Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Peace Hunter

Peace Hunter

Rid Archie, pemuda dari desa manusia, mulai meragukan ketenangan dunianya. Di balik kedamaian yang tampak, perbudakan dan diskriminasi rasial masih merajalela. Situasi ini hanyalah gencatan senjata rapuh antara ras Iblis dan Malaikat yang bisa pecah kapan saja menjadi perang besar. Menyadari bahwa keharmonisan saat ini hanyalah semu, Rid bertekad kuat untuk menciptakan kedamaian sejati. Namun, mampukah ia mewujudkan impian mustahil itu di tengah dunia yang penuh konflik?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tidak usah berlama-lama, ujian masuk San Fulgen Akademiya tahun 1217 dengan ini kami nyatakan dimulai!!" begitulah kata salah satu pengawas akademi, Alan Hugo.

Para peserta pun langsung menanggapi, ada yang tidak sabar untuk menunjukkan kemampuannya, ada yang gugup, dan ada yang menanggapi biasa saja. Kalo bagiku sendiri, aku sangat tidak sabar untuk menantikan ujian masuk ini. Selain sebagai sarana untuk menjadi murid di akademi, aku bisa menguji kemampuanku dengan bertarung dengan peserta lain karena yang ku tahu ada ujian pertarungan antar peserta juga.

"Akhirnya dimulai juga ya, aku sudah bosan menunggu," kata Noa bersemangat.

"Kamu sangat bersemangat sekali ya Noa, pasti kamu sangat percaya diri dalam menghadapai ujian masuk ini," kataku menanggapi Noa.

"Tentu saja, aku sudah banyak berlatih selama ini, terlebih aku sangat menantikan ujian pertarungan antar pesertanya, mungkin aku bisa mendapatkan lawan yang membuatku bersemangat," kata Noa.

"Apa kamu tidak takut jika mendapatkan lawan seperti Pangeran Charles, Putri Chloe, Tuan Muda Enzo ataupun Putri Irene ?," tanyaku kepada Noa.

"Memang sih mungkin mereka itu adalah peserta unggulan di ujian masuk ini, tapi bukankah akan terasa menarik jika kita mendapatkan lawan yang unggul daripada kita, apalagi jika kita bisa mengalahkan mereka," kata Noa dengan percaya diri.

"Memang sih, aku setuju denganmu. Pasti akan bangga jika bisa menang melawan peserta unggulan seperti mereka," kataku.

"Tapi masih ada 1 peserta lagi yang menurutku termasuk unggulan," kata Noa.

"Hmm siapa itu ?," tanyaku ke Noa.

"Itu adalah kamu, Rid," jawab Noa.

"Bagaimana bisa aku termasuk unggulan, padahal kan aku hanya peserta dengan latar belakang yang biasa saja. Bukan salah satu bangsawan," bantahku.

"Mungkin menurutmu begitu, tapi aku tahu kalau sejak tadi sang Putri Es melihat ke arahmu beberapa kali. Mungkin kamu tidak sadar saat dilihat olehnya. Sampai menarik perhatian dari sang Putri Es, sudah pasti kamu bukan orang yang biasa, Rid," kata Noa.

"Soal Putri Irene menoleh ke arahku mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan, lagipula aku tidak melakukan hal-hal aneh yang menarik perhatian sejak tadi kan ?," bantahku lagi.

"Memang kamu tidak menarik perhatian, tapi pasti ada sesuatu yang special di dalam dirimu sampai bisa menarik perhatian sang Putri Es. Peserta berdarah bangsawan atas itu memanglah special dan kuat karena mereka mewarisi darah keluarga terkuat di kerajaan ini, tapi mereka tidaklah mengerikan," kata Noa.

"Yang mengerikan itu adalah saat orang biasa menyembunyikan kekuatan asli mereka," lanjut Noa.

"Terserah kamu saja mau menganggapku bagaimana," kataku yang seolah seperti menerima tentang pernyataan Noa.

"Aku menantikan hal yang menarik di ujian masuk nanti, Rid," kata Noa sambil tersenyum kepadaku.

"Sepertinya aku sudah menjadi target salah satu peserta disini, tapi biarlah toh aku memang ingin melaksanakan ujian ini dengan serius," pikirku dalam hati.

-

"Ehem, semuanya mohon jangan ribut terlebih dahulu ya. Saya akan menjelaskan tentang ujian masuk kali ini," kata pengawas tersebut.

Memang setelah pengawas tersebut bilang ujian dimulai, suasana langsung ribut. Banyak peserta yang berbicara dengan peserta lainnya sama seperti aku yang berbicara dengan Noa barusan. Padahal penjelasan rinci tentang ujiannya belum dijelaskan.

"Ujian masuk San Fulgen Akademiya akan dibagi 3 ujian :

1. Ujian Teori atau Quiz

2. Ujian menghancurkan target

3. Ujian pertarungan

Untuk ujian Quiz, maksimal poin yang akan kalian dapatkan adalah 100 poin. Ujian menghancurkan target maksimal mendapatkan 200 poin. Dan ujian pertarungan maksimalnya juga mendapatkan 200 poin. Jadi dari 500 peserta yang hadir saat ini, hanya 200 Peserta yang mendapatkan poin tertinggi yang akan diterima sebagai murid San Fulgen Akademiya," kata pengawas tersebut menjelaskan.

"Apa penjelasan tentang ujian masuk ini sudah jelas ? apa ada yang ingin bertanya ?," tanya pengawas tersebut.

"Saya ingin bertanya, pak," kata seseorang peserta yang ternyata adalah Pangeran Charles.

"Silahkan, ingin bertanya apa, Pangeran ?," tanya pengawas tersebut.

"Jika total poin seorang peserta dari ketiga ujian tersebut berada di posisi ke-200, tapi peserta posisi ke-201 juga memiliki poin yang sama dengan peserta ke-200. Bagaimana mana perlakuannya supaya adil ?," tanya Pangeran Charles.

"Terima kasih Pangeran atas pertanyaannya. Benar juga, aku lupa untuk menjelaskan tentang situasi ini. Bagaimana jika peserta yang berada di posisi ke-201 mempunyai poin yang sama dengan peserta ke-200 ? satu peserta diterima masuk ke Akademi dan peserta yang lainnya tidak lolos masuk ke Akademi padahal poin keduanya sama. Untuk mengatasi situasi ini akan dilakukan ujian pertarungan lagi antar peserta yang poinnya sama, untuk menentukan peserta mana yang berhak lolos masuk ke Akademi. Apakah dengan ini sudah menjelaskan semuanya ?," tanya pengawas tersebut.

"Pak, aku mau bertanya," kata salah satu peserta yang aku tidak tahu namanya.

"Silahkan, nak," jawab pengawas tersebut.

"Bagaimana dengan penjelasan rinci untuk tiap-tiap ujiannya ?," kata tanya peserta tersebut.

"Ah untuk penjelasan tiap-tiap ujian akan dijelaskan oleh pengawas yang akan mengawasi kalian nanti. Apa semuanya penjelasan sudah jelas ? Ada yang mau bertanya lagi ?," tanya pengawas tersebut lagi.

Tapi tidak ada peserta yang bertanya.

"Oke, karena tidak ada yang bertanya lagi jadi saya pikir kalian sudah paham dengan penjelasannya," kata pengawas tersebut.

"Karena sebentar lagi kalian akan melaksanakan ujian masuk yang pertama yaitu ujian quiz, Jadi sekarang kalian diminta menuju ke lantai 2 gedung ini dan pergi ke ruangan yang ada list nama kalian di kertas yang ditempel di dinding dan pintu di ruangan tersebut,"

kata pengawas tersebut memberikan penjelasan terakhir di lantai ini. Kami pun segera pergi ke lantai dua gedung ini.

-

Kami pun akhirnya tiba di lantai dua gedung dan memeriksa masing-masing ruangan untuk menemukan nama kami masing-masing. Setelah beberapa saat mencari, ternyata aku ada di ruangan nomor 4 dan berada di tempat duduk dengan nomor 4 di ruangan tersebut.

"Kamu ada di ruangan nomor berapa, Rid ?," tanya Noa kepadaku.

"Aku ada di ruangan nomor 4, kamu di ruangan nomor berapa Noa ?," tanyaku kembali ke Noa.

"Aku ada di ruangan nomor 2, sayang sekali sepertinya kita tidak seruangan," keluh Noa.

"Memangnya apa yang mau kamu lakukan jika kita seruangan ? mencontek ?," tanyaku lagi.

"Tidak tidak, aku bisa mengerjakan ujian ku sendiri. Cuma rasanya enak saja jika seruangan dengan orang yang ku kenal," jawab Noa.

"Begitu ya," kataku.

"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi di ujian selanjutnya, Rid," kata Noa sembari berjalan menuju ruangannya.

"Ya, sampai bertemu lagi," kataku menanggapinya.

"Padahal tadi dia berbincang seolah menganggapku peserta yang harus diwaspadai, tapi kenapa dia masih akrab terhadapku ? Sepertinya dia tipe orang yang menganggap saingannya sebagai temannya juga," pikirku.

Setelah itu, aku segera masuk ke dalam ruanganku dan langsung mencari tempat duduk yang akan aku tempati. Aku melihat sekeliling ternyata ada 50 tempat duduk yang tersedia di ruangan tersebut. Jika setiap ruangan ada 50 tempat duduk, berarti ada 10 ruangan yang digunakan untuk ujian pertama.

"Karena aku tadi nomor 154, berarti aku ada di ruangan 4 dengan tempat duduk ke 4 ya, masuk akal juga," pikirku.

Setelah menemukan tempat duduk ku, aku pun langsung menempatinya. Peserta lain yang seruangan dengan ku pun mulai masuk dan menempati tempat duduknya masing-masing. Setelah semua peserta di ruangan 4 sudah di tempat duduknya masing-masing, datanglah pengawas yang merupakan pengawas wanita ke dalam ruangan.

"Halo semuanya, perkenalkan nama saya adalah Nora Kalandra. Saya yang bertugas sebagai pengawas untuk ujian Quiz di ruangan 4 ini," kata pengawas tersebut.

"Sebelumnya saya akan menjelaskan tentang ketentuan ujian quiz ini. Ujian akan terdiri dari 20 soal isian dan soalnya tentang pengetahuan umum baik itu tentang sihir atau tentang kerajaan San Fulgen. 1 soal benar akan dihadiahi 5 poin, yang berarti jika 20 soal benar akan mendapatkan 100 poin. Tidak ada yang boleh mencontek satu sama lain atau menggunakan trik-trik curang lainnya. Di setiap ruangan sudah dipasang deteksi sihir untuk mengetahui apakah ada peserta yang menggunakan sihir untuk trik curang atau tidak. Itu saja penjelasan singkat tentang ujian ini. Apakah ada pertanyaan ?," tanya pengawas tersebut setelah menjelaskan tentang ujiannya.

Tidak ada tanda-tanda orang yang akan bertanya.

"Tidak ada ya ? baik kalau tidak ada bisa langsung kita mulai ujiannya. Ujian akan dimulai jam 10 pagi sampai jam 11 pagi. Saya akan mulai membagikan kertas ujiannya," kata pengawas tersebut.

Kertas ujian pun mulai dibagikan satu persatu ke masing-masing peserta. Setelah semua peserta mendapatkan kertas ujian masing-masing, pengawas pun langsung memberikan aba-aba.

"Baiklah, silahkan mulai mengerjakan ujiannya," kata pengawas tersebut.

-

Aku pun mulai membaca soal-soal di ujian tersebut. Saat ku lihat soal ujian tersebut, aku berpikir kalau ujian quiz kali ini mudah bahkan peserta lain pun bisa dengan mudah mengerjakannya.

"Nama Ibukota San Fulgen, Ada berapa jumlah sihir elemen dasar, Sihir lanjutan dari sihir api, dan lainnya. Bukannya soal ini terlalu gampang ? Jawaban tentang soal ini harusnya mudah ditemukan di buku-buku umum. Para peserta lain pun pasti bisa menjawab soal ini dengan mudah. Aku tak akan heran jika banyak yang akan mendapatkan 100 poin di ujian ini," pikirku.

"Sepertinya ujian ini cuma sebagai pelengkap saja. Ujian sebenarnya ada di ujian menghancurkan target dan ujian pertarungan," pikirku lagi.

Aku pun segera menulis jawaban untuk soal-soal itu. Waktu pun berlalu sampai tak terasa sudah jam 11.

"Baiklah semuanya, ujian quiz kali ini sudah selesai. Silahkan kalian kumpulkan kertas ujian kalian masing-masing di meja depan," kata pengawas tersebut. Segera semuanya pergi ke depan ruangan untuk meletakkan kertas ujiannya masing-masing.

Setelah semua kertas ujiannya sudah dikumpulkan, pengawasnya pun berkata "Untuk hasil ujian quiz ini akan diumumkan di papan pemberitahuan di lobi lantai 1, tempat kalian berkumpul tadi pada jam 12. Setelah ini akan ada jeda waktu kurang lebih 1 setengah jam sampai ujian berikutnya dilaksakan pada jam 12.30. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu di kantin yang berada di dalam akademi. Kalian bebas makan aja karena biayanya gratis,".

Mendengar hal itu, peserta yang lain pun kegirangan setelah mendengar bisa makan apa saja secara gratis. Setelah itu pengawasnya pun pergi sambil membawa kertas ujiannya dan kami mulai meninggalkan ruangan tersebut. Saat ku sudah berada di luar ruangan tersebut, Noa pun menghampiriku.

"Bagaimana dengan ujiannya Rid ? apakah mudah ?," tanya Noa.

"Hmm yah bagiku mudah sih," kataku menjawabnya.

"Kau benar, aku bahkan bisa menduga kalau aku akan mendapat 100 poin dari ujian ini," kata Noa dengan percaya diri.

"Kalau itu aku tak yakin," kataku menanggapinya.

"Kau meremehkanku ya Rid," kata Noa.

"Ya sudahlah, Bagaimana kalau kita ke kantin saja karena aku sudah lapar, apalagi tadi pengawasnya bilang kalau kita bisa memakan apa saja secara gratis," kata Noa seakan mengabaikan perkataan ku tadi.

"Baiklah, yuk kita ke kantin," kataku.

-

Kami pun segera pergi ke lantai 1 dan pergi ke belakang bangunan administrasi ini. Setelah sampai belakang, aku pun terpesona dengan desain bagian dalam akademi tersebut. Di belakang gedung administrasi adalah bagian dalam dari akademi, K

kantin berada di tengah. Di samping kiri dan kanan terdapat masing-masing 2 bangunan dan di belakang bangunan tengah ada 1 bangunan lagi. Masing-masing bangunan dihubungkan dengan lorong dan disamping lorong ada rerumputan dan bunga-bunga yang indah.

"Bagian dalam akademi ini benar-benar indah," kataku dengan takjub.

"Kamu benar Rid," kata Noa yang setuju denganku.

"Sudah cukup untuk terpesonanya, kita harus buru-buru ke kantin sebelum kehabisan tempat, Rid," kata Noa yang terlihat sudah sangat lapar.

Aku pun juga langsung bergegas ke kantin. Sesampainya di kantin, ternyata antrian untuk mendapatkan makannya cukup panjang.

"Lumayan juga ya antriannya," kataku.

"Aku lapar tapi ternyata masih harus mengantri lagi untuk mendapatkan makanannya," kata Noa mengeluh.

"Sabar sedikit, Noa," kataku ke Noa.

Walaupun antrian cukup panjang, tapi dapat terurai dengan cepat karena memang berkat para petugas kantin yang cekatan dalam menerima permintaan para peserta. Setelah beberapa menit, akhirnya giliran ku dan Noa untuk mendapatkan jatah makanan.

"Tuan, aku ingin Nasi kari tapi karinya dibanyakin ya," kata Noa ke petugas kantin tersebut.

"Aku juga nasi kari, porsi normal saja," kataku ke petugas kantin tersebut.

"Baiklah, tunggu sebentar ya," kata petugas kantin tersebut.

Aku dan Noa pun menunggu sebentar.

"Hahaha padahal sudah dikasih tau kalau memesan di kantin ini gratis, tapi ya yang namanya rakyat jelata tetap saja memesan makanan rakyat jelata," ucap seseorang dibelakangku.

Aku pun berbalik untuk melihat orang yang berbicara begitu, ternyata orang yang berbicara adalah anak dari Marquess Marcelo Buston, yaitu Javier Buston.

"Apakah ada yang salah dengan apa yang aku pesan ?," tanya ku kepada Javier.

"Ya itu tadi yang ku bilang, kalian rakyat jelata sudah diberitahu sebelumnya jika semua menu yang ada di kantin ini adalah gratis, dan kalian tetap memilih menu rakyat jelata," kata Javier.

"Terserah aku mau memilih apa yang akan ku makan, apa itu mengganggumu, Putra Marquess ?," tanya ku kepada Javier.

"Oh jelas sekali kalau melihat makanan rakyat jelata membuatku tidak nafsu makan. Tidak hanya makanannya, kehadiran kalian para rakyat jelata disini juga sangat merusak pemandangan," kata Javier sambil memprovokasi.

"Apa maksudmu berkata seperti itu ?," tanya Noa yang sepertinya sedikit terpancing.

"Bukannya sudah jelas, maksudku kalian disini hanya merusak pemandangan, lebih baik kalian pergi karena San Fulgen Akademiya itu cocoknya untuk bangsawan sepertiku, bukan rakyat jelata seperti kalian," kata Javier.

"Sepertinya kau harus diberi sedikit pelajaran ya Putra Marquess, jika kau babak belur disini, pastikan untuk tidak mengadu ke ayah tersayangmu itu," kata Noa yang bersiap mau memukul.

"Apa rakyat jelata sepertimu mau menyerang ku ?," kata Javier.

Saat Noa mau memukul, aku pun menghentikannya.

"Sudahlah Noa, buat apa buang-buang tenaga menghadapi dia," kataku menghentikan Noa.

"Tapi Rid, dia sudah mengolok-ngolok kita sebagai rakyat jelata," kata Noa.

"Sudah, biar aku yang urus saja dia. Kamu tetap tenang," kataku sambil menenangkan Noa.

"Hei kau bangsawan, tadi kau bilang kalo San Fulgen Akademiya hanya cocok untuk bangsawan sepertimu kah ? tidak cocok untuk rakyat jelata ?," tanya ku kepada Javier.

"Iya itu memang benar, apa ada masalah dengan perkataan ku ?," tanya Javier lagi.

"Apa itu berarti kau menentang peraturan yang dibuat oleh Yang Mulia Ratu ?," tanyaku lagi ke Javier.

"Apa maksud perkataanmu ?," tanya Javier yang tampak kebingungan.

"Kau bilang kalo akademi ini hanya untuk bangsawan kan ? tapi Yang Mulia Ratu bahkan mengundang kami para rakyat jelata untuk mengikuti ujian masuk ini. Jika akademi ini memang khusus untuk bangsawan, lalu untuk apa kami diundang ? Apa kamu mau menentang peraturan yang dibuat Yang Mulia Ratu dengan perkataanmu itu ?," kataku kepada Javier.

"Rakyat jelata keparat, apa kamu berusaha mengancam ku ?," tanya Javier yang tampak kesal.

"Mengancam ? aku tidak punya kedudukan yang tinggi untuk mengancam Putra Marquess sepertimu. Aku hanya mengatakan fakta yang terjadi. Dan lagi coba kau bayangkan jika kamu menentang peraturan yang dibuat oleh Yang Mulia Ratu, apa yang akan terjadi dengan ayah mu itu ? apa dia akan kehilangan gelar Marquess dan gelar bangsawannya karena perkataan yang dilontarkan anaknya ? Jika iya, apakah kau sudah siap ? Untuk menjadi rakyat jelata seperti kami," kataku memprovokasi Javier.

"DASAR KAU RAKYAT JELATA KURANG AJAR !!," kata Javier sembari mau memukulku.

"Sudah cukup, Putra Marquess," kata seseorang sambil menahan tangan Javier.

Ternyata itu Pangeran Charles yang menghentikan tangan Javier.

"Ugh, Pangeran," kata Javier.

"Bisa kau hentikan tindakanmu ini, tindakanmu barusan tidak mencerminkan apa yang harusnya para bangsawan lakukan," kata Pangeran Charles ke Javier.

"Tapi Pangeran, dia yang mulai lebih dulu," kata Javier.

"Aku sudah melihat masalahnya dari awal, kau terlalu ikut campur dengan makanan yang mereka pilih lalu memprotesnya. Mereka bebas memilih makanan yang mereka suka, tidak boleh ada yang memprotes bahkan merendahkannya. Apakah kau mengerti, Putra Marquess of Rovinj, Javier Buston ??," kata Pangeran Charles dengan tegas.

"Baiklah, saya mengerti Pangeran," kata Javier sambil membungkukkan kepalanya.

"Baguslah kalau kamu mengerti, silahkan lanjutkan untuk mengantri makananmu," kata Pangeran Charles.

"Baiklah, Pangeran," kata Javier menuruti.

Walau Javier terlihat menuruti perkataan pangeran tapi aku tahu dia masih mempunyai rasa dendam di pikirannya. Aku pun memutuskan melihat isi pikirannya.

"Rakyat jelata k*parat, lihat saja akan aku balas penghinaan ini," itulah yang terlintas di pikiran Javier.

"Tapi bukan kamu saja yang masih menyimpan rasa dendam wahai putra Marquess, aku pun juga masih menyimpannya. Apa aku harus mempermalukanmu di sebuah pertandingan ? Jika itu terjadi, aku akan menunjukkan kekuatanku kepadamu." batinku.

"Aku minta maaf ya pada kalian berdua, karena mengganggu kalian saat kalian mengantri makanan," kata Pangeran Charles kepada aku dan Noa.

"Kamu tidak perlu minta maaf Pangeran, kamu tidak salah satupun, yang harus minta maaf itu adalah dia." kataku ke Pangeran.

Tapi sepertinya dia tidak ada niatan untuk meminta maaf sedari awal.

"Begitu ya, karena makanan kalian sudah siap. Silahkan kalian lanjutkan untuk memakannya. Maaf sudah mengganggu waktunya," kata Pangeran dengan sopan dan sedikit membungkukkan kepalanya.

"Baiklah Pangeran, kami permisi dulu," kataku kepada Pangeran.

Kami berdua pun sambil membungkukkan kepala lalu segera pergi ke meja makan yang tersedia. Karena cekcok tadi, kami berdua pun menjadi pusat perhatian di kantin ini. Saat hendak menuju meja makan, aku sempat melihat Putri Chloe duduk di meja makan sambil melihatku. Saat tahu kalo aku juga melihatnya, Putri Chloe terasa malu tetapi langsung membungkukkan sedikit kepalanya. Entah itu sebagai permintaan maaf atau rasa hormat, jika itu permintaan maaf karena sedang melihatku harus tidak perlu karena peserta yang lain juga melihatku karena cekcok dengan Putra Marquess tadi. Jika itu untuk hormat, harusnya tidak perlu karena aku bukanlah orang yang mempunyai status bangsawan, kenapa seorang putri malah memberi hormat kepadaku. Entahlah, perilaku sang Putri itu sangat sulit untuk dipahami. Kami pun akhirnya duduk di meja makan dan segera memakan makanan yang kita pesan. Saat memakan pun kami juga berbincang-bincang.

“Pangeran Charles memang benar-benar keren ya, aku tak percaya kalau dia akan seangkatan dengan kita,” kata Noa kepadaku.

“Kamu benar, tidak banyak bangsawan-bangsawan yang punya sifat seperti Pangeran Charles. Harusnya para bangsawan itu meniru sifat dan sikap Pangeran Charles,” kataku menanggapi Noa.

“Kamu benar Rid, tapi aku penasaran jika tadi Pangeran tidak menghentikan Putra Marquess itu, apa yang akan terjadi ya ?,” tanya Noa kepadaku.

“Hmm ntahlah,” kataku menjawab Noa.

“Apa kamu yang akan dipukul oleh Putra Marquess itu atau kamu yang menyerang duluan Putra Marquess itu, ah sayang sekali aku tak bisa melihat kelanjutannya,” keluh Noa.

“Kamu seperti senang dengan keadaan seperti tadi,” kataku menanggapi Noa.

“Tentu saja, aku menantikan keadaan dimana bangsawan-bangsawan sombong tiba-tiba dipermalukan oleh rakyat jelata. Rasanya seperti aku akan menikmatinya,” kata Noa sambil tersenyum.

“Kalau kamu menantikan keadaan seperti itu, kenapa tidak kamu saja yang membuat keadaan seperti itu. Kamu menghadapi para bangsawan itu lalu mempermalukannya,” kataku.

“Tadi kan kamu menghentikan aku, Rid. Kalau kamu tidak menghentikan aku, mungkin aku sudah baku hantam dengan dia hahaha,’” kata Noa sambil tertawa.

“Benar juga tadi aku menghentikanmu, tapi jika kamu benar akan baku hantam dengan dia apakah kamu tidak takut jika dia mengganggu kehidupanmu. Kalau aku sih sudah terlanjur melakukannya tadi, jadi sepertinya aku sekarang sudah menjadi incarannya,” kataku kepada Noa.

“Jangan khawatir, kalaupun dia menggangguku, dia cuma akan menggangguku saja, tidak dengan keluargaku. Karena saat kamu masuk San Fulgen Akademiya, kamu tidak akan bisa keluar dari komplek akademi dan berkontak dengan orang-orang dari luar, kamu harus tinggal di asrama di dalam komplek akademi, dan untuk kebutuhan mu sudah ada di sekitar komplek akademi. Tapi itu untuk yang lulus tes masuknya sih, tapi mengingat status bangsawannya sepertinya dia akan lulus, jadi aku tak perlu khawatir jika dia tak lulus dan mengganggu keluargaku. Lagipula yang sekarang menjadi incarannya kan kamu, Rid, hahaha,” kata Noa sambil tertawa.

“Tertawalah sepuasmu,” kataku sedikit kesal.

-

Kami pun akhirnya selesai makan siang di kantin. Sembari menunggu pengumuman hasil ujian masuk yang pertama, kami pun memutuskan untuk menunggu di kantin saja sambil duduk di meja makan yang kita tempati tadi.

“Rasa karinya sangat enak ya, apa ini karena ku lapar atau karena gratis ya ?,” tanya Noa kepadaku.

“Mungkin karena keduanya,” jawabku.

Kondisi kantin mulai sepi karena sebagian besar peserta yang sudah makan memilih untuk meninggalkan kantin, mungkin mereka ingin berjalan-jalan melihat akademi. Saat ku sedang duduk santai, aku melihat ke sekeliling kantin. Dan aku melihat Putri Irene dan 2 orang yang menemaninya makan siang.

“Siapa yang menemani Putri Irene ? Apakah sang Putri es akhirnya mendapatkan teman pertamanya di ujian masuk ini ?,” pikirku.

Setelah ku perhatikan lebih teliti, ternyata yang menemani Putri Irene bukanlah manusia, tapi seorang Demi-Human rubah dan seorang Elf, keduanya adalah wanita.

“Demi-Human dan Elf ? Aku tahu kalau akademi ini juga mengundang peserta dari luar kerajaan San Fulgen, tapi tak kusangka ada Demi-Human dan Elf yang mendaftar dan lolos untuk ikut ujian masuk. Tapi aku tidak melihat mereka saat kumpul di lobi sebelum ujian dimulai,” batinku.

Aku terus melihat Putri Irene dan 2 temannya itu, sampai Noa pun juga penasaran dengan apa yang aku lihat.

“Apa yang kamu lihat Rid ?,” tanya Noa kepadaku.

“Aku sedang melihat putri Irene dan 2 temannya itu,” jawabku.

“Temannya ?,” Noa pun heran dan ikut melihat ke arah Putri Irene juga.

“Mereka kan!,” kata Noa sedikit terkejut.

“Apa kamu kenal dengan mereka ?,” tanyaku kepada Noa.

“Mereka itu asistennya sang Putri es, yah bisa dibilang juga kalau mereka itu temannya juga. Aku sering melihat dia jalan bersama kedua asistennya itu saat di kota San Lucia. Tapi aku terkejut melihat sang putri juga mendaftarkan asistennya ke akademi ini,” jawab Noa.

“Jadi mereka itu asistennya Putri Irene, kenapa aku baru melihat mereka sekarang ? Mereka tidak menemani Putri Irene saat di lobi tadi,” tanyaku lagi kepada Noa.

“Aku juga tidak tahu tentang itu, sepertinya mereka diberi tugas untuk mengawasi tempat lain,” jawab Noa.

Setelah kami berbincang tentang hal tadi, aku pun melihat lagi ke arah Putri Irene, dan kali ini Putri Irene juga melihat ke arahku. Sepertinya dia sadar kalau daritadi aku memperhatikannya, aku pun membungkuk ringan sebagai bentuk hormat. Karena aku tidak enak dilihat terus oleh Putri Irene, aku pun mengajak Noa untuk pergi dari kantin.

“Sepertinya sebentar lagi hasil ujian masuk yang pertama sudah keluar, bagaimana kalau kita pergi ke lobi,” kataku mengajak Noa.

“Benar juga, ya sudah kita pergi kesana saja,” Noa pun setuju.

Kami pun segera pergi dari kantin itu.

-

Sementara itu di tempat Putri Irene.

“Ada apa Nona ? Apa kamu tertarik dengan pria itu ?,” tanya sang asisten Elf ke Putri Irene.

“Ya kamu benar, aku sedikit tertarik dengan dia,” jawab Putri Irene.

“Heee apa yang dilihat dari pria itu sampai membuat sang Putri Es tertarik ? apa karena tadi dia berseteru dengan seorang putra dari Marquess,” tanya asisten rubah.

“Mungkin itu juga termasuk alasannya tapi, mungkin karena keberadaan dia, entah kenapa seperti berbeda dari orang lain,” kata Putri Irene,

“Jadi alasannya karena feeling Nona mengatakan begitu ya ?," tanya asisten Elf.

"Tadi aku lihat kalau dia juga sering memperhatikan Nona, apa mungkin dia tertarik juga dengan Nona ?," tanya asisten Elf lagi.

“Kamu benar, dia sering memperhatikanku tadi, tapi cara dia memperhatikan berbeda dari kebanyakan sampah yang memperhatikanku dengan memiliki maksud tersembunyi. Sepertinya dia punya alasan khusus tersendiri," jawab Putri Irene.

"Kalau tidak salah namanya adalah Rid Archie, seorang rakyat biasa dan yang bersama dengannya adalah Noa Sigisbert, kita dulu pernah bertemu dengannya saat berkeliling di San Lucia," kata asisten Elf.

"Rid Archie ya," kata Putri Irene.

"Apa perlu kami memata-matai dia, nona ?," tanya asisten rubah.

"Tidak perlu, aku merasa kalau kalian dapat mudah diketahui jika memata-matai dia, biarkan saja," kata Putri Irene.

"Baik, Nona," kata mereka berdua.

"Rid Archie ya, apa mungkin dia bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah "itu"," pikir Putri Irene.

"Tapi ya Nona, meski tadi kamu bilang kalau kamu tertarik dengannya. Kenapa kamu tidak tersenyum saat membahas dia ?," tanya asisten rubah.

"Apa aku harus tersenyum saat membahasnya ?," tanya Putri Irene.

"Uh tidak sih, kamu benar-benar seorang putri es, Nona," kata asisten Rubah.

"Haha," tawa kecil asisten Elf.

-

Kembali ke sisi Rid & Noa. Waktu sudah menunjukkan jam 12, sepertinya hasil ujian masuk tahap pertama sudah keluar.

"Ayo Rid bergegas, sepertinya hasilnya sudah keluar," kata Noa.

"Ayo Noa," kataku.

Kami pun berjalan cepat di lorong yang menghubungkan kantin dan bangunan administrasi. Setelah kami sampai di lobi bangunan administrasi, ternyata sudah banyak peserta yang mau melihat hasil tesnya. Kami pun segera menghampiri kerumunan itu. Mereka semua tampak terkejut dengan hasil tes itu.

"Aku pikir aku sudah menjawab semua pertanyaannya dengan benar, kenapa poin yang ku dapat bukan 100,"

"Aku juga tidak mendapatkan 100 poin padahal aku yakin kalau jawabanku sudah benar semua,"

"Kenapa cuma 1 orang yang berhasil mendapatkan 100 poin, dan bahkan orang itu bukan Pangeran dan Putri," kata mereka di kerumunan itu.

Aku penasaran apa yang mereka maksud dengan itu.

"Rid, apa kamu sudah melihat hasil ujiannya ?," Tanya Noa.

"Belum Noa, aku tadi masih kepikiran dengan yang mereka maksud,". jawabku.

"Sebaiknya kamu cepat melihat ke hasil ujiannya, Rid," kata Noa.

"Iya iya baiklah," kataku.

Aku pun langsung melihat ke arah kertas hasil ujian yang ditempelkan di papan pengumuman. Aku pun terkejut dengan hasil ujian itu.

Hasil Ujian Masuk Tahap Pertama-Ujian Quiz :

1. Rid Archie = 100 poin

2. Charles Estella San Fulgen = 95 poin

3. Chloe Estella San Fulgen = 95 poin

4. Irene Emerald San Lucia = 95 poin, dan seterusnya. Aku pun melihat hasil ujian sampe kebawah dan menemukan hasil ujian Noa yang memperoleh 95 poin juga.

"Hampir semua peserta mendapatkan 95 poin, Noa pun mendapatkan 95 poin. Aku tadi berpikir jika soal ini sangat gampang dan mungkin kebanyakan peserta bisa mendapatkan 100 poin. Tapi kenapa hanya aku yang mendapatkan 100 poin ?," pikirku.

"Apa ada soal yang jawaban aslinya hanya aku yang mengetahuinya ?," pikirku lagi.

-Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius berusia 18 tahun, terjebak dalam pusaran maut setelah menyaksikan pembunuhan cinta pertamanya oleh bos mafia, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai tersangka, Anne diculik Marcio ke Spanyol untuk dilatih secara fisik. Meski awalnya berniat membalas dendam dengan mendekati Marcio, Anne justru jatuh cinta. Konflik memuncak saat Iosef, musuh Marcio yang posesif, menyelamatkannya. Kini Anne tumbuh menjadi pembunuh tangguh yang harus memilih antara dendam atau komitmen hati.
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Jangan Rubah Takdirku
9.4
Kebahagiaan pernikahan muda Azalea dan Erik hancur saat Erik bertugas ke perbatasan. Setelah delapan tahun menghilang dan berjuang bangkit dari keterpurukan sebagai yatim piatu, Azalea sukses menjadi dokter berkat bantuan pamannya. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Erik yang kini bersikap dingin meski tatapannya masih penuh cinta. Di tengah luka lama dan rintangan keluarga, mereka berjuang menyatukan kembali asmara yang sempat padam demi kebahagiaan sejati.