
Peace Hunter
Bab 2
Kereta kuda terus melaju, melewati kota Bibury yang dipimpin oleh Marquess Adelmo Nielba dan akhirnya tak terasa akhirnya kereta kuda mendekati gerbang Ibukota kerajaan San Fulgen, San Estella.
"Jadi ini San Estella ?" kataku takjub.
Kota yang sangat cantik dan indah, bangunan yang sangat megah, jalanan yang sangat bersih. Tidak mengherankan jika ini merupakan Ibukota San Fulgen. Dari gerbang Ibukota bisa dilihat di tengah kota kalau ada kastil yang megah yang didominasi oleh warna putih yang indah, ya itu adalah kastil tempat Yang Mulia Ratu tinggal.
"Benar-benar kastil yang indah" kataku takjub.
"Hahaha benar kan ? tiap ku datang ke Ibukota, aku selalu takjub melihat kastil Yang Mulia Ratu, aku ingin sekali rasanya kesana tapi kelihatannya tak mungkin hahaha" tawa Paman Isaac.
"Setahuku hanya yang mendapatkan undangan khusus atau bangsawan-bangsawan yang mengatur negara ini yang boleh masuk ke kastil Yang Mulia Ratu" lanjutku.
"Benar itulah alasannya, makanya tadi ku bilang kalo ku tak mungkin bisa kesana karena kan aku bukan orang penting hahaha" lanjut Paman Isaac.
"Tidak usah bilang begitu Paman, siapa tau nanti bisa diundang kesana" lanjutku.
"Mana mungkin" tegas Paman Isaac.
"Tapi ya Paman, ntah kenapa seperti ada yang aneh" pikirku.
"Aneh kenapa ?" tanya Paman Isaac.
Selain di gerbang Ibukota tadi, ksatria tampak banyak berpatroli di dalam Ibukota.
"Banyak sekali ksatria lalu lalang, apa Ibukota normalnya begini atau karena sekarang merupakan hari ujian tes masuk Akademi jadi banyak ksatria berpatroli ?" tanyaku ke Paman Isaac.
"Normalnya tidak ramai begini sih, benar menurutmu banyak ksatria ramai karena sekarang adalah hari dimulainya tes masuk akademi untuk tahun ajaran baru" kata Paman Isaac.
"Terlebih akan ada calon murid penting seperti yang tadi kubilang" lanjut Paman Isaac.
"Begitu ya" kataku.
-
Kereta kuda terus melaju menuju San Fulgen Akademiya. San Fulgen Akademiya berada disebelah timur Ibukota San Estella. Jalanan Ibukota pun terus dilalui melewati pertokoan dan pasar sampai aku melihat sesuatu. Seorang Beast Human dari ras kelinci dan seorang Elf sedang berbelanja tetapi terdapat kalung besi di lehernya.
"Apa itu seorang budak ?" tanyaku yang kemudian ditanggapi oleh Paman Isaac.
"Benar itulah budak yang biasanya dimiliki oleh para bangsawan, kamu baru pertama melihat budak ya ? biasanya mereka yang jadi budak itu adalah orang-orang yang dibuang dari negara asal mereka atau mereka yang pergi sendiri dari negara asal mereka karena ada konflik atau lainnya, setelah itu mereka ditangkap oleh penjual budak dan dijual sebagai budak. atau bisa juga terjadi bagi mereka yang mempunyai hutang dan tidak bisa membayarnya, maka cara penebusannya ialah dijual sebagai budak," kata Paman Isaac.
"Budak Demihuman & Elf ya ? biasanya suatu negara dengan mayoritas ras tertentu tidak memiliki budak dengan ras yang sama, sebagai contoh Kerajaan San Fulgen yang mayoritas ditinggali manusia, jarang atau tidak memiliki budak dari ras manusia. Sebaliknya jika kita pergi ke Negeri Elf atau Kerajaan Demi Human, pastinya disana ada banyak budak dari ras manusia" lanjut Paman Isaac.
"Bahkan masing-masing negara masih menggunakan sistem perbudakan ya ? bukannya ini terlalu kejam ? para budak itu tidak bisa hidup bebas dan damai, setiap hari hanya melayani majikan mereka saja" kataku dengan sedih.
"Budak yang barusan kamu lihat itu masih mending, mereka tampak berbelanja dengan biasa saja. Waktu dulu saat ku ke Ibukota, aku melihat bangsawan yang tengah menyiksa budaknya di tengah kota hanya karena budak itu melakukan kesalahan kecil saja. Warga yang lain cuma melihat saja tanpa bisa apa-apa, karena jika warga biasa menghentikan bangsawan itu, mereka akan dianggap menantang bangsawan itu. Tergantung bangsawannya, jika kita menasehati bangsawan yang baik, tidak egois dan tidak keras kepala, mereka pasti akan senang hati menerima nasihatnya. Sedangkan untuk bangsawan yang egois, merasa punya harga diri tinggi dan keras kepala, menasehati mereka sama aja dengan menentang mereka. Warga biasa yang menentang bangsawan pasti akan diancam & diteror terus sepanjang hidupnya". lanjut Paman Isaac.
"Bangsawan itu benar-benar" kataku sedikit marah sambil mengepalkan tangan.
"Aku tahu kamu marah, Rid. Aku pun juga demikian saat melihat kejadian itu. Walaupun kita berbeda ras, tapi kita sama-sama makhluk hidup seperti mereka. Tapi aku tak bisa apa-apa, aku juga takut diancam bangsawan seperti mereka. Rid, jika kamu ingin merubah sistem di kerajana ini. Kamu harus menorehkan prestasi besar di kerajaan ini agar kamu bisa meraih posisi penting di kerajaan ini dan semua orang tau namamu. Jika kamu bisa meraih posisi penting, kamu bisa menghapus sistem perbudakan di negara ini jika kamu tak suka" kata Paman Isaac.
"Iya Paman, aku akan bekerja keras untuk meraih prestasi besar" lanjutku.
-
Sekian lama kereta kuda melaju, akhirnya tiba di depan gerbang San Fulgen Akademiya.
"Jadi ini San Fulgen Akademiya ?" kataku.
"Sampai disini saja ya Rid. Sebagai ganti biaya aku mengantarmu, ciptakan saja rekor saat ujian tes masuk dan buat mereka semua tercengang hahaha" kata Paman Isaac sambil tertawa.
"Terima kasih Paman karena telah mengantarku. Aku akan berusaha sekuat tenaga saat ujian masuk" kataku.
"Baiklah aku pergi dulu, giatlah belajar di akademi ini agar nanti kamu bisa mencapai tujuanmu. Selamat tinggal, Rid" kata Paman Isaac.
"Iya Paman, hati-hati di jalan" kataku sambil melambaikan tangan ke arah Paman Isaac yang perlahan mulai menjauh. Lalu aku mulai berjalan memasuki gerbang San Fulgen Akademiya dan aku ditanyai oleh penjaga atau lebih tepatnya ksatria kerajaan yang ditugaskan di akademi tersebut.
"Ada yang bisa dibantu nak ?" tanya penjaga tersebut.
"Aku ingin mengikuti tes masuk akademi " kataku menjawab.
"Boleh disebutkan nama lengkap dan asalmu darimana ?" tanya penjaga tersebut.
"Rid Archie dari Desa Aston" jawabku.
"Rid Archie dari Desa Aston ya" kata penjaga tersebut sambil melihat kertas-kertas yang kemungkinan kalau itu adalah list para peserta yang akan mengikuti tes.
"Ah ketemu, Rid Archie dari Desa Aston. Ini adalah kartu pengenal untuk tes masukmu" kata penjaga tersebut sambil menceklist namaku di list tersebut dan sambil memberikan kartunya.
"Terima kasih, tuan" kataku sambil menerima kartunya.
Di kartuku terdapat nomor 154 yang merupakan nomor peserta ku dan mungkin aku juga peserta ke 154 yang sudah hadir disini.
"Apa sudah banyak peserta lain yang sudah hadir, tuan ?" tanyaku ke penjaga tersebut.
"Seperti yang kamu lihat di nomor kartumu, kamu adalah peserta ke 154 yang telah hadir. Sepertinya peserta yang lain belum datang karena sekarang juga masih jam 8 pagi. Kan tes masuknya dimulai jam 10." jawab penjaga tersebut.
"Kamu bisa langsung masuk saja ke dalam aula tunggu atau keliling melihat-lihat akademi" lanjut petugas tersebut.
"Owh begitu ya, baiklah kalau begitu aku pergi ke dalam dulu ya, tuan. Terima kasih atas bantuannya" kataku.
"Semoga kamu lulus dalam ujiannya ya" kata penjaga tersebut.
Setelah beberapa langkah dari penjaga tersebut, aku melihat ke arah penjaga itu lagi.
"Melelahkan sekali, kenapa aku harus mengurus anak-anak ini. Kebanyakan mereka ini bukan bangsawan, harusnya mereka sadar diri kalau mereka tidak akan bisa lolos tes. Membuatku capek saja harus berurusan dengan rakyat jelata dan harus mendoakan agar mereka lulus" kata penjaga tersebut di dalam hatinya.
"Jadi bahkan seorang ksatria kerajaan saja bisa bersikap seperti ini, apalagi para bangsawan yang ada di atasnya. Di Desa Aston sangat damai dan para warganya sangat baik, berbeda sekali dengan disini. Jadi ini yang namanya Ibukota Kerajaan" kataku setelah melihat isi hati penjaga tersebut.
Skill membaca isi hati sangat berguna untuk keadaan seperti ini, aku jadi tahu orang-orang seperti apa yang mendekatiku. Skill ini tidak selalu aktif ketika aku melihat orang lain, skill ini aktif jika aku memutuskan untuk menggunakannya saat melihat orang lain. Aku bisa menggunakan skill ini dari sejak kecil, skill ini sepertinya bawaan dari lahir. Ketika aku bertanya ke mendiang kakekku, beliau berkata jika skill milikku mungkin skill yang diturunkan dari orang tuaku. Apapun itu skill ini sangat berguna dan aku sangat bersyukur karena memilikinya. Setelah mendengar isi hati penjaga tersebut, aku memutuskan untuk berjalan lagi menuju aula tes.
-
Di sepanjang jalan menuju Aula, aku bisa melihat pemandangan di sekitar. Di pinggir jalan ada pohon-pohon dan rerumputan yang membuat suasananya sangat sejuk. Di ujung kanan dan kiri dari tempat ku berjalan juga terdapat bangunan besar yang aku belum tau itu untuk apa. Aku berjalan kembali sampai melihat air mancur di depan dan terdapat bangunan yang sangat besar yang aku tebak jika itu adalah gedung depan Akademi. Terdapat tangga untuk memasuki gedung tersebut dari air mancur. Aku melihat patung besar di kanan dan kiri di depan bangunan tersebut. Patung manusia dengan sayap di punggungnya sambil memegang pedang kebawah, patung itu merupakan patung dari ras Malaikat.
"Karena kerajaan ini dibawah pimpinan ras Malaikat, jadinya dibangun patung ras Malaikat. Apakah kerajaan manusia yang berada dibawah pimpinan ras Iblis akan membangun patung Iblis juga ?" kataku bergumam sendiri.
Aku menaiki tangga dan langsung pergi untuk memasuki gedung tersebut. Saat aku memasuki gedung tersebut, aku melihat lumayan banyak peserta yang sudah datang dan menunggu untuk dimulainya tes. Ada yang duduk di bangku yang disediakan atau ada yang berdiri sambil bersender di dinding atau sambil melihat tulisan-tulisan di dindingnya. Ketika aku ingin melangkah ke dalam, aku dihampiri oleh petugas yang kemungkinan dia bertugas untuk mengkonfirmasi peserta-peserta yang sudah datang di dalam. Aku pun menunjukkan kartu pengenal pesertaku ke petugas tersebut. Petugas tersebut melihat kartu peserta ku dengan seksama dan setelah itu mengembalikan kartunya kepadaku. Petugas tersebut lalu memintaku untuk menunggu sampai tes masuknya dimulai. Kata petugas tersebut juga kalau tes masuknya akan dilaksanakan di gedung ini. Sepertinya gedung depan Akademi ini bertujuan sebagai administrasi akademi dan sebagai aula depan juga. Setelah petugas itu pergi, aku pun melangkah kembali untuk mencari tempat duduk kosong sambil menunggu tes masuknya. Aku menemukan tempat duduk kosong disamping seorang peserta laki-laki yang sedang membaca buku.
"Halo, apakah tempat duduk ini kosong atau ada orang lain yang sudah menempatinya ?" tanyaku pada pria tersebut.
"Huh ? ah tempat duduk itu kosong kok, kalau mau duduk disitu, duduk saja" jawab laki-laki tersebut.
"Terima kasih" kataku sambil mau duduk. Laki-laki tersebut mengangguk dan melanjutkan untuk membaca bukunya kembali. Setelah duduk, aku pun melihat ke arah laki-laki tersebut.
"Oh jadi sihir ini bisa digunakan seperti ini" kata dia di dalam hati.
"Dia sepertinya sedang fokus sekali membaca buku tersebut, kayaknya buku itu menjelaskan tentang penggunaan sihir. Dan sepertinya dia tidak kesal dan terganggu saat aku mengajaknya bicara tadi. Aku jadi merasa bersalah sudah berprasangka buruk dan membaca pikirannya" pikirku.
Aku pun memutuskan untuk membaca buku yang kubawa di tas. Aku hanya membawa beberapa buku yang penting punya mendiang kakekku. Sebagian ku simpan di tas dan sisanya ku taruh di sihir penyimpanan. Aku memutuskan untuk membaca buku sampai tes masuknya dimulai.
-
Saat aku masih membaca buku, waktu sudah cepat berlalu. Sampai muncul suasana yang menghebohkan.
"Wah lihat, itu Putri Irene. Dia cantik sekali," kata salah seorang peserta.
"Apa orang seperti ku bisa untuk mengencani seorang Putri Irene ya ?," kata peserta yang lain.
"Hahaha jangan mimpi kamu, lagipula Putri Irene itu anak seorang Duke. Jika ingin mengencaninya kamu harus memiliki status bangsawan yang setara atau lebih tinggi darinya," kata peserta lainnya yang menimpali.
Irene Emerald San Lucia, putri dari seorang Duke yang memimpin provinsi San Lucia yaitu Duke Louis Emerald San Lucia. San Lucia sendiri berada di utara kerajaan San Fulgen. Tempat tersebut dikenal dengan suhunya yang dingin.
"Tapi untuk seseorang yang tinggal di daerah yang dingin, Putri Irene tidak mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan dirinya, apa dia sudah menggantinya saat perjalanan kesini ?," pikirku.
Rambutnya yang panjang berwarna putih seperti salju, tidak kalah putihnya dengan warna kulitnya. Tingginya yang bisa dikatakan tinggi untuk ukuran perempuan yaitu 175 cm, wajar jika banyak yang mengatakan jika dia cantik, akupun sependapat dengan itu. Ah ngomong-ngomong, tinggiku adalah 185cm. Aku menggunakan skill ku untuk melihat apa yang dipikirkan Putri Irene, tapi tidak ada apa-apa.
"Dia tidak memikirkan apa-apa ? sepertinya dia tidak terganggu dengan banyaknya peserta yang melihat ke arah dirinya. Dia orang yang menarik," ujarku.
Dia tampak tidak bereaksi dengan pandangan dan sapaan para peserta lain dan hanya diam berdiri bersandar di dinding. Mungkin ini alasan dia dipanggil sebagai Si Putri Es karena sikapnya yang dingin. Setelah menggunakan skill membaca pikiranku ke dirinya, entah kebetulan atau tidak, Putri Irene menoleh ke arahku. Aku tidak tahu Putri Irene menoleh tepat ke arah ku atau menoleh ke belakangku, tapi aku memutuskan untuk membungkukkan wajahku sebagai rasa hormat ke Putri Irene. Putri Irene tampak biasa saja dan setelah itu dia mengganti pandangannya ke arah lain.
"Mana mungkin kan jika Putri Irene tau kalau barusan aku menggunakan skill untuk membaca pikirannya ?," pikirku.
"Sepertinya aku harus lebih waspada menggunakan skill ini, takut jika ada orang lain yang tau jika pikiran mereka sedang dibaca," kataku dalam hati.
-
Setelah kehebohan yang diakibatkan oleh datangnya Putri Irene, kehebohan lainnya terjadi lagi saat putra-putri para Marquess juga telah tiba. Lalu disusul oleh Putra Duke of San Angela, yaitu Enzo William San Angela juga sudah tiba, keadaan menjadi heboh lagi.
"Putra dari Duke of San Angela ya, provinsi yang berada di barat San Fulgen yang berbatasan dengan negeri Demi-Human, Sedona ya ? Kelihatannya dia cukup kuat, yah wajar untuk anak dari seorang Duke," pikirku.
Aku melihat ke arahnya dan sepertinya dia sangat ramah dengan peserta lain, dia membalas sapaan ke peserta yang menyapanya dan melambaikan tangan ke arah mereka. Senang melihatnya jika ada bangsawan yang ramah seperti itu. Setelah beberapa saat, kehebohan terjadi lagi dan bahkan lebih heboh dari sebelumnya. Ya itu karena telah tibanya Pangeran Charles dan Putri Chloe di tempat tes masuk akademi. Tidak mengherankan jika banyak yang heboh saat mereka tiba, karena mereka adalah anak dari Yang Mulia Ratu dan pesona mereka itu tidak terbantahkan. Warna rambut mereka yang berwarna pirang keemasan sangat lah indah dan mempesona, pasti warna rambut mereka karena turunan dari Yang Mulia Ratu.
"Pangeran Charles!,"
"Putri Chloe,"
"Kyaa Pangeran Charles sangat tampan sekali,"
"Apakah mungkin bagiku untuk menikahi Putri Chloe ?,"
"Aku bersyukur sekali bisa mengikuti tes masuk berbarengan dengan Pangeran Charles dan Putri Chloe," begitulah yang mereka katakan.
Para peserta sangat heboh dan semua pandangan tertuju ke arah Pangeran Charles dan Putri Chloe. Pangeran Charles tampaknya juga sangat ramah, dia menyapa peserta yang lain juga dan melambaikan tangan ke arah mereka. Sementara untuk Putri Chloe, tampaknya dia sedikit terganggu dengan banyaknya pandangan yang diarahkan kepadanya. Karena penasaran, aku pun membaca pikirannya.
"Duh, kenapa banyak pandangan yang diarahkan ke arahku. Aku jadi malu kalau begini aku tidak bisa fokus," kata Putri Chloe di pikirannya.
"Sepertinya sang Putri adalah orang yang pemalu, berbeda dengan kakak kembarnya yang sangat ramah," kataku.
Aku tidak menemukan kata-kata seperti menghina atau merendahkan peserta yang bukan bangsawan dari pikiran Putri Chloe, bisa disimpulkan bahwa Putri dan Pangeran merupakan Bangsawan yang baik, sama sepertinya Ibu mereka.
"Sepertinya Ibu mereka mengajarkan hal yang baik ke anaknya," batinku.
-
Setelah itu, aku melihat tuan muda Enzo menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe.
"Salam Pangeran & Putri, suatu kehormatan bisa bertemu kalian berdua disini," kata Enzo sambil membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada kiri sebagai bentuk hormat.
"Enzo ya ? sudah-sudah tidak usah terlalu formal, lagipula sekarang kita bukan di acara kerajaan. Saat ini kita sama-sama peserta tes masuk San Fulgen Akademiya," kata Pangeran Charles sambil menyuruh Enzo agar tidak membungkuk lagi.
"Baiklah, Pangeran," kata Enzo.
Setelah sapaan Enzo, banyak peserta yang merupakan anak bangsawan lain menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe untuk memberi hormat Pangeran Charles pun memberi tahu untuk mengsudahi saja penghormatan ini karena ini bukan di acara kerajaan. Di antara banyaknya bangsawan yang menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe, aku tidak melihat Putri Irene. Aku melihat ke sekitar untuk mencari keberadaannya, dan dia masih bersandar di dinding dengan tenangnya. Dia melihat ke arah kerumunan yang mengerumuni Pangeran Charles dan Putri Chloe, tapi tidak menghampirinya. Aku masih penasaran dengan apa yang dia pikirkan. Aku pun menggunakan skill ku lagi kepadanya, namun lagi-lagi pikirannya kosong seperti dia tidak memikirkan apapun atau mungkin skill membaca pikiran tidak bisa membaca pikirannya. Setelah aku membaca pikirannya, Putri Irene kembali menoleh ke arahku. Tidak ada ekspresi di wajahnya, sama seperti saat dia pertama kali tiba disini, tidak ada satupun dia mengeluarkan ekspresi. Aku pun membungkuk kembali saat Putri Irene menoleh ke arahku sebagai bentuk hormat.
"Aku jadi yakin jika Putri Irene tau jika pikirannya sedang dibaca, mana mungkin dia bereaksi 2 kali dengan menoleh ke arahku setelah pikirannya dibaca jika dia tidak tahu, atau mungkin cuma kebetulan saja ? tapi apa mungkin kebetulan terjadi 2 kali ?," pikirku.
"Halo, Putri Irene" kata seseorang yang ternyata adalah Pangeran Charles.
Dia sudah pergi dari kerumunan yang mengerumuninya dan menghampiri Putri Irene. "Bagaimana kabarmu ?," tanya Pangeran Charles.
Putri Irene yang semula melihat ke arahku, langsung menoleh ke arah Pangeran Charles & Putri Chloe yang menghampirinya.
"Aku baik-baik saja, Pangeran, Putri. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi maka aku permisi dulu," kata Putri Irene sambil membungkukkan badan dengan hormat lalu pergi ke tempat lain.
"Seperti biasa, dia tidak tampak akrab dan langsung pergi begitu saja begitu ku sapa," kata Pangeran Charles sedikit kecewa.
"Sudahlah kak, dari dulu dia orangnya begitu. Mungkin dia tidak suka keramaian dan keramah tamahan," ujar Putri Chloe.
"Mungkin begitu, yah sifat orang kan berbeda-beda. Kita tak harus memaksanya untuk mengakrabkan diri dengan kita," lanjut Pangeran Charles.
"Pangeran itu sangat baik, bahkan dia mengerti keadaan orang lain jika ada orang yang tidak mau menerima keramahtamahannya. Sedangkan untuk Putri Irene, apakah dia membenci Pangeran ? sampai pergi menjauh begitu. Hmm tapi kurasa bukan Pangeran saja, sejak awal dia seperti berdiri sendiri menjauh dari keramaian. Yah sepertinya dia punya masalah tersendiri," pikirku dalam hati.
-
"Bangsawan atas itu benar-benar menghebohkan ya setiap mereka datang, membuatku tak fokus membaca saja," ujar peserta laki-laki yang daritadi duduk di sebelahku.
"Kamu pun juga terganggu kan ? aku juga melihat tadi kamu sedang fokus membaca buku sebelum mereka semua heboh karena tibanya bangsawan atas,"lanjutnya.
Bangsawan atas yang dia maksud mungkin bangsawan dengan jabatan Marquess ke atas (Marquess > Duke > Raja/Ratu).
"Tidak terlalu, justru ini menjadi pengalaman pertama ku bisa melihat bangsawan-bangsawan seperti mereka," kataku.
"Begitu ya, kalau aku sih sudah pernah melihat mereka karena aku sering berpergian ke Ibukota sejak kecil, aku kadang melihat mereka sedang berkeliling Ibukota. Apalagi untuk sang putri es, aku sudah sering bertemu dengan dia karena kami itu berasal dari daerah yang sama," lanjutnya.
"Kamu dari San Lucia juga ?," tanyaku kepadanya. "Benar, tapi aku tidak berasal dari kota San Lucia. Aku berasal dari desa Piana. Selain ke Ibukota, aku juga sering berpergian ke kota San Lucia untuk menjual hasil peternakan bersama ayahku. Disitulah aku sering bertemu dengan Sang Putri Es yang sedang berkeliling bersama asistennya," katanya.
"Dia kadang berbelanja atau melihat-lihat ke sekeliling kota, Saat berbelanja pun dia tidak memasang ekspresi apapun, hanya datar dan tampak dingin. Itulah kenapa dia dikenal sebagai Sang Putri Es karena ekspresi dinginnya. Tapi aku bertanya kepada penduduk di kota San Lucia tentang kesan mereka kepada Sang Putri Es. Mereka bilang meskipun Putri Irene selalu berekspresi dingin, tapi Putri Irene tidak pernah berlaku sewenang wenang atau merendahkan orang lain. Jadinya kesan mereka ke Sang Putri Es itu baik dan mereka mewajarkan ekspresi dingin Sang Putri Es sebagai salah satu sifatnya yang mungkin sudah ada dari lahir dan sulit untuk dirubah,"lanjutnya.
"Begitu ya, jadi Putri Irene termasuk bangsawan yang baik ya meskipun ekspresinya selalu dingin," kataku.
"Ya begitulah, lagipula ayahnya yaitu Duke Louis juga selalu disukai dan dikagumi oleh penduduk San Lucia, jadi tak heran jika anaknya pun mengikuti sifat ayahnya," katanya lagi.
"Ah ngomong-ngomong, selain ekspresinya yang dingin. Alasan kenapa dia di panggil Sang Putri Es karena dia merupakan pengguna sihir es yang hebat. Keluarga San Lucia dikenal sebagai keluarga yang mewarisi sihir es secara turun temurun. Jadi keluarga mereka semuanya adalah pengguna sihir es," lanjutnya lagi.
"Sihir es ya ? Sihir es merupakan sihir lanjutan dari sihir air, tidak semua orang bisa menggunakan sihir lanjutan dari sihir dasar. Tidak mengherankan jika keluarga San Lucia termasuk keluarga terkuat di kerajaan ini. Apalagi kepala keluarga mereka mendapatkan jabatan sebagai Duke yang bertugas untuk membantu Yang Mulia Ratu secara langsung," ujarku terkejut.
"Itu benar, 4 Keluarga bangsawan yang kepala keluarganya mendapatkan gelar Duke, tidak salah lagi mereka adalah keluarga terkuat di kerajaan ini selain keluarga dari Yang Mulia Ratu sendiri," katanya menanggapiku.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu juga ya soal sihir lanjutan, apakah kamu suka membaca buku tentang sihir ?," tanyanya kepadaku.
"Itu benar, di rumah mendiang kakekku banyak sekali buku dan salah satunya buku tentang sihir, aku suka sekali membaca buku punya kakek," jawabku.
"Begitu ya, sepertinya kita punya hobi yang sama. Ngomong-ngomong dari mana kamu berasal ?," tanyanya lagi kepadaku.
"Aku berasal dari desa Aston, yang berada di provinsi San Minerva yang ada di selatan kerajaan," jawabku.
"San Minerva ya, dari yang kudengar Putra dari Duke San of Minerva juga berada di akademi ini, tapi dia pelajar dari angkatan sebelumnya," katanya.
"Ngomong-ngomong lagi, kita sudah berbicara banyak hal daritadi tapi entah kenapa ku seperti melupakan sesuatu tapi apa ya ?," ujarnya bingung.
Dia berpikir dengan keras sampai akhirnya dia tau apa yang dia lupakan.
"Owh iya nama, kita belum memperkenalkan nama masing-masing," katanya setelah berpikir.
"Owh iya, aku juga tidak kepikiran, namaku Rid, Rid Archie, kamu panggil saja aku Rid," ujarku.
"Namaku Noa, Noa Sigisbert. Kamu bisa panggil aku Noa saja, salam kenal ya Rid," ujarnya sambil mengulurkan tangan kepadaku.
"Salam kenal juga Noa," ujarku sambil mengulurkan tangan juga.
Setelah perkenalan kita berjabat tangan.
-
Tak terasa setelah kehebohan karena datangnya Pangeran Charles dan Putri Chloe tadi dan obrolanku dengan Noa, waktu sudah menunjukkan jam setengah 10. Seorang pria datang menghampiri kami dan berbicara,
"Perhatian semua, perkenalkan nama saya Alan Hugo. Saya salah satu guru di San Fulgen Akademiya dan juga salah satu pengawas yang akan mengawasi tes masuk kalian. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih bagi peserta yang menerima undangan dari akadem kami baik dari yang berasal dari kerajaan San Fulgen atau yang berasal dari luar kerajaan dan terima kasih juga kepada peserta yang sudah bersedia menunggu. Tidak usah berlama-lama, Tes Masuk San Fulgen Akademiya tahun 1217 dengan ini kami nyatakan dimulai !!," ujarnya.
-
Dan akhirnya, Tes Masuk untuk akademi nomor satu di kerajaan ini pun akhirnya dimulai.
-Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





