kerjanya sudah melesat pergi ke depan. Memang 5 menit lagi sudah waktunya pulang, dr. Shan curi start.
Shan memandang dendam ke arah pria yang berjalan keluar dari koridor sebelah kanannya itu, wajahnya terlihat sayu entah kenapa. Oh, lupa, dia ke klinik ini untuk konsultasi, sudah pasti itu berarti kalau dia sedang sakit. Bibir Shan mencibir kesal, hak pasien memang memilih dokter yang menanganinya. Tapi bicara seperti tadi jelas menunjukkan kalau dia tak punya etika. Dan orang itu meninggalkannya hanya dengan alasan karena Shan perempuan, tidak bisa dimaafkan.
"Anda lagi," gerutu Shan mempercepat langkahnya.
"Apa lihat-lihat? Kalo naksir bilang," bisik Trey begitu sudah sampai di dekat Shan.
"Naksir Anda? Tidak akan," balas Shan tidak kalah congkak.
"Akan kuingat itu," sahut Trey sombong.
"Akan kuingat juga kalau anda sosok lelaki picik yang di jaman modern masih saja membedakan gender dalam pelayanan publik," sindir Shan jengkel.
"Memilih dokter bukannya hak pasien? Lalu kenapa anda yang tidak rela? Yang saya lakukan benar, ganti dokter. Tidak bakalan saya mau dirawat sama orang macam ini." Trey juga tidak kalah sengit.
"Eh apa? Gimana?" tanya Shan, bicara apa.
"Atau jangan-jangan anda naksir sejak pandangan pertama? Mengaku saja," tanya Trey mendekatkan wajahnya.
Wajah Shan segera memerah marah, "Awas kau. Akan kubalas kau ... tunggu saja ... !" serunya.
"Dasar dokter nyinyir,"
***
Anda Mungkin Juga Suka





