Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Para Tetangga

Pemuas Para Tetangga

Selamat datang di sebuah lingkungan perumahan yang tampak tenang namun menyimpan rahasia menggoda di balik pintu-pintunya. Di sini, interaksi antar penghuni bukan sekadar tegur sapa biasa. Kisah ini menyoroti jalinan romansa modern yang provokatif dan berani di antara para tetangga yang telah dewasa. Setiap pertemuan menjadi awal dari dinamika hubungan yang penuh gairah, mengeksplorasi sisi lain kehidupan bertetangga yang jauh dari kesan konvensional.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku hentikan permainan lidahku pada clitorisnya, karena aku ingin sekali mencium bibirnya yang sangat sensual itu.

Lama kami berdua berciuman. Birahi Irda sudah mulai meninggi, terasa dari gigitan-gigitannya pada bibirku. Dalam benakku sekilas terlintas bahwa ini adalah saatnya untuk memulai mencoba memainkan ulang rekaman tersebut. Irda harus merasakan kembali kebrutalan dan kekasaran Dodi, sang mantan.

"Ir, Mas mau ngentotin Irda lagi tapi Irda harus membayangkan bahwa Mas Adit ini adalah Mas Dodi-mu, gimana?" tanyaku.

Irda menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Mas nanti tersinggung dan merasa cemburu kalau aku membayangkan Mas Dodi."

"Ini permintaan khusus, Ir. Dan Irda harus lepas bebas berteriak seolah-olah Irda sedang dientot dan diperawanin Mas Dodi. Bebas mau bicara vulgar atau apapun, bebas. Pokoknya sama seperti waktu itu," kataku.

"Tidak Mas." Irda tetap menolak.

Dan dengan tolakannya yang kedua ini maka aku secara brutal dan ganas meremas dan menciumi payudaranya sampai Irda mengerang keras, semuanya habis aku lumat dan aku jilati secara agak kasar payudara Irda.

"Oooooh Mass Adit, ini seperti yang pernah Mas Dodi lakukan padaku," teriak Irda tanpa sadar.

"Irda jangan panggil Mas dengan nama Adit, teriakan saja nama Mas Dodi, oke!" pintaku sambil makin buas aku melumat payudaranya dan seiring dengan kebuasanku itu teriakan Irda semakin lepas. "Mas kamu buas sekali tetapi aku suka."

Sengaja remasanku di payudaranya aku kencangkan, sambil aku berkata kepada Irda, "Panggil aku Mas Dodi ayo Irda, panggil aku Mas Dodi!"

Akhirnya Irda mulai berani berteriak, "Mas Dodi... Mas Dodi... aduh Mas Dodi... nikmat sekali remasanmu... Mass.." Dan ajaibnya diriku makin terangsang dengan teriakan Irda menyebutkan nama Mas Dodi, serasa aku sedang mencoba untuk mengoyak gadis perawan yang masih berumur 17 tahun.

Irda sudah tidak sungkan lagi untuk mengerang, menjerit dan meneriakan nama Mas Dodi, lengkap dengan kata-kata vulgarnya. Dan aku sendiri semakin brutal saja menghisap dan menjilat clitorisnya.

Pada saat penisku sudah demikian tegang dan rontaan Irda semakin dahsyat, secara keras aku tancapkan penisku ke vaginanya persis seperti cerita Irda kepadaku.

"Mas Dodii... sakit, memekku sakit..." teriaknya.

Aku tidak peduli, kugoyang persis seperti cerita Irda kepadaku bagaimana Dodi menyetubuhi dia untuk pertama kalinya. Luar biasa sekali reaksinya, Irda meronta liar, mengerang dan menjerit serta mencakar punggungku sambil tidak berhenti memanggil nama Mas Dodi dengan erangan yang keras.

"Mas Dodi... aku keluar... aku keluar Mass... aku ngecrott... ahh... Mas Dodi nikmat sekali entotannya... kontolmu enak banget, aku nggak kuat... aku keluar puas banget," rontaan dan erangan Irda hanya bertahan beberapa menit saja. Lalau aku cabut penisku dari vaginanya dan aku masukkan ke dalam mulutnya, Irda mengulum dan menjilati penisku dengan penuh gairah.

"Ini kontol Mas Dodi, Irda harus hisap kontol ini dengan cara yang halus sekali ya," kataku.

Irda mengedipkan matanya sambil terus mengulum penisku.

"Mas Dodi sekarang pengen ngentot Irda lagi, boleh?" kataku.

Dengan bersemangat Irda menjawab, "Mas Dodi, ini gaya ngentot yang Mas paling suka kan?" ucapanya sambil badannya membelakangiku, dan sebelah kakinya dia angkat, maka penisku masuk ke vaginanya dari samping.

Posisi senggama semacam ini memang nikmat sekali, penis masuk dalam sekali dan tangan kananku dengan leluasa dapat memainkan clitoris Irda. Bagian kuduk Irda kuciumi, tanpa menghentikan tangan kananku memaikan clitnya yang sekali-kali kupindahkan untuk meremas payudaranya.

Irda kembali liar meronta dalam kenikmatan, sambil tidak berhenti mengucapkan kata 'Mas Dodi' berulang-kali.

"Mas Dodi sekarang kok kuat sekali, dari tadi Mas Dodi belum keluar," ucapnya.

"Mas Dodi baru akan keluar kalau Irda sudah benar-benar puas," kataku.

Ternyata dengan Irda menghadap ke cermin yang ada di tembok justru semakin merangsang dirinya.

"Mas Dodi, lihat tuh di kaca, aku lagi dientot sama kamu Mas Dodi," ucapnya.

"Irda kan yang minta dientot sama Mas Dodi," kataku.

"Aku sama sekali tidak merasa menyesal diperawanin oleh Mas Dodi, karena sekarang aku bisa merasakan bahwa ngentot itu nikmat sekali, Mas."

Gerakanku dalam menyetubuhi Irda semakin kupercepat, dan erangan Irda mulai keras kembali tanpa rasa sungkan. Posisi Irda sekarang berada di atas badanku, goyangannya luar biasa sekali. Sambil sekali-kali melihat ke kaca, Irda memainkan sendiri payudaranya.

"Terus Ir, mainkan susumu... Mas Dodi senang melihatnya," ujarku.

Irda semakin liar, "Mas Dodi lihat tuh kontol Mas Dodi keluar masuk di memekku," ucap Irda sambil menundukan kepalanya memperhatikan penisku keluar masuk vaginanya.

Dalam gairah birahi yang begitu tinggi semua 'rekaman' di-playback tanpa disadarinya, dan aku benar-benar mengikuti setiap adegan yang diinginkan oleh Irda.

"Mas Dodi seneng kan lihat memek dan itilku?" katanya sambil tangan kirinya menarik bibir vaginanya sehingga tonjolan clitnya tampak dengan jelasnya. Tangannya yang sebelah kanan mulai memilin dan memainkan clitnya sendiri, hasilnya, Irda meronta liar dan gerakan senggamanya semakin bertambah cepat.

Irda benar-benar hebat dalam bersenggama, kuat dan sangat bergairah sekali. Wanita semacam Irda ini tidak mungkin dapat dipuaskan oleh laki-laki yang cepat 'keluar'.

"Ir, kamu nungging, biar Mas Dodi entot kamu dari belakang," pintaku.

Dalam posisi menungging kugoyang vagina Irda secara ganas, dan dia menjerit-jerit kenikmatan, yang akhirnya,

"Mas Dodii... aku keluar lagi... aacchh... ucchh... aku ngecrot lagi dientot kamu mass......" Gerakan liarnya berhenti sambil merintih merasakan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya.

"Mas Adit luar biasa sekali, dan aku merasa sangat puas dengan semuanya, tapi aku kasihan sama Mas Adit, karena aku selalu teriak-teriak manggil nama Mas Dodi." Irda berkata sambil memeluk diriku.

"Ir, Mas Adit sama sekali tidak merasa cemburu atau tidak enak dengan sikap Irda tersebut, justru Mas merasa puas sekali dapat memuaskan Irda," jawabku.

"Aku senang dengan cara Mas Adit menyetubuhiku, pokoknya aku mau sering sama Mas Adit, aku juga ingin memuaskan Mas Adit dengan cara apa saja asal Mas Adit puas. Sekarang giliran Mas Adit untuk 'keluar', aku masih tahan kok, Mas," ujar Irda.

"Kalau Irda senang dengan entotan Mas Adit, Irda harus selalu mau ya kalau Mas Adit mau ngentotin Irda," jawabku.

"Tentu Mas, aku janji," jawabnya.

Aku memang belum keluar, dan dalam soal bersetubuh, hampir semua perempuan yang sudah aku tiduri selalu bilang bahwa aku kuat sekali. Memang, meskipun penisku tidak terlalu besar tetapi daya tahanku kalau lagi bersenggama kuat sekali. Tidak ada wanita yang tidak pernah puas kalau main bersamaku, termasuk istriku sendiri.

"Ir, pegangin dong kontol Mas Adit," pintaku.

"Aku isep lagi kontolnya ya, Mas?" pintanya.

Jilatan dan isapan Irda pada penisku memang halus sekali, dia mampu mengisap penisku tanpa menyentuhkan giginya sama sekali di penisku. Luar biasa nikmatnya. penisku sudah tegang kembali, Irda begitu menikmatinya menghisap dan menjilat penisku.

"Mas, kontol Mas ini pasti sudah masuk ke banyak memek kan?" tanyanya.

"Irda harus tahu bahwa Mas bukan laki-laki yang munafik dan Mas tidak suka dengan orang yang munafik. Memang Mas sering ngentot, tapi sekalipun Mas belum pernah ngentot dengan perempuan yang dasarnya dia mau di-entot karena uang."

"Good."

"Mas senang ngentot atas dasar rasa suka sama suka dan saling membutuhkan, sehingga kedua belah pihak dapat saling memuaskan sehingga terasa benar bahwa ngentot itu adalah sesuatu yang indah dan nikmat untuk dilakukan," jawabku.

Dengan jilatan dan isapan penisku sudah semakin menegang. Kuraba-raba buah pantat Irda dan perlahan-lahan kujilati. Irda menggelinjang kegelian. Buah pantat Irda putih dan montok, kujilati terus di sekitar buah pantatnya dan kadang-kadang lidahku menyusup ke belahan pantatnya.

Irda mulai bergairah dan mulai merintih perlahan, "Mas geli, tapi aku suka... aaaah..."

Semakin berani lidahku menjilati belahan pantatnya, dan Irda semakin meronta merasakan kenikmatan yang diberikan oleh ujung lidahku.

"Ir, kamu nungging biar Mas Adit jilat pantat kamu dengan lebih leluasa," pintaku. Dan dengan posisi seperti itu lidahku bermain semakin leluasa di sekitar anusnya.

Irda sambil menghadap ke kaca mencoba untuk menahan rangsangan yang aku berikan, tapi akhirnya dia tidak tahan dan berteriak kecil, "Mas Adiiit nikmat sekali, aku baru merasakannya sekarang, dulu Mas Dodi tidak pernah menjilati pantat dan sekitar anusku."

Lalu aku jilat jariku agar cukup basah, dan secara perlahan-lahan aku masukkan ke anusnya. Irda mengerang "Mas perih pelan-pelan, Mas... tapi jangan dicabut." Lalu aku mainkan jariku di permukaan anusnya dengan halus sekali dan secara perlahan-lahan aku tekan terus jari telunjukku ke dalam anusnya.

"Enak Mas... tapi masih pedih... acchh... rasanya aku seperti diperawanin lagi... ucchh... enaakk," Irda mengerang nikmat tanpa henti.

"Ir, sekarang Mas Adit perawanin anusnya Irda ya?" pintaku. Irda hanya mengangguk ragu, tapi aku tidak menunggu jawabannya lebih lanjut.

Kemudian aku basahi penisku dengan air ludahku, dan secara perlahan kucoba memasukkannya ke anus Irda. Baru ujung penisku saja Irda sudah menjerit kesakitan,

"Mas saakkiitt banget... do it slowly, please..."

"Irda, coba kamu isep dulu kontol Mas Adit, biar licin," pintaku.

Aku coba secara perlahan-lahan memasukkan penisku lagi, Irda mengerang, tapi aku tambah bergairah sekali, kutekan lebih dalam lagi dan Irda terus mengerang, semakin Irda mengerang semakin dalam penisku masuk di anusnya.

"Ir, kontol Mas sudah hampir setengah masuk ke anus Irda, gimana nikmat gak?" tanyaku.

Irda tidak menjawab, tapi diluar dugaanku justru dia sendiri yang menekankan pantatnya ke penisku sehingga sambil Irda menjerit keras penisku masuk semuanya ke dalam anus Irda. "Mas giillaa ternyata rasanya nikmat setelah kontol Mas masuk semuanya," teriaknya.

Aku tancap penisku di anusnya untuk beberapa saat, karena kalau langsung digerak-gerakan pasti Irda masih akan merasa kepedihan. Di luar dugaanku, tiba-tiba Irda mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berteriak-teriak. "Mas Adit enakk banget... aduhh pedih... aduhh nikmat... acchh nikmat."

Irda menjadi liar sekali setelah jariku juga masuk di vaginanya. "Achh rasanya kaya di-entot dua kontol sekaligus Mas. Aku baru kali ini merasakan ngentot seperti ini... nikmaaat bangeeet Maaaas." Irda tidak berhentinya mengerang dan berteriak merasakan kenikmatan yang aku berikan.

Karena gerakan Irda semakin 'liar' maka aku pun mulai berani memainkan anus Irda, setiap aku menggerakkan penisku.

Irda menjerit, "Mas saakitt, tapi enaaaaaak, ah perrrrih tapi mau teruuuuussss...."

Aku tidak tahan lagi, dan dengan sekali gerakan kutancapkan dalam-dalam penisku di anus Irda, Irda menjerit keras sambil berteriak "Aku ngecret lagi Mas... ampun... enakk banget... aku puas banget... uhh enaakk sekali...." Bersamaan dengan teriakan Irda tersebut spermaku keluar menyembur membasahi bagian dalam anusnya.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Mencari nafkah tak semudah kisah fiksi. Nesta, gadis lulusan SMA bertubuh mungil, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Keajaiban datang saat PT Taruna menerimanya sebagai office girl. Namun, nasib sial menimpa ketika bos angkuh memecatnya di hari pertama kerja. Nesta tak menyerah begitu saja karena ia sangat membutuhkan uang halal. Strategi gila apa yang akan ia lancarkan agar bisa bertahan di sana dan menghadapi sang atasan yang sombong?
Sampul Novel Benci Jatuh Cinta
9.6
Panji, anak yatim asuhan Terryn dan Deva, tumbuh tangguh meski dibenci Sheira akibat hasutan Imelda. Sebagai menantu keluarga Danuarta, ia tetap sabar menjaga martabat Deva walau terus dizalimi istrinya sendiri. Konflik memuncak saat rahasia kematian calon istri Panji yang melibatkan Sheira terungkap. Di tengah duka wafatnya ibu angkat dan kemunculan ibu kandungnya, Panji terjepit dilema batin antara luka masa lalu dan harapan masa depan yang penuh rintangan.
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar
9.7
Pernikahan Aura dengan Gavin membawanya masuk ke lingkaran obsesi keluarga Mahendra. Atas desakan ekonomi, Gavin mengajak Aura tinggal di rumah sang kakak, Adrian Mahendra, seorang pengusaha dingin yang berkuasa. Tanpa diduga, Adrian menyimpan hasrat gelap terhadap istri adiknya tersebut. Dengan karisma dan kekuasaannya, Adrian memanipulasi keadaan hingga Aura terjepit antara kesetiaan pada suami dan godaan sang kakak ipar yang terus menjeratnya.
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Calista Anindya nyaris tewas akibat sabotase mobil yang dirancang untuk membunuhnya. Demi melindungi bayinya, ia menghilang dan memendam trauma mendalam. Enam tahun kemudian, Calista muncul kembali sebagai sosok tangguh bersama sepasang anak kembar yang cerdas. Ia pulang membawa misi besar untuk menuntut balas pada mantan suaminya yang telah berkhianat. Di tengah kembalinya Calista, akankah dendam tersebut tuntas atau justru masa lalu kelam kembali menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewaku sebagai pendamping, namun cinta tulusku dibalas pengkhianatan keji. Ternyata, dia memakai teknologi deepfake untuk mengganti wajahku dengan Karininia, kakak tiriku yang ia puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa hingga tanganku hancur dan memenjarakanku. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing, Keenan Adiwijaya. Aku pergi menjauh demi memulihkan hidup dari pria yang menganggapku mainan.
Sampul Novel Menikahi Gadis Polos
9.5
Tepat semalam sebelum hari pernikahan, Jovan harus menelan kenyataan pahit saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan pria lain. Dilanda rasa sakit hati yang mendalam, ia segera membatalkan rencana pernikahan tersebut. Namun, takdir membawanya bertemu seorang gadis asing yang tengah memohon pertolongan. Gadis itu bersedia melakukan apa pun sebagai imbalan. Tanpa ragu, Jovan memintanya menjadi pengantin pengganti untuk membalas pengkhianatan mantan kekasihnya.