
Pamer Menantu
Bab 2
"Maaf, Bu. Dimas tidak mengajak Putri honeymoon juga, seperti Nino," ucap Dimas tertunduk ketika sang ibu mertua menceritakan pertemuan tak sengaja nya dengan Ningsih tadi siang. Dia merasa tak enak hati, ketika mendengar Ibu dari wanita yang sangat dicintainya itu selalu dihina karena memiliki menantu yang hanya dari kampung sebelah.
"Maksud Ibu bukan mau membandingkan kok, Nak. Ibu cuma cerita aja, nggak seharusnya kan sampai berkoar begitu apalagi di hadapan Bu Siti? Kalau nggak jadi membagikan oleh-olehnya kan malu. Tahu sendiri, Bu Siti itu siapa di kampung kita," jawab Lela dengan nada masih kesal pada Ningsih.
"Biarin aja lah, Bu. Mungkin mereka punya rezeki lebih dan kalau pun nggak jadi ngasih, itu bisa jadi pelajaran buat Bu Ningsih, agar ke depannya nggak kebanyakan pamer lagi dan buat kamu Dimas, kami nggak masalah kalau nggak ngajak Putri honeymoon juga." Pak Husen--sang bapak mertua angkat bicara.
"Terima kasih, Pak, Bu. Sudah mengerti aku dan Putri. Sebenarnya, kita ada sih tabungan. Tetapi, kita lebih memilih menggunakan tabungan itu untuk dipakai buka usaha saja. Menurut Bapak dan Ibu bagaimana?" tanya Dimas pada mertuanya.
"Nah, itu lebih bagus. Ibu dan Bapak dukung kalian. Iya, kan Bu?"
"Pastinya dong, Pak. Apapun yang kalian lakukan kami pasti meridai asalkan berada di jalan kebenaran."
"Alhamdulillah ...." ucap Putri dan Dimas serentak. Mereka bersyukur mempunyai orang tua yang nggak pernah menuntut untuk memamerkan harta di depan orang banyak meski mereka tahu kalau penghasilan Putri dan Dimas bila digabungkan bisa mencapai puluhan juta per bulannya.
Berbeda dengan suasana makan malam di rumah Ningsih, terasa sangat canggung. Hanya denting suara sendok dengan piring beradu saja yang terdengar. Ningsih masih melancarkan jurus ngambeknya yaitu mendiamkan semua orang yang ada di rumahnya.
"Bu?" panggil Nadia pada Ningsih untuk mencairkan suasana. Namun yang dipanggil hanya acuh pura-pura tak mendengar.
"Sudah sayang, mungkin Ibu masih butuh waktu untuk sendiri." Nino berusaha menenangkan istrinya.
Selesai makan malam, Ningsih segera menuju kamarnya dengan tanpa sepatah kata pun bahkan piring kotor bekasnya pun dia tinggal begitu saja, biasanya selesai makan langsung disimpannya menuju wastafel. Ningsih tergolong wanita yang sangat suka kebersihan. Nadia dan Nino hanya bisa saling pandang, seakan mereka tahu isi pikiran masing-masing.
"Terus bagaimana, Mas? Kalau kita ikutin kemauan Ibu, dapat uang darimana?" Nadia memulai pembicaraan kala mereka sudah masuk kamar. Nadia tahu betul keuangan mereka saat ini.
"Mas masih ada sisa tabungan, kalau kurang kamu pinjam dulu saja sama Putri, InsyaAllah secepatnya Mas ganti. Kamu mau, kan?"
"Tetapi aku malu, Mas," jawab Nadia dengan lesu.
"Demi Ibu, Sayang. Kamu nggak mau kan kalau Ibu jadi bahan gosip di kampung ini?"
"Ya sudah. Nanti aku coba bilang sama Putri. Aku minta maaf, atas kelakuan Ibu, Mas." Lagi-lagi Nadia bicara dengan nada lesu.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi, ya. Kamu tidur duluan saja. Mas mau telpon si bos, pinjam uang buat modal kamu buka usaha dan bayar ke Putri nanti."
"Oh, iya, Mas. Ibu kok kayaknya belum ada tanda-tanda mau jualan lagi, ya? Apa Ibu sudah merasa capek, mau istirahat saja?" tanya Nadia ketika dirinya sadar akan sesuatu.
"Coba kamu tanya nanti besok, kalau pun Ibu mau berhenti jualan juga nggak apa-apa, memang sudah waktunya Ibu istirahat." Nino masih bisa memberikan jawaban yang bijak meski ibu mertuanya itu telah membuatnya begitu pusing.
Nadia tak menanggapi lagi ucapan terakhir dari suaminya, sebelum akhirnya dirinya memutuskan untuk tidur. Hatinya sedikit lega karena sudah mendapatkan solusi untuk masalahnya meski dengan menghutang pada sahabatnya.
* * *
"Sudah dua minggu Ibu nggak jualan, kapan mau mulai lagi, Bu?" tanya Nadia pagi ini pada Ningsih.
"Ngapain Ibu jualan? Malu! Punya mantu dari kota masa masih jualan juga," hardik Ningsih.
"Astagfirullah, Bu. Kalau Ibu mau berhenti jualan juga nggak apa-apa tetapi alasannya jangan begitu dong!"
"Jangan ngajarin orang tua! Mana oleh-oleh buat warga? Pokoknya Ibu bakal mogok makan kalau kalian belum membagikan oleh-oleh itu," tegas Ningsih seraya berlalu pergi.
"Bu ..." Nadia menghela napas dalam untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba sesak.
Setelah minta izin pada sang suami yang sedang mencari rekomendasi toko yang menjual batik dan bakpia pathok di daerah sini, dia bergegas menuju rumah Putri.
* * *
"Assalamualaikum, Put."
"Waalaikumussalam, Nadia. Pasti mau ngasih oleh-oleh honeymoon, ya?" Ternyata yang membuka pintu itu Lela--ibunya Putri.
"Bu, suruh masuk dulu lah, jangan langsung bilang begitu, malu," tutur Putri seraya menuju pintu.
"Ibu kan cuma basa-basi, Put. Udah, yuk masuk, Nad. Ibu mau mengantarkan makan siang bapakmu dulu, Put."
"Iya, Bu. Hati-hati."
Setelah mengobrol cukup lama tentang banyak hal, Nadia mulai mengutarakan maksud kedatangannya. Memang, semenjak Nadia menikah dengan Nino, Ningsih selalu saja menghina Putri yang hanya menikah dengan seorang pemuda dari kampung sebelah dan itu membuat Lela tak terima sang putri terus dihina. Lalu demi menjaga hubungan kedua orang tua mereka agar tak semakin parah, akhirnya Putri dan Nadia memutuskan untuk berkomunikasi lewat ponsel saja.
"Put, kamu punya simpanan uang nggak? Seperti yang Ibu kamu tanyakan tadi. Ibuku terlanjur bilang mau ngasih oleh-oleh buat orang sekampung," ungkap Nadia dengan raut muka sedih dan malu.
"Ibuku juga kemarin cerita. Nanti aku tanya dulu Mas Dimas ya, gapapa kan?" Putri menatap Nadia nanar.
"Nggak apa-apa, Put. Kalau misalnya Dimas mengizinkan kamu transfer saja ya, biar nggak ada yang tahu soal ini."
"Ya sudah kalau mau transfer, aku izin dulu sama Mas Dimas. Kamu yang sabar ya, Nad."
"Makasih banyak ya Put, sampaikan maaf juga pada Ibu kamu. Aku pamit, ya. Masih ada kerjaan." Setelah memeluk Putri, Nadia kembali pulang.
Nadia berharap suami Putri mengizinkan, biar bisa langsung pesan dan besok pagi bisa diambil lalu dibagikan agar Ningsih mau lagi bicara dengannya.
* * *
"Assalamualaikum, semuanya ... Terima kasih loh ... sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Maaf juga, harusnya saya yang ke rumah ibu-ibu. Biasa lah ... urusan saya banyak jadi agak sibuk," sapa Ningsih setengah berteriak di depan semua warga yang mayoritas ibu-ibu itu. Ternyata benar, cukup memberitahu ratu gosip saja tanpa harus susah payah pamer ke semua orang, warga langsung mengetahuinya.
"Alhamdulillah, kami yang seharusnya mengucapkan terima kasih, Bu Ning. Nadia sama Nino sudah ingat sama warga di sini. Nggak tanggung-tanggung loh, sekampung dibagi," ucap salah satu dari ibu-ibu itu, mewakili semua warga.
"Ah, cuma oleh-oleh sedikit." Ningsih merendah, padahal dalam hatinya dia begitu bangga.
Ketika semua sudah kebagian, mereka pamit pulang dan tak lupa mendo'akan Nadia dan Nino.
"Tunggu! Ini bener kan pakai uangnya Nadia sama Nino, Bu Ning?" teriak Lela yang berhasil membuat warga menghentikan langkahnya untuk pulang lalu berbalik menuju tempat mereka berdiri tadi.
Anda Mungkin Juga Suka





