Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PELET DARAH HAID

PELET DARAH HAID

Impian pernikahan Clara hancur seketika saat calon suaminya, David, berpaling kepada sahabatnya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan hasil rencana licik yang penuh misteri. Diam-diam, Rosa mendatangi dukun demi menggunakan ilmu hitam untuk mengguna-guna David agar jatuh ke pelukannya. Di balik aroma romansa yang pudar, tersimpan praktik pelet darah yang mengerikan demi merebut paksa kebahagiaan milik orang lain.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kamu kenapa, Nak?" tanya Manda-Mamanya Clara saat melihat anak gadisnya pulang dengan air mata membasahi pipinya.

"Bang David, Ma. Bang David." Clara berhambur memeluk Manda sambil menangis terisak.

"Kenapa David?" tanya Manda sambil mengelus pundak anaknya.

Clara masih menangis, bibirnya kelu ingin menceritakan kejadian yang membuat hatinya hancur. Manda dengan sabar memberikan ruang waktu untuk anaknya bercerita. Clara mengurai pelukannnya.

"Bang David membatalkan pernikahan kami, Ma." Kembali tangis Clara pecah saat mengingat ucapan David.

"Kenapa David membatalkan pernikahan kalian?"

"David ingin menikah dengan sahabatnya, Ma." Tangis Clara semakin menjadi mengingat calon suaminya akan menikah dengan perempuan lain.

"Siapa, Nak?"

"Sahabat David ternyata sahabatku juga, Ma."

"Rosa?"

"Iya, Ma. Kata Rosa mereka sudah melakukan hubungan int*m," ujar Clara terisak.

"Astaghfirullah! Mama seperti tidak mengenal mereka. David yang mama tahu anaknya shaleh." Clara semakin sesegukkan mendengar ucapan mamanya.

"Sudahlah kak buat apa menangisi orang yang mata hatinya sudah ketutup kemaksiatan," sela Abil-adik Clara yang usianya terpaut cukup jauh, 14 tahun seraya tangannya masih sibuk dengan alat tulisnya.

"Maksudmu apa bilang begitu, bocah tengil," sungut Clara sambil menyeka air matanya.

"Masa begitu saja Kak Clara tidak mengerti," ujar bocah 10tahun itu yang masih fokus dengan alat tulisnya.

Clara geram dengan ucapan adiknya itu. Dia menarik paksa pensil dan buku gambar adiknya. Netra Clara membulat melihat apa yang digambar adiknya.

"Kenapa kamu suka sekali gambar makhluk tak kasat mata, Bil?"

"Suka saja," sahut Abil sembari mengambil alat tulisnya.

"Mama sudah berulang kali bilangi kamu, jangan menggambar mereka. Bagaimana jika mereka tidak suka?"

"Mereka suka, Ma. Kecuali yang baru datang bersama Kak Clara. Dia tidak suka Abil lukis."

Clara syok mendengar ucapan adiknya. Dia langsung memeluk mamanya.

"Jangan ngawur kamu, Nak! Kasian Kakakmu. Dia jadi takut begitu," ujar Manda menasehati Abil.

"Abil serius, Ma. Makanya Kak Clara itu jangan sedih terus, jangan emosi. Mereka sangat suka bila di hati ada rasa amarah dan benci. Salatlah, Kak," ujar Abil kembali tangannya sibuk menggambar.

"Apa yang dikatakan adikmu benar, Ra. Seharusnya kamu mengikhlaskan jika David lebih memilih sahabatmu. Itu berarti Allah sudah menunjukkan jika David bukan calon imam yang baik untukmu," nasehat Manda.

"Mama gak mengerti perasaanku. Aku malu, hatiku sakit karena pengkhianatan mereka, Ma," ujar Clara kembali menangis.

Manda paham sekali perasaan putrinya, tapi dia bersyukur Allah lebih awal menunjukkan siapa sebenarnya David.

"Mama tahu, bagaimana sakitnya dikhianati karena mama pernah ada diposisi kamu. Namun, rasa syukur lebih dominan daripada rasa sakit di hati."

"Kok bersyukur sih, Ma," sungut Clara.

"Bersyukur karena tidak jadi menikah dengan orang yang tidak setia, orang yang tidak bisa menjaga harga dirinya."

"Bagaimana dengan undangan itu, Ma? Kita sekeluarga pasti malu karena pernikahan tinggal dua minggu lagi."

"Kita batalkan saja. Kenapa harus malu? Justru mama akan malu jika David selingkuh dengan sahabatmu di saat kalian sudah menikah. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang."

"Dengerin tuh, omongan Mama, Kak. Move on, Kak. Move on. Mau Abil carikan pengganti Kak David?"

"Sok dewasa banget sih, bocah tengil." Clara mendekati adiknya dan menjitak kepala Abil. Abil tidak merasakan apapun tetapi justru tangan Clara yang sakit.

"Argh," teriak Clara seraya mengusap tangannya.

"Rasain! Itu akibatnya jika Kakak mau menzalimiku jadi, temanku tidak suka," ujar Abil terkekeh melihat kakaknya kesakitan.

"Dasar aneh! Halu kamu, Bil. Mana ada manusia berteman dengan hantu," cibir Clara.

"Iya, Bil. Kamu jangan aneh-aneh. Serem tau." Manda bergidik ngeri.

"Kok aneh sih, Ma. Abil hanya bilang yang sebenarnya."

"Sudahlah, Ma. Jangan dengerin si bocah tengil! Kerjaannya kan begitu, suka ngehalu."

"Kakak tahu alasan kenapa tiba-tiba Kak David mau sama Kak Rosa?" Pertanyaan Abil membuat Clara sadar kenapa tiba-tiba calon suaminya bisa cinta bahkan melakukan zina.

"Gak tau," ucap Clara ketus.

"Mau tau gak, Kak?" Abil bertanya sambil menatap tajam kakaknya.

"Apa?"

"Pelet."

"Hahahahaha. Benar-benar ngehalu dah si bocah tengil. Dengar ya, Adikku sayang! Sekarang itu sudah zaman modern jadi, mana pelet yang ada itu melet. Nih kayak gini," ejek Clara seraya menjulurkan lidahnya.

"Terserah deh dibilangi gak percaya malah mengejek." Abil kembali sibuk menggambar, tangannya lincah mencoret-coret di buku gambarnya.

"Emang gak percaya," sahut Clara lalu kembali tertawa.

"Gak apa-apa Kak Clara tidak percaya yang penting sekarang Kakak sudah tertawa," ujar Abil tersenyum.

"Untung ada kamu, Bil. Mama jadi sekarang lega gak lihat Kakakmu menangis terus."

"Abil gitu loh," sahut Abil menepuk dadanya.

"Banyak gaya lu, dasar bocah tengil," ucap Clara mengcak rambut adiknya.

"Ih, Kakak. Abil sudah bilang jangan mengacak rambutku. Jadi gak ganteng lagi, kan," ucap Abil cemberut.

"Kamu itu gak ada rambut saja pasti ganteng. Jadi, jangan khawatir."

"Akhirnya selesai juga," ujar Abil tersenyum puas saat melihat hasil gambarnya.

"Emang apa yang kamu gambar kok sampai bahagia begitu?" tanya Clara penasaran.

"Jin yang mengikuti Kakak tadi. Jelas dong bahagia karena sudah berhasil abil gambar," jawab Abil seraya menunjukkan hasil gambarnya yang membuat Manda dan Clara syok.

********

Manda dan Clara syok saat melihat hasil lukisan Abil. Clara seakan tak percaya jika makhluk ghaib itu mengikutinya.

"Kuntilanak," lirih Clara.

"Iya, Kak. Kuntilanak ini yang mengikuti Kakak."

"Sekarang dia di mana?"

"Kenapa tanya? Tadi Kakak gak percaya ucapan abil," ujar Abil cemberut.

"Ya tanya saja. Apa kuntilanak itu masih di sini, Bil?"

"Gak. Dia sudah pergi, diusir oleh temannya abil."

Clara mendekati adiknya, menyandarkan tubuh di sofa.

"Sejak kapan kamu bisa melihat mereka, Bil?" tanya Clara seraya memejamkan matanya.

Abil yang duduk di samping kakaknya, langsung baring dan kepalanya di paha Clara.

"Kenapa Kakak bertanya begitu? Bukankah Kak Clara tidak percaya mereka?"

"Aku percaya jika mereka itu ada bahkan kita hidup berdampingan dengannya. Bangsa jin itu mempunyai kehidupan seperti manusia hanya caranya saja yang berbeda. Aku gak percaya jika kamu bisa melihat mereka. Selama ini kupikir dirimu cuma ngehalu, Bil."

"Abil juga tidak tahu kapan persisnya bisa melihat mereka bahkan berteman dengannya."

"Temannya Abil seperti apa? Apa kuntilanak, pocong, genderuwo atau tuyul? Oh, mungkin tuyul karena kamu kecil," ujar Clara nyengir.

"Bukan Kak. Teman abil itu seorang kakek dengan dua orang cucunya. Cucunya seumuran abil namanya Cakra dan Cokro. Mereka kembar, tapi beda sifat."

"Siapa tadi yang memukul tanganku, Bil?"

"Si Cakra."

"Kalian ini pada ngomongin apa sih? Kenapa kamu jadi ikutan halu, Clara?"

"Gak apa-apa, Ma. Aku rasa Abil gak ngehalu."

"Terserah kalian saja yang penting kalian jangan jadi musyrik."

"Kak."

"Hemm."

"Apa Kakak terima tawaran abil tadi?"

"Tawaran apa, Bil?" tanya balik Clara sembari memejamkan matanya.

"Mau tidak abil carikan pengganti Kak David?"

"Emangnya siapa yang mau kamu jodohkan denganku, Bil? Si kakek atau salah satu cucunya teman-temanmu itu."

"Jangan ngaco omonganmu, Kak! Abil serius."

"Aku juga serius, Bil."

"Ustadz Alif."

"Hahahahahaha." Clara tertawa saat adiknya menyebut Ustadz Alif-guru ngaji Abil.

"Kenapa Kakak tertawa? Memang ada yang lucu?" Abil menyipit menatap netra kakaknya.

"Jelaslah aku tertawa, abisnya kamu ngaco. Masa aku mau dijodohkan dengan bapak-bapak."

"Memang kamu sudah pernah melihat guru ngajinya Abil, Ra?" tanya Manda.

"Belum, Ma. Tapi yang namanya guru ngaji apalagi seorang ustadz pasti sudah bapak-bapak," sahut Clara.

"Kata siapa begitu?"

"Kataku dong, Ma."

"Kamu salah, Ra. Ustadz Alif itu masih muda dan wajahnya sangat tampan bahkan ketampanannya mengalahkan david."

"Masa sih, Ma."

"Iya, Sayang."

"Jika Kakak tidak percaya, mau abil menyuruh Ustadz Alif ke sini sekarang biar langsung lamaran," goda Alif.

"Apaan sih, Bil."

"Cieeeeee, muka Kak Clara merah. Pasti mau tuh dilamar oleh ustadz ganteng," celoteh Abil membuat Manda tertawa sementara Clara cemberut.

"Ada apa ini sepertinya bahagia sekali sampai papa memberi salam tidak ada yang mendengar?" tanya Wijaya yang baru pulang kerja.

"Kak Clara mau ta'aruf dengan Ustadz Alif, Pa," jawab Abil.

"Ta'aruf dengan Ustadz Alif? Kamu bercanda ya, Bil. Kak Clara kan mau menikah dengan David," ujar Wijaya melirik Clara. Wajah Clara kembali sendu.

"Pernikahannya batal, Pa," lirih Clara dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa bisa batal, Nak?" Wijaya terkejut, dadanya terasa sesak. Dia melonggarkan dasinya.

"David mau menikah dengan perempuan lain, Pa." Jatuh juga air mata yang sejak tadi dia tahan. Wijaya membawa putri kesayangannya dalam pelukan.

"Kenapa bisa begitu,Ra? Kalian akan menikah dua minggu lagi." Wijaya bingung kenapa tiba-tiba pernikahan itu dibatalkan.

"David dan perempuan itu sudah tidur bersama, Pa," sahut Clara terisak.

"Astaghfirullah! Kamu yang sabar dan ikhlas ya, Nak," ujar Wijaya seraya mengusap punggung anaknya.

Wijaya mengurai pelukannya dan menghapus air mata putrinya. Hatinya hancur melihat putri kesayangannya menangis dan menderita.

"Dengarkan papa, laki-laki seperti David tidak pantas untuk ditangisi. Air matamu terlalu berharga untuk laki-laki murahan yang gak ada harga dirinya itu."

"Benar yang dikatakan Papa, Ra. Kamu jangan menangis lagi," ucap Manda.

"Kurang ajar kamu, David! Seenaknya membatalkan pernikahan putriku dan menyakiti hatinya. Jika kamu membatalkan pernikahan itu maka aku juga akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan papamu biar perusahaan itu bangkrut," batin Wijaya.

"Papa lagi mikirin apa?" tanya Manda khawatir. Dia sangat tahu watak keras suaminya.

"Papa berencana membatalkan kerjasama dengan perusahaan papanya David."

"Aku setuju dengan rencana Papa," sela Clara.

"Tidak boleh begitu, Pa. Masalah pribadi jangan disangkut pautkan dengan bisnis," nasehat Manda.

"Oh, tidak bisa begitu, Ma. Papa tidak akan diam saja ada orang yang menyakiti hati putriku. Perbuatan David itu sama saja melempar kotoran di muka kita. Keluarga David sudah membuat kita malu dengan membatalkan pernikahan. Oleh karena itu, papa ingin memberi pelajaran pada mereka. Jangan bermain-main dengan seorang Wijaya," seringai Wijaya.

"Kasian mereka jika perusahaannya hancur, Pa."

"Apa mereka kasian dengan perasaan Clara? Ingat, Ma, mereka tidak ada perasaan saat membatalkan pernikahan itu. Apa lagi David, apa dia merasa bersalah sudah mengkhianati anak kita dengan tidur dengan yang bukan mahramnya. Perbuatan mereka itu sangat menjijikkan," sungut Wijaya.

"Apa yang dikatakan Papa benar, Ma? Biarkan saja Papa membatalkan kerja sama itu, biar mereka tau rasa dan tidak seenak jidatnya melakukan apapun sesuka hatinya," cibir Clara.

Manda menghela napas panjang. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika keputusan sudah diambil Wijaya siapapun tidak bisa merubahnya. Sikap keras kepala Wijaya menurun pada Clara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Alana, seorang gadis yang dijual oleh ibu tiri dan pacarnya ke sebuah pasar gelap yang menjual wanita-wanita muda untuk dijadikan budak seks. Beruntungnya, sebelum naik ke tempat pelelangan, Lana kabur dengan mengelabui para penjaga meskipun pada akhirnya dia tetap ketahuan. Mereka mulai mengejar Lana yang berlari dengan pakaian yang sangat terbuka dan juga bertelanjang kaki. Dia berlari dan menemukan sebuah rumah yang sangat mewah, kemudian menaiki pagarnya untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Sayangnya, Lana tidak tahu rumah seperti apa yang dia masuki. Sekali dia masuk kedalam, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu. "Apakah ini adalah malam keberuntunganku? aku mendapatkan wanita tanpa membuang uangku. Diaz, Charlotte, bawa dia ke kamarku dan persiapkan semuanya." "Bantu aku untuk membalas dendam, sebagai bayarannya kau bisa menggunakan tubuhku sesukamu." "Lana, aku akan membantumu pergi dari tempat ini dan lepas dari cengkraman Jeffrey. Kamu tidak pantas diperlakukan sebagai alat pemuas oleh Jeffrey, malam iuni kau harus pergi setelah aku memberi tanda padamu. Jangan khawatirkan aku."
Sampul Novel Gadis Titisan Harimau Putih
8.1
Naiya, guru kontrak yang mempesona, dipindahkan oleh Faisal ke Desa Blang Bungong demi rencana rahasia. Di sana, Laila yang cemburu mencoba membunuhnya lewat dukun, namun gagal karena Naiya adalah titisan harimau putih sakti. Desa itu pun dicekam kutukan Nyai Beulangong yang menumbalkan gadis-gadis untuk jin. Saat Naiya disekap Faisal, Razi datang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Akankah Naiya menyadari cinta Razi di tengah ancaman para dukun jahat ini?
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Pasca suaminya terkena PHK, Esmeralda terpaksa memulai hidup baru di kampung halaman pasangan hidupnya tersebut. Namun, kepindahan ini justru membawanya pada serangkaian penampakan sosok Genderuwo yang mengerikan. Di tengah penantian panjang akan hadirnya buah hati, Esmeralda akhirnya dinyatakan mengandung anak pertama. Sayangnya, kebahagiaan itu tertutup awan gelap saat ia menyadari ada kejanggalan besar yang menyelimuti janin di rahimnya.
Sampul Novel MEMBUAT AZAB
9.5
Dalam kisah mencekam ini, rasa iri yang mendalam terhadap pencapaian orang lain terbukti mampu memicu konsekuensi yang sangat fatal. Dendam dan kecemburuan yang tidak terkendali berubah menjadi kekuatan gelap yang mengancam nyawa. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa berujung pada teror mematikan? Ungkap misteri di balik kebencian yang melampaui batas logika manusia, di mana setiap keberhasilan seseorang justru menjadi awal dari malapetaka yang mengerikan.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Kampung Serigi memiliki mata air kembar ajaib yang terus mengalir meski kemarau melanda. Aliran air dari bambu sederhana ini menjadi tumpuan warga, namun menyimpan rahasia kelam. Ada banyak pantangan ketat yang wajib dipatuhi siapa pun. Jika dilanggar, sosok gaib penghuni tempat keramat itu akan mendatangi rumah pelaku. Rentetan kejadian mistis terus menghantui penduduk dan pendatang, menciptakan teror nyata di balik ketenangan sumber air yang tak pernah kering tersebut.