
PANTHER & DEA
Bab 3
Kunci di tangan Panther sudah menemukan lubangnya pada lemari sewaan yang bertuliskan 735. Seketika sebuah firasat buruk menyergap dirinya, seluruh tubuhnya menjadi siaga. Panther terdiam tak bergerak. Selama ini, ia hidup dengan menjadikan nyawanya sebagai taruhan dan insting adalah satu-satunya hal yang telah menyelamatkan selembar nyawanya melewati ratusan medan perang hingga saat ini.
Keringat dingin mengalir di dahinya dan jari-jari tangannya tidak mampu memutar kunci tersebut. Panther segera mencabut kuncinya dan berjalan menjauhi lemari sewaannya. Sekitar 60 langkah, ia memasuki sebuah kamar kecil. Panther membuka kran air, membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap kepalanya dapat menjadi dingin.
“Tidak mungkin,” bisiknya menatap wajahnya sendiri di depan cermin. Ia menarik nafas dalam-dalam dan keluar dengan cepat. Dalam keadaan terburu-buru, ia tidak melihat sebuah ember berisi air yang tergeletak di tengah jalanan. Sebelah kakinya masuk ke dalam ember yang berisi air tersebut dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Panther terjatuh ke lantai dengan keras.
Air dalam ember tumpah berceceran di lantai dan membasahi seluruh celana serta bajunya. Beberapa orang di sekitar sana memperhatikan posisi jatuh Panther yang memalukan. Seorang pemuda yang memegang tongkat pel segera mendekatinya sambil menunduk meminta maaf berkali-kali.
“Bantu aku berdiri,” kata Panther terbata-bata, “Kelihatannya kakiku terkilir.”
Pemuda itu segera membantu Panther berdiri dan mendudukkannya pada sebuah kursi tunggu milik stasiun kereta api.
“Aku benar-benar minta maaf,” kata pemuda itu sekali lagi dengan wajah yang ketakutan.
Panther dapat melihat pemuda itu menggunakan seragam petugas kebersihan stasiun kereta api. “Tidak apa-apa, akulah yang salah tidak melihat ember tersebut.”
Pemuda itu segera merasa lega, lalu terdiam tidak tahu harus melakukan apa.
“Aduh...,” Panther mendesah kesakitan. “Tampaknya kakiku terkilir parah. Bisakah kamu ambilkan pakaian gantiku pada lemari sewaan sebelah sana? No 735. Seluruh pakaianku basah,” kata Panther sambil menyerahkan kunci lemari sewaannya.
“Baik,” sahut pemuda itu cepat dan berlari menuju ke barisan lemari sewaan tersebut.
Dari kejauhan Panther dapat melihat pemuda itu menghampiri lemari sewaannya, memasukkan kunci dan memutarnya yang kemudian membuka pintu lemari. Beberapa detik setelahnya, sebuah cahaya menyilaukan menusuk mata Panther dan suara ledakan keras terdengar menggempur gendang telinganya. Terjangan udara segera menabrak tubuh Panther yang disusul dengan gelombang debu.
Sebuah ledakan telah membuat lemari sewaan yang berderet-deret itu hancur, kursi-kursi di depan lemari sewaan terpelanting jauh, atap-atap berjatuhan dan segala yang ada dalam radius 20 meter dari tempat itu hancur berantakan. Debu-debu berterbangan dan beberapa kabel terlontar keluar dari atap dan tembok yang hancur, sambil menunjukkan percikan listrik pada kabel telanjangnya. Kepingan-kepingan sisa lemari sewaan besi menancap dan berjatuhan di kejauhan.
Jeritan panik segera terdengar keras di mana-mana.
Panther dapat melihat beberapa orang terluka akibat ledakan itu, kepala yang berdarah, tangan yang hancur, kaki yang tertusuk pecahan besi dari sisa lemari sewaan dan pastinya beberapa orang tergeletak tidak sadarkan diri. Sedangkan pemuda yang membuka lemari sewaannya, ia tidak tahu apakah tubuhnya masih akan utuh. Panther segera berdiri dan berjalan keluar dari stasiun itu, mencoba membaurkan diri dengan sekumpulan orang-orang yang mencoba keluar dengan panik. Kakinya sama sekali tidak pernah terkilir. Wajahnya terlihat berubah karena kemarahan. Ia tidak melihat adanya sisa-sisa uang tunai yang hancur bertebaran, ia hanya melihat sebuah ledakan.
Misi terakhirnya dibayar dengan sebuah bom!
Ia tidak dapat menerimanya. Ia harus menemukan siapa pun yang bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan pada dirinya. Dan juga uangnya.
***
“Tuan, apakah kamu mau membeli jam tangan ini?” tawar seseorang sambil berjalan mendekati seorang pria berpakaian jas hitam. Pria yang disodori jam tangan terlihat duduk pada sebuah kursi kafe di ruang terbuka yang menghadap pada sebuah universitas khusus wanita yang bergengsi.
“Tidak,” sahut pria berbaju hitam itu ketus sambil melambaikan tangan mengusir.
“Ayolah, ini adalah jam Rolex asli. Aku benar-benar kekurangan uang dan bersedia menjualnya pada harga berapa pun juga,” kata penjual itu memelas.
Pria itu tampak tidak tertarik dan menjawab, “Jangan menipuku. Tidak mungkin itu asli.”
“Tuan boleh memeriksanya,” yakin penjual itu. “Jika tidak asli, jam tangan ini gratis untuk Tuan.”
Pria itu menggerakkan tubuhnya sedikit, terlihat mulai tertarik dengan penawaran itu apalagi dia melihat jam tangan yang sangat bagus. Sekali pun jika jam itu nantinya palsu, tidak rugi juga ia mendapatkannya.
“Kemarikan jam tangannya.”
Penjual itu mendekatinya dan menyerahkan jam tangan Rolex ke tangannya. Dalam waktu sesaat itu juga penjual tersebut menusukkan sebuah jarum kecil yang tersembunyi di antara jari-jarinya pada lengan pria itu.
“Auchh... apa yang kamu lakukan?” tatap pria berpakaian hitam itu marah. Namun, secepat itu juga pria tersebut terjatuh lemas di tempat duduknya. Tidak sadarkan diri.
Panther tersenyum dan berbisik, “Ingat kata mama, jangan menerima barang dari sembarang orang.
"Keserakahan akan membunuhmu.” Ia menyentuh tubuh pria itu dan membuatnya terlihat seperti sedang tertidur di atas meja kafe. “Dan ini jam Rolex yang asli.”
Tidak jauh dari tempat itu, Panther dapat melihat sebuah mobil besar berwarna hitam yang menurut informasi memiliki kaca anti peluru. Ia berjalan ke dalam kafe dan tak lama kemudian keluar dengan secangkir kopi dan sekotak donat. Tanpa ragu ia berjalan menuju ke samping mobil tersebut dan mengetuk kaca jendelanya. Dari dalam mobil terlihat bayangan seorang pria yang menatapnya tidak peduli.
“Tuan, kopi dan donat,” kata Panther mengangkat kopi dan kotak donat agar terlihat dari kaca jendela mobil, “Tuan yang duduk di kafe menyuruhku mengirimnya padamu.”
Pria dalam mobil mengangkat kedua alisnya dan tertawa sambil membuka kaca jendela mobil, “Tak kusangka dia akan sebaik itu.”
“Tentu saja dia tidak sebaik itu,” kata Panther menyerahkan kopi dan donat pada pria itu. Tepat saat kedua tangan pria itu menyentuh tangannya, Panther segera bergerak menusukkan leher pria itu dengan sebuah jarum dan dengan cepat segera menarik kembali kopi dan donat tersebut.
“Apa yang kamu!!” teriak pria itu dan perlahan-lahan kedua matanya berputar ke atas. Tubuhnya terjatuh dengan kepala bersandar pada kemudi mobil. Panther langsung bergerak membuka pintu dan memasuki mobil hitam itu dengan menggeser paksa tubuh pria yang sudah tidak sadarkan diri itu. Sesaat kemudian mobil tersebut terlihat bergerak, melaju di atas jalanan.
Selang 15 menit kemudian, mobil tersebut sudah kembali pada tempatnya. Panther terlihat sendirian di depan kemudi mobil dengan memakai pakaian jas hitam persis seperti pria sebelumnya. Di dalam mobil, sambil menikmati kopi dan donatnya, Panther mengeluarkan telepon genggamnya dan membaca data diri target barunya. Natalia Margaret Florance, putri dari Edward Elmund, seorang politikus terkenal dengan kebaikan dan kesuciannya yang seimbang dengan seorang Nabi, Santo atau Budha. Akan tetapi, dibalik wajah suci itu, dialah tokoh yang mengendalikan peredaran obat-obatan terlarang, pencucian uang, pembunuhan, penyuapan dan banyak kejahatan lainnya.
Ia menjual obat-obatan terlarang secara sembunyi-sembunyi dan membangun pusat-pusat rehabilitasi gratis secara terang-terangan di berbagai tempat. Ia melakukan perdagangan manusia dan juga menjadi tokoh utama pendukung kegiatan anti perdagangan manusia. Ia adalah penggiat hukum internasional tentang pencucian uang yang pada saat bersamaan, ia adalah pentolan dalam hal pencucian uang. Ia membangun banyak rumah sebagai tempat pengungsian para yatim piatu, para pengungsi perang dan dialah yang menjual senjata-senjata api pada negara-negara berperang. Ironisnya, kapal yang mengangkut bantuan berupa obat-obatan dan pangan untuk para pengungsi selalu disusupi dengan senjata-senjata perang di bagian bawahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





