
Pasangan Pengganti
Bab 3
Sudah siang hari, Vicky baru membuka matanya. Ia mencari-cari keberadaan ponselnya di saku celana, namun tidak ia temukan.
"Alana!" Vicky memanggil Sang Istri. Alana yang sedang menyusui Andrea di dalam kamar, tidak menjawab panggilan suaminya itu.
"Alana!" Berulang kali Vicky memanggilnya dengan suaranya yang keras.
Karena tak ada jawaban dari Sang Istri, akhirnya Vicky menghampirinya di dalam kamar. "Hpku mana?"
"Itu di atas meja."
"Kenapa bisa ada disini?"
"Tadi ada telepon."
"Dari siapa?"
Alana sudah selesai menyusui Andrea, karena bayi mungil itu sudah tertidur pulas, lalu ia menarik tangan Vicky, mengajaknya untuk keluar kamar, agar Andrea tidak terbangun.
"Kemarin, ada orang yang datang kesini untuk meminta uangnya dikembalikan sebanyak sepuluh juta, lalu tadi ada yang menelepon lagi dengan meminta uangnya untuk dikembalikan juga sebanyak lima juta. Mereka mengatakan, kamu mengajaknya berinvestasi. Investasi apa?"
"Investasi fiktif!" Jawab Vicky dengan santainya.
"Apa? Fiktif?" Alana tercengang.
"Iya fiktif!"
"Lalu kemana uang mereka?"
"Aku habiskan sama teman-teman!"
Alana tidak menyangka jika suaminya itu menipu orang-orang tersebut. Selain pemabuk, Vicky juga seorang penipu, lantas apa yang bisa dibanggakan dari seorang laki-laki seperti ini?
"Jika orang-orang yang kamu tipu itu melaporkan kamu ke polisi, lalu kamu masuk penjara, bagaimana?"
Kini Vicky sedang berpikir, dari mana ia mendapatkan uang untuk menggantikan uang orang-orang yang sudah ia tipu tersebut. Ternyata bukan hanya dua orang, ia mengaku masih ada orang lain yang juga ia tipu untuk berinvestasi pada bisnis fiktifnya itu, jika di total jumlah ada kurang lebih lima puluh juta.
Kepala Alana pun terasa berputar, ia tidak tahu harus berbuat apa. Uang sebesar lima puluh juta amatlah besar baginya, dari mana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu?
Bayi lucu Alana yang bernama Andrea Caroline ini tiba-tiba terbangun lagi dan ia menangis, Alana langsung ke dalam kamar untuk kembali menyusuinya.
Kurang lebih sudah satu jam ia menyusui Andrea, namun Andrea tidak juga merasa kenyang, ia masih saja terus menangis. Alana tak tahu mengapa seperti ini. Mungkinkah karena ikatan batin antara ibu dan anak, jika ibunya merasa stres anaknya pun jadi rewel?
"Sini, ibu yang gendong!" Ucap Ibu Rumina sambil mengambil cucunya dari dekapan Alana. Beruntung ada Ibu Rumina, jadi bisa bergantian mengurusi Andrea.
Alana beranjak ke dapur, ia membuat secangkir chocolate hangat untuk menenangkan pikirannya, biar bagaimanapun ia tidak boleh stres.
Alana mendengar, Vicky kembali mendapat telepon dari orang-orang yang menagih uangnya kembali, mereka marah-marah, berkata kasar bahkan sampai menyumpahinya.
"Coba kamu pinjam uang pada Kakakmu!" Titah Vicky.
Alana mencoba menghubungi Kakak laki-lakinya yang tinggal di luar kota.
[Hallo, Bang Natha.]
[Iya Al, ada apa?]
[Maaf Bang ganggu, Aku mau pinjam uang Bang!]
[Pinjam uang? Berapa?]
[Lima puluh juta.]
[Lima puluh juta? Uang sebanyak itu untuk apa?]
[Untuk menggantikan uang orang, karena aku berhutang pada orang lain.]
Alana terpaksa berbohong pada Abangnya itu, tujuannya agar Abangnya mau meminjamkannya.
[Maaf Al, Abang ga bisa pinjamkan uang pada kamu, karena Abang juga banyak pengeluaran.]
Pupus sudah harapan Alana pada Kakak laki - lakinya, namun ia tidak ingin berputus asa, ia mencoba menghubungi Kakak perempuannya yang kini tinggal jauh darinya.
[Hallo Kak Zara.]
[Iya Al, ada apa?]
[Maaf Kak ganggu, aku boleh pinjam uang ga?]
[Pinjam uang berapa?]
[Lima puluh juta.]
[Apa? Lima puluh juta?]
[Iya Kak, aku ada hutang sebanyak itu.]
[Kakak lagi ga ada uang, maaf ya Kakak ga bisa pinjamkan ke kamu, apalagi sebanyak itu]
[Gitu ya Kak, oke terimakasih.]
Ia sudah berusaha menghubungi kedua Kakaknya tersebut, namun ia belum juga berhasil meminjam uang itu. Sekarang, Vicky yang berusaha meminjam pada keluarganya. Kedua orang tua Vicky yang sudah mengetahui watak Sang Anak, tidak ingin meminjamkan uang pada anaknya tersebut, begitupun dengan saudara-saudaranya yang lain.
"Kenapa sih kalau apa-apa nggak dipikir-pikir dulu bagaimana dampaknya? Enak-enakan kamu pakai uang orang hanya untuk bersenang-senang, lalu sekarang bagaimana kita harus mengembalikan uang mereka?" Ucap Alana yang sudah sangat emosi dengan suaminya ini. Menurutnya, Vicky sangat bodoh karena ia hanya memikirkan kesenangan dirinya saja, namun merugikan orang lain, orang seperti ini layak masuk penjara.
"Biar mendekam kamu dipenjara!" Ujar Alana, sambil membalikkan badannya, ia tak sudi memandang suaminya itu.
"Hei, aku nggak akan mendekam di penjara!" Lirih Vicky yang berdiri di belakang Alana.
"Lalu bagaimana sekarang kamu mendapatkan uang itu? Sekarang juga, kamu minta uang pada teman-temanmu untuk ikut mengembalikan!" Titah Alana. Namun Vicky enggan untuk menghubungi teman-temannya, karena menurutnya teman-temannya pun tidak akan mau meminjamkan uang, apalagi untuk mengembalikan.
Setelah berpikir cukup lama, Vicky berinisiatif untuk meminjam uang pada atasannya di kantor, yaitu Bryan Kalandra, walau tak yakin akan dipinjamkan, tapi ia tetap ingin bicara langsung pada atasannya tersebut.
"Ayo, kamu ikut aku!" Titah Vicky, ia menarik tangan Alana.
"Tunggu!" Alana berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu mau ajak aku kemana?" Tanya Alana.
"Udah cepat ikut aja!" Vicky kembali menarik tangan Sang Istri. Alana tidak tahu akan di ajak kemana oleh suaminya itu.
Alana naik di atas kendaraan roda dua milik suaminya itu, lalu Vicky melajukan motornya menuju ke rumah Bryan.
Setelah sampai di rumah Bryan, Alana yang belum mengetahui pemilik rumah ini, bertanya, "ini rumah siapa?"
"Udah, ayo masuk!" Titah Vicky.
Vicky meminta izin pada security untuk masuk ke dalam rumah atasannya itu, ia mengatakan sudah berjanji pada Sang Pemilik rumah untuk bertemu. Security tersebut masuk ke dalam, ia memberitahukan kedatangan Vicky dan juga istrinya pada tuan rumah.
"Vicky? Saya sedang tidak ada janji dengan siapapun!" Ucap Bryan.
"Tapi dia mengatakan kalau dia sudah janji ingin bertemu Bapak!"
"Ya sudah, suruh dia masuk!"
Security itu berjalan keluar, ia kembali menemui Vicky, lalu mengatakan padanya bahwa Bryan mengizinkan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Alana melihat di sekitar, rumahnya sangat besar, terdapat beberapa mobil di dalamnya, untuk masuk ke dalamnya saja mereka harus berjalan cukup jauh.
Setelah sampai di dalam rumah, Vicky dan Alana dipersilahkan untuk masuk ke dalam, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah yang sangat mewah ini. Vicky dan Alana duduk di sofanya yang sangat empuk.
Alana baru merasakan masuk ke rumah orang kaya. Sambil menunggu Bryan datang, ia melihat foto-foto dan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.
Tak lama kemudian datanglah laki-laki berperawakan tinggi besar, berkulit putih dan berwajah tampan itu, lalu ia duduk di hadapan Vicky dan Alana. Ia adalah adalah Bryan, seorang direktur utama di perusahaan tempat Vicky bekerja.
Anda Mungkin Juga Suka





