
PANTHER & DEA
Bab 2
Pria berjaket hitam itu bergerak keluar dari gerbong kereta api dengan cepat dan segera berjalan masuk pada sebuah gerbong kereta api yang lain. Dia masih harus melewati dua stasiun untuk mencapai tempat yang ingin ditujunya. Pintu kereta api menutup dan mulai bergerak.
Ia mencari sebuah tempat duduk, kemudian melepas kembali sarung tangannya dan memasukkannya pada kantung jaket. Ia yakin, tidak akan ada sidik jarinya yang tertinggal pada senjata api para perampok itu. Matanya menatap pada televisi kecil di dalam kereta api yang sedang menayangkan seekor panther berlari dengan cepat di padang rumput.
Panther adalah nama panggilannya yang sudah digunakannya selama puluhan tahun. Sedangkan nama aslinya sudah ia lupakan bersama dengan ayah dan ibunya. Sebelum ia genap berumur sepuluh tahun, ia menembak mereka berdua dan ikut mengubur masa lalunya. Mata Panther tertutup dan nafasnya menjadi tenang. Ia tidak membutuhkan masa lalu. Ia tidak membutuhkan keluarga. Ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia hanya perlu memastikan jika ia memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kehidupannya hingga tua.
...
Baiklah, mungkin dia membutuhkan seseorang. Ia membutuhkan Sophie, satu-satunya wanita yang mencintainya. Tanpa sadar tangannya bergerak merogoh sebuah kunci kecil di dalam kantong jaketnya. Kunci salah satu lemari sewaan di dalam stasiun kereta api. Lemari-lemari sewaan itu biasanya menjadi tempat peyimpanan baju ganti, alat-alat pancing, sepatu, atau barang-barang pribadi lainnya yang memudahkan para penumpang untuk melanjutkan perjalanan tanpa perlu kembali ke rumah mereka yang jauh. Sedangkan kunci yang ada di tangannya akan membukakan pintu menuju ke masa depannya.
Saat kereta api berhenti di sebuah stasiun, Panther bergerak keluar bersama dengan penumpang yang lain. Ia berjalan perlahan menuju ke arah lemari-lemari sewaan dari besi yang tersusun berderet-deret. Sebelum tiba di tempat itu, ia berhenti berjalan untuk melihat pada sebuah televisi yang tergantung di peron stasiun. Televisi itu sedang memberitakan tentang kematian seorang tokoh besar dalam dunia politik dan ekonomi bernama Genidio Soulani. Seorang calon kuat presiden berikutnya bagi negaranya.
Kematian tokoh penting itu adalah akibat dari serangan jantung mendadak saat dalam perjalanan pulang dari luar negeri menuju ke rumahnya dengan pesawat pribadi miliknya. Panther tersenyum sinis dan kakinya bergerak kembali. Tokoh itu sebenarnya meninggal dunia setelah ia menyuntikkan sebuah racun yang menyerang jantung dan memberikan gejala seperti terkena serangan jantung pada umumnya.
Tangan Panther kembali menggenggam kunci lemari sewaannya. Kunci dari sebuah lemari yang berisi uang dua juta dollar sebagai uang pembayaran untuk membunuh tokoh penting itu. Ia menghabiskan hampir enam bulan untuk mempelajari segala sesuatu tentang Genidio hingga dapat menyelinap ke dalam pesawat pribadinya.
Ia sudah mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit, tapi semuanya sepadan dengan hasilnya. Pembunuhan itu menjadi pekerjaannya yang terakhir. Ia sudah berjanji pada dirinya akan pensiun setelah misi ini. Berikutnya, ia akan hidup tenang dan bahagia dengan Sophie, jauh dari perkotaan dan jauh dari semua pembunuhan. Panther mengeraskan genggaman tangannya pada kunci tersebut. Uang itu akan membawa ketenangan dalam hidupnya.
Meski demikian, Panther kembali mendesah saat memikirkan untuk mencoba mencari pekerjaan baru yang lebih normal. Ia melirik pada beberapa orang yang berlalu lalang dengan seragam atau pun pakaian kerja. Mereka semua terlihat memiliki pekerjaan yang pantas. Ia belum pernah melakukan pekerjaan apa pun juga selain pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Panther mendesah dan terus berjalan.
Kehidupannya sebagai pembunuh bayaran persis seperti seorang pelacur. Semua pelacur pada awalnya adalah seorang perawan, seorang yang malu-malu dan suci hingga tergantung dari apa yang menyebabkan mereka kehilangan kesucian itu. Kemiskinan, pemerkosaan, ditipu oleh kekasih mereka, keinginan mereka sendiri dan seterusnya. Ada banyak alasan untuk kehilangan semua mimpi indah mereka hingga terjerumus ke dalam kejamnya dunia.
Dirinya sendiri memutuskan hubungan dengan hati nuraninya setelah tembakan pertama yang dilepaskannya mengenai tubuh seorang manusia. Ia melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh orang itu, melihat denyut jantung serta nafasnya yang perlahan-lahan menjadi lambat dan akhirnya berhenti sepenuhnya. Tubuh itu perlahan-lahan menjadi dingin dan kaku, meninggalkan mata terbuka dari sang mayat yang tidak dapat menerima akhir hidupnya.
Apakah seorang pelacur menangis, bersedih atau menyesal setelah kehilangan keperawanannya? Tergantung dari jawabannya, seorang pembunuh juga merasakan hal yang sama. Pembunuh yang berhasil membunuh musuhnya karena dendam dan kemarahan akan merasakan kenikmatan seperti seorang pelacur yang berhasil bercinta dengan orang yang dicintainya.
Beberapa pembunuh dan pelacur juga tidak menyesal kehilangan nuraninya dengan ganti uang yang sangat besar. Terlebih lagi jika saat itu kemiskinan, kelaparan dan ancaman telah menjerat leher mereka, dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa mereka adalah uang.
Para pelacur akan meniduri siapa pun yang sanggup membayar mereka, tidak peduli orang itu tua, buruk rupa atau pun jahat. Selama mereka membayar, mereka akan dilayani. Begitu juga dirinya, tidak peduli sasarannya adalah orang suci, orang jahat, bahkan dewa juga akan dibunuhnya jika bayarannya tepat.
Apakah hati nurani lebih penting dari nyawa?
Panther tersenyum, bagi dirinya, pengalaman membunuhnya yang pertama adalah senikmat kebebasan itu sendiri. Ia tidak akan pernah melupakan kesenangannya saat ia pertama kali membunuh musuhnya di usia sembilan tahun dan membebaskannya dari penderitaan. Kesenangan yang didapatnya sama seperti kesenangan saat seorang pemuda bercinta untuk pertama kalinya.
Dirinya sama seperti pelacur yang setelah kehilangan keperawanannya, menemukan bercinta itu nikmat sehingga menjadikannya profesi, untuk mendapatkan uang dan sekaligus kenikmatan. Ia menikmati saat membunuh orang yang menjadi sasarannya. Selain itu, dia mendapatkan uang untuk mempertahankan hidupnya.
Tapi setelah puluhan tahun, semua hal bunuh membunuh itu membuatnya muak. Ia muak dengan suara tembakan, muak dengan bau amunisi, muak pada peluru yang bersarang pada tubuhnya beberapa kali. Atau mungkin ia sudah mulai merasa tua pada umurnya yang bahkan belum mencapai empat puluh.
Ia membutuhkan kedamaian.
Matanya menatap pada barisan panjang lemari sewaan dan kemudian mengintip pada nomor yang tertera pada kunci di tangannya, 735. Matanya perlahan-lahan merayap di antara nomor-nomor yang tertera pada setiap lemari.
Sebentar lagi kehidupannya akan berubah sepenuhnya. Dengan uang dua juta dollar ditambah dengan tabungannya, dia akan dapat hidup hanya dengan mengandalkan bunga deposito uang tersebut.
Ini akan menjadi akhir dari kehidupannya yang penuh kekerasan dan pembunuhan. Awal dari kehidupannya yang tenang. Ia sudah membeli sebuah rumah kecil di dekat danau, penduduk yang ramah dan kota yang damai. Secepatnya, ia akan hidup tenang bersama Sophie di sana. Ia akan segera menikahinya dan memiliki anak-anak.
Menjadi seorang ayah.
Anda Mungkin Juga Suka





