Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PELET DARAH HAID

PELET DARAH HAID

Impian pernikahan Clara hancur seketika saat calon suaminya, David, berpaling kepada sahabatnya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan hasil rencana licik yang penuh misteri. Diam-diam, Rosa mendatangi dukun demi menggunakan ilmu hitam untuk mengguna-guna David agar jatuh ke pelukannya. Di balik aroma romansa yang pudar, tersimpan praktik pelet darah yang mengerikan demi merebut paksa kebahagiaan milik orang lain.
Bab
Bagikan

Bab 3

Wijaya membuktikan ucapannya untuk membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Candra-papanya David.

"Kenapa kamu membatalkan kerja sama kita, Wijaya? tanya Candra saat baru datang ke perusahaan Wijaya."

"Aku membatalkannya karena anakmu sudah menyakiti putriku."

"Memangnya apa yang dilakukan David terhadap Clara?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Candra! David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara. Jadi, wajar jika aku membatalkan kerjasama kita."

"Apa! Kamu bercanda, Wijaya. David tidak mengatakan apa pun. Aku mohon, Wijaya. Nasib perusahaanku berada di tanganmu," melas Candra.

"Apa aku terlihat bercanda? David ingin menikah dengan perempuan lain, bahkan putramu yang biada* itu sudah melakukan hubungan terlarang."

"Jangan fitnah kamu, Wijaya! Anakku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Jadi, aku mohon jangan membatalkan kerjasama itu, Wijaya."

"Aku tidak akan menarik kata-kataku. Kerjasama kita batal. Silakan kamu angkat kaki dari perusahaanku! Kamu tau pintu keluarnya, bukan?"

"Kamu akan membayar mahal atas sikapmu ini, Wijaya."

"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Candra. Bagiku perasaan anakku lebih berharga dari apa pun. Selagi aku masih bernapas tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti keluargaku. Cam kan itu, Candra," ujar Wijaya menatap tajam Candra.

Dengan menghentakkan kaki dan perasaan amarah, Candra keluar dari ruangan Wijaya. Candra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Dia ingin segera sampai untuk menemui David.

"David!" teriak Candra ketika kakinya baru menginjakkan di depan pintu.

"Ada apa, Pa? Kenapa berteriak begitu?" tanya Siska-istri Candra.

"Mana David, Ma? Mana anak kurang ajar itu?"

"David ada di kamarnya, Pa. Memangnya ada apa Papa mencarinya?"

"David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara, Ma."

"Itu tidak mungkin, Pa. Pernikahan David dan Clara tinggal dua minggu lagi. Jadi, mana mungkin David membatalkan pernikahannnya. Apa lagi dia sangat mencintai Clara."

"Mama tanya saja dengan anak kesayanganmu itu. David sudah mencoreng mukaku dengan perbuatannya dan gara-gara dia membatalkan pernikahan itu, Wijaya membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan kita."

"Astaga! Jadi ini serius, Pa."

"Mama pikir papa bercanda," sungut Candra kesal.

"Apa alasan David membatalkan pernikahannya, Pa?"

"David ingin menikah dengan perempuan lain bahkan mereka sudah melakukan hubungan terlarang."

"Ya Tuhan, apa mama tidak salah dengar? David tidak mungkin melakukan zina, Pa."

"Kita tanya saja dengan David, Ma."

Candra dan Siska beranjak ke kamar David. Mereka lalu mengetuk pintu.

"David buka pintunya," teriak Candra begitu emosi.

Bugh!

Bugh!

Candra langsung memukul wajah putranya saat David membukakan pintu kamarnya.

"Anak kurang ajar! Bikin malu keluarga kamu, David," bentak Candra.

"Jangan pukul David, Pa!" melas Siska.

"Diam kamu, Ma! Papa sedang mengajarkan dia jadi orang yang berguna."

"Kesalahanku apa, Pa? Kenapa Papa memukulku?"

"Dasar bajing*n! Kamu masih tanya kesalahanmu apa. Ya Tuhan, anak macam apa yang berdiri di depanku ini. Aku sudah gagal mendidiknya, mengajarkannya akhlak," ujar Candra kecewa.

"Apa benar kamu membatalkan pernikahanmu dengan Clara, Nak?" tanya Siska.

"Iya, Ma. Aku tidak mencintainya, Ma. Aku ingin menikah dan menghabiskan sisa umurku bersama orang yang kucintai."

"Siapa perempuan itu, Nak?"

"Rosa, Ma," lirih David sendu. Entah kenapa hatinya sakit saat menyebut nama Rosa.

Siska menggeleng seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Setau Siska putranya sangat mencintai Clara sedangkan Rosa hanya dianggap sebatas teman.

"Apa kamu yakin ingin menikah dengan Rosa, Nak?"

"I-iya, Ma," sahut David gugup. Lagi-lagi hatinya merasa sakit. Seperti tidak ada kerelaan untuk menikah dengan Rosa.

"Mama sudah mendengar jawaban dari anak kesayanganmu. Dia lebih memilih Rosa dan berzina dengan perempuan yang selalu membuka auratnya dibandingkan dengan Clara yang menutup auratnya," sela Candra geram.

"Aku tidak mencintai Clara, Pa. Jadi, jangan memaksaku untuk menikah dengannya," sungut David.

"Tidak ada yang memaksamu, David. Clara itu pilihan hatimu sendiri. Gara-gara tindakanmu yang bodoh itu Wijaya membatalkan kerjasama dengan perusahaanku dan akibatnya perusahaan diambang kehancuran."

David dan Siska terkejut dengan ucapan Candra. Jika perusahaan bangkrut itu artinya hidup mereka akan jatuh miskin. David menyugar rambutnya kasar, dalam hatinya ada sebuah penyesalan. Namun, dia seakan sulit untuk mengatakan ingin menikah dengan Clara.

"Tolong kamu batalkan pernikahanmu dengan Rosa, Nak. Apa kamu tidak kasian dengan orang tuamu?" pinta Siska.

David ingin sekali mengatakan iya, tapi lidahnya seakan kelu. Air mata David tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Dia tidak mengerti kenapa menangis. Tanpa menjawab pertanyaan mamanya, David masuk ke kamar menyambar kunci mobil lalu berlari meninggalkan Candra dan Siska.

"Mau kemana kamu, David?" teriak Candra.

David tidak memperdulikan teriakan papanya bahkan tangisan mamanya. Dia terus berlari menuju mobilnya. David mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tau harus kemana. Sepanjang jalan air matanya menganak sungai.

David berhenti di sebuah perkampungan pinggir kota. Dia menepikan mobilnya dan menangis terisak. David seolah kehilangan arah. Dia merasa bingung dengan kejadian yang sedang dialaminya. Suara adzan magrib berkumandang, hati David bergetar saat seruan untuk menghadap Sang Pencipta dari toa mushala mengetuk hatinya. Dengan tangan gemetar David membuka pintu mobilnya menuju mushala tersebut.

Semakin dekat dengan suara adzan itu membuat David merasa tubuhnya panas dan telinganya sakit. Namun, di dalam hatinya ingin menunaikan kewajibannya untuk salat. David berdiri di depan mushala, langkah kakinya seakan lunglai untuk masuk ke dalam mushala itu.

"Kenapa tidak masuk, Mas?" tanya seorang kakek.

David pun menceritakan apa yang dirasakannya. Dia seakan tidak sungkan untuk memberitahukan isi hatinya pada kakek itu.

"Jangan dituruti, itu bisikan setan agar kamu tidak salat. Baca ta'awudz dan basmalah saat kakimu akan melangkah ke rumah Allah," ujar kakek.

"Iya, Kek. Siapa nama Kakek?"

"Darmo." Mereka lalu berkenalan.

David dan Darmo berjalan menuju tempat wudhu. Saat ingin berwudhu David merasakan rasa malas.

"Baca ta'awudz dan Surat An-Nas," ujar Darmo. David mengangguk.

David mengambil wudhu, walaupun dia merasa tubuhnya terasa panas saat air wudhu menyentuh kulitnya tetap diteruskannya. David salat walau tidak khusyuk. Dia selalu lupa bacaan dan jumlah rakaat hingga David mengulang salatnya.

Setelah salat David menemui Darmo.

"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, Kek?"

"Aneh bagaimana, David?"

"Saat aku berwudhu dan salat tubuhku terasa terbakar dan salatku pun tidak khusyuk," jelas David.

"Kamu sudah terkena gangguan jin, David."

"Maksudnya, Kek?"

"Kamu sudah bersekutu dengan jin."

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Kek."

"Bohong." Darmo menatap tajam David.

"Aku sudah berzina, tapi saat melakukannya aku tidak menyadarinya," lirih David menunduk.

"Astaghfirullah! Bertaubatlah, David. Jauhi perempuan itu. Dia hanya membawa dampak buruk dalam hidupmu. Perempuan itu sudah bersekutu dengan jin."

"Kakek jangan memfitnahnya! Rosa itu perempuan baik-baik. Dia calon istriku." David tidak terima dengan ucapan Darmo.

"Saya tidak memfitnahnya," sahut Darmo tenang.

"Kakek belum pernah bertemu dengan Rosa, tapi kenapa omongan Kakek seolah sudah mengenalnya. Aku tidak percaya jika Rosa bersekutu dengan jin," sungut David lalu beranjak meninggalkan Darmo.

"Sebelum kamu tergelincir lebih jauh, menghindarlah darinya atau kamu akan menyesal seumur hidupmu, David," ucap Darmo lantang, tapi tidak digubris oleh David.

"Astaghfirullah!" lirih Darmo saat melihat sosok kuntilanak mengikuti langkah David seraya menyeringai ke arah Darmo.

"Aku harus menolong David sebelum jin bersemayam dalam tubuhnya," batin Darmo.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KCS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KCS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ganjaran Nafsu
9.5
Terperangkap dalam kondisi antara hidup dan mati, aku mengalami eksistensi yang mengerikan. Tubuhku lumpuh total dan tidak lagi membutuhkan makanan maupun tidur, namun kesadaranku tetap terjaga sepenuhnya. Di tengah kegelapan pekat tanpa jiwa lain untuk diajak bicara, kewarasanku perlahan terkikis oleh kesunyian yang tanpa batas waktu. Namun, saat keputusasaan hampir merenggut segalanya, keheningan abadi itu mendadak pecah oleh suara ketukan misterius yang tidak terduga dari luar.
Sampul Novel Kak, Kalian Sungguh Kejam
8.6
Akibat tuduhan palsu dari sang adik tiri, Linda, mengenai alergi makanan laut, protagonis dihukum oleh ketiga kakaknya—seorang pebisnis, penyanyi terkenal, dan pelukis genius. Mereka mengurungnya di dalam ruang bawah tanah yang terkunci rapat. Meski telah memohon untuk dibebaskan, ia justru ditinggalkan begitu saja saat mereka membawa Linda ke rumah sakit. Di tengah kegelapan, ia perlahan kehabisan oksigen hingga akhirnya tewas. Tiga hari kemudian, saat ketiga kakaknya pulang dan baru teringat untuk membukakan pintu, mereka hanya menemukan jasadnya yang sudah tidak bernyawa.
Sampul Novel Kasih Ibu, Dosa Ibu
9.4
Seorang influencer parenting mendidik putranya dengan sangat keras. Hanya karena sang putra mendorong anak dari mantan kekasihnya, wanita itu tega menghukumnya di balkon lantai 18. Sementara putranya ditinggalkan sendirian untuk merenung, ia justru pergi bermain bersama putri cinta pertamanya. Naas, tubuh mungil bocah itu menyusup melewati jeruji pembatas dan jatuh hingga tewas mengenaskan. Meski sang anak sempat berteriak histeris meminta pertolongan saat terjatuh, sang ibu sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.
Sampul Novel NURHAYATI
8.2
Warga Karang Pandan mendadak gempar akibat kemunculan sosok hantu perawat yang menghantui sebuah klinik setempat. Teror mistis ini menjadi buah bibir masyarakat karena kehadirannya yang sangat mencekam. Namun, di balik penampakan yang menakutkan tersebut, tersimpan sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Kini, misteri besar yang menyelimuti identitas sang perawat perlahan mulai terkuak dan mengancam ketenangan semua orang di sana.
Sampul Novel Pengkhianatan di Tengah Duka
8.4
Setelah tewas didorong dari tebing oleh suaminya sendiri saat hamil tua, seorang wanita terlahir kembali. Di kehidupan lalu, ia mencegah suaminya menemui Jessi, cinta pertamanya, demi menyelamatkan mertuanya dari penyerangan. Namun, Jessi kehilangan tangannya dan sang suami membalas dendam dengan membunuhnya. Kini, ia memilih membiarkan suaminya pergi merawat Jessi saat mertuanya diculik, lalu melaporkannya ke polisi. Saat pulang, sang suami justru terduduk lesu membawa penyesalan besar.