Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Intan kehilangan kontak dengan suaminya, Franz, saat dinas luar. Sekembalinya ke rumah, sikap Franz berubah drastis menjadi kasar dan dingin. Ia bahkan membawa wanita baru sebagai istri kedua dengan alasan amnesia. Setelah pernikahan mereka hancur, Franz tidak menyadari bahwa Intan adalah sosok berkuasa dengan kekayaan luar biasa yang selama ini ia rahasiakan. Kini, saatnya Intan bangkit untuk membalas setiap penderitaan yang telah mereka torehkan padanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Melihat hal itu, Intan merasa panik.

Dia segera menjauhkan Jessy dari Franz.

Masih teringat jelas sang suami yang menjambak rambutnya.

Di sisi lain, Jessy yang turun dari tubuh Franz menekuk wajah chubby-nya penuh kekecewaan.

"Jessy, Sayang. Papi masih sakit. Jangan marah, ya cantik!" ucap Intan berbicara dengan nada lembut.

Jessy menganggukan kepala. Tampaknya, anak itu mencoba paham meski terkejut.

Hal ini membuat Intan merasa lebih tenang.

Selesai berbicara, Intan langsung mengambilkan bekal untuk mereka. Namun tetap saja, di dalam mobil, Franz tetap dingin.

'Apakah amnesia dapat mengubah karakter seseorang?' batin Intan bingung.

Wajahnya memang milik suaminya. Namun, mengapa sikapnya sangat berbeda?

Intan berharap suaminya yang dulu kembali.

Sayangnya, meski satu minggu telah berlalu, Franz masih dingin dan kasar.

Hubungan keluarga kecil itu semakin renggang. Intan sudah berusaha keras untuk membuat suaminya ingat akan keluarga kecilnya.

Namun ketika ditanya, Franz malas menjawab,

"Alahhhh..., ngomong apa sih kamu! Bikin pusing saja!"

"Mas, sampai kapan kamu akan seperti ini? Cobalah mengingatnya demi Jessy," ucap Intan dengan penuh harap. Bola matanya berkata seraya berkaca-kaca. Sesungguhnya Ia sangat merindukan suaminya yang dulu. Tentu saja merindukan kasih sayang dan perhatian dari Franz.

Pria di hadapannya terdiam. Acuh. Seolah Intan hanya orang asing.

Melihat celah ini, Intan pun memberikan album kenangan ketika mereka pergi berwisata masa lalu.

Franz tampak membuka album itu.

Lembar demi lembar dia buka. Ada setitik harapan di mata Intan.

Belum selesai album dilihat, album foto itu sudah Franz lempar dihadapan Intan.

Bugh!

"Berani-beraninya kamu mengajari saya! Apa kamu sudah merasa pintar?" bentaknya, "jangan buang-buang waktuku!

Matanya melotot. Dia berbicara seraya Jarinya menunjuk-nunjuk Intan.

"Mas, aku hanya ingin membantumu, " belum selesai berbicara, sebuah tangan melayang di pipinya.

Plak!

"Berani kamu teriak-teriak padaku? Berhenti mengguruiku! Atau kamu akan mati!"

Franz mendadak menampar dan membentak Intan.

Wanita itu terdiam. Dia terkejut sang suami bisa sekasar itu.

Intan harap Franz menyesal. Namun setelah itu, dia justru pergi begitu saja, tanpa meminta maaf.

Intan sangat takut. Meski demikian, dia tak menyerah demi Jessica.

Hari demi hari, dia berusaha mengembalikan ingatan suaminya.

Bahkan, malam ini, Intan sampai tidak bisa tidur.

Ia berpikir kembali bagaimana cara agar Franz bisa kembali seperti dulu?

"Baklava?" Intan teringat makanan kesukaan sang suami.

Setiap Intan membuat makanan itu, suaminya selalu memuji. Ia sadar semenjak pulang belum pernah lagi memasak Baklava.

Baklava itu terbuat dari adonan tepung. Bentuknya kotak-kotak kecil dan berlapis-lapis. Teksturnya empuk, kriuk pada bagian luar serta creamy pada bagian dalam. Sehingga sekali gigitan, rasa manisnya langsung meluber ke mulut.

"Kalau di ingat, aku jadi lapar?" gumam Intan seraya memegang perutnya.

Sebenarnya Intan sangat sibuk, ia harus mengurus rumah, Jessy bahkan saat ini suaminya yang suka membantu harus sakit. Cara membuatnya mudah, hanya waktunya saja yang sedikit.

Intan melamun. Ia mengingat aktivitasnya sepanjang hari. Ia berusaha mencari celah.

"Hanya Baklava, apapun akan aku lakukan untukmu, mas Franz!"

Baklava sebenarnya sederhana, biasanya mas Franz lebih suka kacang-kacangan pistachios dan sirup manis yang khas. Kemudian sirupnya menggunakan gula, air, dan perasan lemon, sehingga kaya cita rasa. Selain itu juga sehat.

Mungkin saja dengan itu, kondisi Franz akan sedikit membaik. Intan sudah memikirkan semuanya. Ia akan bangun lebih awal esok hari.

Berbagai harapan positif berada di kepala Intan. Bahkan ia sempat membayangkan suaminya kembali seperti dulu. Hingga ia senyum-senyum sendiri membayangkannya.

***

"Pagi sayang, lihat aku bawa apa?" ucap Intan dengan sumringah.

Dia seolah melupakan kejadian kemarin begitu saja.

Sayangnya, Franz tidak merespon. Dia datar. Dia fokus mengetik di laptopnya.

Intan sudah biasa dengan hal itu selama beberapa hari ini. Jadi, ia menyiapkan makanannya di atas meja. Lalu Intan menyuruhnya segera makan karena makanan masih hangat.

"Sayang, cobain ya. Aku yakin kamu akan suka, aku jamin deh,"

Intan tersenyum saat Franz menggigit makanan itu. Ia tidak sabar pujian dari suaminya yang selalu di lontarkan padanya.

Tapi kemudian, Franz memutahkannya.

"Makanan macam apa itu? Tidak enak!" makinya.

Intan mengerutkan alisnya. Senyumnya memudar. Hatinya terasa perih kembali. Intan beranjak berdiri meraih piring di atas meja.

"Apakah benar makanan ini rasanya tidak enak?"

Intan yakin betul semua bahannya sama, bahkan dalam kondisi masih baru. Apalagi ia memilih kualitas bahan yang bagus. Setelah memikirkan hal itu, ia mencicipi masakannya.

"Rasanya masih sama," bathin Intan.

Ia mengulang kembali mencicipi rasa masakannya. Lalu Intan memberanikan diri menyahut.

"Mas, apa yang salah dengan masakanku? Sungguh, ini rasanya sama dengan yang biasa kamu makan?"

Franz diam. Intan tahu suaminya mendengarkannya.

"Ya! Tapi aku sudah bosan!" ucapnya dingin dan ketus.

Setelah mendengar penuturan suaminya. Intan sangat kesal. Sedikitpun dia tidak memujinya, namun malah sebaliknya, Franz memaki makanannya tidak enak.

"Seandainya saja dia tau, seberapa susah payahnya aku memasak makanan itu untuknya," ucap Intan di dalam hati.

Usahanya gagal lagi!

"Mau dibawa ke mana rumah tanggaku kalau seperti ini?"

Intan menahan engap di dadanya. Rasanya sangat muak. Berhari-hari ia sudah menahan sabar. Sampai kapan?

"Baiklah. Aku tidak akan memasak ini lagi!"

Intan tampak tegar. Tapi hatinya betul-betul rapuh saat ini. Di depannya, suaminya tidak sedikitpun berkata-kata lagi, akhirnya Intan pergi dengan air mata yang pada akhirnya jatuh di pipi.

Tapi, Franz tetap saja acuh tak acuh melihat istrinya yang menangis.

Bahkan, Pria itu justru langsung menelpon seseorang.

"Aku janji kepadamu. Aku akan pergi sekarang juga!" ucap suaminya lembut.

Intan sontak terkejut hingga sekujur tubuhnya gemetar!

Bila diminta untuk mengantar belanja ke pasar, selalu saja Franz menolak.

Diajak mengantar Jessy ke sekolah, pun sama.

Alasannya, sudah ada supir.

Bahkan, Franz tidak pernah mengajak Intan dan Jessy jalan-jalan lagi.

Tapi, pria itu bisa berbicara lembut dan langsung menghampiri begitu ditelpon?

"Apakah jangan-jangan, itu yang menyebabkan mas Franz berubah kepadaku? Apakah ada orang ketiga?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona
9.7
Setelah genap berusia dua puluh lima tahun, Ilona Roselani Belvania kembali ke tanah air dengan satu ambisi: membalas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Tragedi itu tak hanya menghancurkan ekonomi keluarga, tapi juga membuat ibunya kehilangan kewarasan. Kesempatan emas muncul saat Ilona berhasil menjadi guru di sekolah elit tempat pewaris keluarga Altaresh belajar. Dendam harus dibayar tuntas, namun mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh sang ayah?
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?
Sampul Novel PANTHER & DEA
9.0
Panther, pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sejak kecil, jenuh dengan dunia gelap dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras oleh mafia Edward Elmund. Demi uang tebusan, Panther menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah menolak membayar. Di tengah pelarian, Sophie yang ia cintai justru berkhianat demi harta. Saat terpojok, muncul Dea, informan lama yang membantunya meraih kebebasan. Akankah Panther layak mendapatkan hidup normal setelah masa lalunya?
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Siska tewas mengenaskan setelah cairan mematikan melumpuhkan sarafnya dalam sekejap. Di samping jasadnya, pelaku bertopeng meninggalkan pesan misterius bertajuk Malaikat Maut Pelakor. Serangkaian pembunuhan serupa terus menghantui, menyasar para wanita perebut suami orang. Ranti, istri yang hancur akibat pengkhianatan, kini menjadi tersangka utama karena bukti kuat di rumahnya. Benarkah luka hati mendorongnya menjadi pembunuh, atau ada sosok lain di balik dendam buta ini?
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.