
Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
Bab 3
"Ayah kau harusnya sadar. Sudah cukup kau membuatku menderita bersama ibu selama ini. Jangan jadikan aku sebagai tumbal mu," ucap Aluna, mencoba mengulur waktu.
Belum sempat Abigael mengucapkan sepatah kata, Aluna sudah lebih dulu menerobos jendela yang ada dilantai atas. Bergerak lincah seperti seekor tupai. Hal itu membuat kepanikan tercipta di wajah Abigael.
"Kejar dia! Jangan biarkan lolos!" pekik Abigael.
****
Sebuah mobil mewah merk terkenal baru saja tiba dihalaman besar kediaman Abigael. Pengemudi yang tengah membawa seseorang didalam mobil terlihat bingung, saat menyaksikan serangkaian kekacauan yang sedang terjadi.
"Apa yang terjadi? Bos, lihatlah ke arah sana. Bukankah itu calon pengantinmu?" ucap pengemudi yang bernama Leon-asisten pribadi Angga Wijaya Kusuma, yang saat ini tengah membawa bosnya tersebut.
Fokus Angga terhadap ponselnya teralihkan, sebab penasaran dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut asisten pribadinya.
Angga memutuskan untuk menurunkan kaca mobilnya. Kerutan samar di keningnya tercipta, saat beberapa pria bertubuh kekar sedang berusaha mengejar seorang wanita bergaun pengantin, dengan pergerakan yang cukup lincah.
'Apakah benar itu calon istriku? Kenapa dia lari?' batin Angga bertanya-tanya.
Leon segera keluar dan berdiri di dekat pintu mobil, untuk melihat lebih jelas kekacauan yang terjadi.
Setelah berhasil turun dari lantai dua, Aluna masih belum tenang. Karena pengejaran terhadapnya terus berlanjut. Tanpa sengaja netranya menatap mobil mewah yang sedang terparkir tidak jauh dari jangkauannya saat ini.
Leon berbalik ingin menjelaskan situasi yang terjadi diluar, "bos, sepertinya pengantin Anda -"
Belum sempat Leon melanjutkan kata-katanya, sebuah tangan menarik kerah bajunya dengan kasar, hingga Leon terhuyung kebelakang.
Leon hanya terperangah, melihat calon pengantin bosnya, masuk ke dalam mobil dan membawa kabur mobil tersebut beserta dengan sang mempelai pria.
Aluna melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah Abigael. Aluna menghembuskan napas lega, saat sudah menjauh dari belenggu ayahnya.
Akan tetapi, Aluna melajukan mobil ke kanan dan ke kiri. Sekali-kali Aluna mengerem mendadak. Hingga berulang kali Angga menghantam kursi bagian depan.
'Dasar wanita barbar. Apa yang ingin dilakukannya? Kenapa sangat ceroboh sekali," batin Angga, sesekali meringis memegangi keningnya yang sakit.
Angga sengaja tidak membuka suara sedikitpun. Kedua netranya terus tertuju pada Aluna. Angga ingin tahu, sampai mana Aluna membawanya pergi.
"Ingin menangkap ku? Tidak semudah itu," ucap Aluna, seraya tersenyum puas penuh kemenangan.
Aluna tidak mengetahui bahwa dirinya saat ini tengah diawasi oleh pemilik mobil. Setelah beberapa saat, Aluna mulai tersadar. Bila saat ini dia sedang terlibat perampokan.
"Astaga tunggu dulu. Apakah ini termasuk perampokan? Bagaimana jika aku dijebloskan ke penjara karena mencuri mobil ini. Tidak-tidak, aku harus menemukan kontak orang yang memiliki mobil ini dan segera mengembalikannya setelah semuanya aman," ucap Aluna pada dirinya sendiri.
Angga mendengus kesal. Lantaran Aluna seperti orang yang baru belajar menaiki mobil. Seyogyanya memang Aluna sudah lama tidak membawa mobil. Aluna terpaksa nekad agar bisa terbebas dari pernikahannya yang terpaksa.
Angga memutuskan untuk mengakhiri kediamannya. Tangannya kanannya terulur menepuk bahu ramping Aluna.
Sontak saja Aluna terhenyak kaget. Netranya menatap kaca dashboard mobil yang mengarah langsung ke arah belakang. Matanya melebar saat melihat seorang pria berada di kursi penumpang.
"Siapa kau?" tanya Aluna, sembari menginjak rem secara mendadak. Hingga membuat Angga menghantam kursi bagian depan untuk kesekian kalinya.
Napas Angga terlihat memburu. Dadanya naik turun. Matanya langsung menatap nyalang ke arah Aluna.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di dalam mobilku ini? Apa kau berniat untuk mencuri? Jika ia, aku akan membawamu ke kantor polisi!" gertak Angga.
Napas Aluna tercekat. Lidahnya terasa kelu. Seperti ada duri tajam saat Aluna mencoba menelan salivanya.
Tanpa bicara sepatah katapun, apalagi meminta maaf, Aluna segera keluar dari mobil milik Angga, dan berniat untuk kabur.
Angga terkejut melihat Aluna ingin melarikan diri untuk kedua kalinya. Dia segera keluar untuk mengejar Aluna. Tak butuh waktu lama bagi Angga. Tangan besarnya segera mencekal lengan Aluna yang mungil.
"Tunggu! Kau mau lari kemana? Setelah mencuri mobilku lalu kau ingin kabur begitu saja. Tidak akan kubiarkan," sentak Angga.
Kali ini Aluna benar-benar pasrah. Wajahnya tertunduk malu, karena telah melakukan hal yang tidak terpuji. Yaitu membawa kabur mobil milik orang lain, sedangkan pemilik mobil masih berada didalamnya.
"Kenapa malah tertunduk. Angkat wajahmu," perintah Angga.
Aluna masih bergeming. Nyalinya mendadak ciut. Rasa takut mulai menyelimuti diri Aluna.
Melihat Aluna yang terus tertunduk tanpa berniat menjawab pertanyaannya, membuat Angga kehilangan kesabaran.
"Baiklah. Jika kamu tidak mau menjawab pertanyaanku, bersiaplah mendekam dibalik jeruji besi!" ucap Angga penuh penekanan.
Deg!
Anda Mungkin Juga Suka





