Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14

PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14

Zunara berjuang membesarkan 14 anaknya meski penuh lelah. Hidupnya berubah saat Tengku Salman, pangeran Malaysia, menyelamatkan putranya, Zafran, dari maut. Meski hanya ingin kebahagiaan anak-anaknya, Zunara mulai terpikat oleh tatapan sang pangeran. Di sisi lain, Salman yang terbiasa hidup formal merasa tersentuh oleh ketangguhan Zunara. Kini, sang bangsawan bimbang apakah ia harus mengejar cinta wanita itu dan melampaui sekat status sosial mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mama... Zafran nggak bisa napas..."

Tubuh kecil itu menggigil di pelukan Zunara. Wajah Zafran pucat, dadanya naik-turun cepat, matanya setengah terpejam.

"Astaghfirullah...! Aleena, Rayyan! Cari inhalernya cepat!"

"Nggak ada, Ma! Inhalernya nggak ada!"

Suara Rayyan bergetar. Anak-anak lain mulai menangis keras.

"Mama, Abang Zafran mau mati ya? Jangan mati, Abang..."

Yahya meremas ujung gamis ibunya sambil terisak.

"Tolong! Ada yang bisa bantu?! Anak saya sesak napas!"

Zunara berteriak, napasnya memburu. Orang-orang hanya menonton. Ada yang malah merekam dengan ponsel.

Zafran mengerang lemah.

"Mama... sakit..."

Zunara hampir jatuh berlutut. Bagaimana kalau Zafran benar-benar berhenti bernapas?

Tiba-tiba suara berat namun tegas terdengar.

"Serahkannya pada saya, cepat."

Zunara menoleh. Seorang pria tinggi dengan wajah tegas dan sorot mata tajam berdiri di depannya.

Kemeja putihnya kusut karena berlari, tapi auranya... berbeda. Bukan orang biasa.

"Saya pernah urus kes macam ni. Kalau lambat satu minit saja, anak puan boleh mati dalam pelukan."

Zunara menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.

"Tolong... selamatkan anak saya."

Rayyan maju, berdiri protektif.

"Jangan sentuh adik saya! Siapa kamu?!"

Pria itu menatap Rayyan, nada suaranya tajam.

"Awak mau dia hidup atau tak?"

Rayyan terdiam, gigi bawahnya menggigit bibir. Zunara mengangguk cepat.

"Tolong..."

Pria itu meraih Zafran dengan sigap.

"Pegang kuat, dik. Jangan tidur, ya. Bertahan. Saya janji, awak akan baik-baik saja."

Dia langsung berjalan cepat, menembus kerumunan. Suara kamera ponsel berkedip di sekitar mereka.

Zunara mengejar, hampir menangis.

"Ya Allah... siapa pun dia... selamatkan anakku..."

Di dalam mobil hitam mewah yang melaju kencang, pria itu menatap Zafran penuh khawatir.

"Bertahanlah, dik..." bisiknya, logat Malaysianya terdengar jelas.

Nama pria itu?

Tengku Salman Fawwaz.

Pangeran paling berpengaruh di Malaysia.

Dan sore itu, tak seorang pun tahu kalau video dirinya menggendong seorang bocah sesak napas akan viral... dan mengubah hidup mereka semua.

Video berdurasi tiga puluh detik itu beredar cepat di media sosial.

Tengku Salman Fawwaz, pria tinggi dengan kemeja putih yang basah oleh keringat, menggendong seorang bocah kecil sambil berlari ke arah mobil hitam mewah. Wajahnya tegang, tatapannya penuh khawatir.

"Pangeran Malaysia tolong anak sesak napas di pasar Indonesia!"

"Tengku Salman Fawwaz, calon menantu idaman!"

Netizen heboh. Komentar membanjir:

"Masya Allah, baik banget pangeran ini, ya!"

"Duh, ganteng banget, siapa tu anaknya?"

"Jandanya siapa tu? Kok banyak banget anaknya kelihatan di video."

"Ih, liat deh tuh perempuan big size, bawa anak segambreng, dasar numpang tenar."

Nama Zunara Mahnoor ikut terbawa. Orang-orang mulai mencari identitasnya. Dan ketika menemukan fotonya... hinaan makin menjadi-jadi.

"Pantes aja janda, siapa juga yang mau sama dia."

"Big size, anak 14, mau cari simpati lah tu."

"Eh tapi untung ada pangeran, bisa aja janda ini mancing biar dikasihani."

---

Zunara duduk di lantai ruang tengah, menatap layar ponsel yang terus berbunyi notifikasi. Tangannya gemetar.

Aleena duduk di sampingnya, mencoba menenangkan.

"Ma, jangan dibaca lagi. Nggak semua orang di dunia ini baik..."

Zunara menelan ludah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tetap tersenyum tipis di depan anak-anaknya.

"Mama nggak apa-apa, Nak. Biarin aja orang mau bilang apa. Yang penting kalian sehat."

Tapi Zoya Tabassum tak bisa setenang itu. Gadis 12 tahun itu menatap ponsel ibunya dengan mata merah.

"Kenapa orang-orang jahat banget, Ma? Mama nggak salah apa-apa... Mama tuh baik..."

"Zoya, udah, jangan-"

"Enggak!" Zoya tiba-tiba berdiri, air matanya jatuh deras.

"Aku benci orang-orang itu! Aku mau balas, Ma! Aku mau tulis di komentar mereka kalau Mama nggak kayak yang mereka bilang!"

"Zoya, cukup!" suara Rayyan tegas, tapi Zoya makin histeris.

"Mereka hina Mama, Kak! Mereka bilang Mama janda gendut nggak pantas sama Pangeran itu! Mereka bilang kita semua... anak-anak sampah!"

Zoya menangis keras, menjerit hingga Arhaan yang duduk di pojok menutup telinganya dan mulai gelisah. Yahya juga ikut menangis, memeluk lutut ibunya.

Zunara langsung memeluk Zoya erat, berusaha menenangkan.

"Nak, tolong... jangan nangis gitu... Mama kuat kok. Kalian nggak usah mikirin Mama..."

Tapi air matanya sendiri akhirnya jatuh juga.

Tiba-tiba... ketukan keras terdengar di pintu.

Tok! Tok! Tok!

Aleena mengintip lewat celah jendela, wajahnya berubah kaget.

"Ma... itu..."

Zunara menatap heran.

"Siapa, Nak?"

Aleena menelan ludah.

"Itu... Pangeran itu, Ma."

Di depan rumah sederhana itu, berdiri Tengku Salman Fawwaz dengan kemeja santai tapi tetap rapi. Sorot matanya... tajam, penuh tekad.

"Assalamualaikum... Saya mahu bercakap dengan puan. Tentang anak-anak ini... dan tentang puan."

Tengku Salman Fawwaz duduk di kursi ruang tamu yang sederhana itu.

Sorot matanya menyapu anak-anak satu per satu sebelum akhirnya berhenti pada Zunara.

"Saya minta maaf datang tiba-tiba. Tapi saya fikir, saya patut cakap terus pada puan."

Zunara menunduk sopan, tangannya meremas ujung jilbabnya.

"Iya, Tengku... Silakan."

"Pertama sekali, anak puan, Zafran... dia sudah stabil. Doktor kata dia cuma perlu rawatan lanjut, tapi keadaannya sudah selamat."

Zunara menghela napas lega, air matanya menetes.

"Terima kasih, Tengku... Saya nggak tahu harus balas kebaikan Tengku gimana..."

Salman mengangguk tipis.

"Tak perlu berterima kasih. Itu memang tanggungjawab manusia. Tapi... ada perkara lain saya nak bincang. Perkara besar."

Rayyan yang sejak tadi berdiri di dekat Zunara melipat tangan di dada, pandangannya penuh curiga.

"Perkara apa? Kalau soal bayar rumah sakit, kami nggak minta belas kasihan siapa pun. Mama nggak perlu kasihan dari orang asing."

"Rayyan!"

Zunara menegur lirih, tapi Salman hanya tersenyum tipis.

"Bagus, awak anak yang jaga maruah keluarga. Tapi saya bukan nak hina puan Zunara atau anak-anak. Saya nak tawarkan sesuatu. Sesuatu yang... mungkin akan ubah hidup puan."

Zunara menatap Salman bingung.

"Maksud Tengku?"

Salman menarik napas panjang, sorot matanya serius.

"Saya tahu orang bercakap macam-macam di media sosial. Mereka hina puan. Hina anak-anak. Puan tak layak terima semua tu."

Zunara menunduk, matanya memerah.

Salman melanjutkan, suaranya tegas.

"Jadi saya fikir... hanya ada satu cara untuk hentikan semua fitnah. Satu cara supaya anak-anak puan dilindungi... dan nama puan bersih."

"Cara apa, Tengku?" suara Zunara bergetar.

Salman menatapnya lurus.

"Kahwin dengan saya, Puan Zunara."

Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Ruang tamu mendadak hening. Anak-anak menatap dengan mata terbelalak.

"A... apa?" suara Zunara bergetar, wajahnya memerah.

"Tengku... jangan bercanda. Kita baru kenal kemarin. Ini... ini nggak masuk akal."

Rayyan langsung maju selangkah, berdiri protektif di depan ibunya.

"Mama nggak usah jawab! Kita nggak butuh pernikahan pura-pura kayak gini!"

"Rayyan!"

Zunara menegur, tapi remaja itu menatap Salman tajam.

"Kami nggak kenal kamu, dan Mama nggak perlu kasihanmu!"

Salman tetap duduk tenang, sorot matanya dalam.

"Saya faham awak marah, Rayyan. Awak anak lelaki yang baik, jaga maruah keluarga. Tapi awak salah faham. Saya tak berniat nak hina puan Zunara... malah saya hormat dia."

Zunara menggigit bibir, tangannya meremas jilbabnya.

"Tapi... kenapa, Tengku? Kenapa tiba-tiba minta saya menikah dengan Anda?"

Salman menarik napas panjang, suaranya rendah namun tegas.

"Puan, saya tengok sendiri macam mana orang hina puan di media sosial. Mereka takkan berhenti. Nama puan akan terus dipijak, anak-anak puan akan terus dibuli."

Zoya yang duduk di lantai mulai menangis lagi, Aleena merangkulnya.

"Saya fikir... kalau puan jadi isteri saya, semua orang akan berhenti bercakap. Mereka takkan berani hina lagi. Dan anak-anak puan akan dilindungi."

Zunara menunduk, air matanya jatuh.

"Tapi... saya cuma perempuan biasa, Tengku. Tubuh saya besar... anak saya banyak... kenapa Tengku mau repot-repot?"

Salman menatapnya serius.

"Kerana saya pun bukan lelaki sempurna, puan. Saya ada kekurangan sendiri... kekurangan yang orang tak tahu. Tapi saya tak kisah tentang rupa puan atau jumlah anak puan. Saya cuma nak bantu."

Rayyan menggeleng cepat.

"Mama, jangan percaya dia! Ini pasti ada maunya!"

Salman berdiri perlahan, menatap Rayyan.

"Awak berhak fikir macam tu. Tapi saya tak paksa. Saya cuma beri pilihan."

Lalu Salman kembali menatap Zunara.

"Puan... saya tak minta jawapan sekarang. Fikir baik-baik. Saya beri masa tiga hari. Kalau puan setuju, hidup puan akan berubah. Kalau tak... saya akan pergi dan takkan ganggu lagi."

Salman berjalan ke pintu, berhenti sebentar dan menoleh.

"Tiga hari, puan. Lepas tu, saya akan anggap jawapan puan adalah... tidak."

Pintu tertutup pelan.

Zunara duduk kembali, wajahnya pucat. Tangannya menutup mulutnya, air matanya jatuh.

Anak-anak menatapnya bingung, Rayyan berdiri kaku, dan Zoya mulai terisak lagi.

Tiga hari.

Hanya tiga hari... untuk memutuskan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhir Cinta yang Getir
8.3
Hubungan Arissa hancur setelah menunggu pacarnya, Eldino Marven, selama tiga jam. Pria miliarder yang dikira lumpuh itu rupanya bisa berdiri demi menolong Adena Horian. Lewat rekaman video intim yang provokatif, Arissa menyaksikan Eldino mencium Adena yang mengenakan gaun pengantin rancangannya. Mengetahui dirinya hanya dianggap sebagai pengasuh gratis yang tidak layak dinikahi, Arissa membuang kue buatannya dan menghubungi ibunya untuk menyetujui tawaran kencan buta.
Sampul Novel Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
8.0
Terjebak dalam aturan suami yang melarangnya bekerja, hidup Selena berubah setelah kedatangan Haris, bos besar suaminya. Pesona sederhana Selena memikat sang miliarder, yang kemudian menawarinya posisi sebagai sekretaris pribadi. Pekerjaan ini menjadi pelarian sekaligus awal hubungan terlarang di antara mereka. Demi ambisi promosi jabatan, sang suami memilih menutup mata. Kini, mereka semua terseret dalam pusaran gairah dan intrik yang siap menghancurkan pernikahan Selena.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Lelaki Yang Tak Terlihat Kaya
9.8
Gerald Crawford tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Selama ini, ia mengira keluarganya hanyalah pekerja biasa di luar negeri. Namun, sebuah pengakuan mengejutkan dari orang tua dan saudara perempuannya mengungkap identitas aslinya. Gerald ternyata adalah pewaris takhta kekayaan bernilai triliunan dolar. Kini, sang pemuda harus menghadapi realita baru sebagai keturunan konglomerat yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Modus Tuan Muda
8.5
Mona Latea terjebak dalam nasib malang saat terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Elisa, yang menolak perjodohan keluarga. Kini, ia harus melayani seorang tuan muda yang ternyata hanyalah pria manja dengan tingkah menyusahkan seperti bayi besar. Tanpa bayaran sepeser pun, Mona harus menghadapi hari-hari penuh tekanan demi memenuhi tanggung jawab tersebut. Kisah romansa dewasa ini penuh intrik antara pengabdian paksa dan pesona sang tuan muda yang manipulatif.
Sampul Novel Mysterious CEO
9.1
Dean Bernardus tumbuh tanpa ayah hingga ibunya menikah lagi. Namun, ayah tirinya justru merampas harta mereka dan mengusir Dean. Berkat bantuan wanita misterius, Dean bangkit menjadi CEO sukses. Kini ia mendekati Kensky Revina Oxley untuk membalas dendam, karena Kensky adalah putri dari pria yang menghancurkan hidupnya. Dean memaksa Kensky menjadi kekasihnya meski gadis itu telah dijodohkan. Akankah cinta tulus tumbuh atau hanya sekadar alat pembalasan?