Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Patah

Patah

Prisha Nayara adalah editor pemberontak di Papyrus, platform milik Manggala Abipraya Sastradinata yang dingin. Pertemuan si keras kepala dan pria tak acuh ini membawa mereka pada takdir yang terikat masa lalu. Keduanya menyimpan luka batin mendalam yang membentuk kepribadian mereka sekarang. Meski mulai saling menyembuhkan, tantangan dunia memaksa mereka berjuang lebih keras. Ini kisah cinta unik tanpa kata, tentang belajar mencintai diri sendiri demi pasangan.
Bab
Bagikan

Bab 3

DI sinilah dia sekarang, di sebuah hotel bintang lima yang pertama dia lihat dari dalam taksi. Tidur telentang menatap marah langit-langit kamar. Berkali-kali dia memukul ranjang empuk tak bersalah denga tangan terkepal. Jengah sendirian menahan emosi, dia menyambar ponsel. Mencari satu nama teman, lalu menelepon nama itu. Suara ingar-bingar entakan musik menyambutnya. Membuat Nayara bersemangat, langsung duduk bersila di ranjang.

“Woy, di menong?” tanyanya sambil berteriak.

“Tempat biasa. Lu ke sini ya.” Temannya balas berteriak dari seberang sana.

“Biasa yang mana, Nyong. Pangkalan lu banyak.”

“High Five.”

“Oke, gue ke sana sekarang.” Dia langsung melesat dengan hanya menyambar sling bag.

Tempat yang dia tuju adalah hiburan malam yang biasa dijadikan tempat mereka—dia dan teman-temannya—mencari hiburan. Dia sering ke tempat semacam ini. Baru mendekati lokasi saja adrenalinnya terasa melonjak. Dan ketika dia masuk disambut entakan musik, dia merasa inilah dunianya. Tak perlu lama mencari teman-temannya, dia tahu di mana mereka berkumpul di tiap tempat langganan mereka.

Melihat Nayara berusaha melewati tubuh-tubuh liat yang bergerak acak, tujuh tangan melambai bersemangat memanggil Nayara. Membuat Nayara mempercepat langkah meski itu berarti dia harus menerobos tubuh-tubuh orang lain.

Sebuah kursi sudah disiapkan untuknya. Nayara langsung membanting bokongnya ke kursi itu.

“Senep amat tu muka. Butuh setrika?” Seorang dari mereka menyambutnya.

“Biasa deh. Bonyok bkin ulah.” Nayara mendengus kesal.

“Kan sudah biasa, kenapa harus dipikirin lagi?”

“Kali ini luar biasa. Gue kabur dari rumah.”

“Hah? Gimana ceritanya?”

“Sudah ah.” Nayara melambai mengusir angin, “Gue suntuk, nggak mau bahas itu.”

“Oke, Darla…” Seorang teman yang lain langsung memeluknya dari belakang. “Minum dulu,” dia langsung menempelkan gelas cocktail di depan bibir Nayara membuat Nayara memundurkan kepala, menjauhi gelas itu. “Minum, biar tenang.” Dia masih memaksa sambil terbahak diiringi tawa lepas temannya yang lain.

Tangan Nayara melambai ke arah pelayan yang lalu lalang. “Soju leci.”

Pesanan itu membuat semua temannya terbahak makin keras.

“Nay, malu sama umur. Masa masih minum soju sih. Coba ini dong.” Lagi-lagi gelas cocktail mendekat ke bibirnya.

“Sumpah, gue nggak sanggup hang over.”

“Lu harus latihan. Naikin dikit-dikit lah. Kalau soju terus kapan naiknya.”

Pesanannya datang dan dia langsung menyesap minuman itu. Aroma dan manis leci menggoda lidahnya. Dan kandungan alkohol di dalamnya tetap membuatnya sadar meski agak melayang. Isi gelasnya belum kosong ketika ada yang menarik tangannya.

“Turun yuk,” ajaknya sambil terus menarik tangan Nayara.

Nayara menyesap santai sojunya. “Duluan gih, gue habisin ini dulu.”

“Oke.”

Dia sendirian sekarang mengisi meja itu. Diam melihat gerakan liar teman dan semua isi ruang, dia tak sadar ketika seorang lelaki mendekat.

“Turun yuk,” ajak lelaki itu.

Seorang lelaki muda dengan tampilan menggoda dan tatapan mengundang langsung duduk di sampingnya.

Dan tanpa berpikir panjang, Nayara menandaskan isi gelas dengan satu tegukan lalu membanting gelasnya ke meja.

“Ayo.” Dia langsung berdiri dan lelaki itu langsung merangkulkan tangan ke bahunya. Lalu berdua mereka menikmati musik dengan caranya. Bergerak liar terbahak dan bergembira. Alhokol dalam tubuhnya memang rendah, tapi untuk Nayara yang rendah itu sudah membuatnya agak melayang.

Agak melayang saja. Dia masih sepenuhnya sadar ketika lelaki itu makin berani dengan tubuhnya. Tangannya tak hanya melekat di bahu atau di pinggul Nayara tapi berusaha menggapai bagian yang lain yang lebih pribadi. Gerakan tubuhnya pun mendekat dan mengundang. Awalnya Nayara memaklumi, ini memang tempat manusia-manusia liar yang bebas di alamnya. Tapi ketika gerakan itu makin tak sopan, dia semakin jengah. Dan ketika tangan lelaki itu jelas meraba bokongnya, Nayara tidak bisa diam lagi.

PLAK.

Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki yang langsung berjengit terkejut. Lebih terkejut lagi ketika Nayara meninggalkannya sendirian di tengah lantai. Nayara langsung kembali ke meja. Tatapannya sempat melihat tajam dan marah ke arah lelaki itu. Tapi yang ditatap hanya mengedikkan bahu lalu pergi. Mungkin mencari mangsa baru. Hal seperti itu biasa saja. Mereka hanya saling menebar jala. Jika ada yang terjerat, selanjutnya terserah mereka. Jika ada yang tidak setuju, semua bisa saja terjadi termasuk penolakan ala Nayara tadi. Kejadian itu tidak menjadi adegan serius yang bisa mengalihkan perhatian yang lain. Semua tetap bersemangat bergerak. Hanya satu dua orang yang menoleh ke sumber suara tamparan, tak lama, mereka kembali ke pasangan masing-masing, melanjutkan hidupnya sendiri.

Melihat kejadian itu, teman-temannya langsung mendatangi Nayara.

“Kenapa, Nay?”

“Biasa lah. Tangannya terlalu aktif. Dikasih semeter minta sehektar.”

Seluruh temannya terbahak. Masing-masing mereka sudah menemukan pasangannya. Meski beberapa dari mereka baru saling kenal, tapi mereka sudah santai saling melekatkan tubuh.

“Orang baru tuh. Dia nggak kenal lu, Nay. Perawan High Five.” Ucapan dari salah satu temannya itu berhadiah toyoran sadis di dahinya dari Nayara.

“Nay, lu susah dapat cowok bener di tempat kayak gini. Lu cari di masjid sana.” Temannya yang lain ikut menanggapi.

“Gue nggak cari cowok woy. Gue cuma mau senang-senang. Eh, tu cowok mikir yang lain kali.”

“Lah cowok mah lihat cewek enak aja diajak turun ya mikirnya nggak jauh-jauh dari selangkangan buat ganti oli. Itu senang-senang ala cowok dan cewek. Tapi lu kan bukan salah satu dari gender itu. Lu kan Nayara.”

“Ck.” Nayara berdecak.

Yang lain terbahak.

“Perawan expert. Perawan High Five.” Seorang menepuk keras bahu Nayara.

“Sampai kapan tu segel mau dilepas? Gue kepo pengin tau cowok kayak apa yang bisa nembus lu.” Teman yang lain bersuara.

“Apaan sih!” Nayara makin jengkel. “Gue nggak butuh.”

“Lu belum rasain aja nikmatnya, Darla. Kalau sudah, lu bakal ketagihan dan bisa aja nyamber sembarang tongkat.”

“Kalau nggak ada, dildo pun jadi,” sambar yang lain.

Koor tertawa kembali terdengar. Mereka memang sering mengganggu Nayara dengan prinsipnya ini. Mereka menganggap Nayara terlalu kolot untuk ukuran mausia milenial. Nayara terlambat lahir satu abad.

Yang mereka tidak tahu adalah alasan kenapa Nayara seperti anti pada lelaki. Mereka memang temannya, tapi teman untuk bersenang-senang saja. Nayara tidak menceritakan semuanya. Yang mereka tahu hanya lapisan luar saja. Di dalam diri Nayara, apa pun itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. Nayara menyimpannya rapat. Dia menunggu seorang sahabat yang bisa menjadi tempatnya bercerita tentang gejolak jiwanya.

Jiwa yang tadi gelisah dan marah ternyata tidak menemukan ketenangan di tempat seramai ini. Membuat Nayara jengah.

“Gue cabut dulu ya.” Dia langsung berdiri.

“Lha, bentar amat. Lu tuh ke club, bukan ke toilet.”

“Gue ngantuk. Dagh.”

“Ya sudah, nanti gue yang traktir.”

Nayara melambai berterima kasih lalu pergi.

***

Kembali ke hotel, dia kembali melamun.

Now what?

Haruskah dia menyesali keputusan spontannya pergi dari rumah?

Bagaimana besok?

Pergi dari rumah berarti hidup sendiri dan itu berarti tidak boleh ada uang papa Jaya—Satria Jayantaka, abangnya—yang dia pakai. Bukankah selama ini dia membenci Mama yang tidak bisa lepas dari jerat suaminya hanya karena meteri?

Dia tidak mau menjadi seperti mamanya.

Dia harus bisa membuktikan dirinya bisa hidup tanpa uang dari papa Jaya

Bah!

Bahkan menyebutnya sebagai papanya sendiri pun dia enggan. Dia selalu menyebut Harsa dengan frasa itu, papa Jaya, papanya Jaya.

Alkohol yang dia minum memang berkadar rendah, dan itu membuat dia bisa tetap sadar memikirkan masa depannya di malam pertama dia memutuskna meninggalkan rumah papa Jaya.

Meninggalkan rumah berarti melepas kemewahan limpahan materi dari papa Jaya. Alangkah lucunya jika dia tetap menikmati harta papa Jaya sementara dia sudah keluar dari rumah itu tanpa izin.

Berarti tidak akan ada lagi kemewahan.

Menyadari itu, dia melayangkan pandangan ke seluruh ruang. Kamar mewah ini… harganya permalamnya bisa berarti makan berapa lama? Dia tidak tahu. Tapi dia yakin, harga kamar ini bisa ditukar ransum makan berhari-hari. Bahkan mungkin lebih lama jika dia bisa super berhemat. Dan bagaimana caranya berhemat jika seumur hidup dia tidak tahu bahwa kata itu diciptakan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Haruskah dia menyesali keputusannya? Lalu menggeret lagi kopernya melewati pintu rumah papa Jaya. Mendengar lagi suara-suara saling berteriak tak terkendali. Melihat lagi mamanya menangis seperti keledai bodoh yang jatuh berkali-kali di lubang yang sama. Merasai lagi atmosfer rumah yang penuh kehampaan dan terisi kekosongan. Hidup bersama dengan orang yang disebut keluarga dalam bangunan yang sama yang disebut rumah tapi saling abai nyaris tak mengenal satu sama lain.

Hidup yang seperti itu?

Kembali ke hidup yang seperti itu?

Sampai kapan?

Hah!

Mengingat itu, Nayara menegaskan hati. Itu tidak akan dia lakukan. Dia tidak akan kembali ke rumah dengan semua kemewahan yang ditawarkan papa Jaya. Dia lebih memilih berhemat sampai titik darah penghabisan daripada kembali ke neraka itu.

Lelah badan dan lelah berpikir dan merasai, Nayara jatuh tertidur saat menjelang pagi.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PGC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PGC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Jesslyn Terpaksa Menikah
9.1
Jesslyn menolak keras keinginan ayahnya untuk menjodohkannya secara sepihak. Di tengah luka hati yang belum pulih akibat baru putus cinta, ia justru dipaksa menikah dengan pria asing yang kabarnya sudah memiliki kekasih. Tanpa rasa cinta dan kepercayaan yang tersisa, Jesslyn harus merelakan masa mudanya demi rencana orang tua yang tak bisa ia hindari. Akankah pernikahan tanpa perasaan ini membawa kebahagiaan atau justru menambah penderitaan baru bagi hidupnya?
Sampul Novel Kasih Terlarang
9.0
Anna mempertanyakan kegigihan Keymal yang terus mengejarnya meski mereka terikat status sebagai saudara tiri. Keymal bersikeras membuktikan kesungguhan perasaannya, namun cara mencintainya yang cenderung memaksa justru menyiksa batin Anna. Di tengah dilema moral dan hati yang kelu, mampukah Anna luluh pada kasih sayang sang kakak? Kisah ini menyoroti konflik asmara rumit yang terhalang norma keluarga dalam sebuah hubungan yang dianggap terlarang.
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Kehidupan Riana mendadak kacau saat ia dipaksa menanggung konsekuensi atas tindakan sembrono papa mertuanya. Di tengah tekanan tersebut, ia mulai mencium gelagat aneh dari orang tuanya sendiri yang seolah mendukung situasi ini. Riana pun terjebak dalam teka-teki besar mengenai niat terselubung di balik sikap mereka. Apakah ada persekongkolan rahasia yang sengaja dirancang untuk menjebaknya? Kini ia harus mencari tahu kebenaran di balik drama ini.
Sampul Novel Menantu Miskin Itu Ternyata Sultan
8.7
Menyamar dengan penampilan lusuh, Gara yang sebenarnya adalah seorang miliarder memilih menikahi Mia. Gara tidak pernah peduli saat dirinya dihina, namun ia tidak tinggal diam ketika sang istri yang direndahkan. Demi melindungi Mia, Gara membawa istrinya pergi dan mengungkap identitas aslinya di hadapan semua orang. Pada akhirnya, adik ipar dan ibu mertuanya yang dahulu kerap meremehkan mereka harus berlutut dan menangis memohon maaf atas segala kesalahan masa lalu mereka kepada Mia.