Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin SMA

Pengantin SMA

Laura dan Kavin terpaksa menikah di usia sekolah setelah tertangkap basah berada dalam satu kamar. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya tak punya pilihan selain patuh pada keluarga. Menjalani rumah tangga ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran sekolah yang paling sulit sekalipun. Di tengah gejolak emosi masa muda, mereka hanya ingin bercerai namun belum berdaya. Sambil menunggu saat berpisah, mampukah pasangan ini tetap waras menghadapi satu sama lain?
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah kedua anak manusia itu dengan teganya dipaksa untuk menikah, kesialan seakan terus mengikuti mereka. Bagaimana tidak? Dua hari yang lalu, mereka telah melangsungkan pernikahan privat yang mana hanya dihadiri oleh keluarga mereka. Kemudian, hari ini Kavin dan Laura diusir dari rumah mereka masing-masing. Mereka dilarang keras tinggal di rumah mewah kedua orang tua mereka.

Sebagai gantinya, Papa Kavin memberikan apartemen mewah yang katanya adalah hadiah pernikahan mereka. Keduanya sama sekali tak bisa menolak. Kehidupan baru mereka dimulai hari ini, di apartemen ini. YANG SIALNYA LAGI WALAUPUN MEWAH HANYA MEMILIKI SATU KAMAR.

“Ini Papa lo kayaknya udah tahu rencana kita mau pisah kamar, deh.“

Laura menghentikan langkahnya di ruang tamu, matanya menelusuri ruangan yang terdapat banyak perabot mewah itu. Tampak jelas oleh mata Laura bahwa barang-barang di sana sangat berkelas. Tak heran, keluarga Kavin kaya raya.

“Syukurin aja udah dikasih apart kayak gini, dari pada disuruh ngontrak,” cibir Kavin tak mengindahkan Laura dan lebih memilih untuk langsung masuk ke kamar berukuran 6x6 meter itu, cukup luas untuk ditinggali berdua. Itu belum termasuk kamar mandi dan walk in closet yang turut ada di dalamnya.

“Tapi janji, ya, Vin, kita bakal cerai setelah lulus sekolah. Gue nggak mau jadi istri lo terus! Gue mau kuliah di Harvard! Pokoknya gue mau ke luar negeri setelah lulus!“ Laura kembali mengingatkan perjanjian yang mereka buat sebelum menikah.

“Iya, bawel! Gue juga nggak mau lama-lama jadi suami lo!“

“Ya udah! Gue capek banget, mau istirahat.“ Laura menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Koper yang sebelumnya dia bawa hanya dia letakkan begitu saja di samping sofa. Alih-alih mengikuti Kavin ke kamar, Laura memilih untuk istirahat di sana.

Dua jam berlalu, Kavin keluar dari kamar dan langsung menghela napas kasar ketika melihat Laura yang tidur di sofa dengan televisi yang menyala. Kavin tak apa-apa jika Laura hanya tidur selayaknya orang nomal. Namun, gadis itu? Sama sekali tidak normal. Posisinya SANGAT TIDAK ANGGUN. Dengan kaki terangkat ke sandaran sofa dan kepala yang hampir menyentuh lantai.

"Nyusahin banget nih cewek," gerutu Kavin takjub melihat tingkah Laura.

Pemuda itu berjalan ke arah televisi dan mematikannya, kemudian menghadap Laura yang sedang menikmati tidur manisnya.

"Laura, bangun!" ucap Kavin menarik kaki Laura yang naik ke sandaran sofa secara kasar.

Namun, tak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh Laura, gadis itu tidak terpengaruh oleh tarikan Kavin di kakinya yang tidak bisa dibilang pelan. Kavin mengumpat di dalam hatinya. Benarkah Laura tertidur? Dia tidak mati, kan?

"Woi, Ra! Jangan tidur di sini, ah!" teriak Kavin di depan telinga Laura.

Lagi-lagi tak ada respon, tangan Kavin menyentuh bawah telinga Laura dan pergelangan tangannya. Dia mencoba mengecek denyut nadi gadis itu. Tak ada yang aneh, masih berdenyut seperti biasa. Laura masih hidup.

"Ra!" Kavin menggoyangkan bahu Laura, untuk kemudian menyerah.

Dia mengetahui fakta baru sekarang, gadis itu ketika tidur selayaknya orang mati. Sekalipun ada gempa, Kavin yakin seratus persen bahwa dia tak akan terbangun.

Menyerah, Kavin melangkah memasuki kamarnya, berusaha berpikir masa bodoh dengan keadaan Laura sekarang. Toh, gadis itu tak keberatan. Bukan salah Kavin juga, dia tak menyuruh gadis itu untuk tidur di sana.

"Punya bini satu saja nggak beres," keluh Kavin membaringkan tubuh atletisnya ke ranjang empuk di kamarnya.

Matanya terpejam, berusaha menghantarkan dirinya ke alam mimpi. Namun, belum genap satu menit dia memejamkan mata, entah mengapa dia khawatir dengan Laura. Ada perasaan tak tega singgah di hatinya.

Akhirnya, Kavin kembali bangkit dan menghampiri Laura. Menggendong Laura untuk dia pindahkan ke dalam kamar. Kavin menyelimuti Laura kemudian duduk di sofa yang berada di kamarnya. Pemuda itu bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.

“Buset, gue nggak nyangka kalau lo seperhatian itu sama gue.“

Celetukan dari Laura membuat Kavin membuka mata. Pemuda itu pun memelotkan matanya tatkala di atas kasur, Laura sudah duduk bersila sembari memeluk guling dan menatapnya. Jangan lupakan senyum lebar menjengkelkan yang gadis itu tunjukkan.

“Lo pura-pura tidur?“ Kavin bertanya kesal.

Gadis itu menggeleng. “Enak aja! Gue tuh beneran tidur. Cuma kebangun aja pas lo gendong tadi,” jelasnya menyengir tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

“Emang bener-bener nggak waras lo.“ Kavin memaki. Tangannya mengambil ponsel di saku kemeja yang dia kenakan, tak memedulikan Laura yang membuatnya kesal.

“Kavin,” panggil gadis itu setelah beberapa saat terdiam.

Panggilan Laura mengalihkan perhatian Kavin. Pemuda itu mendongak untuk menatap Laura yang kini melihatnya dengan tatapan aneh.

"Kenapa?"

Laura memegangi perutnya, lalu meringis ke arah Kavin. "Laper."

"Terus?" tanya Kavin dengan wajah datar, kenapa dia tidak peka juga?

"Kavin! Gue ini istri lo! Nggak tanggung jawab banget jadi suami! Lo mau gue aduin ke Mama?"

Laura bangkit dan melemparkan bantal ke Kavin. Lalu, dia menghentakkan kakinya pertanda kesal, dan keluar dari kamar seraya membanting pintu. Kakinya melangkah ke dapur, mencoba mencari apapun yang bisa dia makan.

Kavin menghela napas kasar, berpikir dosa apa yang pernah dia lakukan sampai mendapat istri sejenis Laura. Tak membiarkan Laura yang mungkin akan mengacau di luar, Kavin akhirnya menyusul Laura. Gadis itu terlihat duduk di sofa ruang tamu, sedang mengotak-atik ponselnya.

"Lo telfon siapa?"

Laura mendengkus menatap Kavin. Dia berbaring di sofa tanpa mengindahkan pertanyaan Kavin. Melihat nomor yang sama lalu menghubunginya lagi.

"Gue tanya, lo telfon siapa?"

Suara Kavin terdengar lagi. Dia berjalan ke arah Laura dan duduk di single sofa yang berseberangan dengan istrinya itu. Laura melirik Kavin dengan malas.

"Kepo lo. Bukan urusan lo juga," jawab Laura tak acuh. Kavin menghela napas kasar, dia kesal dengan gadis itu.

"Gue suami lo kalau lo lupa. Gue berhak atas lo." Kavin merebut ponsel Laura secara paksa dan mengotak-atiknya. Mengecek panggilan terakhir yang Laura lakukan.

"Lo barusan telfon Mama sama Papa lo?" Kavin menatap Laura tak percaya.

“Kalau iya kenapa, sih? Ribet banget!“ cibir Laura merebut kembali ponselnya.

"Laura, mikirlah! Kalau lo laper terus telfon mereka, gimana citra gue di hadapan mertua? Gue pasti dicap suami yang nggak bertanggung ja—"

"Berisik banget sumpah! Kalau nggak mau dipandang jelek sama Mama Papa gue ya ayo kita cari makan! Gue laper banget, Kavin! Laper laper laper!" potongnya merengek-rengek persis seperti anak kecil.

Kavin menghela napasnya, dia gemas sekali dengan Laura sampai-sampai ingin menenggelamkannya ke laut. Kenapa gadis itu begitu ribet dan mengesalkan?

"Kalau lo nggak mau keluar beli makan, gue bakal bilang ke Papa lo kalau lo nelantarin gue, nggak ngasih gue makan, terus ...."

Kavin tak memedulikan celotehan Laura, dia menarik tangan Laura untuk berdiri. Laura bingung dengan tindakan Kavin, dia pun menarik kembali tangannya dan menatap Kavin heran.

“Mau ke mana, sih? Kan udah janji nggak boleh sentuh-sentuh kalau udah nikah!“

Kavin membalikkan badannya, tatapan tajam dia berikan ke gadis yang menurutnya sangat merepotkan itu.

“Katanya lo laper. Gue mau cari makan,” jelasnya kemudian.

Ucapan Kavin pun mengundang senyum lebar Laura. “Asik, ayo, Vin! Gue udah laper banget nget nget!“ heboh Laura.

“Nggak, nggak jadi. Lo aneh banget jadi cewek.“ Kavin kembali duduk ke sofa.

“Ah, ayo! Pokoknya ayo ayo ayo! Gue pengin jajan banyak-banyak!“

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
8.4
Tiga tahun Wenny Cladia merawat Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun, setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali. Sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan menjadi bahan cemoohan, Wenny memilih mundur dan mengirimkan surat cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang mencari istrinya, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggap buruk rupa kini telah menjelma menjadi dokter ahli medis yang sangat memukau.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Ipar Posesifku
8.3
Terjebak dalam takdir yang tak terduga, aku terpaksa menikahi adik dari suamiku sendiri. Pria itu selalu bersikap dingin dan menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap kehadiranku selama ini. Namun, saat perjodohan ini direncanakan, ia justru tidak memberikan penolakan sama sekali. Apa sebenarnya alasan di balik sikap diamnya? Mengapa ia bersedia terikat denganku dalam pernikahan ini meskipun hubungan kami penuh dengan ketegangan yang misterius?
Sampul Novel Karma Itu Nyata Pengkhianatan
8.0
Sepuluh tahun mencintai Kemal Sentanu terasa sia-sia dalam sekejap bagi sang istri. Sebuah unggahan foto dari asisten suaminya saat berkemah kantor memicu keretakan rumah tangga mereka. Bukannya merasa bersalah karena berbagi tenda dengan asisten perempuan tersebut, Kemal justru memarahi istrinya di depan rekan kerja demi membela sang asisten yang menangis. Muak dengan pembelaan Kemal yang menganggap perselingkuhan terselubung ini sebagai permainan biasa, sang istri memutuskan untuk menyudahi pernikahan mereka.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
8.0
Angela menjalani hidup penuh penolakan. Dianggap buruk rupa dan tidak berharga, ia tidak pernah merasakan kasih sayang. Takdirnya kian kelam saat dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi kakak tirinya. Ia harus menikahi sosok misterius yang sangat ditakuti, Dimitri LaRocca. Sebagai pemimpin mafia yang terkenal kejam, buas, dan posesif, Dimitri membawa Angela masuk ke dunianya yang gelap. Kini, Angela terjebak dalam pernikahan penuh dominasi dan gairah berbahaya.
Sampul Novel Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca
8.2
Enam tahun mengubah segalanya bagi Sisca Limanta dan Hendra Setiawan. Sisca, yang dulu putri konglomerat manja, kini harus berjuang keras sebagai ibu tunggal. Sebaliknya, Hendra telah bertransformasi menjadi miliarder dunia yang menyimpan dendam mendalam pada Sisca. Pertemuan kembali mereka penuh dengan ketegangan dan kemarahan, hingga puncaknya Sisca memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut demi melunasi semua utang masa lalunya. Kehilangan Sisca membuat Hendra didera penyesalan hebat dan menjadi gila dalam pencarian sia-sia.