Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Intan kehilangan kontak dengan suaminya, Franz, saat dinas luar. Sekembalinya ke rumah, sikap Franz berubah drastis menjadi kasar dan dingin. Ia bahkan membawa wanita baru sebagai istri kedua dengan alasan amnesia. Setelah pernikahan mereka hancur, Franz tidak menyadari bahwa Intan adalah sosok berkuasa dengan kekayaan luar biasa yang selama ini ia rahasiakan. Kini, saatnya Intan bangkit untuk membalas setiap penderitaan yang telah mereka torehkan padanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sayangnya, suami Intan tak kunjung datang....

Beberapa hari berlalu, tetapi tak ada tanda keberadaan Franz.

Mertuanya yang bernama Sarah Aswaja bahkan sudah melaporkan kepada pihak polisi, katanya. Sayangnya, tak ada hasil berarti.

"Mamah, aku mau pergi ke kantor polisi," ucap Intan pada akhirnya. Dia tidak tahu sistem di Turki bagaimana.

Namun, Intan sudah tak sanggup lagi menahan kekhawatirannya.

Anehnya, sang mertua yang saat itu sedang duduk di sofa tampak terkejut.

Raut wajahnya mendadak berubah gelap.

"Kantor polisi? Untuk apa Intan? Apa kamu tidak percaya dengan saya?" bentaknya.

"Bu-kan begitu," jawab Intan gagap.

"Sebaiknya, kamu tunggu saja di rumah. Saya yang akan mengurus semuanya! Semua akan baik-baik saja!" ujarnya seraya melotot.

Intan terdiam. Ia tidak bisa berbuat apapun. Namun, ia merasa heran.

"Mengapa mamah berbicara seperti itu? Seolah tahu di mana mas Franz?" batinnya.

Pikiran Intan ke mana-mana. Memang, akhir-akhir ini tingkah mertuanya begitu mencurigakan. Lagian, apa salahnya jika Intan menanyakan kembali kepada polisi? Mengapa ia sangat ketakutan?

Intan berusaha tenang. Dipijatnya kening yang teramat sangat sakit. Bahkan, ia tidak bisa lagi untuk berfikir jernih.

Intan merebahkan tubuhnya di atas kasur, hingga tanpa sadar tertidur.

****

Tok tok tok!

Seseorang dari luar kamar menggedor-gedor pintu di saat ia sudah tertidur.

Entah berapa jam ia tertidur.

Hanya saja, pintunya terus digedor keras. Jessica yang mendengarnya ikut terbangun.

"Mami! Apa yang terjadi?" Putrinya itu bertanya dengan suara kantuknya. Ia berkata sambil menguap.

"Tunggu, Sayang. Mami akan membukakan pintu." Intan berkata dengan tenang seolah baik-baik saja.

Jessica mengangguk.

Dengan cepat, Intan pun pergi keluar diikuti sang anak.

Namun, ia sungguh terkejut menemukan seseorang yang kini berdiri di depannya.

"Mas Franz? Kamu pulang?!" ucapnya.

Intan yang sangat merindukan Franz segera memeluknya.

Anehnya, tercium menyengat bau alkohol dari tubuh Franz. Tak sampai di sana, pria itu justru mendorongnya dengan kasar.

"Papi! Mengapa mendorong Mami?" teriak Jessica dengan marah. Gadis itu melihat Franz mendorongnya dengan kasar.

Ia meletakan kedua tangannya di pinggang mungilnya. Gadis kecil ini memang jenius. Ia sangat cepat merespon dan mempelajari apa yang dilihatnya.

Di sisi lain, wajah Franz memerah. Dia menyuruh Intan untuk menjauh darinya.

"Jangan halangi jalanku! Awasss!"

Belum sempat memproses yang terjadi, mertuanya kini ikut mengomel, "Intan! Bagaimana sih kamu? Kok buka pintu lama banget! Istri macam apa kamu?"

Intan terdiam.

Dia tidak menyangka suaminya pulang mabuk setelah hilang.

"Ada masalah apa sebenarnya?" Intan bertanya-tanya di dalam hati

Meski demikian, Intan tak ingin bertengkar. Saat ini, yang penting, sang suami sudah pulang, fikirnya.

"Mi...." Jessica menghampiri Intan dan memeluknya. Anak itu tampak takut.

Segera saja, Intan menenangkannya. "Tenang saja, Jessy. Papi mungkin lelah. Jangan khawatirkan Mami, Sayang! Lihat, Mami baik-baik saja kan?"ujar Intan seraya tersenyum.

Untungnya, gadis kecil itu mau mengerti.

Lalu, Intan mengajak Jessy untuk menuju kamarnya menghampiri Franz yang sudah berada di dalam.

Pria itu sudah tertidur di atas ranjang. Tapi, anehnya sang mertua malah melarang Intan untuk menemaninya.

"Tapi, Ma--"

"Kamu mulai berani sama saya!"

"Bukan begitu!"

"Dengar Intan! Anaku sedang tidur. Saya tidak mau jika kalian akan mengganggunya!" bentak Sarah Aswaja kejam. Tak lama, dia berjalan melewati Intan dengan angkuh.

Intan terdiam. Dia berusaha untuk memahami semuanya.

Ia tidak mau masalah yang sepele menjadi besar.

Jadi, pagi ini, Intan melakukan aktivitas seperti biasa.

Biasanya, setiap shubuh suaminya bangun menunaikan sholat.

Intan pun beriniatif untuk membangunkannya.

Dicubitnya pelan hidung sang suami seperti biasa.

"Mas, apakah kamu yakin tidak akan sholat shubuh?" tanyanya.

Hidung sang suami memang mancung karena asli orang Turki. Intan sangat menyukai hidungnya.

Anehnya, Franz justru menepis tangan Intan.

Wajahnya menampakan ekspresi emosi. Dia tidak terima dengan perlakuan Intan.

"Siapa yang mengajari kamu bertindak lancang padaku?" ucap lelaki itu dingin. Lalu, dia menarik rambut istrinya itu dengan kasar!

Betapa terkejutnya Intan mendapat respon yang tak terduga.

"Mas. Ampunnn. Sakit mas!" pintanya.

Untungnya, Franz melepas tangannya.

Meski demikian, hati Intan begitu ngilu.

Dengan perasaan bingung, ia menjauh.

Entah mengapa? Intan merasa harus berhati-hati kepada suaminya.

Hanya saja, ia tak menyangka jika suaminya itu akan bersikap kasar pada Jessica, putri mereka.

Sudah hal biasa jika Jessy meminta dibuatkan roti oleh Franz. Ia biasanya meminta memanggang juga. Bahkan kadang Franz sibuk memanggang roti di sela-sela sibuknya. Dia tidak pernah lupa kepada anak gadisnya itu. Sesibuk-sibuknya Franz, dia selalu hangat kepada keluarga kecilnya.

"Papi. Maukah membuatkan roti dan menyuapi Jessy? Jessy ingin sekali di buatkan oleh Papi," tanyanya pagi ini dengan wajah polosnya.

Franz yang saat itu sedang mengunyah roti segera menghabiskannya. Lalu dia meraih susu dan meneguknya.

"Makanlah bersama ibumu! Saya sibuk!" ucap Franz. Lalu dia menyibukan diri dengan ponselnya. Franz tampak acuh tak acuh.

Intan sendiri menatap suaminya dengan bingung, ada juga perasaan kecewa.

Dibelainya rambut Jessy yang tampak muram karena mendengar jawaban papinya.

Intan berusaha menenangkan diri. Sayangnya, ia sendiri pun tak tenang, bahkan ia masih memikirkan masalah itu, di saat tengah makan siang bersama sang putri.

Tiba-tiba Sarah Aswaja datang.

"Mengapa perasaanku jadi tidak enak?" batin Intan,"

Sarah Aswaja tampak serius. Ia berbicara setelah meneguk beberapa kali air minum.

"Intan, Jessy. Saya mau kasih tau kalian tentang Franz. Beberapa hari yang lalu, Franz mengalami kecelakaan dan dia amnesia. Saya harap kalian bisa merawat dan memaklumi dia,"

"Jadi, mamah selama ini tau di mana keberadaan Franz?"

Sarah tampak diam. Intan sendiri tidak tau apa yang Sarah pikirkan.

Kemudian, ia menjawab pertanyaan Intan.

"Iya, karena kamu tidak becus menjadi seorang istri, Intan!" balas Sarah seraya mengolesi roti dengan meses.

Wanita tua itu lalu memberikan roti buatannya untuk Jessy.

Namun, anak itu justru menepisnya, hingga jatuh di lantai.

Bola mata Sarah jelas terbelalak melihat roti buatannya berada di lantai. Wajahnya bahkan memerah. "Jessy! Kamu benar-benar ya, selalu membuat oma jengkel!" murkanya.

"Maaf, Jessy tidak sengaja oma!" sahut Jessy dingin. Sebenarnya ia sengaja melakukan itu untuk membalas perlakuan buruk pada ibunya.

"Ck! Oma bilang, kamu ambil dan makan sekarang juga!" ucap Sarah dengan mata mendelik.

Franz yang baru saja datang, hanya melihat sekilas. Dia sama sekali tidak membela anaknya.

"Mah, biar Intan saja yang memakannya!" ucap Intan dengan panik.

"Mami! Itu kan kotor! Harusnya mami buang!" teriak Jessica, tak terima.

Sarah Aswaja semakin melotot. "Tidak ada makanan yang boleh dibuang!"gertaknya.

"Intan. Kamu kalau mengajari Jessy itu yang benar dong! Masih kecil sudah diajari buang-buang makanan! Awas saja kalau sampai kejadian ini terulang lagi. Saya tidak akan segan-segan menghukum Jessy!" tegasnya.

"Saya tidak pernah mengajari Jessy membuang makanan, Mam. Jessy tadi hanya tidak sengaja!" bela Intan.

Jessy lalu turun dari tempat duduk. Ia menghampiri Franz dan ingin meminta perlindungannya. "Papi!"

Sayangnya, Franz justru tampak dingin.

"Jangan sentuh aku!" ucapnya dengan suara yang terdengar seram.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel TABIB CANTIK DARI MASA DEPAN KESAYANGAN PANGERAN DARI MASA LALU
8.4
Virgolin Asteria, ahli bedah plastik masa depan, diculik ke dimensi asing oleh sosok misterius. Di bawah ancaman maut, ia dipaksa mengerahkan seluruh keahlian medisnya demi menyelamatkan nyawa sang Ratu. Namun, saat gerbang menuju dunia asalnya terbuka, Virgolin justru terjebak dilema batin yang hebat. Cintanya telah tumbuh untuk sang penculik, Pangeran Pisceso Helios. Kini ia harus memilih antara pulang ke keluarganya atau menetap di dunia asing demi sang pujaan hati.
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur
8.3
Felisha membuktikan bahwa wanita yang tersakiti mampu menjadi sosok yang sangat tangguh. Demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya, ia bergabung dengan Agency The Angel sebagai wanita panggilan kelas atas. Bersama sang adik, Shasya, Felisha rela terjun ke dunia prostitusi elite demi melacak sang pembunuh. Mereka mempertaruhkan segalanya dalam misi berbahaya ini demi mengungkap kebenaran dan membalas rasa sakit hati yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.