
Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
Bab 2
Aluna mematung. Mencoba mencerna perkataan yang baru saja dilontarkan oleh sang ayah. Lidahnya kelu. Tenggorokannya terasa tercekat. Dadanya berubah menjadi sesak, dan napasnya terlihat naik turun.
"Maksud ayah apa! Ayah memintaku datang kesini hanya untuk memenuhi keinginanmu yang ambisius itu. Ayah tega mengorbankan masa depanku hanya untuk kepentingan bisnis ayah? Begitu iya!" murka Aluna. Sambil melepaskan kedua tangannya dari sang ayah.
"Maafkan ayah Aluna. Ayah tidak bermaksud untuk berbuat seperti ini kepadamu. Jika pernikahan ini batal, maka keluarga Kusuma akan memutuskan semua kontrak kerja sama dengan ayah. Ayah mohon, tolong kamu gantikan posisi Alana sampai ayah menemukan keberadaan kembaranmu itu," mohon Abigael sembari mengatupkan kedua tangannya.
Aluna menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka pertemuan dengan sang ayah akan menjadi malapetaka untuknya. Ternyata sang ayah tidak benar-benar tulus ingin bertemu. Melainkan mempunyai maksud tertentu.
"Ayah mohon Aluna. Ayah tidak ingin bisnis yang ayah bangun hancur begitu saja karena kesalahan Alana. Ayah janji akan segera menemukan Alana secepatnya. Ayah mohon, gantikan sementara posisi kembaranmu," ucap Abigael seraya bersimpuh di kaki Aluna.
Aluna bergeser saat sang ayah ingin menyentuh kakinya. Hati kecilnya yang rapuh tidak tega melihat sang ayah memohon padanya. Aluna segera memegang kedua bahu sang ayah, dan menatapnya dalam.
"Baiklah ayah. Aku setuju dengan keputusanmu. Aku akan menggantikan posisi Alana untuk menikah dengan keluarga Kusuma. Tapi dengan catatan, ayah harus bisa menemukan Alana secepatnya," titah Aluna.
Abigael mengangguk dengan cepat. Seraya memeluk kembali putrinya dengan erat. Senyuman lebar tercipta diwajahnya yang tampak masih gagah diusia yang tak lagi muda.
"Terima kasih sayang," ucap Abigael ditelinga Aluna.
****
Ditengah kebosanan menunggu, tiba-tiba terdengar dering ponsel begitu nyaring. Abigael segera meraih ponselnya yang bergetar didalam saku celana. Setelah melihat layar ponselnya, Abigael bangkit menjauhi keramaian sekadar untuk menerima panggilan.
Aluna yang melihat ayahnya pergi berpikir untuk melakukan hal gila. Sudut bibirnya tersungging, menyiratkan sebuah arti.
'Apa sebaiknya aku kabur saja dari sini. Aku tidak mau mengorbankan diriku hanya untuk ambisi ayah. Selama ini juga ayah tidak pernah memperhatikanku. Ya, sebaiknya aku lari saja dari pernikahan ini," batin Aluna.
Aluna mengamati sekelilingnya. Matanya menatap awas. Memastikan bahwa semua orang saat ini sedang lengah.
Saat sudah yakin, gaun pengantin berwarna putih yang panjangnya melebihi mata kaki itu disingkapnya, hingga sebatas lutut.
Sepatu kaca ber 'hak' tinggi yang dipakainya segera dilepas dan ia berlari sekencang mungkin.
Semua orang yang berada di pesta pernikahan tersebut sontak menatap kepergian Aluna dengan tatapan tidak percaya--termasuk Abigael yang telah selesai mengangkat panggilan.
"Penjaga! Tolong segera hentikan dia!" teriak Abigael.
Jeritan kencang dari ayahnya membuat Aluna panik. Dia semakin mengencangkan lajunya. Namun hal tak terduga terjadi. Sebelum Aluna mencapai pintu keluar, sudah ada beberapa penjaga yang menghalangi langkahnya.
'Ah sial!' gerutu Aluna, seraya menghentikan langkahnya secara mendadak.
Aluna tak kehabisan akal. Matanya menoleh ke arah samping. Tampak sebuah tangga yang mengarah ke lantai atas. Tanpa pikir panjang, Aluna segera berlari menuju lantai atas.
Namun keberuntungan sepertinya sedang tidak memihak padanya. Para penjaga kediaman Abigael lebih dulu sampai dilantai atas. Alhasil Aluna terkepung tanpa bisa melarikan diri.
"Aluna, ayah mohon hentikan aksi gila mu ini. Kau sudah berjanji padaku untuk menggantikan Alana," pinta Abigael, sembari mengatur napasnya yang tersengal.
"Maaf ayah, aku tidak bisa."
Aluna tidak ingin menjadi boneka sang ayah. Aluna juga punya masa depan. Sama seperti kembarannya-Alana.
Mata Aluna bergerak liar. Mencari celah yang tepat, untuknya melarikan diri. Tanpa sengaja pandangannya mengarah ke jendela tepat disampingnya. Aluna tersenyum miring penuh arti.
Anda Mungkin Juga Suka





