Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pasutri Jadi-Jadian

Pasutri Jadi-Jadian

Jaka dan Nuning adalah sahabat masa kecil yang sangat berbeda. Jaka tak pernah sudi menikahi Nuning yang dianggapnya aneh. Namun, Nuning mendadak minta dinikahi agar bisa merantau ke Jakarta bersamanya. Meski Jaka mati-matian menghindar hingga Nuning hampir menyerah, Jaka tiba-tiba muncul dan setuju untuk menikah. Nuning yang ambisius tak peduli apa alasan di balik perubahan sikap Jaka, baginya yang terpenting adalah menikah sekarang dan urusan cinta belakangan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Jaka tak habis pikir Nuning habis kesambet apa. Tiba-tiba ngebet banget ingin pindah hidup ke Jakarta. Jangankan minggat ke ibukota negara, menginap melewati batas kecamatan saja dikejar Pak Priyo pakai pentungan kok. Meskipun otaknya gesrek dan kelakuannya melenceng, tetap saja orang tua Nuning peduli dan menyayanginya. Apalagi dia anak gadis satu-satunya.

Masalahnya justru Nuning yang tak mengerti sedang disayang. Makin dilarang, malah makin ngebet ingin minggat.

“Pokoknya, aku mau ikut kamu ke Jakarta. Titik! Bosen akutuuu, sejak lahir sampe segede ini hidup di kampung. Bisa mati engap aku makan buah colongan mulu. Aku juga kan pengen ngerasain makan pizza, makan steak, makan donat yang macem-macem toppingnya kayak yang sering nongol di TV. Pengen mejeng di mall, bukannya nongkrong di sawah mulu liat kebo sama bebek,” oceh Nuning merutuki nasib. Kebanyakan membayangkan wajah ibukota yang gemerlap dan menjanjikan kesenangan dalam pikiran sederhananya.

Mungkin kesenangan sebatas perut itu receh bagi orang lain, tapi penting bagi Nuning. Mumpung giginya masih utuh, mumpung indera pengecapnya masih berfungsi optimal. Bayangin kalau sudah uzur macam Mbah Surip terus disodori pizza sama steik? Pasti bagi orang-orang tua itu masih lebih enak singkong yang direbus sampai lembek, biar makannya tinggal telan karena giginya sudah pada habis.

Nuning tak mau nasibnya seperti Mbah Surip, yang dari zaman Belanda sampai zaman Indonesia merdeka puluhan tahun, makannya masih saja singkong, mentang-mentang tinggal mencabut di kebun. Mumpung Nuning masih muda harus banyak mencicipi yang enak-enak. Anak muda bersenang-senang itu wajib hukumnya. Kalau sudah tua baru senang-senang, keburu kena rematik, nggak asyik!

Toh, Nuning ingin senang-senang dari hasil keringatnya sendiri. Tak minta jatah duit dari emak-bapaknya. Dia siap menghadapi tantangan kerja. Dia tak takut dengan ibukota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Dengan ibu sendiri yang bisa bikin kualat saja Nuning tak takut kok, apalagi dengan ibukota yang tak pernah melahirkan dirinya.

Jaka mencebik. Dia sudah pernah hidup di Jakarta. Pernah menjelajahi kota besar itu dengan kaki kecilnya yang telanjang. Bersama ibu yang tiga hari terseok-seok sepanjang jalan, menuntun tangan kecilnya tanpa arah tujuan.

“Minta antar aja sama bapakmu, apa masmu. Masa aku?” ujar Jaka.

“Tapi yang tahu Jakarta kan kamu. Yang bakal tinggal di Jakarta juga kamu. Bukan bapakku, apalagi Mas Bambang yang cita-citanya aja kerja di tambak udang,” sahut Nuning ngeyel tiap Jaka mengelak diikuti.

Jaka jadi jengkel. Nuning tak asyik diajak main lagi. Umpan di kailnya jadi utuh, mungkin ikan-ikan pada ngacir karena budeg mendengar suara berisik Nuning yang membahas Jakarta melulu tiap mereka lagi mancing.

“Udahlah nggak usah bahas Jakarta terus. Lulus dapat ijazah aja belum kok.”

“Janji deh, nggak akan nyolong lagi kalau kamu bawa aku ke Jakarta. Aku tobat. Mau cari kerja yang halal. Ngumpulin duit yang banyak buat nyenengin Emak sama Bapak. Biar mereka nggak nyesel udah ngijinin aku kerja di sana. Sumpah!”

Bukannya tersentuh mendengar janji Nuning yang bisa mengundang geledek di siang bolong, Jaka malah terkikik sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Habis makan apa si Nuning? Kok tiba-tiba waras begini? Tapi kalau anak ini waras, siap-siap saja sebentar lagi gempa bumi. Tanda-tanda mau kiamat.

Si emak juga sama saja tak asyik seperti Jaka. Begitu Nuning bilang ingin kerja di Jakarta, matanya seketika melotot sebesar biji duren. “Siapa yang mau ngawasin kelakuanmu di sana? Di kampung aja udah bikin jantung Emak mpot-mpotan kok. Nggak usah aneh-aneh, di kampung aja udah! Ngapain kerja ke Jakarta segala? Cari nafkah urusan bapakmu. Kamu mau makan sebakul, Emak masih sanggup masakin.”

Nuning manyun. Dih! Bohong bangeeet, yang suka bikin kepalanya benjol kalau dia menghabiskan isi magic com itu siapa? Lagipula, memangnya hidup cuma buat makan nasi? Dia kan ingin makan enak. Dan makanan enak yang penampakannya aneh-aneh macam di TV itu adanya di kota macam Jakarta. Di sana apa saja juga ada. Asal punya duitnya. Makanya Nuning ingin kerja di sana sambil menikmati hidup enak sebaik-baiknya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Mandiri gitu loh. Kerja di Jakarta gajinya kan gede katanya.

“Hidup di Jakarta itu nggak seindah yang kamu lihat di tivi, Nduk,” emaknya menasihati seakan bisa mendengar isi pikiran Nuning.

“Ah, kayak emak pernah hidup di Jakarta aja.”

“Sembarangan kalau ngomong. Gini-gini emakmu pernah jadi pembantu di Jakarta sebelum nikah sama bapakmu!”

“Dih, pernah jadi pembantu bangga. Bangga tuh kalo pernah jadi artis!” cebik Nuning yang seketika mengaduh sakit saat Bu Parmi mencubit bibirnya yang dimonyong-monyongin buat meledek.

“Sampai kapan aku hidup sama emak terus?” rengeknya sambil mengupas bawang. Bikin Bu Parmi menengok ke jendela. Takut tiba-tiba hujan badai karena tumben-tumbenan Nuning membantu pekerjaan dapurnya.

“Ya sampai kamu kawinlah! Sampai kamu punya suami yang jagain kamu, yang bisa kasih kamu makan. Kalau sudah kawin, kamu mau ke mana kek, asal sama suamimu, ya terserah.”

Nuning memutar bola mata sambil memonyongkan bibir. Mencari suami kok seperti mencari tukang gembala yang tugasnya menjaga dan memberi makan kambing saja. Uh. Cuma izin kerja ke Jakarta tapi ribetnya seperti minta warisan saja!

“Tapi, Mak, lihat tuh tetangga-tetangga kita yang anaknya pada kerja di Jakarta. Hidupnya pada enak kan sekarang. Bisa beliin bapaknya motor yang bagus. Bisa beliin emaknya tivi yang layarnya datar, nggak gembrot kayak tivi kita, kayak perut emak!”

Kurang asem! Itu mulut apa petasan cabe? Ngomong sama orang tua kok seenak jidatnya aja. Bikin Bu Parmi sewot sambil diam-diam mengempiskan perutnya dengan cara menarik napas dalam-dalam terus melipir ke kamar. Dia mengambil stagen, melilitkan ke perut, dan  mengikatnya kencang-kencang. Lalu melirik bayangan perutnya yang menyedihkan di cermin dengan muka masam.

***

Bambang lulus SMA dan diterima kerja di tambak udang sesuai harapannya. Tak lanjut kuliah karena kondisi ekonomi. Giliran Nuning yang sebentar lagi menghadapi ujian negara. Tapi bukannya fokus tentang ujian, pikirannya justru dipenuhi dengan Jakarta. Nuning tak mau terjebak seumur hidupnya di kampung yang sering mati lampu, minim hiburan, miskin uang jajan. Tak banyak pula pilihan kerjaan. Ditambah sahabat karibnya balik ke Jakarta begitu lulus SMA. Ngeri. Ditinggal pergi Jaka rasanya lebih horor daripada film Suzana beranak dalam kubur. Menghabiskan hidup di kampung sampai tua tanpa teman bermain seasyik Jaka? Ini sih sama saja kiamat sebelum waktunya!

“Nikah, yuk!”

Ucapan Nuning yang tak masuk akal bikin Jaka terbatuk-batuk. Es teh dimulutnya menyembur membasahi baju seragamnya. Ajakan Nuning bagai geledek di siang bolong, menyambar kuping dan mengoyak ketenangannya. ‘Kesambet apa lagi bocah gendeng ini?’ pikirnya horor.

“Emang udah telat berapa bulan?” seloroh Jaka sambil mengunyah pentol baksonya dua sekaligus hingga pipinya menggembung penuh. Masa bodoh lirikan abang bakso yang tiba-tiba kepo, siap-siap menangkap gosip besar, yang bisa mengguncang seisi kampung kalau disebarkan. Ya kali saja bisa bikin warung baksonya ikut viral menarik pelanggan.

Nuning manyun sambil mengaduk es tehnya. “Soalnya sama emak aku nggak boleh ninggalin kampung kalau belum kawin. Padahal aku kan pengen kerja di Jakarta. Makanya itu,” Nuning lalu terdiam dan cengar-cengir menatapnya.

“Apaan?” Jaka mulai mengendus keanehan. Bulu kuduknya merinding melihat cengiran Nuning macam itu. Horor. Lebih horor ketimbang mencium wangi kembang melati tengah malam.

Nuning berkedip-kedip macam orang kelilipan. “Makanya, nikahin aku,” rengeknya sambil mengatupkan kedua tangannya, memohon.

“Ogah!” ketus Jaka sembari melengos. Menikahi Nuning? Yang benar saja!

Ditolak dengan kecepatan cahaya sedemikian rupa bikin ego Nuning sebagai perempuan sakit juga. Dicubitnya pinggang Jaka yang langsung melolong minta ampun. “Pokoknya kamu kudu tanggung jawab!” bentaknya berubah garang, bikin si abang bakso makin memanjangkan kuping.

Jaka mengusapi pinggangnya yang panas. “Duh! Nggak kebayang aku kawin sama kamu, bisa ditindas seumur hidupku,” keluhnya menahan sakit. Cubitan cewek scorpio satu ini memang tak pernah main-main.

“Siapa yang mau menindasmu? Aku kan cuma minta dinikahi biar sah aja. Ntar aku bisa nyari makan sendiri, nggak minta kamu. Yang penting... habis nikah, kamu kudu bawa aku ke Jakarta, pokoknya bawa aku pergi dari kampung!” cerocosnya.

Abang bakso yang asyik menguping merasa ngenes. Lalu mengkhayal. Andai saja ada perempuan muda dan semanis Nuning ngomong begitu padanya, dia tak bakal pikir panjang lagi. 'Enak tho punya istri yang nggak minta dinafkahi?' Tak superti istrinya di rumah yang selalu mengeluh uang belanja kurang, tapi saban ke pasar beli daster. Beli lingerie kek! Boro-boro beli sempak buat suaminya, padahal sempaknya sudah pada bolong karena otot pantatnya bekerja keras setiap hari mendorong gerobak baksonya melewati banyak tanjakan.

“Ogah!” Jaka mengelak.

Nuning mengatupkan kembali kedua tangannya lebih erat. “Plissss,” rengeknya dengan memasang tampang memelas. Melirik abang bakso yang makin kepo. Lalu melirik lagi pada Jaka yang asyik mengunyah pentol bakso. “Mau kugugurin aja nih?” ucapnya mengada-ada sambil akting mengusapi perutnya yang buncit karena kekenyangan.

Jaka mendengus lalu menjitak kepala gadis itu. Hilang sudah selera makannya gegara tingkah absurd Nuning yang mulai kelewatan.

“Berapa semuanya, Bang?’ tanya Jaka pada abang bakso sambil mencantelkan tas ranselnya ke bahu. Kemudian merogoh saku dan membayar sejumlah harga yang disebut si abang. Mengabaikan Nuning yang merengek di belakangnya minta ditunggu, tapi sempat-sempatnya menyikat habis dulu sisa mie dan kuah di mangkuk Jaka. Padahal tadi  sudah menghabiskan semangkuk mie ayam plus tambah lagi dua mangkuk.

“Jakaaaaa. Nikah, yuuuuk!” panggilnya bikin malu.

Jaka pun lekas ngibrit. Lari tunggang langgang. Nuning mengejar sambil melemparinya dengan buah mahoni yang berserakan di tepian jalan. Tapi Jaka gesit menghindar dan Nuning jadi semakin kesetanan mengejar. Dua remaja absurd itu pun kejar-kejaran di siang bolong. Bikin iri kambing tetangga yang diikat di bawah pohon, ingin bebas lari-lari juga.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FTD" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FTD
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Dia, dan Bekas Pacarmu
8.3
Kehidupan Maya yang stabil bersama Dito mulai goyah sejak Rian menjadi tetangga barunya. Kedekatan Maya dengan Rian yang penuh kehangatan memicu kecurigaan Dito hingga menciptakan konflik hebat. Terjebak rasa bersalah dan cinta baru, Maya akhirnya meninggalkan Dito demi Rian. Namun, hubungan baru ini membawa konsekuensi berat berupa stigmatisasi sosial. Mereka harus berjuang menghadapi beban moral atas pilihan tersebut dalam drama cinta yang penuh dilema.
Sampul Novel Apakah Ini Cinta?
8.1
Terjebak dalam pernikahan sepuluh tahun bersama Tristan, seorang miliarder posesif dengan sindrom Jacob, sang istri hidup dalam pengawasan ketat dan gelang pelacak. Meski sangat mengekang, Tristan selalu melindunginya dari siapa pun yang merendahkannya. Demi mendapatkan cinta sang istri, Tristan bahkan melakukan vasektomi reversal hingga sang istri hamil tiga bulan. Namun, badai datang saat kakak Tristan dan teman masa kecilnya datang menyerang dengan tuduhan perselingkuhan palsu. Di tengah kondisi sekarat akibat keguguran yang dipicu oleh penganiayaan mereka, Tristan tiba dan dihadapkan pada bukti fitnah yang dirancang untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Godaan Desah Majikan
8.1
Kisah romansa modern ini menyajikan narasi provokatif yang secara spesifik ditujukan bagi pembaca dengan pengalaman masa lalu dalam pengkhianatan cinta. Melalui alur yang emosional, cerita ini menggali sisi gelap hubungan antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi pusat konflik utama. Sebuah bacaan dewasa yang mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit dikendalikan di tengah komitmen yang seharusnya dijaga.
Sampul Novel Hari-Hariku Jadi Ibu Susu untuk Konglomerat
9.7
Kejadian tak terduga di pesta kantor mengubah nasibku ketika bos suamiku mengetahui kondisiku dan memaksaku menjadi ibu susu di rumahnya. Di bawah tekanan kekuasaan sang konglomerat, aku tidak mampu melawan. Hubungan rahasia ini kian tak terkendali saat dia menyelinap ke kamarku di tengah malam. Terjebak dalam keintiman yang rumit, aku segera menyadari bahwa permainan sang miliarder menyimpan kenyataan yang jauh lebih gelap dari yang kuduga.
Sampul Novel Ibu Angkat Psikopat
8.5
Diadopsi bersama kembarannya yang rupawan, sang protagonis mengira kehidupan barunya akan normal. Namun, rahasia kelam keluarga angkatnya terbongkar saat ia menyaksikan putra ibu angkatnya, Donny, melecehkan kakaknya demi menghasilkan plasenta. Sang ibu percaya plasenta kerabat dekat adalah obat segala penyakit. Setelah melahirkan tiga anak untuk dikonsumsi plasentanya, kelahiran anak keempat justru membawa petaka misterius yang membuat ibu angkat mereka kehilangan akal sehat.
Sampul Novel JANGAN AMBIL ANAKKU
9.3
Almira, ibu muda berusia 30 tahun, terjebak dalam dilema besar saat memutuskan bercerai. Setelah 1,5 tahun menderita akibat suami yang pelit dan gemar berselingkuh, ia ingin mundur demi kewarasan mentalnya. Namun, melepaskan diri dari Iqbal tidaklah mudah. Iqbal justru memanfaatkan ketakutan terbesar Almira, yaitu kehilangan hak asuh anak, sebagai senjata untuk mengancamnya. Kini Almira harus berjuang mempertahankan buah hatinya di tengah tekanan mantan suami.