
Penjara Cinta Sang CEO
Bab 3
"Plaaaak ... !"
Baru saja main dan rencana mau push rank, tapi konsentrasi buyar gara-gara ada yang datang dan segera main tangan. Ada masalah itu sebaiknya dibicarakan dengan baik, bukannya datang langsung tangan yang bicara. Entah ini permainan game-nya apa kabar yang pasti konsol itu segera diletakkannya daripada kenapa-kenapa. Orang pulang dari dokter bukannya sembuh tapi malah jadi gila, mengamuk.
"Trey kenapa aku ditampol?" tanya Vano meringkuk memegangi bantal.
"Kau ini ngaku teman sejati, apaan tadi ditinggal di klinik. Sejati apaan ... ?! Mau kau kuhajar lagi?" tanya Trey kesal.
"Ada urusan bestie," jawab Vano serius.
"Ngomong bestie lagi kutampol kau," sahut Trey segera.
Bagaimana tidak kesal, setelah berbalas ocehan dengan dokter wanita itu Trey harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Vano meninggalkannya tanpa pamit. Jadi begitu rupanya rasanya di-ghosting. Apa tadi dia tidak tahu penderitaannya selama di klinik, diperiksa diobok-obok, untung dokternya sesama laki dan sudah agak berumur. Sempat ada sedikit ceramah tentang pergaulan bebas yang mana terpaksa didengarkannya, daripada diperiksa oleh dokter cewek. Membayangkan ditelanjangi sedangkan mereka meneliti setiap inchi bagian tubuhnya, jangan harap itu terjadi.
Belum termasuk dia harus ke lab untuk pemeriksaan entah apa, beberapa CC darahnya diambil. Trey yang tidak terlalu suka dengan urusan begitu rasanya ingin berteriak kesal. Dan siapa pula cewek yang sudah menularkan penyakit laknad itu kepadanya, tidak ingat lagi. Karena dalam sebulan belakangan dia telah berganti sebanyak 8 kali. Seingatnya dia juga memakai helm pelindung, ya seingatnya. Pas tidak ingat ya tidak.
"Maaf ya Bro," gumam Vano.
"Beli gula apaan?! Kerenan dikit kenapa cari alesan itu, ah bodoh kali kau ... !" umpat Trey yang masih juga kesal.
"Trus, tadi balik pake apa?" tanya Vano akhirnya ingat.
"Nebeng ojol, terbayang gimana coba. Seorang Trey Vallois, naik ojol. Cakep bener pengalaman hidupku malam ini." Trey mendelik ke arah Vano yang malah tertawa terbahak.
"Pengalaman idup yang lain apa? Kata dokter gimana?" tanya Vano menanyakan sari pati dari semua permasalahan itu.
"Gak usah ngeledek," balas Trey kesal.
"Ditanya juga, apaan?" tanya Vano penasaran.
"Buat mastiin, ngelab dulu tadi. Nih liat," kata Trey menunjuk lengannya yang berplester putih.
"Gak dikasih tau emang? Kenapa gitu?" tanya Vano penasaran, jangan-jangan benar penyakit kelamin. Dia kan sering celup kesana-kemari.
"Baru curiga doang sih, pastinya lihat hasil lab dulu," gumam Trey menaruh tubuhnya di sofa.
"Apa katanya?" tanya Vanno semakin penasaran.
"STD," gumam Trey pelan.
"Buahahahaha ... ! Itu bisa kena begitu gimana caranya? Dasar bodoh." Tawa Vano menggema ke seluruh penjuru ruangan, sudah diduga memang si Trey terkena yang begitu. Main cewek terus sih, bagi ke temannya kek satu. Bukannya semua diembat begitu.
Trey diam menatap ke depan, ya memang gaya hidupnya ini terlalu kebablasan. Bagaimana lagi kalau rem itu memang tidak ada. Dia memiliki privilage yang mendukung semua kenakalannya, wajah tampan, tubuh yang setiap hari diukir di gym, juga tongkrongan mewah berpintu dua. Ketika di club dan open table, cukup diam saja sejenak pasti kaum hawa segera mendekat bergabung. Salah satu di antaranya bisa dipastikan bisa dipakai sebagai partner one night stand. Dan kini penyakit karena bakteri itu menjangkitinya, kan sial.
"Bro, nular gak?" tanya Vanno iseng.
"Ya nular," gumam Trey kesal, katanya dilarang aktif secara seksual dulu, kan asem. Puasa.
Mendengar itu Vanno segera mendelik, "Ya jangan deket-deket. Aku ketularan gimana ... ?!" teriaknya panik.
"Plaaaakkk ... !"
"Nularnya gak kayak pilek busettt ... ! Kenapa? Takut ketularan aku? Sini kau kugarap biar ketularan ... ! Bodo amat sama lakinya juga ... !" teriak Trey kesal.
Vano merapal mantra berulang kali, kawannya kesambet.
***
Yang dideritanya bukan HIV yang tidak bisa disembuhkan hingga sekarang, yang mana meski sudah tidak bisa dideteksi tapi virus itu masih berdiam di tubuh. Yang berada di badannya ini adalah bakteri entah apa namanya, kata dr. Joko bisa diobati asal patuh dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Trey pasrah, pokoknya harus segera sembuh. Kalau sampai terdengar emaknya dia kena begini, pasti nanti diomeli dan dihubungkan dengan sinetron azab.
"Selamat malam pak Trey, kami mau menginfokan kalau dr. Joko selama 2 Minggu pergi ke luar negeri karena ada seminar. Jadi pengobatan anda akan dialihkan kepada dokter umum lain, maaf atas ketidak nyamanan anda. Dan ini hasil lab anda sudah jadi, dan silahkan dibawa." Panjang sekali si perawat itu berkata lengkap dengan intro juga kalimat ajaib lain. Dokter Joko tidak ada katanya, apalagi ini.
"Trus saya nanti ke dokter siapa ya?" tanya Trey.
"Kebetulan anda diserahkan kepada dr. Shan, mari silahkan duduk di sini, saya cek dulu ya," kata perawat itu dengan penuh semangat.
"Apa ... ?" tanya Trey kaget.
"Apanya ya Pak?" tanya perawat itu.
"Saya sama dr. Shan?" tanya Trey menegaskan.
"Iya Pak Trey," jawab si perawat dengan sabar.
"Gak ada dokter lain?" tanya Trey berusaha menghindar dari dokter galak itu.
"Ada, tapi berkas anda sudah diberikan kepada dr. Shan. Yang ngasih dr. Joko sendiri," balas si perawat.
Trey mengelesot merana sementara si perawat itu memeriksa tekanan darahnya. "Mampus," gumamnya.
"Pak, kok tinggi? Kemarin tidak segini kan ya?" tanya si perawat heran.
"Ya jelas tinggi mbak Per, saya stressss ... !" teriak Trey kesal.
Si perawat pelan melepas benda hitam yang semula melingkar di lengan Trey, salah apa coba dirinya. Kena omel.
***
Sudah bisa dipastikan, nenek Lampir itu tertawa puas ketika Trey memasuki ruangannya. Sebenarnya mau ke dokter lain saja, tapi malas kalau nanti diobok-obok seperti yang dilakukan oleh Dr. Joko kemarin. Belum lagi kalau dokternya iseng dia disuruh tes lagi, sudahlah pasrah sajalah biar cepat sembuh. Jadi nanti kalau ulang tahun papa dia bisa ikut pergi ke Vegas dan berpesta dengan para wanita. Penyakit ini siapa yang menularkan sih, Trey bahkan tak ingat.
"Oh anda," sapa Shan sedikit mencibir ketika pintu terbuka dan tampak seorang lelaki yang kemarin sempat beradu mulut di depan lobby. Bagaikan jodoh saja ujungnya kembali, bilang saja susah move on, belagu.
"Sudah jangan basa-basi, hasil tesnya itu dan rekam medis pasti sudah baca. Buruan beri resep dan saya pergi." Trey berkata sinis karena tidak nyaman teringat peristiwa kemarin.
"Jadi, STD, ah sayang sekali. Sampai dinyatakan sembuh anda jangan dulu berhubungan seksual ya, Pak Trey." Shan tersenyum setelah sekali lagi membaca semuanya.
"Baiklah, jadi bisa beri resepnya sekarang?" tanya Trey yang malas berhubungan dengan dokter nyinyir ini.
"Nanti saya berikan, sebelum itu saya mau bertanya. Apakah anda alergi dengan antibiotik tertentu?" tanya Shan memastikan, sesuai dengan amanat dr. Joko. Tidak lucu baru diberi obat pasien langsung kejang dan pingsan tidak bisa bernapas. Apalagi dengan si angkuh yang bernama Trey Vallois, sebaiknya tidak cari perkara, malas.
Alergi apaan, antibiotik apaan, Trey yang hampir tidak pernah sakit hanya melongo bingung. "Gak tau," jawabnya pelan.
"Kalo gitu kita tes dulu ya, kalo gak ada reaksi alergi baru dilanjutkan," kata Shan tersenyum tipis mengeluarkan sebuah suntikan kecil.
"Apa?!" tanya Trey bingung.
"Berikan tangan anda," perintah Shan sedikit galak.
Bingung, tapi Trey sodorkan juga tangannya ke depan dokter galak itu, entah mau diapakan dia sama sekali tidak paham. "Aw," gumamnya kaget.
"Oh, saya kira anda pria kuat, ternyata ... kita tunggu reaksinya sebentar lagi." Shan tersenyum puas melihat orang sombong itu sedikit meringis ketika suntikan subkutan itu dilakukan.
"Saya cuma kaget," balas Trey menarik tangannya.
"Oh baiklah, kaget," kata Shan tertawa dengan nada mengejek.
Sebenarnya tidak hanya kaget, dirinya yang hampir tidak pernah berurusan dengan yang seperti ini harus mengakui kalau yang tadi itu memang sedikit perih. Dasar penyakit sialan, entah bagaimana dia bisa tertular penyakit ini. Padahal sejak dulu dia sering kali one night stand, sejak kuliah mungkin. Baru sekarang kena azab, mana ditangani oleh dokter rese pula. Hingga beberapa lama, tidak ada percakapan apapun di antara keduanya di ruangan itu dan dokter itu kembali melihat tangannya yang tidak ada reaksi apapun.
"Tidak ada alergi, bagus. Sekarang anda bisa naik ke atas exam bed dan turunkan celana anda," kata Shan berdiri dan tangannya segera sibuk entah melakukan apa.
"Apa?" Trey heran, kenapa masih pula disuruh buka celana. Di hadapan wanita seksi dan berbalut hasrat sih dia akan senang hati melakukannya, tapi bersama seorang dokter dan dia diinspeksi jelas itu cerita lain.
"Apa saraf vestibulokoklearis anda juga terganggu? Saya ulangi, silahkan naik ke exam bed dan turunkan celana anda," balas Shan kesal.
"Apapula saraf vestibulo, dan kenapa pake disuruh turunin celana segala?" tanya Trey kesal, dengan dr. Joko sudah diperiksa diobok-obok masa sekarang juga sama. Yakali dokternya tidak wanita, kesal.
"Silahkan," balas Shan menunjuk exam bed yang teronggok di sudut ruangan.
"Bukankah diagnosanya sudah ada? Kenapa disuruh buka celana segala? Mau periksa lagi atau anda cuma iseng pengen liat alat tempur orang karena kurang jatah?" tanya Trey kesal.
Shan melongo, dasar mesum. Pantas saja kena STD, pikiran kesana terus. "Pikiran anda kemana? Cuma mau suntik antibiotik saja," jawabnya yang dengan sengaja menampilkan wajah polos.
"Apa?" tanya Trey, aelah kenapa pakai suntik segala.
"Suntik antibiotik," jawab Shan dengan polos.
"Hah? Suntik antibiotik?" ulang Trey.
"Iya, selama 10 hari ke depan," jelasnya dengan puas.
"What the ... fffff ... !"
Yang benar saja.
***
Anda Mungkin Juga Suka





