
Pembalasan Istri Kedua
Bab 2
PART 2
Berhadapan dengan wanita berwajah angkuh serta menampilkan senyum meremehkan yang sangat kentara, membuatku geram seketika, apalagi pengakuannya di tengah kecurigaan perubahan sikap mas juna pagi ini, semakin membuat pikiranku tak karuan. Lalu ia pun duduk di sofa empuk milikku tanpa ijin, dengan angkuh ia berkata "Buatkan aku minum!" perintahnya, seolah seperti ratu yang minta di layani.
"Memangnya Ibu siapa berani ngatain saya pelakor?" jawabku dengan tidak beranjak untuk tak membuatkannya minum.
"Situ 'kan istri kedua, jadi kalau bukan pelakor apa namanya, pel4cur!?" Senyumnya semakin menyunggingkan keremehan terhadapku, dengan mengangkat kedua kaki dan menyilangkannya di atas meja, ia melihatku dengan risih. Sebenarnya yang tamu siapa, yang tuan rumah siapa?
"Aku istri sah Mas Juna, bukan pelakor," bela ku masih melayani ocehannya.
"Aku masih berbaik hati karena dua tahun pernikahan kalian, masih bersabar," ucapnya dengan memilin rambut yang ku taksir terawat salon mahal, tercium dari wanginya yang menguat di hidungku ketika ia mendekat tadi, dan tata rambut yang rapi tapi elegan, sesuai dengan wajah judesnya.
"Aku sudah menikah dengan Mas Juna lima tahun lalu dan masih berlanjut sampai sekarang." Lanjutnya seolah tahu aku butuh penjelasan.
"Kamu pasti bingung kan kenapa, aku tiba-tiba datang menemuimu?" jawabnya masih dengan posisi sombongnya.
"Kenapa?" tanyaku dengan cepat karena, aku tidak menyangka, seorang Alena Pramudyta menjadi istri kedua.
Ia bangkit dari sofa lalu dengan gaya yang sangat angkuh mendekatiku, lalu mengelus pipi dengan jemarinya yang sangat halus.
"Untuk mendapatkan Mas Juna seutuhnya," bisiknya di telingaku.
Tanpa salam, tanpa memberitahukan namanya, ia melangkah pergi dan berlalu dari rumahku dengan menyisakan tanda tanya di kepala yang menumpuk.
Aku pun hanya terbengong sekaligus syok melihat dengan mata kepala sendiri, seorang wanita yang tidak aku kenal sama sekali tiba-tiba datang kerumah dan dengan beraninya mengaku sebagai istri pertama Mas Juna.
Apakah yang dikatakannya benar? atau hanya wanita gila yang mengaku-ngaku istri pertama Mas Juna? entahlah, aku harus segera bertanya kepada suamiku.
Segera aku kembali ke kamar setelah mengunci rapat pintu depan, pikiranku masih berprasangka baik terhadap Mas Juna, dengan harapan wanita tadi cuma mengaku-ngaku saja, dengan memencet nomor suamiku, aku terus menghubungi nomor Mas Juna. Tapi tidak ada jawaban di seberang sana. Hanya nada dering, lalu dilanjutkan dengan suara operator perempuan yang kutaksir pasti bukan wanita tadi.
"Sesibuk apa sih dia, sampai tidak angkat telpon?" gerutuku dengan di dengar telinga sendiri, karena di rumah ini, aku hanya tinggal berdua dengannya.
"Biasanya, meskipun Mas Juna sibuk, pasti dia angkat telpon dan bilang tidak bisa bicara karena meeting atau apalah!" ocehanku mulai panjang, karena kesal menelpon ke dua puluh kalinya tidak di angkat sama sekali.
Aku membanting hape tersebut ke atas ranjang tempat saksi cinta dan kebersamaanku dengan Mas Juna selama dua tahun pernikahan ini.
Dengan masih bermodal kepercayaan kepada suami tercinta, aku pun berinisiatif untuk tidak menelan mentah-mentah omongan wanita yang tidak aku kenal, apalagi langsung mengaku sebagai istri pertama dari suamiku, aku harus menyelidikinya terlebih dahulu untuk memastikan apakah ucapan wanita tadi benar.
Dengan hati yang ketat ketir, aku menuju garasi tempat mobil mewahku berjejer, dengan cepat segera ku naiki salah satunya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor. Lebih tepatnya kantorku, karena selama menikah dengan Mas Juna, aku mengamanahkan perusahaan kepadanya.
Masih dengan berbau pagi menjelang siang, beberapa pegawai yang melihat dan mengenalku, menyapa dengan hormat, setelah aku masuk ke dalam kantor. Segera aku pergi ke ruang direktur perusahaan, tapi sebelum aku membuka pintu tersebut, Pak Abdul dengan tergopoh gopoh sambil agak berlari pergi menuju arahku tempat berdiri.
"Ibu Alena!" ia berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tersengal, atau karena terlalu terkejut melihatku berada disini?
"Iya, Pak Abdul," jawabku, urung buka pintu karena Pak Abdul sudah berada di dekatku.
"Ibu cari Pak Juna?" tanyanya setelah mengatur nafas dan kembali normal.
"Iya," jawabku singkat.
"Pak Juna tidak ada di ruangannya"
Mas juna, tidak ada di sini? lalu kemana dia, atau jangan-jangan ....
Anda Mungkin Juga Suka





