
PENGABDI SUAMI
Bab 3
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Langkah Alana seketika terhenti disaat suara lantang berteriak padanya.
“Eh. Mau kemana kamu..?”
“Mau ke depan Ma. Sepertinya itu mas David deh yang pulang,” sahut Alana bersikap biasa saja meski Farida tak sedikit pun terlihat ramah padanya.
“Nggak usah. Nggak usah. Masuk saja kamu ke kamar cepat..! Biar aku yang membukakan utama itu.” Ucap Farida seraya menunjuk ke arah pintu utama.
“Tta—tapi Ma,”
“Udah. Masuk sana..! Ngeyel banget sih dibilangin,” hardik Farida menyeret langkah Alana menuju ke arah kamarnya.
Alana masih mondar-mandir dalam kamarnya. Seketika perasaannya tak enak. Sikap Farida seakan-akan menyembunyikan sesuatu darinya. Tak biasanya, ia tidak di perbolehkan membuka pintu untuk suaminya sendiri.
“Ada apa ini sebenarnya..? Kenapa Mama tak memperbolehkan aku membuka pintu untuk suamiku sendiri. Apa sebenarnya yang telah terjadi di belakangku..? Apa sesungguhnya disembunyikan Mama dariku. Sebegitu asingkah diriku, hanya karena aku tak bisa memenuhi permintaan mereka memberikan keturunan di rumah ini,” air mata Alana kembali berderaian membasahi pipinya. Perasaan tak nyaman dan gundah terus menghantui dirinya.
Dengan tergesa-gesa Alana menghapus air matanya. Ia pun bergegas menuju ke arah pintu kamarnya, menyelinap keluar mengintip apa sebenarnya terjadi di luar sana.
Dengan sangat hati-hatinya Alana melangkahkan kakinya mendekati ruang tamu. Ia pun mengintip di balik lemari pajang.
Deg..!
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ketika ia melihat pemandangan di ruang tamu. David duduk berdekatan dengan seorang wanita berparas cantik dalam balutan blazer dipadukan rok mini begitu sangat minim. Mereka duduk begitu sangat rapat di atas sofa ruang tamu nyaris tak ada celah. Sementara itu Farida bercerita begitu hangat diselingi tawa bahagia mereka bertiga. Kaki Alana seketika bergetar, seolah-olah tak mampu menopang tubuhnya. Dikala ia menatap sang suami merangkul mesra perempuan, tak lain perempuan yang pernah ia lihat dalam galeri ponsel rahasia milik sang suami. Bibir Alana bergetar hebat, tubuhnya merinding seolah-olah berada di awang-awang. Melihat pemandangan yang sangat mengiris kalbunya. Dengan santainya tangan David merangkul bahu sang perempuan dengan posisi tubuh mereka begitu dekat. Seolah-olah dirinya tak ada arti dan harganya di mata sang suami.
“Ma—Mas, apa yang kamu lakukan ini..? Teganya kamu bermesraan dengan perempuan lain di rumah kita sendiri. Ma, aku menantumu... Aku manusia Ma, bukanlah binatang. Tega-teganya kalian berlaku sejahat ini di belakangku.” Batin Alana menjerit tubuhnya masih gemetaran dengan air mata berderaian menatap ke arah ruang tamu.
“Saras, kamu begitu cantik Nak. Pantas saja David jatuh hati padamu,” ucap Farida memuji perempuan yang saat ini bersama putranya.
“Ah Tante, bisa aja deh.” Balas perempuan yang bernama Saras tampak tersipu malu seraya menyandarkan kepalanya di bahu David.
Alana semakin terbakar api cemburu. Sama sekali tak menyangka jika sang suami setega ini bermain api di rumahnya sendiri, lebih parahnya didukung oleh Mama mertuanya sendiri. Alana terus menangis seraya memegang dadanya tiba-tiba terasa begitu sangat sakit sekali. Ingin rasanya Alana berlari ke sana dan menghajar sang suami lalu menjambak rambut perempuan jalang tersebut. Namun ia tak memiliki keberanian untuk hal itu. Alana takut jika ia melakukan tindakan brutal, bisa-bisanya dia bakalan ditinggal bahkan mungkin diceraikan oleh David, yang sudah pastinya didukung oleh sang Mama mertua.
“Begitu santainya kamu Mas memamerkan kebahagiaan di rumah kita. Aku sakit hati, aku kecewa atas kelakuanmu dan juga atas kelakuan Mamamu terhadapku. Aku akan sabar jika kamu bisa menghargaiku, namun kamu justru semakin tega menusuk jantungku seperti ini. Belum hilang dari ingatanku atas isi ponsel yang selama ini kamu sembunyikan dariku dan sekarang dengan beraninya kamu membawa selingkuhanmu di rumah kita sendiri, didukung oleh Mamamu sendiri,” tangis Alana semakin menjadi, langit serasa ingin runtuh ketika ia harus melihat dengan mata kepalanya, begitu teganya David mempermainkan pernikahan mereka.
Tanpa rasa sungkan David menggenggam tangan kekasih barunya, sesekali tampak mengecup punggung tangan sang kekasih.
“Tunggu apa lagi? Kenapa kalian tak menikah saja..? Agar bisa memberikan keturunan, cucu untuk Mama.
“Ma. Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar Alana denger lagi.” Ucap David sembari menaruh telunjuk di tengah bibirnya.
“Aaahhh.. ngapain mikirin dia. Jadi istri tak ada gunanya sama sekali, perempuan mandul seperti itu seharusnya kamu ceraikan saja..! Hanya menjadi bumerang saja di rumah ini,” balas Farida dengan senyum sinis.
Seketika Alana jatuh terduduk di lantai, mendengarkan semua percakapan mereka. Tak percaya jika orang yang ia kasihi justru menyakitinya seperti ini.
“Mana Alananya Tante..? Apa dia sudah tidur ya? Kenapa bukan dia saja membukakan pintu untuk kami?” tanya Saras dengan senyum miring.
“Sayang, tak bisa seperti itu. Aku sengaja menyuruh Mamalah membukakan pintu untuk kita, agar Alana tak melihat kedatanganku bersamamu sayang,” ucap David seraya mempererat rangkulan di bahu sang kekasih.
“Loh kenapa harus seperti itu..? Bukankah lebih baik jika dia lebih cepat mengetahui hubungan kita ini. Apalagi tante Farida juga sudah mau merestui hubungan kita. Lalu kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini lagi,” ucap Saras terlihat kesal.
“Saras. Kamu sedikit bersabar nak. Karena Tante mengizinkan dengan restui kalian berdua, jika mendadak seperti ini kamu datang ke rumah ini. Tante tak mau, nanti perempuan gila itu mengamuk dan membangunkan para tetangga. Makanya kita harus bermain cantik, perlahan-lahan namun pasti kalian berdua menikah dan terserah David mau menceraikan Alana atau tidak.” Jelas Farida yang tak menyadari jika Sesungguhnya Alana mendengar semua percakapan mereka.
“Kamu sabar ya sayang. Kita tak mungkin tergesa-gesa seperti yang kamu mau. Apa yang dikatakan Mama itu benar.. Jika Alana melihat aku membawa perempuan lain di sini, bisa-bisa dia marah besar dan mengamuk. Aku tak mau para tetangga mengetahui hal ini,” ungkap David membujuk sang kekasih. Tangis Alana semakin menjadi ketika ia melihat sang suami mengecup mesra kening perempuan lain di hadapan Farida. Tak ada sedikit pun pembelaan untuknya atas kelakuan David tersebut.
“Ya sudah sebaiknya kamu beristirahatlah dulu di kamar sayang. Tadi Mama sudah menyuruh perempuan itu membersihkan kamar tamu untukmu, berhati-hatilah jangan sampai perempuan itu mengetahui keberadaan kalian ke sini. Karena belum waktunya dia melihat keberadaanmu Saras, yang tentunya bakal menikah dengan David.” Farida terlihat begitu ramah terhadap Saras, sangat jauh berbanding terbalik ketika berhadapan dengan Alana.
Alana segera bangkit dari lantai dan tergesa-gesa melangkah menuju kamarnya. Alana sengaja menghindar agar sang suami dan mertua menyangka jika dirinya tak mengetahui perbuatan mereka di belakang dirinya.
“Lalu, kamu tidur dengan perempuan itu sayang..? Ah aku nggak mau. Ntar kamu macam-macam lagi dengannya. Aku tak rela jika kamu berhubungan badan dengannya di belakangku.” Ucap Saras manja menuju ke arah kamar tamu dipandu oleh David dan Farida.
Alana sempat melihat dan mendengar percakapan mereka, membuat hatinya hancur. Justru dirinya yang diperlakukan semakin tak adil, tanpa perasaan sedikit pun dibohongi dan dikhianati oleh orang-orang yang kita sangat dipercaya.
“Apaan sih aah.. nggak bakalan aku lakuin hal itu dengannya. Melihat dia aja aku sudah tak bernafsu, apalagi untuk menjamahnya. Kamu tak perlu khawatir seperti itu sayang, aku hanya melakukan semuanya denganmu sayangku.” Saras bergelendot manja di tubuh David sembari melingkari tangan di pinggang David mendekati kamar tamu. Alana menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang tak mampu ia lukiskan.
Keadaan seketika hening. Farida sudah masuk ke kamarnya akan tetapi Alana tak bisa tenang berada di kamarnya. Hampir 10 menit sang suami tak kunjung datang ke kamar mereka.
Perasaannya semakin tidak menantu. Ia pun kembali keluar dari kamar mengendap-ngendap menuju ke arah kamar tamu, di mana saat ini wanita penggoda itu tidur di sana, pastinya bersama sang suami.
Alana sudah berada di depan pintu kamar yang tampak tertutup rapat. Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika suara desahan tertangkap jelas di telinganya. Dengan tangan gemetaran Alana mencoba memutar kenop pintu kamar, yang ternyata tak terkunci dari dalam. Dengan nekatnya ia memutar perlahan karena pintu kamar tersebut dan pintu pun terbuka sedikit. Alangkah terkejutnya Alana, ketika ia mengintip ke arah dalam kamar tersebut.
***
Anda Mungkin Juga Suka





