
PELET DARAH HAID
Bab 3
Wijaya membuktikan ucapannya untuk membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Candra-papanya David.
"Kenapa kamu membatalkan kerja sama kita, Wijaya? tanya Candra saat baru datang ke perusahaan Wijaya."
"Aku membatalkannya karena anakmu sudah menyakiti putriku."
"Memangnya apa yang dilakukan David terhadap Clara?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Candra! David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara. Jadi, wajar jika aku membatalkan kerjasama kita."
"Apa! Kamu bercanda, Wijaya. David tidak mengatakan apa pun. Aku mohon, Wijaya. Nasib perusahaanku berada di tanganmu," melas Candra.
"Apa aku terlihat bercanda? David ingin menikah dengan perempuan lain, bahkan putramu yang biada* itu sudah melakukan hubungan terlarang."
"Jangan fitnah kamu, Wijaya! Anakku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Jadi, aku mohon jangan membatalkan kerjasama itu, Wijaya."
"Aku tidak akan menarik kata-kataku. Kerjasama kita batal. Silakan kamu angkat kaki dari perusahaanku! Kamu tau pintu keluarnya, bukan?"
"Kamu akan membayar mahal atas sikapmu ini, Wijaya."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Candra. Bagiku perasaan anakku lebih berharga dari apa pun. Selagi aku masih bernapas tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti keluargaku. Cam kan itu, Candra," ujar Wijaya menatap tajam Candra.
Dengan menghentakkan kaki dan perasaan amarah, Candra keluar dari ruangan Wijaya. Candra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Dia ingin segera sampai untuk menemui David.
"David!" teriak Candra ketika kakinya baru menginjakkan di depan pintu.
"Ada apa, Pa? Kenapa berteriak begitu?" tanya Siska-istri Candra.
"Mana David, Ma? Mana anak kurang ajar itu?"
"David ada di kamarnya, Pa. Memangnya ada apa Papa mencarinya?"
"David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara, Ma."
"Itu tidak mungkin, Pa. Pernikahan David dan Clara tinggal dua minggu lagi. Jadi, mana mungkin David membatalkan pernikahannnya. Apa lagi dia sangat mencintai Clara."
"Mama tanya saja dengan anak kesayanganmu itu. David sudah mencoreng mukaku dengan perbuatannya dan gara-gara dia membatalkan pernikahan itu, Wijaya membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan kita."
"Astaga! Jadi ini serius, Pa."
"Mama pikir papa bercanda," sungut Candra kesal.
"Apa alasan David membatalkan pernikahannya, Pa?"
"David ingin menikah dengan perempuan lain bahkan mereka sudah melakukan hubungan terlarang."
"Ya Tuhan, apa mama tidak salah dengar? David tidak mungkin melakukan zina, Pa."
"Kita tanya saja dengan David, Ma."
Candra dan Siska beranjak ke kamar David. Mereka lalu mengetuk pintu.
"David buka pintunya," teriak Candra begitu emosi.
Bugh!
Bugh!
Candra langsung memukul wajah putranya saat David membukakan pintu kamarnya.
"Anak kurang ajar! Bikin malu keluarga kamu, David," bentak Candra.
"Jangan pukul David, Pa!" melas Siska.
"Diam kamu, Ma! Papa sedang mengajarkan dia jadi orang yang berguna."
"Kesalahanku apa, Pa? Kenapa Papa memukulku?"
"Dasar bajing*n! Kamu masih tanya kesalahanmu apa. Ya Tuhan, anak macam apa yang berdiri di depanku ini. Aku sudah gagal mendidiknya, mengajarkannya akhlak," ujar Candra kecewa.
"Apa benar kamu membatalkan pernikahanmu dengan Clara, Nak?" tanya Siska.
"Iya, Ma. Aku tidak mencintainya, Ma. Aku ingin menikah dan menghabiskan sisa umurku bersama orang yang kucintai."
"Siapa perempuan itu, Nak?"
"Rosa, Ma," lirih David sendu. Entah kenapa hatinya sakit saat menyebut nama Rosa.
Siska menggeleng seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Setau Siska putranya sangat mencintai Clara sedangkan Rosa hanya dianggap sebatas teman.
"Apa kamu yakin ingin menikah dengan Rosa, Nak?"
"I-iya, Ma," sahut David gugup. Lagi-lagi hatinya merasa sakit. Seperti tidak ada kerelaan untuk menikah dengan Rosa.
"Mama sudah mendengar jawaban dari anak kesayanganmu. Dia lebih memilih Rosa dan berzina dengan perempuan yang selalu membuka auratnya dibandingkan dengan Clara yang menutup auratnya," sela Candra geram.
"Aku tidak mencintai Clara, Pa. Jadi, jangan memaksaku untuk menikah dengannya," sungut David.
"Tidak ada yang memaksamu, David. Clara itu pilihan hatimu sendiri. Gara-gara tindakanmu yang bodoh itu Wijaya membatalkan kerjasama dengan perusahaanku dan akibatnya perusahaan diambang kehancuran."
David dan Siska terkejut dengan ucapan Candra. Jika perusahaan bangkrut itu artinya hidup mereka akan jatuh miskin. David menyugar rambutnya kasar, dalam hatinya ada sebuah penyesalan. Namun, dia seakan sulit untuk mengatakan ingin menikah dengan Clara.
"Tolong kamu batalkan pernikahanmu dengan Rosa, Nak. Apa kamu tidak kasian dengan orang tuamu?" pinta Siska.
David ingin sekali mengatakan iya, tapi lidahnya seakan kelu. Air mata David tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Dia tidak mengerti kenapa menangis. Tanpa menjawab pertanyaan mamanya, David masuk ke kamar menyambar kunci mobil lalu berlari meninggalkan Candra dan Siska.
"Mau kemana kamu, David?" teriak Candra.
David tidak memperdulikan teriakan papanya bahkan tangisan mamanya. Dia terus berlari menuju mobilnya. David mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tau harus kemana. Sepanjang jalan air matanya menganak sungai.
David berhenti di sebuah perkampungan pinggir kota. Dia menepikan mobilnya dan menangis terisak. David seolah kehilangan arah. Dia merasa bingung dengan kejadian yang sedang dialaminya. Suara adzan magrib berkumandang, hati David bergetar saat seruan untuk menghadap Sang Pencipta dari toa mushala mengetuk hatinya. Dengan tangan gemetar David membuka pintu mobilnya menuju mushala tersebut.
Semakin dekat dengan suara adzan itu membuat David merasa tubuhnya panas dan telinganya sakit. Namun, di dalam hatinya ingin menunaikan kewajibannya untuk salat. David berdiri di depan mushala, langkah kakinya seakan lunglai untuk masuk ke dalam mushala itu.
"Kenapa tidak masuk, Mas?" tanya seorang kakek.
David pun menceritakan apa yang dirasakannya. Dia seakan tidak sungkan untuk memberitahukan isi hatinya pada kakek itu.
"Jangan dituruti, itu bisikan setan agar kamu tidak salat. Baca ta'awudz dan basmalah saat kakimu akan melangkah ke rumah Allah," ujar kakek.
"Iya, Kek. Siapa nama Kakek?"
"Darmo." Mereka lalu berkenalan.
David dan Darmo berjalan menuju tempat wudhu. Saat ingin berwudhu David merasakan rasa malas.
"Baca ta'awudz dan Surat An-Nas," ujar Darmo. David mengangguk.
David mengambil wudhu, walaupun dia merasa tubuhnya terasa panas saat air wudhu menyentuh kulitnya tetap diteruskannya. David salat walau tidak khusyuk. Dia selalu lupa bacaan dan jumlah rakaat hingga David mengulang salatnya.
Setelah salat David menemui Darmo.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, Kek?"
"Aneh bagaimana, David?"
"Saat aku berwudhu dan salat tubuhku terasa terbakar dan salatku pun tidak khusyuk," jelas David.
"Kamu sudah terkena gangguan jin, David."
"Maksudnya, Kek?"
"Kamu sudah bersekutu dengan jin."
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Kek."
"Bohong." Darmo menatap tajam David.
"Aku sudah berzina, tapi saat melakukannya aku tidak menyadarinya," lirih David menunduk.
"Astaghfirullah! Bertaubatlah, David. Jauhi perempuan itu. Dia hanya membawa dampak buruk dalam hidupmu. Perempuan itu sudah bersekutu dengan jin."
"Kakek jangan memfitnahnya! Rosa itu perempuan baik-baik. Dia calon istriku." David tidak terima dengan ucapan Darmo.
"Saya tidak memfitnahnya," sahut Darmo tenang.
"Kakek belum pernah bertemu dengan Rosa, tapi kenapa omongan Kakek seolah sudah mengenalnya. Aku tidak percaya jika Rosa bersekutu dengan jin," sungut David lalu beranjak meninggalkan Darmo.
"Sebelum kamu tergelincir lebih jauh, menghindarlah darinya atau kamu akan menyesal seumur hidupmu, David," ucap Darmo lantang, tapi tidak digubris oleh David.
"Astaghfirullah!" lirih Darmo saat melihat sosok kuntilanak mengikuti langkah David seraya menyeringai ke arah Darmo.
"Aku harus menolong David sebelum jin bersemayam dalam tubuhnya," batin Darmo.
Anda Mungkin Juga Suka





