Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

8.9 / 10.0
Dalam Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero), Pamela harus memilih antara Tirta atau Zero yang posesif. Billionaire romance novel ini mengisahkan perjuangan Pamela mempertahankan komitmen di tengah ancaman masa lalu. Baca romance stories ini untuk melihat akhir dari obsesi yang berbahaya.
Ringkasan Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Baca Selengkapnya

Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero) Bab 1

"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.

"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.

"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"

"I—iya, Zero."

Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.

*

*

*

"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.

"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.

"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.

"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.

"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.

"Hemph ..."

Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.

"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.

"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.

"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"

Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.

*

*

*

"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.

"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.

Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.

"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.

"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.

"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.

*

*

*

Lima tahun kemudian

Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.

Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.

Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.

"Enaknya kemana?" tanya Sander.

"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.

"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.

"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"

"Iya."

"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.

"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.

Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.

Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.

"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.

Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.

"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.

“Oke,” jawab Zero.

"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.

“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.

“Gue samain aja,” timpal Zero.

"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.

"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.

Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.

"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.

"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.

"Hati aman?" canda Sander.

"Maksudnya apa?"

"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."

Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.

"Gue nggak punya pacar."

"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.

"Nggak percaya ya sudah."

"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.

"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.

"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.

"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.

"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.

"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.

"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.

Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.

"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.

"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.

Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.

"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.

"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.

“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.

"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.

"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.

Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.

Deg!

Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.

"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.

Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.

"Enak nggak?" tanya Tirta.

"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.

"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.

"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.

"Oalah, oke."

"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.

"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.

"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.

"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.

"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.

"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.

Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.

"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.

"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.

"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.

Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.

"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.

"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.

Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.

"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.

"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.

"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.

Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.

"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.

"Hay, gue Sander," balas Sander.

"Zero," jawab Zero datar.

"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.

"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.

"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.

"Hm," jawab Tirta berubah masam.

Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.

Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.

“Sander …"

"Hm?"

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.

"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.

"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."

"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.

"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab

"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.

"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.

"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"

"I—iya, Zero."

Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.

*

*

*

"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.

"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.

"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.

"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.

"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.

"Hemph ..."

Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.

"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.

"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.

"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"

Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.

*

*

*

"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.

"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.

Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.

"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.

"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.

"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.

*

*

*

Lima tahun kemudian

Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.

Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.

Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.

"Enaknya kemana?" tanya Sander.

"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.

"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.

"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"

"Iya."

"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.

"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.

Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.

Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.

"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.

Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.

"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.

“Oke,” jawab Zero.

"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.

“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.

“Gue samain aja,” timpal Zero.

"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.

"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.

Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.

"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.

"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.

"Hati aman?" canda Sander.

"Maksudnya apa?"

"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."

Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.

"Gue nggak punya pacar."

"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.

"Nggak percaya ya sudah."

"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.

"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.

"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.

"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.

"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.

"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.

"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.

Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.

"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.

"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.

Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.

"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.

"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.

“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.

"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.

"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.

Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.

Deg!

Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.

"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.

Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.

"Enak nggak?" tanya Tirta.

"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.

"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.

"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.

"Oalah, oke."

"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.

"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.

"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.

"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.

"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.

"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.

Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.

"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.

"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.

"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.

Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.

"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.

"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.

Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.

"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.

"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.

"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.

Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.

"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.

"Hay, gue Sander," balas Sander.

"Zero," jawab Zero datar.

"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.

"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.

"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.

"Hm," jawab Tirta berubah masam.

Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.

Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.

“Sander …"

"Hm?"

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.

"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.

"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."

"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.

"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bad Duda
9.2
Edeline dihantui trauma mendalam yang membuatnya takut bersentuhan dengan pria. Namun, takdir membawanya menjadi dokter magang di rumah sakit milik Elvis Dalton, seorang duda arogan yang dikenal kejam. Meski awalnya saling membenci, benih kebutuhan mulai tumbuh di antara mereka. Keduanya adalah jiwa yang terluka oleh masa lalu dan penyesalan. Akankah pertemuan ini menyatukan kepingan puzzle hidup mereka, ataukah semesta justru memisahkan dua insan yang penuh luka ini?
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Cinta Pertama Dari Istri Kedua
9.4
Kehadiran suami yang nyaris tanpa cela ternyata tak mampu memberikan kepuasan bagi sang istri. Dalam sebuah keputusan yang ceroboh, ia justru memilih untuk mendatangkan istri kedua ke dalam rumah tangga mereka. Alih-alih memperbaiki keadaan, tindakan tersebut malah menjadi pemicu bencana besar yang mengancam keutuhan pernikahan. Kini, hubungan yang semula stabil harus menghadapi badai kehancuran akibat kehadiran sosok baru yang tak terduga.
Sampul Novel Dinodai Kakak Angkat
8.9
Dalam kondisi tak terkendali, Yugo melakukan tindakan keji terhadap Maheswari, adik angkatnya sendiri. Saat mengetahui Maheswari mengandung darah dagingnya, pria yang sangat mementingkan harga diri itu justru melarikan diri dari tanggung jawab. Kejamnya lagi, Yugo malah menjebak Junior sebagai kambing hitam atas perbuatannya. Kini, Maheswari terjebak dalam dilema besar mengenai masa depannya bersama Junior di tengah situasi penuh kekerasan dan ancaman yang menghimpit.
Sampul Novel FORBIDDEN INLAWS
9.1
Bagi Alexys, dicintai sepenuh hati adalah impian terbesar. Namun, ia tak menyangka bahwa sosok yang memendam perasaan mendalam padanya justru sang kakak ipar sendiri. Selama ini, Alexys mengira hidupnya akan berjalan normal setelah pernikahan kakaknya, tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Saat rahasia terlarang ini mulai terkuak, akankah Alexys menyadarinya? Bagaimana nasib hubungan mereka jika Alexys ternyata memiliki rasa yang sama?
Sampul Novel Jodohku Ceo Dingin
8.1
Vivi Raminta terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa ibunya menikah dengan Devo, CEO dingin yang sangat ia benci. Keputusasaan Vivi memuncak setelah kekasihnya berkhianat demi wanita kaya. Di sisi lain, Devo setuju menikah hanya untuk menutupi skandal perselingkuhannya dengan artis bernama Karen. Meski terikat motif berbeda, benih asmara mulai tumbuh di antara keduanya. Kini, mampukah Devo melepas Karen demi Vivi saat cinta sejati mulai menguji ego mereka?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan