Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin SMA

Pengantin SMA

Laura dan Kavin terpaksa menikah di usia sekolah setelah tertangkap basah berada dalam satu kamar. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya tak punya pilihan selain patuh pada keluarga. Menjalani rumah tangga ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran sekolah yang paling sulit sekalipun. Di tengah gejolak emosi masa muda, mereka hanya ingin bercerai namun belum berdaya. Sambil menunggu saat berpisah, mampukah pasangan ini tetap waras menghadapi satu sama lain?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Lo mau makan apa?“ Kavin melontarkan pertanyaan itu begitu mereka keluar dari apartemen.

Tepatnya, kini mereka tengah berada di dalam mobil yang membelah jalanan ibu kota. Pemuda itu menoleh sekilas ke arah Laura yang tengah sibuk dengan ponselnya. Juga permen karet yang menyibukkan mulutnya.

“Cari mi ayam kalau nggak bakso kayaknya enak, deh. Dingin-dingin gini cocok,” balas Laura tetap fokus ke ponselnya.

Gadis itu tak memiliki maksud apa-apa dengan jawabannya. Namun, Kavin yang fokus menyetir malah mengernyitkan dahinya, menatap Laura sekilas.

“Lo ngode gue?“ tanyanya mengundang tatapan bingung Laura. Gadis itu terlihat tak mengerti. Kavin sangat membingungkan menurutnya.

“Maksud lo?“

“Tadi lo bilang kalau dingin. Itu kode biar gue meluk lo, kan?“ balasnya penuh percaya diri.

Laura menghentikan kunyahan permen karetnya. Matanya melotot lebar ke arah Kavin yang entah dari mana memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi itu.

“Lo gila? Mana ada gue mau dipeluk-peluk sama lo!“ hardiknya bersedekap dada.

Kavin terkekeh kecil, mengundang lirikan tajam Laura, lagi.

“Pasti lo yang mau modus meluk-meluk gue, iyuhhh,” lanjutnya berakting ingin muntah.

Melihatnya, Kavin gemas sendiri. Menggoda Laura ternyata sangat mengasyikkan.

“Gue nggak pernah ada niat kayak gitu, Ra. Tapi misal lo mau, gue ya ayo aja. Dada gue tersedia buat lo bersadar.“

“Plis, ya, Vin! Plis banget, jangan kayak jamet goda sana goda sini! Jijik aku mas!“ pinta Laura mendramatisir keadaan.

“Udah lah, nggak asik banget lo,” cibirnya tak mendapat sahutan dari Laura.

Kavin pun akhirnya tak lagi bersuara ketika Laura hanya diam, dia mengendarai mobilnya dengan tenang. Jalanan agak lenggang malam ini, membuatnya tak perlu emosi untuk menghadapi macet.

"Beli bakso di deket perpus daerah aja, Vin. Gue pernah nyoba enak, kok."

Kavin mengangguk mendengarkan ucapan Laura. Sampai mereka akhirnya sampai di tempat yang Laura maksud, Kavin menatap gadis itu.

“Ayo!“ ajaknya membuka seat belt.

"Gue tunggu di sini aja, rame banget. Enakan makan di rumah,” tolaknya menatap kedai yang begitu ramai dijejali banyak pembeli.

“Ya udah, tunggu sini!“ Kavin langsung turun dan menuruti perintah Laura. Tanpa sepatah kata pun.

•••

Laura membuka matanya saat merasakan beban berat di dada dan perutnya. Gadis manis itu menunduk, dia cukup terkejut saat mendapati Kavin yang tidur dengan memeluknya. Ditambah lagi Kavin berbantalan pada dadanyam Membuat dirinya seolah guling.

"Kavinn!!“

Pemuda itu sontak membuka mata. Dia terkejut bukan main dan bangkit. Matanya menyorot tajam ke Laura. Telinganya di gosok kencang. Ingin rasanya dia mengumpat Laura yang telah mengganggu tidur manisnya.

“Laura, lo apa-apaan, sih? Kuping gue sakit banget,” gerutunya sangat kesal.

Keduanya memasang ekspresi wajah yang sama. Sama-sama ingin memaki satu sama lain. Laura pun mengikuti Kavin bangkit dan mereka kini duduk saling berhadapan. Tatapannya tak kalah tajam dengan Kavin.

“Siapa suruh lo lecehin gue, Kavin? Kurang ajar banget lo jadi cowok. Gue masih suci, ya, kalau lo nggak tahu,” omel Laura menggebu-gebu, dengan kedua tangan yang dia silangkan di depan dada.

Gadis itu mencebikkan bibirnya, yang entah mengapa terlihat menggemaskan di mata Kavin. Pemuda itu menyeringa, lantas mendekati Laura dan menyentuh kedua bahunya.

Dia berbisik pelan tepat di depan telinga Laura. “Laura Sayang, denger, ya! Gue suami lo, lo istri gue. Kalau gue mau ngapa-ngapain lo boleh aja, itu nggak pelecehan namanya.“

Menyeramkan. Ucapan Kavin terdengar sangat menyeramkan di telinga Laura. Gadis itu mendorong Kavin kuat, lalu memundurkan tubuhnya sampai menyentuh kepala ranjang.

“Kavin! Mesum banget jadi cowok! Kita kan udah janji nggak bakal ngapa-ngapain! Gue bakal laporin lo ke Komnas Perlindungan Anak! Nanti mampus lo membusuk di penjara,” teriaknya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mengantisipasi apa yang akan dilakukan Kavin selanjutnya.

Mendengar itu, Kavin tertawa.

"Lo udah tante-tante gitu, ngadunya nggak ke Komnas Perlindungan Anak, bodoh!“

“Suka-suka gue lah! Minggir sana, jangan deket-deket gue!“ Lagi, Laura berteriak.

Kavin tersenyum puas melihat wajah cemas Laura, dia berbaring lagi dan menutup matanya. Selimutnya juga dia tarik sampai menutupi wajahnya.

“Nggak usah kegeeran! Gue nggak nafsu sama tubuh rata depan belakang lo,” hinanya terasa jlen di hati Laura.

"Kavin ngeselin banget! Ini juga termasuk pelecehan verbal! Pokoknya bakal gue aduin ke Kak Seto!“ marahnya sambil berdiri dan menarik selimut yang Kavin kenakan.

Sepersekian detik setelahnya, dia menyesal telah melakukan hal itu. Dia baru sadar jika sejak tadi Kavin tak memakai bajujya. Jadilah kini dia melihat tubuh atletisnya yang topless. Tiba-tiba pipinya panas, Laura merasakan hal berbeda ketika melihat perut kotak-kotak suaminya.

“Lihat apa lo sampai tersipu-sipu kayak gitu, Laura? Sekarang terbukti yang mesum siapa, kan? Gue aduin Mama lo kalau otak lo kotor, ya!“

“Ih, Kavin apaan, sih?“

Laura berlari ke kamar mandi. Sumpah demi apapun, dia sangat malu. Kenapa Kavin selalu menggodanya seperti ini? Ah, mau ditaruh di mana wajahnya? Pemuda itu benar-benar menyebalkan.

Sementara itu, Kavin hanya tertawa kecil. Tingkah kekanakan Laura benar-benar menghiburnya. “So cute.“

Laura cukup lama berada di dalam kamar mandi. Kavin yang sempat tertidur lagi tadi ingin sekali menendang pintu kamar mandi yang memuat Laura di dalamnya. Kavin sangat kesal karena harus menunggu terlalu lama.

"Ra, lo nggak mati, kan? Lama banget, deh, buset! Gue juga mau berendam!“

Kavin tak mendapati sahutan padahal dia sudah menggedor-gedor pintu sejak tadi. Dugaan-dugaan tak masuk nalar mulai menjalari otaknya. Bagaimana jika Laura pingsan? Atau lebih parahnya lagi mati? Bisa dihajar habis-habisan dia oleh orang tuanya jika terjadi apa-apa kepada Laura.

Setelah beberapa lama, Kavin menghela napas lega saat pintu di depannya terbuka. Namun, dia heran saat melihat Laura masih saja memakai baju tidur yang dikenakannya semalam. Lalu, ngapain Laura dari tadi?

"Lo ngapain dari tadi kalau nggak mandi? Minggir, gue mau masuk!"

Kavin menarik tangan Laura yang masih setia berdiri di depan pintu, namun Laura membuat dirinya beku. Laura mendongak menatap Kavin, mata Kavin terbelalak saat melihat mata Laura yang merah. Gadis itu baru saja menangis, hidungnya memerah dan bekas air mata masih tertinggal di pipi tembamnya. Kavin jadi berpikir lagi, apa yang Laura tangisi?

"Lo kenapa?" tanya Kavin akhirnya, kekesalannya menguap begitu saja saat melihat Laura menangis.

"Vin, gue jadi astronot," gumam Laura pelan, Kavin menautkan alisnya tak mengerti. Apa yang gadis ini bicarakan?

"Apaan, sih? Yang jelas, bego!"

"Nggak peka banget, sih," dengkus Laura menatap Kavin dengan kesal.

"Gue nggak tahu, bicara yang jelas!“

"Gue dateng bulan," ucap Laura akhirnya, sungguh dia malu sekarang. Mau ditaruh di mana mukanya sekarang? Tenggelamkan Laura sekarang juga!

"Maksudnya?" tanya Kavin masih belum paham dengan apa yang disampaikan Laura.

"Gue nggak bawa pembalut." Kavin membulatkan matanya. Dia paham sekarang.

"Maksud lo, gue disuruh beliin lo pembalut?" Laura mengangguk dengan pelan, Kavin menepuk dahinya. Yang benar saja.

"Nggak ya, Ra! Apa kata orang nanti?"

"Terus gue gimana, Vin? Nanti keburu telat sekolahnya," gumam Laura menatap Kavin yang kini terlihat frustrasi. Kavin mengangguk pasrah, dia berjalan ke arah lemari dan mengambil jaketnya.

"Lo kirimin yang jenisnya gimana, gue beliin di depan," ucap Kavin sebelum keluar dari kamar.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GDT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GDT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
8.4
Tiga tahun Wenny Cladia merawat Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun, setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali. Sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan menjadi bahan cemoohan, Wenny memilih mundur dan mengirimkan surat cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang mencari istrinya, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggap buruk rupa kini telah menjelma menjadi dokter ahli medis yang sangat memukau.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Ipar Posesifku
8.3
Terjebak dalam takdir yang tak terduga, aku terpaksa menikahi adik dari suamiku sendiri. Pria itu selalu bersikap dingin dan menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap kehadiranku selama ini. Namun, saat perjodohan ini direncanakan, ia justru tidak memberikan penolakan sama sekali. Apa sebenarnya alasan di balik sikap diamnya? Mengapa ia bersedia terikat denganku dalam pernikahan ini meskipun hubungan kami penuh dengan ketegangan yang misterius?
Sampul Novel Karma Itu Nyata Pengkhianatan
8.0
Sepuluh tahun mencintai Kemal Sentanu terasa sia-sia dalam sekejap bagi sang istri. Sebuah unggahan foto dari asisten suaminya saat berkemah kantor memicu keretakan rumah tangga mereka. Bukannya merasa bersalah karena berbagi tenda dengan asisten perempuan tersebut, Kemal justru memarahi istrinya di depan rekan kerja demi membela sang asisten yang menangis. Muak dengan pembelaan Kemal yang menganggap perselingkuhan terselubung ini sebagai permainan biasa, sang istri memutuskan untuk menyudahi pernikahan mereka.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
8.0
Angela menjalani hidup penuh penolakan. Dianggap buruk rupa dan tidak berharga, ia tidak pernah merasakan kasih sayang. Takdirnya kian kelam saat dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi kakak tirinya. Ia harus menikahi sosok misterius yang sangat ditakuti, Dimitri LaRocca. Sebagai pemimpin mafia yang terkenal kejam, buas, dan posesif, Dimitri membawa Angela masuk ke dunianya yang gelap. Kini, Angela terjebak dalam pernikahan penuh dominasi dan gairah berbahaya.
Sampul Novel Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca
8.2
Enam tahun mengubah segalanya bagi Sisca Limanta dan Hendra Setiawan. Sisca, yang dulu putri konglomerat manja, kini harus berjuang keras sebagai ibu tunggal. Sebaliknya, Hendra telah bertransformasi menjadi miliarder dunia yang menyimpan dendam mendalam pada Sisca. Pertemuan kembali mereka penuh dengan ketegangan dan kemarahan, hingga puncaknya Sisca memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut demi melunasi semua utang masa lalunya. Kehilangan Sisca membuat Hendra didera penyesalan hebat dan menjadi gila dalam pencarian sia-sia.