Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

Rania, seorang penulis, terjebak dalam nestapa setelah menyadari posisi istri kedua adalah kesalahan besar. Meski mencoba lari agar talak jatuh secara otomatis, ia justru diteror oleh suaminya yang berprofesi sebagai dosen. Di tengah perjuangan menuntut hak dan melawan ketidakadilan, Rania bertemu Yudha yang tampak baik namun menyimpan niat jahat. Mampukah wanita tangguh ini bangkit menghadapi pengkhianatan dan menyelesaikan kemelut hidupnya dengan elegan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Lembayung senja menghias jagat raya, membangkitkan seluruh manusia dari segala keluh kesah yang membahana.

Menggelar sajadah dan bersujud tunduk, patuh, taat juga tawadhu pada ketentuan TuhanNya.

Rania menginjakkan kaki di bandara Samsoedin Noor dengan bahagia. Kerinduannya pada kota kelahiran abah demikian menyelusup pori-pori hatinya dan membuatnya tak berdaya.

Rania di terima menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu.

Banjarmasin, kota seribu sungai dengan ribuan mimpi, harapan, cita-cita juga kenangan. Banjarmasin yang masyarakatnya agamis namun tak ekstrim terhadap agama lain.

Banjarmasin adalah kota paling familiar menurut Rania.

Ia bangga, mimpinya menjadi salah satu mahasiswi universitas itu tercapai kini.

Menjadi mahasiswi fakultas hukum strata 1, lucu memang, sedang ia sendiri sudah menempuh S2 ekonomi di kotanya.

Tapi apapun alasannya mimpi adalah cita-cita yang didekap hingga menembus alam bawah sadar.

Bukan hanya untuk sekedar memahami ilmu hukum agar dirinya tak buta hukum. Namun lebih dari itu. Ada 'hope' yang sedang ia gambar dalam perjalanannya.

Harapan tentang kesuksesan, harapan tentang pembuktian, harapan tentang mewujudkan kerinduan dan harapan tentang terwujudnya pembalasan.

Rania dengan tegap mendorong trolli menuju taxi yang telah ia pesan. Ringan langkahnya menuju sebuah rumah yang di kontraknya melalui media online.

Sebuah rumah mewah dengan perabotan mewah.

Rania sengaja memilih rumah itu bukan hanya sekedar untuk sebuah kenyamanan namun lebih dari itu.

Rania ingin merasa nyaman di rumah yang ia sewa. Merasa nyaman saat menulis dan nyaman saat menjamu kawan.

Rania ingin benar-benar berhasil dengan cita-citanya.

Memasuki perumahan elite di jalan A. Yani membuat Rania merasa perlu membawa pandangannya mengawasi sekeliling. Rumah-rumah bertingkat nan megah.

Dinding putih dan gerbang berpagar tinggi, ornamen minimalis ditambah dengan hiasan sebuah mobil mewah yang sedang dibersihkan oleh sopir pribadi.

Gambaran sorga dunia yang disulam demikian indah.

Rania turun tepat disebuah rumah bertuliskan A. 36.

Seorang wanita bergaun indah disamping sebuah toyota nampak anggun tersenyum ke arahnya.

Rania membalas senyum renyah wanita itu.

"Saya ibu Rumi pemilik rumah ini."

"Oh, saya Rania bu, " suara Rania renyah.

Wanita tersebut membimbing Rania masuk rumah berornamen bunga matahari tersebut. Ruang tamunya sedikit nampak naik dibanding ruangan yang lain. Di ruang keluarga sebuah sofa tanpa sandaran di hamparkan begitu saja di tengah ruangan. Ada karpet berbulu tebal berwarna hijau muda, menutupi sedikit saja kaca lebar yang terhampar dilantai. Ada hiasan tiga dimensi bernuansa kolam ikan di bawahnya.

Rania bangga dengan rumahnya. Setara dengan uang dua puluh juta yang ia berikan satu hari yang lalu untuk sewa rumah ini selama satu tahun.

Rania tidak lagi perduli dengan harga. Honor menulisnya terlalu besar bila hanya untuk bilangan dua puluh juta saja.

Dalam sebulan ia bisa tuntas menulis 10 judul novel. Bila satu novel berharga 200 USD belum termasuk bonus harian, royalti dan koin dari pembaca maka dalam sebulan ia bisa dapatkan lebih dari empat puluh juta hanya dengan menulis novel.

Rania tak perduli dengan letih yang kadang mengoyak-ngoyak dirinya, yang ia tahu ia harus kuat berjuang demi nama baik dan kesetaraan kehormatan di mata masyarakat.

Ia habiskan kesehariannya untuk menulis dan memintal doa pada Tuhan, ia yakin suatu hari apa yang ia pintal akan berbentuk. Dan inilah saatnya.

Inilah saat dimana dirinya merasa punya waktu membuktikan bahwa ia berharga dan layak dihormati.

Ia layak diperebutkan dan diperjuangkan. Ia layak dibanggakan dan dihargai.

Bila hari kemarin ia meminta karena memang ia sedang tak memiliki apapun untuk digunakan. Rania lelah berkejaran dengan hutang dan riba, maka meminta adalah jalan yang ia tempuh. Demi hidupnya, demi anak yang diasuhnya.

Tak malukah dirinya? Malu... pasti. Namun akan lebih malu lagi bila dunia mencatat namanya sebagai wanita tuna susila yang menggadaikan harga diri demi rupiah.

Hari ini, ketika ia berada di bulan ke tiganya melalui kontrak eksclusive bersama sebuah media online. Hari ini adalah hari kemenangan dimana dirinya benar-benar berjaya.

Ia telah memiliki sebuah mobil mewah, memiliki tas bermerk, kosmetik para artis dan perawatan tubuh yang intensive.

Hidup telah ia menangkan.

Hidup telah ia genggam.

"Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak.."

"Rania, "

"Oh iya mbak Rania. Ini surat perjanjiannya, semoga saja betah."

"InsyaAllah betah, bu." jawab Rania lugas.

Ia mengantar ibu Rumi keluar dari rumah yang ia sewa. Kemudian Rania berkemas membereskan pakaian yang di bawanya. Sambil sesekali ia benamkan wajahnya diantara ranjang empuk kamar barunya.

Dua kakinya terjuntai di ujung ranjang, ia menghubungi satu nomor di ponselnya.

"Hallo, saya Rania, yang kemarin sempat buat janji."

"Saya butuh dua orang asisten rumah tangga,"

"Iya jadi..."

"Bisa kan ?"

"Oke, terimakasih."

Rania menghela nafas panjang kemudian mendekap bantal harum, merapatkannya di dadanya. Menekan tombol on pada remote AC yang tergeletak di ujung ranjang.

Sebelum tidur ia berujar, tak ada yang tidak mungkin bila Allah mengijinkan.

Keyakinan pada kekuatan Tuhan harus melekat kuat, hingga dalam kondisi apapun seorang hamba tidak akan kehilangan pegangan.

Lamat-lamat, dingin AC dan harum pewangi ruangan menyeruak seluruh sisi kamar. Mata indah Rania terpejam, bulu mata lentiknya pun mengatup, rapat.

Bayangan tentang hari esok berkejaran di mimpinya, bayangan tentang kemenangan dan tantangan baru, Rania sadar, ia harus mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak boleh rebah apa lagi tergelincir.

Titian itu harus ia lewati dengan hati-hati, bersahaja dan meninggalkan kesan sombong. Berguna namun tidak mudah di guna-guna, bermanfaat namun tidak mudah di manfaatkan.

Sepiring soto banjar dengan sesendok penuh sambal terhidang di piring tebalnya.

Dalam tidurnya ia telah berkelana, menghirup aroma segar soto banjar yang nikmat nian.

Rania tersenyum, mengenang orang pertama yang memperkenalkan dirinya pada soto banjar di anjungan pasar.

********

"Hey, tumben jalanan di Banjarmasin ini menjadi macet, mungkin karena sekarang warganya menjadi makmur dan berkecukupan. Hingga jumlah mobil semakin bertambah. Jumlah motor makin banyak dan jalanan menjadi sesak."

Dulu Banjarmasin tidak macet seperti ini. Macet memang seringkali menjengkelkan namun macet juga bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang mulai mapan atau juga tata kota yang kurang baik berjalan.Entahlah.

Macet yang menggoda membuat beberapa caci maki muncul, untung saja hari hujan hingga terik matahari tak menimbulkan keresahan. Diantara macet Rania menyempatkan diri menghafal beberapa surah yang belum ia tuntaskan.

Rania menuju kampus tempat ia diterima bersekolah kembali. Kuliah di fakultas hukum. Universitas swasta ternama di kota ini. Universitas yang menjadi mimpi jutaan anak di luar sana. Universitas berkelas, begitu Rania selalu menyebutnya dengan bangga.

Wuih... mimpi-mimpi dirancang indah olehnya. Mimpi yang sudah dirajut ribuan menit yang lampau baru kini diijinkan terjadi.

Rencana manusia tidak akan pernah lebih baik dari rencana taqdir Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya.

Dan beberapa bulan terakhir ini Rania memang disibukkan untuk menjelajah rencana Tuhan yang sudah dipahami, selalu tidak terduga.

Termasuk dengan jadwal kuliahnya tahun ini, ia adalah bagian dari tidak terduga nya rencana Tuhan.

Rencana untuk kuliah di fakultas hukum sudah Rania gagas lima tahun yang lalu,dengan segala tatanan kesempurnaan namun tidak berhasil, Tuhan berkata lain.. saat itu ia tidak ditaqdirkan untuk kuliah di fakultas hukum seperti inginnya,ia tidak ditaqdirkan membalas siapapun meski ia sangat ingin, ia hanya diijinkan menatap perjalanan itu dari jauh meski ia sangat sakit. Hari itu dalam ketidak mengertian nya tentang taqdir dan keniscayaan Tuhan ia sempat protes pada cita-cita yang tidak diijinkan terjadi. Dan hari ini ia didatangkan kembali dalam keadaan yang telah benar-benar siap. Dalam keadaan dimana seluruh komponen kekuatan itu telah bersatu, lahir dan batin. Secara materi Rania telah mampu mencukupi dirinya dan secara batin pun Rania telah benar-benar kuat. Tuhan memang luar biasa.

Rania tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan dikirim Tuhan hari ini, taqdir nya kali ini memaksa dirinya untuk mengesampingkan segala aktivitasnya dan hanya memusatkan pada tujuannya untuk datang kemari.

Memenuhi keniscayaan Tuhan, Tuhan memang serba artistik, banyak hal tidak terduga yang sangat erat dengan sebuah keniscayaan. Sebagai seorang hamba sekali lagi, tugas kita hanya tunduk, taat dan patuh saja. Andai hari itu Rania membalas, mungkin ia tidak akan berada di kata 'menang' karena saat itu ia tidak punya amunisi apapun selain hanya modal nekat dan rasa sakit. Berperang tanpa amunisi sama halnya dengan bunuh diri.

Namun hari ini Tuhan membuktikan bahwa Ia begitu Maha Pengasih.

Kita tidak bisa memaksa bunga untuk mekar sesuai hitungan dan ilmu kita namun kita bisa saja menemuinya tumbuh mekar di luar dugaan. Saat itulah keniscayaan Tuhan sedang berjalan.

Rania, tersenyum mantap dari belakang kemudinya.

Kampus megah yang sering didatanginya beberapa tahun yang lalu itu berdiri menjulang.

Ia menatap atapnya dengan sebuah harapan, ia akan berhasil, berhasil mengambil ilmunya dan berhasil memangsa sasarannya.

Singa yang kemarin tidur itu hari ini telah terbangun serta siap memangsa siapapun yang main-main dengan hidupnya.

Rania turun dari mobil mewahnya, ia tegap menggamit tas branded dan sepatu Natasya, langkahnya ringan, tubuh rampingnya bergoyang.

Sesekali ia tundukkan wajahnya ketika melewati gerombolan mahasiswa yang melihatnya.

Usianya kini sudah tidak muda lagi namun jangan disangka, kemapanan wanita cantik yang mungkin berusia tidak muda, sangat menggoda dibandingkan wanita cantik yang baru bisa bernafas dan menatap dunia. Rania menjanjikan kemapanan itu untuk semua yang mendekatinya.

"Ruang mahasiswa baru dimana ya mbak ?"

"Oh, disana kak." ucap gadis kecil itu menunjuk satu ruangan yang berjajar dengan ruang lainnya.

"Terimakasih, " kemudian Rania melangkah pergi.

Teduh yang tercipta karena hujan yang hanya turun sesaat kemudian reda telah menciptakan sebuah dialektika indah.

Di kampus ini dulu ia menunggu cintanya berbalas, di kampus ini dulu ia meratapi nasibnya, dikampus ini juga ia memilah antara kata setius dan berpura-pura serius.

Kali ini ia kembali datang dengan keteguhan hati dan kemantapan diri.

Perjalanannya menuju kampus baru tempat ia menimba ilmu telah sampai di tempatnya. Hari pertama dimana ia akan minta penjelasan pada panitia penerima mahasiswa baru.

Rania menarik nafas panjang, menahan kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.

Berat memang namun harus ia jalani.

Gadis itu telah melewati ribuan perjalanan

ia mengayunkan langkahnya bukan hanya dengan kakinya, ia melangkah dengan tangannya, dengan perasaannya juga dengan fikirannya.

Ia menembus semua batas yang tak pernah bisa ditembus oleh hati-hati yang kosong dan terapung-apung

Ribuan belantara telah ia lewati

Ribuan derita telah ia lalui

Dan ia telah berhasil

Menjadi peri tanpa tongkat bintang

Menjadi peri tanpa mahkota.

Gadis itu, Rania namanya. Kemunculannya mungkin akan menakutkan mereka yang pernah menggunakan hidupnya sebagai permainan.

akan menyeramkan bagi mereka yang pernah bermain-main dengan dosa.

Meskipun Rania datang hanya untuk menuntaskan rindu nya.

Rindu pada dosen baik bermata teduh yang dulu sering menolongnya.

Kedatangannya hanya untuk menuntaskan dendamnya, dendam pada dosen yang pernah melingkarkan cincin kecil di jari manisnya lalu kemudian memangkas bukan hanya jemarinya tapi sekaligus dengan pergelangan tangannya.

Rasa sakit yang hanya bisa Rania ceritakan pada Tuhan.

Rania hari ini datang menuju kampus dengan pilihan menjadi baik atau menjadi busuk.

Bersahabat saja dengannya bila kalian merasa bukan musuhnya.

Desis suara angin ..... di telinga-telinga yang dingin.

#cerita ini hanya fiksi belaka bila ada kesamaan nama dan tempat semua diluar kesengajaan penulis.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Takdir dan Cinta
9.3
Daren memaksa Azra Guzel Nawala untuk menikahinya tanpa memberi ruang untuk menolak. Bagi Azra, pria egois itu tidak memahami cinta suci dan hanya memberikan perintah mutlak. Meski Azra sangat mencintai Bima, sosok yang terasa mustahil ia gapai, takdir justru menyeretnya ke pelukan orang asing yang terobsesi memilikinya. Kini, Azra terjebak dalam dilema antara perasaan tulusnya pada Bima dan pernikahan paksa yang menghancurkan harapannya akan kebahagiaan sejati.
Sampul Novel BABY CEO 21+
8.6
Vanya terjebak dalam pusaran gairah saat Ares menciumnya dengan intens hingga ia sulit bernapas. Meski Vanya mengerang gelisah, Ares terus mengeksplorasi tubuhnya dengan sentuhan lembut dan kecupan yang membakar sensasi di area sensitifnya. Di tengah pergulatan hasrat yang menyiksa, Vanya terus memanggil nama Ares seolah memohon sesuatu yang lebih. Namun, Ares justru memintanya untuk tidak terburu-buru, membiarkan ketegangan romansa dewasa ini semakin memuncak.
Sampul Novel BENIH KAKAK IPAR
8.3
Nayla Maldania merasa hidupnya sempurna bersama Alvin Rayes, suami mapan yang ia cintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat perselingkuhan Alvin terbongkar. Di tengah luka mendalam dan kondisi hamil, Nayla justru terjebak dalam perasaan terlarang dengan kakak iparnya, Alvaro Rayes. Kini ia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan pernikahan demi sang buah hati atau menyambut cinta tulus Alvaro. Siapa yang akhirnya akan menjadi sandaran hidup Nayla?
Sampul Novel Hasrat Terlarang Suamiku
8.5
Cinta tulus Selin hancur seketika saat memergoki Edward, suaminya, bermesraan dengan wanita lain di sebuah mal. Meski hatinya remuk oleh pengkhianatan setelah lima tahun menikah, ia masih bimbang dalam menentukan sikap. Haruskah ia bertransformasi menjadi sosok yang lebih memikat demi menyaingi sang pelakor dan mempertahankan rumah tangganya? Ataukah Selin memilih untuk pergi demi menjaga harga diri yang telah diinjak-injak oleh suaminya sendiri?
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Calista Anindya nyaris tewas akibat sabotase mobil yang dirancang untuk membunuhnya. Demi melindungi bayinya, ia menghilang dan memendam trauma mendalam. Enam tahun kemudian, Calista muncul kembali sebagai sosok tangguh bersama sepasang anak kembar yang cerdas. Ia pulang membawa misi besar untuk menuntut balas pada mantan suaminya yang telah berkhianat. Di tengah kembalinya Calista, akankah dendam tersebut tuntas atau justru masa lalu kelam kembali menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
8.0
Silvia Rahman, wanita difabel, mengira cinta Dion Kurniawan tulus. Namun, pendengarannya pulih dan mengungkap fakta keji: Dion sengaja menghambat kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Saat pesta, Dion menghinanya, sementara Arini mencoba membunuhnya lewat tabrak lari. Kini, Silvia bertekad membalas dendam. Di hari pernikahan, ia menyiapkan kejutan mematikan yang akan membongkar kebusukan Dion sebelum ia menghilang dengan identitas baru.