
Pasutri Jadi-Jadian
Bab 2
Jaka Wibawa. Daya tariknya memang sudah bawaan orok. Tak heran begitu lahir jadi rebutan mbak-mbak perawat yang ingin menggendong duluan. Pipi gembulnya jadi bahan cubitan. Tangisnya yang kesakitan justru jadi hiburan. Sampai-sampai rumah sakit melarangnya pulang bukan karena telanjur sayang, tapi orang tuanya belum lunas membayar tagihan melahirkan. Begitulah drama kehidupan menyambutnya.
Meskipun kondisi finansial keluarganya pasang surut, tapi ketampanannya tidak. Justu cakepnya makin jadi dan bikin kepincut orang-orang yang melihatnya. Bikin susah kedip. Bikin ngompol anak-anak perempuan yang niatnya kebelet mau ke WC tapi tak jadi karena masih ingin menatap anak pindahan dari SD Jakarta itu.
Saat semua anak perempuan dibuat gugup kala anak pindahan itu menanyakan letak alun-alun tempat festival layangan, Nuning justru langsung memalaknya. “Wani piro?” tanyanya seraya menadahkan tangan.
Jaka yang lugu langsung menyerahkan uang jajannya, bikin mata Nuning seketika ijo. Dipandanginya anak baru itu dari kepala sampai kaki, dari kaki balik ke kepala. Lalu Nuning menyeringai bagai serigala yang baru saja menangkap kelinci tanpa usaha.
Nuning mengipaskan selembar lima ribuan di tangannya itu, kemudian mengantonginya sambil berkata, “Ikuti aku!”
Nuning mengajak Jaka melewati sawah, menyeberangi kali, memutari kampung. Sampai dengkul Jaka hampir copot baru dia membawanya ke alun-alun. Esoknya, Nuning minta jatah jajan lagi atas jasanya membawa Jaka jalan-jalan kemarin.
Begitulah perkenalan mereka dimulai beberapa tahun lalu di kelas 4 SD. Perkenalan yang bikin Jaka sebal sekaligus terkesan. Sejak saat itu, ia ditakdirkan duduk sebangku dengan Nuning selamanya. Sampai lulus SD, SMP, dan sekarang di kelas sebelas SMA pun mereka masih sebangku.
Jangankan PR, setiap ulangan Nuning mencontek habis-habisan pekerjaannya. Kalau soal itu sih tak masalah. Nuning bisa mencuri hasil pikirannya, tapi kan tak bisa mencuri otak pintarnya. Tapi yang memalukan, ketika ada sidak Nuning buru-buru memasukan salah satu komiknya ke dalam tas Jaka sambil mengedip, “Nitip dong,” bisiknya menyebalkan.
Jaka pun cuma bisa pasrah terima nasib ikut digiring ke ruang BP. Dia bingung saat Pak Jono melotot membuka lembar demi lembar komiknya Nuning. Padahal kan cuma komik? Mana tahu dia kalau di dalam komik itu si Wonder Woman-nya lagi telanjang!
Pak Jono mengurut jantungnya yang nyaris kendor. Lalu menyodorkan komik itu ke muka Jaka dengan geram. "Apa-apaan ini?" omelnya.
Jaka seketika syok, tanpa mampu berdalih. Iapun ikut menanggung akibatnya, dijemur di lapangan sampai kering. Sampai kulit putih mulusnya jadi buluk keseringan menemani Nuning dapat hukuman dijemur.
Jaka tak peduli lagi akan nama baiknya yang sudah hancur lebur di sekolah, jika memang itu harga yang harus dibayar sebagai sahabat. Bagaimanapun Nuning telah membuat hidupnya berwarna dan banyak tawa. Main bersama Nuning sering menggenjot adrenalinnya yang sudah lama tertidur pulas. Jaka seperti kembali menemukan dirinya.
“Ngapain pake beli? Petik aja sendiri, di kebun banyak tuh!” kata Nuning dulu ketika Jaka disuruh bibinya membeli mangga.
“Kebunmu?”
“Bukan. Kebun oranglah,” sahut Nuning santai banget.
“Itu mah namanya nyolong.”
“Ya emang,” sahut Nuning lagi-lagi santai dan bikin Jaka memucat. Dia belum pernah mencuri seumur hidupnya.
“Ntar kalau ketahuan gimana?”
“Ya jangan sampai ketahuan dong.”
“Kalau ketahuan?”
“Ya kaburlah.”
“Kalau ketangkap?”
“Ya minta maaf.”
“Kalau nggak dimaafin?”
“Ya itu urusan mereka sama Tuhan, yang penting kan kita udah minta maaf.”
Jaka menelan ludah. Memandangi Nuning yang masih belum mengganti seragam merah-putihnya, agaknya malah belum pulang ke rumah sejak dari sekolah.
“Mau nggak?” desak Nuning bagai setan penguji iman, bikin Jaka bimbang.
“Sini duitnya, beli sama aku aja!” Nuning menadahkan tangan.
Jaka pun menyerahkan uangnya dengan sedikit gugup.
“Tunggu sini. Bentar lagi aku balik,” janjinya sambil mengedipkan sebelah mata.
Benar saja, tak sampai setengah jam, Nuning kembali dengan mangga curiannya. Besar-besar. Wangi menggiurkan karena matang pohon. Bikin Jaka penasaran, segampang itukah nyolong?
“Ning, pernah ketangkep nggak pas nyolong mangga?”
“Jangankan ketangkep, dikejar Mbah Surip pake celurit juga pernah.”
Dikejar pakai celurit?" Jaka memucat. “Kok kamu nggak kapok, Ning?”
“Karena aku bukan pengecut! Lagian ketangkep sama lolosnya lebih banyakan lolosnya, kok. Kalau udah biasa, nanti lama-lama kamu bakalan ahli kayak aku juga. Semua itu cuma soal jam terbang.”
“Nggak takut dosa?”
“Takut itu sama Tuhan, ngapain takut sama dosa?”
“Kalau dosa ntar masuk neraka!”
“Makanya itu habis dosa lekas tobat, biar catatan dosanya dihapus sama malaikat.”
“Terus habis itu nyolong lagi? Percuma dong tobat!”
“Percuma itu kalau ngomong sama kamu! Bilang aja kalau kamu takut? Nggak punya nyali.”
Nah! Ngomong sama Nuning memang seperti ngomong sama tembok. Makin Jaka ngegas, makin kejedot sendiri.
***
“Apa? Komik porno??”
Bu Parmi mengelus jantungnya yang nyaris loncat biar tak ngesot-ngesot ke lantai begitu mendengar laporan Bambang. Dia tak punya jantung cadangan. Meskipun jantungnya yang ini sudah beribu-ribu kali terkena guncangan berita tak enak perihal anak gadisnya, dia berusaha bertahan. Demi keselamatan hidupnya. Bu Parmi belum siap diabsen malaikat pencabut nyawa dengan membawa laporan gagal mendidik anak gadis satu-satunya. Amanatnya sebagai orang tua.
Bu Parmi mengelap keringat dengan tangan gemetaran. “Sejak kapan dia punya komik porno?” keluhnya pada Bambang yang mukanya tak kalah kisut dari emaknya.
“Ya meneketehe,” cebik Bambang dengan bahu berkedik. Masih bete. Dia sudah terlalu sering dipanggil menghadap kepala sekolah gara-gara adiknya yang gesrek! Kalau soal kebiasaan adiknya lompat pagar, dia masih bisa mengusulkan agar Nuning didaftarkan menjadi tim atletik sekolah cabang lompat tinggi. Tapi kalau urusan komik porno? Bambang mati kutu. Aib ini mah, aib!
Sementara yang lagi kena kasus malah tak tahu kemana juntrungannya. Bambang tak melihat batang hidungnya di sekolah. Padahal tadi Nuning pamit pagi-pagi berangkat duluan. Nyangsang ke mana adiknya? Ah. Bodo amat. Palingan kalau tidak sedang memancing, mungkin menebang bambu buat bikin layangan sama Jaka. Soalnya Bambang juga tak melihat cowok jangkung itu di sekolah. Memikirkan Jaka, terbersit iba dalam hatinya. Kasihan, ganteng-ganteng kok ketularan koplak!
Pihak sekolah sepertinya sudah bosan memberi hukuman skors buat Nuning, bukannya bikin jera tapi malah bikin anak itu senang. Tak kena skors saja sudah rajin membolos kok. Untung raport Nuning masih bagus, sekolah masih sayang mengeluarkan dia. Tak tahu saja kalau nilainya itu hasil mencontek total pekerjaan Jaka.
“Pak! Nuning baca komik porno, Pak!” lapor Bu Parmi nggak tahan lagi. Kali ini dia menyerah suaminya yang tampangnya angker itu mau berbuat apa. Mungkin itu anak perlu dipentung bapaknya sekali-kali, biar otaknya yang menceng bisa lurus lagi.
Tapi. Diluar dugaan. Pak Priyo justru terkekeh. “Biarin, Mak. Kemajuan itu namanya.” Lalu dia membuka catatan utangnya. Soalnya habis gajian, saatnya menunaikan kewajiban membayar tagihan di warung kopi langganan.
Jawaban suaminya bikin Bu Parmi merem melek tak percaya. “Bapak ini gimana sih?! Kemajuan apanya? Dulu aku dipanggil sekolah mulu karena anaknya sering tawuran, sekarang komik porno! Punya anak gadis baca komik porno kok dibilang kemajuan?!” cerocosnya seperti mercon tahun baru, ramai tak habis-habis.
Kalau rajin mengaji itu namanya kemajuan. Lah, ini boro-boro ngajinya benar, yang ada malah jadi biang kerok di masjid karena suka menukar-nukar pasangan sandal jamaah. ‘Jabang bayik, punya anak gadis satu aja kok begini banget!’pikir Bu Parmi ngenes.
“Artinya dia sudah memahami fungsi kelaminnya, Mak,” sahut Pak Priyo sambil meraih cangkir kopi lalu menyesapnya dengan nikmat.
Jawaban macam apa itu? Bu Parmi ingin mencakari tembok saking gusarnya.
“Lah, kemarin siapa yang ribut mikirin takut Nuning nggak bisa kawin? Emak sendiri tho? Kalau anaknya sendiri nggak sadar dia itu laki apa perempuan, gimana mau kawin?”
“Buapaaakkk!” Bu Parmi kejang-kejang.
Padahal yang lagi bikin pusing santai saja selonjoran di gubuk tepi sawah. Leyeh-leyeh membaca komik Superman, tapi Superman betulan yang pakai sempak ketat diluar bajunya, tidak telanjang. Sedangkan si Jaka di sebelahnya sedang mengulur tali layangan. Menatap puas ke angkasa, bangga melihat ular naga panjangnya menari-nari di udara.
“Jak, udah bayar buat study tour belom?”
“Belum, ini lagi ngumpulin duitnya,” sahutnya sambil menatap lagi layangan ular naga panjangnya. Pesanan khusus anak kampung sebelah buat gacoan lomba.
“Sekalian bayarin ya,” ucap Nuning yang dijawab Jaka dengan menjitak kepalanya.
"Ngomong kok kayak kentut. Bikin eneg!"
Nuning meringis jengkel lalu balas menendang bokongnya. Jaka oleng dan nyebur ke lumpur sawah kemudian ngomel-ngomel. Tapi seperti biasa cewek itu cuek saja dan membaca komiknya. “Emang susah ya nggak punya duit gini. Aku jadi ngiri sama Tante Beti, duitnya banyak sehabis kerja di Jakarta. Di sini bisa dapat kerjaaan apa coba? Bosen aku hidup di kampung mulu,” gerutunya.
Jaka tertawa sambil melepas celana panjang abu-abu seragamnya, menyisakan kolor yang menempel di badan atletisnya, tapi sama sekali tak pernah bikin Nuning ngiler. Sebab di matanya, Jaka itu bukan seorang cowok, melainkan ‘a partner in crime'. Dan bagi Nuning, mangga Mbah Surip lebih menggairahkan ketimbang cowok.
“Emangnya nyari kerja di Jakarta gampang? Di sana juga banyak pengangguran. Saingan kerja banyak,” kata Jaka sambil nyebur kali, mengucek celananya yang kotor. Lalu dia memerasnya, dan menjemurnya di atap gubuk. Kemudian Jaka duduk bersila di samping Nuning yang mulai tak fokus mengikuti adegan Superman berkelahi dengan penjahat. Toh dijamin pasti menang. Nuning pun menutup komik dan duduk bersila menghadap Jaka.
“Jakarta kek gimana sih?” selidiknya dengan bola mata membesar.
“Di Jakarta, mana bisa kita nyolong mangga kek gini. Karena nggak ada kebun yang bisa dijarah. Rawa-rawa udah pada diuruk jadi perumahan, nggak bisa buat mancing lagi. Di sana juga nggak ada yang gratis, kencing aja bayar. Modelmu gini, mana bisa hidup di sana.”
Nuning menghela napas panjangnya yang terasa berat. Mungkin karena pertama kalinya serius mendengarkan Jaka. Pikirannya menolak percaya begitu saja, terlebih sinetron-sinetron suka menyuguhkan budaya hedon yang telanjur menyusupi khayalannya.
“Kapan kamu balik ke Jakarta, Jak?”
“Ntar, kalau udah lulusan.”
“Aku ikut!”
Seketika, Jaka terbatuk-batuk kaget dan merasa ngeri.
***
Anda Mungkin Juga Suka





