Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin SMA

Pengantin SMA

Laura dan Kavin terpaksa menikah di usia sekolah setelah tertangkap basah berada dalam satu kamar. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya tak punya pilihan selain patuh pada keluarga. Menjalani rumah tangga ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran sekolah yang paling sulit sekalipun. Di tengah gejolak emosi masa muda, mereka hanya ingin bercerai namun belum berdaya. Sambil menunggu saat berpisah, mampukah pasangan ini tetap waras menghadapi satu sama lain?
Bab
Bagikan

Bab 1

Udara dingin yang menelusup melalui jendela kamar yang terbuka membuat Laura terjaga dari tidur lelapnya. Gadis itu mengerjapkan matanya di kamar remang-remang yang dia tempati. Hal pertama yang dia rasakan ketika membuka mata adalah asing, dia tak merasa familier dengan kamar yang terkesan gelap tersebut. Karena biasanya, dia tidur dengan lampu yang menyala.

Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Laura ingat bahwa semalam dia datang ke pesta anniversary pernikahan sahabat kedua orang tuanya. Laura awalnya berniat untuk pulang karena rasa kantuk yang tak tertahankan, namun dia tak menemukan keberadaan Mama dan Papanya yang tenggelam di kerumunan para tamu yang datang.

Akhirnya, Laura asal memasuki kamar yang terletak di lantai dua. Dan kini, Laura mengerti mengapa kamar yang di tempati kini terasa begitu asing karena memang itu bukan kamarnya. Mengambil ponselnya di samping bantal, Laura melihat ada banyak panggilan masuk dari Mama dan Papanya. Juga pesan yang menanyakan di mana keberadaannya.

“Wah … Mama sama Papa pasti khawatir banget. Mana udah jam empat gini,” gumam gadis itu mulai mengetikkan balasan untuk orang tuanya.

Di tengah kesibukannya itu, tiba-tiba Laura menerima pelukan tiba-tiba dari sampingnya.

“Aaa….“

Terkejut, gadis itu menjerit keras yang membuat seseorang di sebelahnya yang entah datang dari mana berujar kesal.

“Berisik banget!“

“Lepasin! Lo siapa, sih, meluk-meluk gue?“ Laura berteriak histeris seraya mendorong kepala seseorang yang tepat berada di sebelahnya. Gadis itu benar-benar terkejut dan takut. Bagaimana bisa ada orang asing yang tidur di sebelahnya? Yang bahkan, kini memeluknya dengan erat.

Lelaki di sebelah Laura akhirnya terjaga juga. Mereka sama-sama bangun dan duduk. Setelah lelaki misterius itu menyalakan lampu, keduanya melotot ketika melihat satu sama lain.

“Laura?“

“Kavin?“

Keduanya berujar bersamaan. Tampak jelas wajah mereka dipenuhi kebingungan. Terutama Laura, dia menyilangkan tangannya di depan dada ketika melihat Kavin satu ranjang dengannya.

“Lo ngapain gue, Kavin?“ tanya Laura was-was. Dia kenal Kavin, dia adalah anak sahabat kedua orang tuanya sekaligus tuan rumah di sini. Namun, mereka tak seakrab itu untuk tidur bersama. Laura tak salah jika berpikiran bahwa Kavin yang melakukan hal macam-macam terhadapnya.

“Lo ngapain di sini, Laura?“

Bukannya menjawab pertanyaan Laura, Kavin malah balik bertanya. Dia pun tak tahu kenapa bisa Laura berada di sana. Dia melotot ke arah Laura yang juga menatap dirinya penuh rasa tak suka.

“Ya tidur,” balas Laura apa adanya.

“Ya kenapa di sini? Gila lo ya?“ omel Kavin.

“Selamam kamar ini kosong, Kavin. Desainnya juga bukan kamar cowok, gue nggak mikir kalau ini kamar lo,” terang Laura tak ingin Kavin salah menilainya.

“Lancang banget jadi orang. Kal—”

“Ini kayaknya kita salah paham, deh. Tapi, bisa nggak lo pakai baju dulu? Gue risih lihatnya.“

Ucapan Kavin terpotong oleh Laura, dan karenanya dia menunduk dan melihat tubuhnya yang shirtless.

“Tunggu! Kenapa lo nggak pakai baju? Jangan-jang—”

“Nggak usah ngarang! Gue emang gini kalau tidur nggak pakai baju!“ sela Kavin lantas bangkit untuk mencari kausnya yang semalam dia lepas karena gerah.

Sementara Kavin mengambil kausnya, Laura pun mengikat rambutnya yang berantakan. Bersamaan dengan itu, kamar yang mereka tempati terbuka dari luar. Keduanya menoleh dan mendapati seorang wanita berumur tengah menatap mereka dengan wajah terkejut yang menyertai.

“Laura? Kavin? Apa yang kalian lakukan?“

•••

Samira, pelaku utama yang membuka kamar Laura dan Kavin, dan merupakan Nenek dari Kavin yang keberadaannya sangat dihormati di dalam keluarga itu. Setelah memergoki cucu satu-satunya yang kini dia miliki tengah berduaan dengan seorang gadis di dalam kamar, Samira menyeret keduanya untuk menghadap kedua orang tua mereka.

Dan di sini lah kedua remaja itu berada. Di ruang tamu, dihadapkan dengan wajah tak ramah dari lima orang dewasa yang telah memarahi mereka. Laura, gadis itu menunduk ketakutan tanpa berani menatap Mama dan Papanya, Renata dan Hans.

“Kamu nggak tahu aja gimana khawatirnya Mama kamu waktu kamu hilang semalaman, Laura. Kamu udah ngecewain Papa.“ Hans menatap putrinya dengan wajah yang membuat Laura merasa bersalah.

Walaupun begitu, Laura tak bisa tinggal diam dan terima begitu saja disalahkan. Dia harus melawan. “Pa, ini sem—”

“Kamu juga, Vin. Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai berbuat kayak gitu sama Laura? Di kamar Karin. Mikir enggak?“ Kali ini Rusdi yang bersuara, selaku Papa dari Kavin. Di sampingnya, Vei, istrinya mencoba untuk menenangkan pria itu.

“Pa! Berapa kali harus kita jelasin? Ini salah paham! Aku nggak tahu kalau ada Laura di kamar itu,” desah Kavin hampir menyerah karena orang tua mereka tak kunjung percaya dengan apa yang mereka katakan.

“Setelah kejadian setahun yang lalu, kamu pikir Oma percaya sama yang kamu katakan?“ Samira berujar penuh dengan nada kekecewaan.

Mendengar itu, Kavin merasa tersinggung. Amarah mulai menghampirinya, dan dia dengan keras mencoba untuk menahannya.

“Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Karin, Oma! Oma nggak usah bahas masalah yang udah lalu!“

“Udah-udah! Semua alasan yang kalian lakukan sama sekali nggak masuk akal. Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat,” kata Rusdi.

“Maksud Om gimana?“ Laura meminta penjelasan. Tangannya tak melepas genggamannya pada baju yang Mamanya pakai. Dia sangat takut saat ini dan berharap Mamanya akan membantu.

“Kalian harus menikah.“

Suasana hening setelah itu, Kavin dan Laura sama-sama menoleh ke arah Samira yang baru saja membuka suara. Keduanya terlihat semakin terkejut, lebih tepatnya syok. Apalagi sekarang? Menikah? Di usia mereka ini? Benar-benar gila.

“Nggak mau!“ tolak keduanya bersamaan.

“Kavin … bener apa yang Oma kamu katakan. Kamu harus menikahi putri Om buat bertanggung jawab,” sambung Hans mengundang tatapan tak terima dari Laura.

“Papa! Papa nggak bisa kayak gitu, dong!“ rengek Laura menggoyangkan lengan Papanya. Namun, pria itu tak memedulikan Laura yang sudah hampir menangis.

“Ini nggak bener, Ma, Pa, Om, Tante, Oma! Kita nggak melakukan apapun!“ Kavin memohon kepada Samira.

“Karin dulu juga bilang kayak gitu, Kavin! Nggak ada maling yang ngaku!“ sentak Samira sekali lagi membuat Kavin marah.

“Oma nggak berhak ngomong kayak gitu!“ tekan Kavin kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan itu.

Suasana tegang itu bertahan beberapa saat hingga Laura akhirnya juga angkat kaki dari sana. Gadis itu melangkah ke arah Kavin pergi tadi. Gadis itu berpikir tak mungkin untuk mereka melawan kehendak orang tua.

Dia, bersama-sama dengan Kavin harus memiliki rencana untuk menghadapi bencana ini. Mau tak mau, suka tidak suka, dia dan Kavin harus bekerja sama agar mimpi buruk ini tak akan menjadi nyata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
8.4
Tiga tahun Wenny Cladia merawat Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun, setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali. Sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan menjadi bahan cemoohan, Wenny memilih mundur dan mengirimkan surat cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang mencari istrinya, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggap buruk rupa kini telah menjelma menjadi dokter ahli medis yang sangat memukau.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Ipar Posesifku
8.3
Terjebak dalam takdir yang tak terduga, aku terpaksa menikahi adik dari suamiku sendiri. Pria itu selalu bersikap dingin dan menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap kehadiranku selama ini. Namun, saat perjodohan ini direncanakan, ia justru tidak memberikan penolakan sama sekali. Apa sebenarnya alasan di balik sikap diamnya? Mengapa ia bersedia terikat denganku dalam pernikahan ini meskipun hubungan kami penuh dengan ketegangan yang misterius?
Sampul Novel Karma Itu Nyata Pengkhianatan
8.0
Sepuluh tahun mencintai Kemal Sentanu terasa sia-sia dalam sekejap bagi sang istri. Sebuah unggahan foto dari asisten suaminya saat berkemah kantor memicu keretakan rumah tangga mereka. Bukannya merasa bersalah karena berbagi tenda dengan asisten perempuan tersebut, Kemal justru memarahi istrinya di depan rekan kerja demi membela sang asisten yang menangis. Muak dengan pembelaan Kemal yang menganggap perselingkuhan terselubung ini sebagai permainan biasa, sang istri memutuskan untuk menyudahi pernikahan mereka.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
8.0
Angela menjalani hidup penuh penolakan. Dianggap buruk rupa dan tidak berharga, ia tidak pernah merasakan kasih sayang. Takdirnya kian kelam saat dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi kakak tirinya. Ia harus menikahi sosok misterius yang sangat ditakuti, Dimitri LaRocca. Sebagai pemimpin mafia yang terkenal kejam, buas, dan posesif, Dimitri membawa Angela masuk ke dunianya yang gelap. Kini, Angela terjebak dalam pernikahan penuh dominasi dan gairah berbahaya.
Sampul Novel Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca
8.2
Enam tahun mengubah segalanya bagi Sisca Limanta dan Hendra Setiawan. Sisca, yang dulu putri konglomerat manja, kini harus berjuang keras sebagai ibu tunggal. Sebaliknya, Hendra telah bertransformasi menjadi miliarder dunia yang menyimpan dendam mendalam pada Sisca. Pertemuan kembali mereka penuh dengan ketegangan dan kemarahan, hingga puncaknya Sisca memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut demi melunasi semua utang masa lalunya. Kehilangan Sisca membuat Hendra didera penyesalan hebat dan menjadi gila dalam pencarian sia-sia.