
PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14
Bab 2
Sejak Salman pergi, rumah itu tak lagi sama.
Tiga hari. Hanya tiga hari. Tapi waktu terasa begitu sempit untuk memutuskan sesuatu sebesar itu.
Zunara duduk di dapur, menatap kosong cangkir teh yang sudah dingin. Air matanya menetes diam-diam.
"Ma, jangan nangis lagi..." Aleena duduk di sampingnya, menggenggam tangan ibunya.
"Tengku itu orang baik. Kalau Mama mau, aku setuju..."
Rayyan langsung membanting sendok ke meja.
"Aleena! Kamu pikir nikah itu mainan? Kita nggak kenal siapa dia! Dia cuma pangeran yang mungkin mau jaga nama baiknya doang!"
"Tapi Kak, kalau Mama sama Pangeran itu... orang-orang nggak akan hina Mama lagi, kan?" suara Zoya kecil, matanya sembab.
"Aku... aku nggak tahan mereka bilang kita anak-anak sampah..."
Rayyan berdiri, wajahnya merah menahan emosi.
"Jadi kalian mau Mama jual dirinya demi nama baik?! Mama nggak perlu orang kaya untuk bikin kita bahagia!"
"Rayyan..." Zunara akhirnya bersuara, lirih.
"Jangan bilang gitu... Pangeran itu... dia cuma tawarkan bantuan. Dia nggak pernah maksa."
Rayyan menatap ibunya, suaranya parau.
"Mama... kita baik-baik aja kok. Aku bisa kerja nanti. Kita nggak perlu nikah sama orang asing."
Zunara mengusap kepala putranya, hatinya perih. Dia tahu Rayyan hanya takut kehilangan ibunya.
Anak-anak sudah tidur, tapi Zunara masih duduk di ruang tengah, menatap kosong layar ponselnya.
Notifikasi berita online terus berdatangan.
Judulnya masih sama:
"Janda Big Size Disorot Netizen, Pangeran Malaysia Disebut Kasihan Sama Dia."
Zunara menarik napas berat, dadanya sesak.
Tiba-tiba
tok... tok... tok!
Zunara terlonjak. Malam-malam begini siapa yang datang?
Dia membuka pintu perlahan... dan di sana, Tengku Salman Fawwaz kembali berdiri.
Kemeja santai, senyumnya tipis, dan di sampingnya berdiri dua orang pria membawa kotak besar terikat pita.
"Assalamualaikum, puan." Salman menatapnya lembut.
"Maaf datang malam-malam. Tapi... saya fikir, anak-anak puan perlukan ini."
Zunara mengerutkan kening, matanya menatap kotak besar itu.
"Ini... apa, Tengku?"
Salman tersenyum tipis, sorot matanya penuh misteri.
"Buka saja, puan. Mungkin... ini akan bantu puan buat keputusan sebelum tiga hari habis."
BAP 6 – HADIAH UNTUK ANAK-ANAK
Kotak besar dengan pita biru itu diletakkan di tengah ruang tamu. Anak-anak mulai mengelilinginya dengan mata berbinar-binar.
"Ma, boleh dibuka sekarang nggak?" suara Zoya bergetar, pipinya masih basah sisa tangis semalam.
Zunara menoleh ke Salman, ragu.
"Tengku... ini..."
"Buka saja, puan. Itu untuk anak-anak. Tak ada niat lain." Salman tersenyum tipis, tangannya bersedekap santai.
Rayyan berdiri di sudut, masih cemberut.
"Huh... mau kasih hadiah biar Mama luluh, ya?" gumamnya pelan.
Salman hanya melirik sekilas, tidak membalas.
Zunara menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Baiklah... Zoya, Aleena, bantu Mama buka, ya."
Saat Kotak Terbuka ...
"Masya Allah..." Zunara menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.
Di dalam kotak itu ada tumpukan perlengkapan sekolah baru-seragam, sepatu, tas, buku-buku cerita bergambar, bahkan beberapa mainan edukatif.
Zoya langsung mengambil sebuah buku dongeng dengan gambar peri di sampulnya.
"Ma! Ini buku yang aku pengen banget!"
Aleena memeluk tas baru berwarna ungu, matanya berbinar.
"Terima kasih, Ma... eh, terima kasih, Pangeran..."
Salman hanya tersenyum.
"Sebut saja saya Uncle Salman, ya. Saya tak suka orang panggil saya Pangeran di depan anak-anak."
Zoya tertawa kecil, matanya masih basah.
"Uncle Salman baik banget..."
Yahya duduk di lantai sambil memeluk sepatu barunya erat-erat, wajahnya cerah.
"Ma... ini sepatu kayak di toko kemarin... yang nggak bisa kita beli itu..."
Zunara mengusap kepala anaknya, air matanya jatuh.
Bahkan Arhaan yang biasanya gelisah kini tersenyum kecil sambil memainkan boneka binatang yang ikut dalam kotak.
Salman memperhatikan semua itu diam-diam. Tatapannya melembut setiap kali anak-anak tertawa.
Zunara menoleh ke Salman, suaranya parau.
"Tengku... saya... saya nggak tahu harus bilang apa. Anak-anak senang banget... Terima kasih."
Salman menatap Zunara lama, sorot matanya dalam.
"Saya dah kata, puan. Saya tak peduli apa orang cakap tentang puan. Saya cuma nak anak-anak ni bahagia."
Zunara terdiam, dadanya terasa hangat sekaligus berdegup aneh.
Rayyan yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara pelan, namun nadanya tetap keras.
"Hadiah nggak bikin kita percaya begitu aja. Mama nggak boleh ambil keputusan cuma karena ini."
Salman mengangguk tenang.
"Betul, Rayyan. Mama awak patut fikir masak-masak. Saya tak paksa."
Lalu Salman berdiri, bersiap pergi.
"Tapi saya tetap harap... puan fikirkan bukan untuk diri puan saja. Tapi untuk masa depan anak-anak."
Dia melangkah menuju pintu, sebelum akhirnya menoleh sebentar.
"Tinggal dua hari, puan. Lepas tu, saya takkan tanya lagi."
Malam itu, Zunara duduk sendirian di kamar, lampu sudah diredupkan. Anak-anak tertidur, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur.
Tapi di dada Zunara, semuanya bergemuruh.
Tiga hari... tinggal dua hari lagi... apa aku harus menerima lamaran itu?
Dia menatap foto suaminya yang sudah lama meninggal-foto satu-satunya yang masih disimpan di laci.
Maaf... aku bahkan nggak pernah bisa cerita ke kamu soal hidup seberat ini...
Air matanya jatuh, membasahi bantal.
Anak-anak sudah berkumpul di ruang tengah. Zoya duduk di samping Zunara, memeluk lengannya erat.
"Ma... kalau Mama nikah sama Uncle Salman... kita bisa pindah rumah yang lebih bagus, kan?" bisiknya polos.
Zunara menghela napas, mengusap kepala putrinya.
"Nak... Mama nggak nikah cuma karena rumah atau uang. Nikah itu serius..."
"Tapi Mama nggak sedih lagi, kan? Kalau sama Uncle Salman, Mama nggak bakal dibully orang lagi."
Aleena juga ikut bicara, suaranya pelan.
"Ma... aku cuma pengen Mama bahagia. Selama ini Mama capek banget. Mungkin Uncle Salman bisa bantu Mama, nggak cuma soal uang..."
Rayyan berdiri bersandar di dinding, wajahnya masam.
"Kalian ini kenapa sih? Mama nggak butuh pangeran itu! Dia cuma orang asing! Siapa yang jamin dia nggak ninggalin kita nanti?!"
"Tapi Kak... Uncle Salman baik..." suara Yahya lirih.
Rayyan menatap adiknya, suaranya meninggi.
"Baik sekarang, siapa tahu nanti berubah! Mama pernah ditinggal, kalian lupa?! Mau Mama sakit hati lagi?!"
Zunara langsung menoleh, suaranya tegas.
"Rayyan, cukup. Jangan bicara begitu."
Rayyan menggertakkan gigi, menunduk, lalu berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Zoya mulai menangis kecil, Aleena memeluk adiknya.
Zunara menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca.
Ya Allah... aku harus gimana?
---
Rumah sudah sepi, anak-anak tertidur. Zunara duduk di kursi dapur, menatap kosong piring yang belum dicuci.
Tangannya menggenggam jilbabnya erat-erat. Air mata menetes tanpa suara.
Kalau aku terima... apa aku egois sama anak-anak? Tapi kalau aku tolak... apa aku tega membiarkan mereka terus dibully?
Suara angin malam masuk lewat jendela, menambah sunyi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk.
Zunara meraihnya, jantungnya berdegup saat membaca nama pengirimnya.
Tengku Salman Fawwaz.
Pesannya hanya satu kalimat:
"Puan, saya tak mahu ganggu puan fikir. Tapi esok saya datang, cuma nak bincang hal anak-anak, bukan hal kita."
Zunara menatap layar ponsel lama sekali, dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
---
Pagi itu, rumah Zunara riuh. Anak-anak sibuk menata mainan dan buku-buku baru.
"Uncle Salman datang lagi, kan, Ma?" tanya Zoya dengan mata berbinar.
"Iya, tapi ingat, dia cuma mau ngobrol. Jangan ribut ya."
Zunara mengingatkan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tapi hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Tok! Tok! Tok!
Zunara membuka pintu, dan di sana Tengku Salman Fawwaz berdiri lagi dengan kemeja biru muda yang rapi.
"Assalamualaikum, puan. Maaf datang pagi-pagi."
"Waalaikumsalam... silakan masuk, Tengku."
Salman masuk, menunduk sopan pada anak-anak.
"Hai, anak-anak. Uncle bawa sesuatu lagi, tapi bukan hadiah besar kali ni. Cuma sedikit makanan."
Dia meletakkan kantong besar berisi roti, susu, dan beberapa camilan sehat. Anak-anak langsung bersorak kecil.
"Terima kasih, Uncle Salman!" Yahya memeluk kotak susu kesukaannya.
Salman tersenyum, matanya berbinar hangat.
"Bagus... minum banyak susu ya, biar cepat besar dan kuat."
Zoya duduk di sebelah Salman, menatapnya dengan kagum.
"Uncle Salman, di Malaysia ada istana ya? Kalau kita ke sana, ada kolam renang besar nggak?"
Salman tertawa kecil.
"Ada... tapi nanti kalau kalian ke sana, kita main di taman dulu. Kolam renangnya dingin sangat."
Zoya tertawa, pipinya memerah.
Zunara memperhatikan dari dapur, dadanya menghangat melihat anak-anak begitu bahagia.
Tiba-tiba Rayyan muncul dari kamarnya, wajahnya datar.
"Udah selesai main sandiwara-nya? Mama, aku mau ngomong sama kamu habis ini."
Suasana hening sejenak. Zunara menatap Rayyan, khawatir.
"Rayyan, jangan gitu-"
"Nggak apa-apa, puan. Dia cuma jaga hati puan. Saya faham." Salman tersenyum tipis pada Rayyan.
"Rayyan, boleh Uncle cakap sama awak sebentar?"
Rayyan mengangkat dagu.
"Ngapain? Saya nggak ada urusan sama Pangeran."
"Cuma lima minit saja. Tentang Mama awak."
Rayyan menatapnya tajam, tapi akhirnya mengangguk malas.
"Ya udah, lima menit."
Salman berdiri di teras, menatap Rayyan dengan tenang.
"Rayyan... saya tak pernah niat ambil Mama awak dari kalian. Saya cuma mahu bantu. Kalau awak rasa saya tak layak, awak boleh terus benci saya. Tapi saya minta satu saja..."
Rayyan mengerutkan kening.
"Apa?"
"Jangan buat Mama awak menangis sendirian. Dia kuat, tapi hati dia rapuh bila lihat anak-anaknya sedih."
Rayyan terdiam, matanya memerah.
"Mama nggak pernah bilang sama saya kalau dia sedih..."
"Sebab dia tak mahu awak rasa susah. Tapi saya nampak... dia selalu tahan air mata."
Rayyan menunduk, giginya menggigit bibir. Salman menepuk bahunya pelan.
"Awak lelaki baik, Rayyan. Saya tak paksa awak suka saya. Tapi kalau saya salah di mata awak... saya rela awak marah saya, asalkan Mama awak tak perlu menangis lagi."
Rayyan mengangkat wajahnya, sorot matanya bimbang.
Di dalam rumah, Zunara mengintip dari balik jendela, melihat percakapan itu.
Hatinya berdebar tak karuan.
Kenapa... kenapa aku merasa dia benar-benar tulus?
Sementara itu, Salman berbalik, menatap Rayyan dengan serius.
"Rayyan... saya ada rahsia yang tak pernah saya cakap pada siapa pun. Esok... saya akan beritahu Mama awak. Dan mungkin... awak patut tahu juga."
---
Anda Mungkin Juga Suka





