Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Patah

Patah

Prisha Nayara adalah editor pemberontak di Papyrus, platform milik Manggala Abipraya Sastradinata yang dingin. Pertemuan si keras kepala dan pria tak acuh ini membawa mereka pada takdir yang terikat masa lalu. Keduanya menyimpan luka batin mendalam yang membentuk kepribadian mereka sekarang. Meski mulai saling menyembuhkan, tantangan dunia memaksa mereka berjuang lebih keras. Ini kisah cinta unik tanpa kata, tentang belajar mencintai diri sendiri demi pasangan.
Bab
Bagikan

Bab 1

GUNDUKAN tanah itu tentu masih basah. Bahkan petugas penggali kubur baru saja menancapkan nisan penanda makam. Dari namanya, jelas gundukan itu menyembunyikan jasad seorang wanita berusia menjelang empat puluh tahun. Setelah prosesi pemakaman selesai, satu per satu orang yang turut berduka pergi. Berpamit dengan wajah duka diiringi tepukan penyemangat ala kadarnya di bahu atau jabat tangan erat dan pelukan menguatkan. Semua pergi, hingga sisa empat orang lelaki. Seorang suami dan tiga anaknya yang berduka. Yang paling kecil berusia delapan tahun.

Bocah terkecil inilah yang wajahnya paling merana. Matanya bengkak, wajahnya sembab, hidungnya terlihat sangat merah di kulitnya yang putih. Tanpa malu dia menggosokkan lengan bajunya ke hidung untuk mengelap lendir. Wajahnya sangat berduka. Bahkan saat yang lain bersimpuh di sisi makam, dia masih memeluk nisan itu. Mengabaikan tanah merah basah yang mengotori baju dan banyak bagian kulitnya. Dia bahkan tidak peduli ketika wajahnya dipenuhi kotor tanah. Tak puas hanya memeluk nisan, dia memeluk gundukan tanah bersama taburan bunga sementara sebelah tangannya tetap memeluk nisan.

Isaknya masih terdengar. Isak yang sulit dihentikan tanda terlalu lama menangis. Sampai akhirnya ayahnya memaksanya berdiri dia terus memeluk gundukan tanah berpegangan pada nisan. Ayahnya menarik paksa pinggangnya sampai membuat nisan itu nyaris tercabut. Sampai akhirnya sang ayah berhasil mengangkat si bocah dan membiarkan sejenak anaknya kembali meraung di kaki kubur sambil dia sendiri mengatur napas.

Raungan merana bocah berduka itu membelah langit sore bersama semburat jingga di ufuk barat. Siapa pun yang mendengar raungan itu, mereka akan menolehkan wajah, ingin melihat siapakah yang sedemikian merana dipisahkan kematian yang pasti datang.

Dan hati siapa pun itu akan ikut teriris ketika melihat bocah lelaki kotor tanah merah meraung memanggil ibunya.

“Mama… Mama… Manggala ikut, Mama… Mama…”

“MAMAAA…. MANGGALA IKUUUTTT…” Dia kembali berteriak meraung tak peduli ayahnya mulai tak sabar dan menghardik sembunyi.

Tak bisa terus dibiarkan begini. Setelah menarik napas dan mengumpulkan tenaga, ayahnya menarik paksa si bocah lalu menggendongnya di pinggang. Bocah itu memberontak hebat dalam gendongan ayahnya. Kakinya bergerak-gerak kasar menendang asal ke segala arah tidak mau pergi dari makam. Teriakannya sepanjang jalan semakin menyayat hati. Tapi mereka sudah terlalu lama di makam ini. Langit sudah semakin meredup. Matahari sebentar lagi hilang. Dia bisa melanjutkan dukanya di mobil, di jalan, lalu berlanjut di rumah.

Dan itulah yang terjadi.

Kesedihannya tidak berakhir di makam itu. Selama ini hanya mamanyalah orangtua yang dia kenal. Papanya terlalu sibuk bekerja yang ketika pulang hanya menuntut laporan prestasi anak saja. Ketika mamanya pergi, dia begitu kehilangan sampai merasa dunianya hilang.

Dia memang merindukan mamanya, tapi anak sekecil itu sudah bisa merasai bahwa mamanya tidak akan pulang apalagi tergantikan. Termasuk ketika papanya datang memperkenalkan seorang perempuan cantik yang akhirnya dengan berat hati dia panggil Mama.

Kupanggil dia Mama, tapi dia bukan ibuku.

Anak kecil itu merasa ada yang salah. Bahkan mamanya belum genap dua bulan lalu pergi. Kenapa begitu cepat ibu pengganti datang? Dia tidak mau ibu pengganti. Dia mau ibuya tapi dia pun tahu ibunya tidak mungkin kembali, maka tidak usah beri dia ibu yang lain. Tapi bocah sekecil itu bisa apa? Bahkan dia tidak mengerti bahwa yang dia rasa adalah sebuah kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Dia hanya tahu bahwa dia kehilangan pegangan. Dan tanpa pegangan dia tumbuh sendiri dengan semua luka yang dia bawa. Sepanjang masa kecil dan remaja luka itu makin bertambah. Ketika lidahnya kelu, dia hanya bisa menutupi semua luka dengan diam yang sangat kental.

Anak kecil itu bernama Manggala Abipraya Sastradinata.

***

Tapi begitulah kehidupan. Memiliki roda yang terus berputar tanpa henti yang manusia sebut waktu. Tak peduli cerita apa pun yang terjadi di putaran rodanya, dia akan terus bergerak dengan kecepatan konstan. Membbuat ada kisah kematian dan ada cerita kelahiran.

Ada yang datang dan ada yang pergi.

Di waktu yang sama, saat matahari mulai lelah dan bersiap berganti tugas dengan bulan, dunia menghadirkan kisah lain. Senja yang tetap indah dalam lengkingan sedih seorang anak dan jeritan sakit seorang ibu. Hari yang meredup menjadi latar dua cerita di senja itu.

Memang selalu ada yang datang dan ada yang pergi.

Di saat seorang bocah kecil kehilangan ibunya, di tempat lain seorang anak lahir menyapa dunia. Anak perempuan dengan tangisan yang melengking kuat. Gerakan tubuhnya mantap. Semua tenaga kesehatan di ruang itu bersorak gembira dengan kedatangannya. Bayi itu sudah terlihat cantik meski baru melewati pintu ke dunia yang baru. Kepalan tangan kecil itu terus mengentak meninju, siap menghalau siapa pun yang mengganggunya menangis. Tangis yang bisa menutupi teriakan kesakitan ibunya yang berdarah-darah melahirkan dia. Tapi bukan sakit itu yang membuatnya berteriak. Teriakan itu hanya caranya menutupi kesedihannya. Kemarahannya. Kekecewaannya.

Ada luka lain yang membuatnya meraung keras. Berharap ini adalah akhir kehidupannya. Berharap dia bertukar nyawa dengan anak yang harus dia lahirkan.

Anak itu lahir lebih cepat dari rencana karena jiwanya begitu terguncang ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya berasyik masyuk dengan perempuan lain. Jadilah dia bersalin sendirian dengan hati hancur. Tak ada kebahagiaan ketika perawat menunjukkan anaknya yang begitu cantik dan sehat.

Yang dia rasa bukan bahagia. Yang dia rasa adalah sedih dan... benci…. Tapi ini bukan yang pertama, dan yang pasti dia yakin ini juga bukan yang terakhir. Masih akan ada kekecewaan lain yang harus dia rasakan jika dia masih bernapas.

Dia merasa tidak bisa menolak nasib, tidak bisa menolak jalan hidupnya. Dia tak mau lagi berharap lelaki yang dia sebut sebagai suami akan menjadi lelaki yang dia impikan. Dia tahu, pangeran berkuda putih itu bukan untuknya. Kekecewaan yang tidak bisa dia keluarkan pada lelaki itu ternyata membutuhkan tempat untuk bermuara. Dan yang ada hanya bayi merah kecil yang menangis ribut mengganggu heningnya.

Dia tak mau melihat bayinya sendiri.

Bayi itu akhirnya tumbuh sendiri hanya didampingi baby sitter yang berganti-ganti. Bayi itu tumbuh sehat dan kuat. Kehidupan batin yang keras tanpa bimbingan orangtua membuat dia menjadi pribadi yang keras. Tak ada yang bisa menghalangi keinginannya. Dia sekeras batu karang. Wajahnya yang cantik menyembunyikan dengan rapat kekerasan hatinya.

Bayi kecil dengan lengkingan yang keras, kepalan tangan kuat, dan gerakan mantap itu akhirnya diberi nama Prisha Nayara.

***

Dua nama yang akhirnya akan berkali-kali bersinggungan dalam kehidupan mereka selanjutnya.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Jesslyn Terpaksa Menikah
9.1
Jesslyn menolak keras keinginan ayahnya untuk menjodohkannya secara sepihak. Di tengah luka hati yang belum pulih akibat baru putus cinta, ia justru dipaksa menikah dengan pria asing yang kabarnya sudah memiliki kekasih. Tanpa rasa cinta dan kepercayaan yang tersisa, Jesslyn harus merelakan masa mudanya demi rencana orang tua yang tak bisa ia hindari. Akankah pernikahan tanpa perasaan ini membawa kebahagiaan atau justru menambah penderitaan baru bagi hidupnya?
Sampul Novel Kasih Terlarang
9.0
Anna mempertanyakan kegigihan Keymal yang terus mengejarnya meski mereka terikat status sebagai saudara tiri. Keymal bersikeras membuktikan kesungguhan perasaannya, namun cara mencintainya yang cenderung memaksa justru menyiksa batin Anna. Di tengah dilema moral dan hati yang kelu, mampukah Anna luluh pada kasih sayang sang kakak? Kisah ini menyoroti konflik asmara rumit yang terhalang norma keluarga dalam sebuah hubungan yang dianggap terlarang.
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Kehidupan Riana mendadak kacau saat ia dipaksa menanggung konsekuensi atas tindakan sembrono papa mertuanya. Di tengah tekanan tersebut, ia mulai mencium gelagat aneh dari orang tuanya sendiri yang seolah mendukung situasi ini. Riana pun terjebak dalam teka-teki besar mengenai niat terselubung di balik sikap mereka. Apakah ada persekongkolan rahasia yang sengaja dirancang untuk menjebaknya? Kini ia harus mencari tahu kebenaran di balik drama ini.
Sampul Novel Menantu Miskin Itu Ternyata Sultan
8.7
Menyamar dengan penampilan lusuh, Gara yang sebenarnya adalah seorang miliarder memilih menikahi Mia. Gara tidak pernah peduli saat dirinya dihina, namun ia tidak tinggal diam ketika sang istri yang direndahkan. Demi melindungi Mia, Gara membawa istrinya pergi dan mengungkap identitas aslinya di hadapan semua orang. Pada akhirnya, adik ipar dan ibu mertuanya yang dahulu kerap meremehkan mereka harus berlutut dan menangis memohon maaf atas segala kesalahan masa lalu mereka kepada Mia.