Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

Rania, seorang penulis, terjebak dalam nestapa setelah menyadari posisi istri kedua adalah kesalahan besar. Meski mencoba lari agar talak jatuh secara otomatis, ia justru diteror oleh suaminya yang berprofesi sebagai dosen. Di tengah perjuangan menuntut hak dan melawan ketidakadilan, Rania bertemu Yudha yang tampak baik namun menyimpan niat jahat. Mampukah wanita tangguh ini bangkit menghadapi pengkhianatan dan menyelesaikan kemelut hidupnya dengan elegan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Masa orientasi mahasiswa baru hari ini telah memasuki hari ketiga, lucu juga ia harus mengulangi kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat Rania masih muda dengan jilbab di kuncir.

Saat ini di masa pandemi ini, mahasiswa tidak harus hadir di kampus, pengenalan kampus, pengenalan fasilitas, pengenalan mata kuliah semua dilakukan dengan zoom video.

Hari pertama dan hari kedua berjalan biasa-biasa saja.

Menginjak hari ketiga, mahasiswa baru boleh hadir dengan memperhatikan protokol kesehatan, bermasker dan duduk berjarak.

Mungkin Rania datang terlalu pagi hingga ia harus menunggu di tepian kolam kecil, bersandar di ujung gazebo yang berdiri tunggal.

Hingga kemudian ia melihat segerombolan mahasiswi dengan baju atasan hitam dan bawahan putih.

Rania melangkah menuju ruangan yang telah disiapkan. Ia ikuti langkah gerombolan mahasiswi tadi. Deretan bangku berjajar dengan jarak kurang lebih setengah meter.

Ada meja panjang menghadap tepat di barisan bangku untuk para mahasiswa baru.

Meja itu diberi alas berwarna merah hati. Ada ornamen vas bunga kristal juga bunga mawar putih mekar. Dua yang mekar berada di kanan kiri, ditengahnya yang masih kuncup. Ornamen tersebut menambah indah suasana.

Hingga mata bulat Rania tertuju pada sebuah sosok yang sangat dikenalnya.

Rania menuju sosok tersebut dengan tatap mantap.

"Selamat pagi Bapak, " Suara Rania ketika matanya bertabrakan dengan mata dosen tampan yang sudah ia kenal sejak lima tahun yang lalu. Dosen ini yang dulu menyuruh Rania untuk kuliah tanpa biaya. Dosen ini yang dulu iba dengan nasibnya, meski ia juga berniat untuk mencicipi manisnya asmara yang menggeliat di tenda lelakinya.

Dosen ganteng yang usianya hampir purna itu terkejut.

"Kamu, ?"

"Inggih,"

"Rani kan ?"

"Betul, "

Rania tersenyum, manis semanis gula Jawa.

"Iya, ini Rania, pak. Rania yang dulu kumal dan dekil."

"Sekarang lebih matang, cantik dan dewasa.'

Suara dosen tersebut memuji. Mungkin ia tidak menyangka akan bertemu Rania disini, di tempat ini.

Mungkin juga ia merasa ada memori yang datang dan pergi menyapa ingatannya, membuatnya tersenyum sendiri sambil sesekali menatap mahasiswa baru yang lalu lalang memenuhi ruangan. Juga beberapa panitia yang sedang sibuk mempersiapkan tempat berlangsungnya masa orientasi mahasiswa baru.

Nampak beliau mendekati tempat duduk Rania. "Nanti temui aku ya, " suaranya memastikan.

"InsyaAllah, "

"Ini nomer Wa ku,"

"Rania sudah punya, pak."

"Oh ya ?"

"Iya pak,"

"Okelah "

Dosen itu berlalu. Meninggalkan ruang orientasi mahasiswa baru sambil bersenandung tembang kenangan. Langkah ringannya menyusuri tangga biru menuju ruangan para dosen terlihat sangat tegap, sambil ia sesekali membenahi letak jasnya yang tidak rata.

"Tenang saja pak, bapak masih tampan dan berwibawa meski berpakaian seadanya. " suara itu pernah membuat jiwa lelakinya terusik.

Lima tahun yang lalu. Dan kini pemilik suara yang sempat mengusik itu berada di dekatnya.

Ia sangat terpesona, tidak menyangka taqdir akan bermain-main dengan dirinya.

Dosen itu, pak Yuda, ia tahu misi Rania datang kemari.

Bukan dirinya target yang dimaksud Rania. Ada yang lain, ada yang sedang diincar oleh Rania, dan boleh jadi ini adalah bagian dari pembalasan dendam.

Ia yakin, insting hukum yang ia asah setiap hari bermain-main lincah di telinganya.

Ia tahu kemana arah Rania menuju dan ia hanya akan jadi pemirsa dalam permainan ini, boleh jadi dirinya akan jadi figuran atau bahkan jadi pemeran protagonis yang bersahabat dengan pemeran utama. Entahlah.

Acara penutupan masa orientasi pun berlangsung. Rangkaian acara yang sudah ditata rapi terlewati.

Panitia begitu pandai mengemas acara hingga membuat para mahasiswa baru terkesan.

Rania duduk dibarisan paling depan namun memilih tempat di ujung agar dirinya bisa memantau keadaan dan mengikuti jalannya kegiatan hingga tuntas tanpa perlu takut berjumpa wajah-wajah yang mengenalnya.

Rania, menatap satu persatu wajah panitia dan beberapa dosen muda yang duduk di hadapannya.

Rupanya memang sudah dipersiapkan bahwa acara penampilan dosen ini di lalui dengan menampilkan dosen ganteng dan cantik untuk memunculkan minat dan semangat mahasiswa baru.

Ini bagian dari trik sebuah pelayanan dan diakui oleh Rania trik mereka berhasil.

Rania yang menikmati sajian mereka kadang tertawa lepas, kadang tersenyum kadang juga terbelalak. Mereka demikian atraktif. Seperti sudah terlatih.

"Oke, kita tutup acara orientasi mahasiswa baru ini dengan doa."

Rania terkejut, ia melihat jam tangan merk rolex yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya.

Pukul 14.00 WITA

Ia ingat akan janjinya pada pak Yuda. Dosen tampan yang tadi mendekatinya.

Usai acara ditutup, Rania pun menuju ruangan pak Yuda.

Masih yang dulu kah ? atau sudah berubah. Rania melangkah saja. Toh. nanti bisa tanya bila telah sampai disana.

Rania tersenyum manis, sangat manis sambil menunggu episode selanjutnya.

******

Pagi itu di kampus nya,

Usai acara panjang dan pertunjukan beberapa dosen tampan juga cantik yang ditampilkan acara ditutup. Rapi dan bagus sekali panitia mengemas acara tersebut.

Rania menuju ruangan yang dulu pernah ia lewati, ia melewati jalan panjang beraspal, memasuki pintu lebar dan ruangan besar. Ada ruangan penerima tamu disana, semacam customer care atau customer servis, Rania tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. Ia seperti terbang pada peristiwa menyakitkan lima tahun yang lalu.

Di ruangan ini ia pernah meminta belas kasih dari seseorang yang pernah ia anggap suami. Di ruangan ini ia pernah mengemis demi kesamaan hak yang ia sandang dan di ruangan itu ia pernah menjadi pembohong demi rasa iri dan dengki nya.

Ia pernah harus melewati tangga biru yang masih saja bercat biru ini dengan hati yang sangat hancur.

Ketika kedatangannya malah menemui jalan buntu.

Padahal saat itu ia dalam keadaan haus dan lapar. Ia ditinggal sembunyi entah dengan maksud apa.

Saat itu Rania menikah dengan salah satu dosen di kampus ini. Menikah dan disembunyikan. Rania mau saja karena ia berharap hidupnya akan tertolong.

Tapi ternyata tidak. Lelaki itu menikahinya bukan untuk membangun keluarga sakinah melewati jalan Tuhan dengan kebenaran namun hanya karena ingin dianggap jantan dan berhasil, itu saja.

Hal itu terbukti dari perilaku buruk sang dosen. Rania tahu, tidak semua dosen di kampus ini berbuat tidak baik seperti lelaki yang pernah jadi suaminya. Seandainya pun ada itu tak lebih dari oknum saja.

Hari itu Rania menangis di ruangan pak Yuda. Tubuhnya bergetar dan ia pun terisak-isak.

"Sudahlah Ran, jangan menangis. Biar Tuhan yang membalas semua tingkah laku buruknya."

Rania masih terisak ketika ia menerima genggaman pak Yuda. Uang kertas berwarna merah terlipat diantara jemarinya.

"Ini untuk apa?" suara Rania parau.

"Kamu membutuhkannya,"

"Bukan hanya ini," Rania terisak lagi.

"Aku tahu, tapi lawan mu itu orang kuat. Kamu harus jadi kuat dulu baru melawan."

Rania mulai faham.

"Rani butuh sikap tegas dan tanggung jawab mas,"

"Aku tahu, tapi saat ini keinginanmu hanya akan jadi sampah Rania."

"Apapun alasannya kamu telah sepakat nikah di bawah tangan, iya kan ?"

Rania mengangguk-angguk.

"Kesepakatan itu adalah dasar dari terbentuknya sebuah kejadian dengan asas suka sama suka. Kamu tidak bisa menuntut lebih karena dari awal kamu telah sepakat. Pulanglah, tenangkan dirimu, fikirkan langkah selanjutnya. Semoga uang di tangan mu cukup."

Kenangan itu kembali tergores dari tinta kecil ingatan Rania dalam kanvas kehidupannya.

Ia tepiskan kenangan buruk itu, ia usap seluruh peluh yang menggantung di hatinya. ia bereskan duka yang bersemayam dilantai-lantai fikirannya. Ia harus hadir sebagai wanita bersih.

Masa lalu itu tidak boleh terungkap hari ini, masih terlalu dini, episodenya belum tuntas, belum selesai.

Ia ingin menikmati rasa sakitnya sedikit demi sedikit. Ia ingin merasakan perihnya luka itu sedikit demi sedikit.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar dan ia ingin berbagi kepedihan itu. Ia ingin membaginya, ia ingin menghabiskannya selama masa kuliah nya berlangsung. Ia ingin lelaki yang pernah menikahinya kemudian mencampakkan nya merasakan deritanya, derita yang sama yang dirasakan Rania.

Bukan hari ini terlalu dini.

Highills nya menapaki tangga biru itu, melangkah ia, sesekali matanya bersirobok pandang dengan beberapa dosen yang lalu lalang. Ia hanya mengulum senyum.

Rania Maya sari.

Begitu nama nya pernah terkenal di sini.

Di tikungan tangga pertama, wajah itu, kacamata minus dan rambut ikal itu. Ia pernah mengenalinya. Mereka berpandangan sesaat.

Kemudian Rania meninggalkan wajah itu terbengong, entah karena ingat atau karena terpana pada wajah cantik Rania.

"Rani kah ?" tanya suara itu, namun Rania melenggang begitu saja. Ia tinggalkan lelaki itu dengan berbagai pertanyaan dan kenangan.

'Mungkinkah itu Rania, wanita yang dulu pernah jadi istrinya. Wajahnya memang lebih halus namun guratnya terasa sama. Cara menatapnya, cara berjalannya semua sama. Meskipun kulit wajahnya jauh lebih halus dari kulit wajah yang ia kenal dulu. Rania mantan istrinya, wajahnya sama persis dengan wajah yang tadi melintas.

Dulu kah ? mantan istri kah ? bukankah ia sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat talak pada wanita itu. Wanita ke dua yang sungguh pernah mengoyak lazuardi lelakinya.

Bila benar itu Rania yang dulu pernah menjadi istrinya maka ia masih punya hak penuh atas diri wanita itu, suara batin pak dosen menggumam. Menggelitik boneka kayu hingga menimbulkan keajaiban tercipta, boneka kayu itu bisa tertawa. Saking lucunya kalimat yang baru saja ia dengar.

Dan sebagai lelaki mapan ia punya ambisi untuk menjadi menang apapun cara dan hasilnya, ia tidak akan mau kalah.

'Tapi mungkinkah itu Rania ?'

'Mungkin ia hanya bermimpi' bukankah Rania jauh sekali, Rania tidak disini dan tidak mungkin itu Rania, wanitanya dulu. Wanita itu terlalu sempurna, tak sebanding dengan Rania nya.

'Mungkin hanya sedikit sama' lelaki itu menepis rasa ingin tahunya.

Ia pun pergi meninggalkan tangga biru itu dengan kenangan. Tangga biru ini pernah jadi saksi jutaan cinta yang menempel di sana. Tangga biru yang hari ini masih biru.

Sebiru rindu yang sebenarnya demikian besar pada Ranianya, hanya saja rindu itu menjadi bersekat-sekat karena kebodohannya. Pak dosen kembali menggerutu. Pertemuan yang baru saja terjadi demikian meresahkan hatinya.

LAGU UNTUK SEBUAH NAMA

Ebiet G Ade

Mengapa jiwaku mesti bergetar

Sedang musikpun manis kudengar

Mungkin karena kulihat lagi

Lentik bulu matamu, bibirmu

Dan rambutmu yang kau biarkan

Jatuh bergerai di keningmu

Makin mengajakku terpana

Kau goreskan gita cinta

Mengapa aku mesti duduk di sini

Sedang kau tepat di depanku

Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu

Kusapa, dan kunikmati wajahmu

Atau kuisyaratkan cinta

Tapi semua tak kulakukan

Kata orang cinta mesti berkorban

Mengapa dadaku mesti bergoncang

Bila kusebutkan namamu

Sedang kau diciptakan bukanlah untukku

Itu pasti tapi aku tak mau perduli

Sebab cinta bukan mesti bersatu

Biar kucumbui bayanganmu

Dan kusandarkan harapanku

Jatuh berderai dikeningmu

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Hidupku hancur setelah calon kakak iparku sendiri menodai kesucianku tepat sebelum hari pernikahan. Alih-alih dibela, aku justru difitnah sebagai penggoda dan diusir dari keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjual diri kepada pria kaya raya. Bertahun-tahun berlalu, tak disangka pria brengsek itu muncul kembali sebagai pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama sebulan penuh. Apa sebenarnya rencana licik yang ia siapkan kali ini?
Sampul Novel DUNIA MAYA
9.2
Aruni Maya adalah wanita tangguh yang hancur setelah kehilangan ibu dan anak angkatnya. Di tengah duka, dia harus menghadapi kekejaman Toni, suaminya yang ternyata hanya mendekati Maya demi membalas dendam masa lalu. Namun, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Maya bukanlah anak kandung dari orang tua yang dibenci Toni. Penyesalan datang terlambat saat Maya berjuang bangkit dari pengkhianatan, menemukan jati diri aslinya, dan menghadapi ujian hidup baru yang mendewasakan.
Sampul Novel FOTO SUAMI FAN KEPONAKANKU
8.9
Kehidupan pernikahan Arini mendadak hancur saat ia menyadari adanya pengkhianatan di dalam rumah tangganya sendiri. Sosok orang ketiga yang merusak hubungannya ternyata adalah keponakannya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Arini mulai mengungkap berbagai fakta mengejutkan yang benar-benar di luar nalar. Mampukah ia menghadapi kemelut pelik ini dan bertahan di tengah misteri yang menyelimuti suaminya? Sebuah kisah penuh intrik, luka, dan rahasia kelam.
Sampul Novel Laksana Senja
7.9
Kehidupan Senja Mahesa yang semula tenang dengan hobi menonton drama Korea berubah drastis setelah ia pindah dari Bandung ke Tangerang. Menghabiskan masa SMA di lingkungan baru, Senja bertemu deretan pemuda tampan yang membawa berbagai peristiwa tak terduga. Rentetan kejadian ini bahkan memicu kekhawatiran mendalam pada ibunya, Utari. Bagaimana Senja menghadapi dinamika hidup yang penuh warna dan tantangan di kota barunya hingga kelulusan nanti?
Sampul Novel Mantra Cinta
8.7
Hidup Tasya hancur saat Ravi, tunangannya, berselingkuh tiga hari sebelum pernikahan mereka. Sebulan mengurung diri dalam duka, Tasya menemukan akun misterius @yourwitch di Twitter yang menawarkan jasa kutukan. Iseng, ia meminta agar mantan kekasihnya itu menjadi impoten. Tak disangka, Ravi muncul di apartemennya dengan wajah memelas dan penuh ketakutan. Ia bersimpuh memohon maaf sambil mengaku bahwa dirinya kini kehilangan kejantanan akibat karma yang tak terduga.
Sampul Novel One Night Stand
9.8
Seo Inha tak menyangka liburan solonya di Bali berujung pada malam tak terduga bersama Lee Yeon, pewaris kaya yang sedang patah hati. Akibat salah minum ramuan dan mabuk, Inha masuk ke kamar Yeon hingga ia hamil. Yeon memutuskan menikahi Inha demi tanggung jawab meski tanpa cinta. Di tengah pernikahan kontrak mereka, perhatian Yeon mulai tumbuh, namun mantan kekasihnya mendadak kembali untuk merebut posisinya. Akankah Inha bertahan saat masa lalu Yeon datang mengganggu?