
Pendekar Pedang Patah
Bab 3
Entah sial atau tidak, Panca kini berada di kediaman Asih. Ia menatap bosan pada gadis kecil yang menggandengnya dengan riang untuk menemui ibunya. Dan mengingat hal ini, tentu saja membuat Panca merasa sedikit nostalgia. Dahulu, ialah penyebab kehancuran dari sekte Pedang Suci. Sekarang ia sadar akan satu hal, dirinya tidak menyusut tanpa alasan yang tidak jelas melainkan dirinya kini terlempar kembali ke masa lalu, tepatnya beberapa puluh tahun yang lalu waktu ia masih menjadi gelandangan dan pencuri demi menghidupi dirinya.
“Ibu, Ibu! Aku dapat teman baru. Ibu, di mana dirimu?” teriak Asih—masih setia menyeret Panca di belakangnya—mencari keberadaan ibunya.
“Iya, Nak? Ibu ada di dapur!” sahut ibunya sedikit berteriak.
Tanpa pikir panjang, Asih menghampiri ibunya yang berada di dapur—dengan Panca di belakangnya. “Ibuu! Lihat, aku dapat teman bermain! Dia juga tidak punya rumah, bisakah kita memberinya tempat tinggal?” rengek Asih tanpa memberi kesempatan ibunya menjawab.
“Ehm, bagaimana, ya? Bukankah tadi Jaka pergi mencarimu? Ke mana dia?” tanya balik ibu Asih berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari permintaan egoisnya.
Seakan tersadar sesuatu, Asih menyengir polos menunjukan deretan gigi putihnya dan satu giginya yang tanggal di bagian tengah. “Kami meninggalkannya di hutan depan. Habisnya, Jaka selalu mengikutiku, Bu,” jawab Asih membela diri dengan wajah memelas.
Ibu Asih tersenyum maklum mendengarnya. Wanita muda itu lalu merendahkan tubuhnya dan mengusap pelan rambut hitam anaknya. “Nak, memang itulah tugas Jaka. Ia mendapat perintah dari ayahmu untuk menjagamu,” jelas ibu Asih berusaha memberi pemahaman pada gadis kecilnya. Lalu, pandangannya teralih pada Panca yang menatapnya dengan cengiran pura-pura polos.
“Ha—Halo, saya Panca.” Panca memperkenalkan diri dengan kikuk pada ibu Asih yang ia tahu bernama Ratna Kumalasari itu.
Ratna tersenyum singkat padanya. “Halo, anak manis. Aku ibunya Asih, namaku Ratna Kumalasari.”
Tepat seperti dugaan Panca. Wanita ini masih sama cantik dan anggunnya sejak dulu. Wanita yang sering ia khayalkan akan menjadi ibunya di masa lalu itu kini tengah tersenyum lembut padanya. Perlahan wajah Panca memerah karena hal itu.
“Jadi, Ibu. Panca boleh tinggal di sini, kan, Bu?” desak Asih menggoyangkan lengan ibunya tak sabaran.
Ratna kembali mengalihkan perhatian pada putri kecilnya itu. “Sabar ya, Nak. Ibu tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa persetujuan ayahmu.”
Rahang Panca kini mengeras. Ia baru sadar jika suami dari Ratna adalah awal mula rasa bencinya pada sekte Pedang Suci. Tanpa sadar, ia mengepalkan kedua tangan mungilnya erat-erat—yang untungnya tidak diketahui oleh Ratna dan Asih.
“Ayah kapan pulang, Bu?” rengek Asih lagi.
“Sore ini dia baru akan kembali dari tempat kakekmu, Nak,” jawab Ratna dengan penuh kasih sayang membelai rambut putrinya.
“Jadi, Ayah pergi ke tempat kakek Surawisesa?”
“UHUK, UHUK, UHUK!” Panca tersedak ludahnya sendiri ketika ia mendengar Asih menyebut sebuah nama yang saat ini sedang ia cari—sangat.
“Kamu kenapa, Panca?” tanya Asih polos. Ia melepaskan genggaman tangan pada ibunya dan menepuk-nepuk pelan punggung Panca.
“Aku tidak apa-apa, Putri,” jawab Panca penuh hormat—tentu saja ia berbohong.
Sementara itu, Asih yang bingung dengan sikap Panca yang berubah sopan ini tak tahan untuk tidak menyeletuk. “Tumben kau menyebutku seperti itu, tidak seperti sebelumnya.”
“Ah—apa yang ka—maksudku Putri katakan? Aku sama sekali tidak mengerti,” sahut Panca sambil meringis memaksakan senyum dan mengatakan sesuatu pada gadis itu pelan. “Diam saja!” lirihnya pada Asih yang tak diketahui oleh Ratna.
Sementara itu Asih yang melihat tingkat aneh Panca hanya mengerutkan keningnya heran. “Kau kenapa, Panca? Sakit gigi?”
Ingin sekali rasanya Panca menjedukkan kepalanya ke dinding kayu di dekatnya, tapi akan sangat tidak etis dilihat oleh Ratna—orang yang begitu ia kagumi. Jadi, untuk saat ini Panca hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Asih yang selalu di luar nalar itu.
Dan satu hal lagi yang Panca tahu pada akhirnya, bahwa Sekte Pedang Suci memiliki hubungan dengan Kuil Pedang Seribu—tempat di mana si kakek tua sialan yang telah merubahnya menjadi seperti sekarang ini tinggal. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa si kakek tua itu murka kepadanya, karena ia telah meluluh lantakkan tempat ini di masa depan demi membalaskan rasa sakit hatinya pada si brengsek suami dari Ratna Kumalasari yang membuatnya sakit hati.
Saat Panca sedang sibuk dengan pikirannya, Asih kembali merengek pada ibunya untuk mengijinkan Panca tinggal agar bisa menemaninya bermain. “Ibu! Aku mohon, ijinkan Panca tinggal ya, Bu?”
Ratna yang melihat anaknya memohon sedemikian rupa hanya bisa tersenyum pasrah dan mengelus puncak kepala anak semata wayangnya itu. “Baiklah. Tapi kalau sampai ayah tidak mengijinkan, maka kau harus menerima keputusannya ya, Nak?”
“Baik, Ibu!” sahut Asih senang. Ia tahu, ayahnya pastilah tidak akan bisa untuk menolak keinginannya.
“Panca, ayo main di luar denganku.” Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Asih menyeret paksa Panca yang gelagapan ditarik tiba-tiba seperti itu.
“Kita mau ke mana, Putri?” tanya Panca masih bertingkah sopan karena mereka masih dalam jarak pengawasan Ratna di belakang mereka.
Begitu Asih membawa Panca keluar rumah menuju lapangan luas tempat biasa para murid-murid ayahnya berlatih, Panca langsung berhenti dan memasang wajah datar. “Asih, sebaiknya lepaskan tanganku.”
Asih yang mendengar suara serta sikap Panca kembali berubah pun menoleh ke belakang. “Kenapa? Kenapa kau bersikap begitu padaku, Panca? Apa salahku?” tanya Asih sedih. Ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Panca dan menunduk sedih menatap kedua kakinya.
‘Karena ayahmu yang keji itu telah menendang serta mengusirku dari tempat satu-satunya yang bisa aku sebut rumah! Dia menggusur tempat bernaungku demi kepentingannya sendiri!’ jawab Panca dalam hati. Ia tahu bahwa percuma ia mengatakan hal ini pada Asih yang hanya seorang bocah ingusan berusia lima tahun—sama sepertinya.
Ya. Alasan kenapa Panca mengacak-acak Sekte Pedang Suci adalah karena sikap Erlangga Kusuma—ayah Asih—yang pada saat itu menggusur pemukiman pengemis demi membangun sebuah cabang perguruan sekte pedang suci. Memang, Erlangga tidak mengusirnya secara kasar, ia bahkan memberikan uang ganti rugi.
Namun, Panca hanyalah anak kecil yang mudah dibodohi oleh orang dewasa. Para pengemis lainnya mengambil upah dan jatah milik Panca sehingga Panca berakhir menjadi gelandanga. Dan dari sanalah awal mula jalan kejahatannya dimulai.
“Hey, kenapa kau diam saja Panca.” Asih melambaikan satu tangannya di depan wajah Panca.
“A—Ah, aku tidak apa-apa. Jadi, sekarang kita mau apa?” tanya Panca berusaha mengalihkan kebencian dalam benaknya. Saat ini, fokusnya adalah kembali ke tubuh aslinya dan ia harus menemui Surawisesa secepatnya.
“Aku ingin mengajakmu berkeliling perguruan sekte pedang suci, maukah kau?” pinta Asih dengan kedua mata berbinar-binar.
‘Apakah mungkin ini jalanku untuk kembali meraih kekuatanku? Dulu, aku telat berlatih ilmu bela diri pada usia kepala dua. Sekarang, mungkin aku harus mulai lebih awal. Jika memang benar ini adalah masa lalu, maka aku harus memperbaiki semuanya … dan kembali meneror dunia, bwaahaha.’
Lagi-lagi, Panca terdiam dengan ekspresi yang berubah-ubah. Terkadang ia terlihat melotot tajam, tertawa, lalu sedih secara bersamaan. Dan Asih yang melihatnya hanya bisa menggeleng bingung.
‘Apa kepala Panca terbentur sesuatu sehingga ia menjadi aneh seperti ini?’
Anda Mungkin Juga Suka





