
Pamer Menantu
Bab 3
"Jelas dong, Bu Lela pikir pakai uang siapa memangnya? Ingat loh, mantuku itu dari kota bukan dari kampung sebelah." Ningsih menatap tajam Lela dengan pandangan merendahkan.
"Bu Lela, jangan merusak suasana, kalau misalnya tertarik mau bagi-bagi juga ayo, mumpung kami masih di sini."
"Iya, betul tuh, Bu. Udah syukur mereka ingat sama warga di kampungnya bukan tetangga lagi, ini Bu Dian aja yang rumahnya di ujung kampung ini datang. Jarang loh orang yang seroyal gini." Arum, pemilik warung di kampung ini juga ikut bersuara.
"Udah kaya, baik lagi. Nggak sombong," ujar seorang ibu yang memakai daster bermotif bunga.
"Dengerin tuh! Kalau iri ikutan dong! Lagian Putri punya uang segini banyak darimana? Suaminya saja nggak kelihatan kerja kok, malah mau ngaku-ngaku uang anaknya dipinjam. Jangan malu-maluin diri sendirilah, Bu Lela. Kelihatan banget nggak mampunya." Ningsih semakin merasa dibela.
"Saya cuma memastikan saja, Bu Ning bukannya iri. Soalnya semalam saya dengar Putri sama Dimas bahas pinjam uang. Awalnya saya kira mereka yang bakal punya rencana meminjam uang tapi lama-kelamaan saya dengerin ternyata Nadia yang pinjam uang dan sekarang pas banget lagi bagi oleh-oleh sama orang sekampung. Berarti Bener kan? Maaf ya, Nad. Saya bukan mau mempermalukan kalian, cuma nggak mau saja uang anak saya yang bakal mereka gunakan buat modal usaha malah dipinjamin gini. Masih mending kalau bayarnya cepat. Sengaja bicara di sini biar semua ingin mengetahui kejelasannya juga kalau saya bicara cuma berdua sama Bu Ning, mustahil mau mengakui."
Tanpa aba-aba, Ningsih langsung menoleh pada anak dan menantunya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Bu, kita bisa jelasin." Nadia bicara sambil mendekati ibunya. Sedangkan, Nino berusaha menenangkan semua warga.
"Maaf, ya ibu-ibu atas kegaduhan ini. Saya minta maaf tetapi saya ikhlas kok memberi ini jadi ibu-ibu boleh pulang sekarang."
"Enggak, ah, Mas Nino kita mau tahu yang sebenarnya," ujar Siti yang diangguki semua warga.
"Bu, ayo pulang. Kita bicara di rumah. Nggak baik buka aib orang." Putri tergopoh-gopoh dari rumah kala ada yang memberitahu kalau sang Ibu sedang adu mulut dengan Ningsih.
"Jadi, bener kan uang ini pinjam dari kamu, Put?" Lela menatap intens anak semata wayangnya itu.
"Kita pulang dulu yuk, Bu, nanti aku jelasin di rumah, Nggak enak bicara masalah keluarga dihadapan orang banyak begini."
"Oke, tapi awas kalau kamu bohongin ibu." Lela bergegas menuju rumah sambil digandeng sang putri.
"Udah, ah yuk bubar. Bu Lela nya juga sudah pulang."
"Padahal saya penasaran banget."
"Tahu nih. Nggak seru."
Suara ibu-ibu terdengar mengeluh seakan ini adalah hiburan yang tiba-tiba terhenti. Ningsih, Nadia dan Nino pun masuk ke dalam lalu mengunci pintu rumahnya, memastikan kalau nggak ada yang mendengarkan percakapan mereka. Nadia segera menuju dapur membuat teh hangat tiga gelas.
"Bisa-bisanya kalian mempermalukan Ibu!" Ningsih menatap tajam Nadia dan Nino, dia tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Bisa-bisanya meminjam uang pada orang yang selalu dia hina, mau taruh dimana mukanya kalau memang benar.
"Bukan maksud kami mempermalukan Ibu. Kan, Ibu sendiri yang minta kita ngelakuin ini."
"Jadi benar kalian pinjam uangnya Putri? Ibu pikir kalian pakai uang sendiri tapi nyatanya duit pinjaman. Memalukan!" ujar Ningsih setengah berteriak.
"Maaf, Bu. Tapi Nino janji secepatnya akan ganti. Ibu nggak usah khawatir."
"Harus dong secepatnya, malu! Dan satu lagi kalian harus memastikan keluarga Lela nggak bocorin masalah ini! Bukannya membahagiakan malah jadi momen memalukan."
* * *
Sementara di rumah Lela,
"Kamu kenapa sih, Nak? Tega bohongin Ibu demi membela sahabat kamu itu?"
"Aku nggak bohongin Ibu, cuma mau bantu Nadia saja, kasihan dia." Putri masih berusaha menenangkan sang ibu.
"Jadi bener kan, mereka pakai uang kalian?"
"Ada apa sih, Bu. Ramai begini sampai kedengeran ke belakang rumah. Malu ah kalau ada tetangga lewat terus mereka mendengar." Husen menghampiri istri dan putri tercintanya.
"Iya, Bu, Pak. Aku sama Mas Dimas memberi pinjaman Nadia uang. Kita kasihan Bu, lihat mereka ditekan terus sama Ibunya. Aku nggak bisa membayangkan kalau ada di posisi dia, lagi butuh tapi nggak ada yang mau ngasih pinjaman. Nadia itu kan sahabat aku dari kecil. Sedikit banyaknya aku tahu dia dan yang jelas dia beda dengan ibunya."
"Itu masalahnya. Sudah ya, Bu. Nggak usah diperpanjang. Biarlah, mungkin mereka mampu membantu Nadia."
"Tapi kan, Pak ..."
"Ssstttt.... Sudah ayo bantuin Bapak di belakang. Ini urusan Putri sama Dimas. Itu kan uang mereka bukan uang kita, Bu. Ayo ..." Segera Husen meraih tangan istrinya itu mengajaknya ke belakang rumah, karena kalau dibiarkan pasti akan merembet kemana-mana.
* * *
Setelah memastikan Putri ada di rumah lewat sambungan telepon, Nadia dan Nino bersiap menuju rumah sahabatnya itu. Beruntung, bos Nino di tempatnya bekerja mempercayainya untuk memberi pinjaman karena memang dia sudah bekerja lama juga di sana.
"Aku boleh minta tolong lagi nggak, Put?"
"Kenapa lagi Nadia?" potong Lela. Dia kesal putrinya dimintai tolong terus sedangkan ibunya terus saja menghina.
"Kalau nggak keberatan, jangan sampai orang lain tahu, kalau aku pinjam uang buat bagi oleh-oleh."
"Baik, lagian masalahnya juga sudah selesai. Bilang saja ini salah paham kalau ada yang bertanya." Husen yang bicara sekarang. Semua mengangguk setuju.
* * *
Putri dan Dimas memilih bekerja dari rumah semenjak menikah dan tinggal bersama orang tua Putri, bukan tak mampu membangun rumah namun karena Putri anak semata wayang jadi sang ibu tak ingin jauh dari putri tercintanya. Sedangkan Dimas, sudah tak memiliki orang tua. Harta peninggalan orang tuanya dia pakai buat meneruskan pendidikan di kota dan di sanalah dia bertemu dengan Putri. Namun, Dimas masih berhubungan baik dengan saudaranya. Terkadang, kalau bukan Dimas yang ke sana mereka yang silaturahmi ke sini.
Matahari sudah mulai meninggi. Setelah sarapan, Putri dan Dimas mengangkat ember besar berisi pakaian untuk dijemur. Sedangkan, Husen memberi makan kambing yang berada tepat di belakang rumahnya. Lela bersiap menuju warung Arum, belanja untuk makan siang.
"Jadi gimana Bu Ning, kejadian kemarin? Bener nggak si Nadia pinjam uang sama Putri buat bagi oleh-oleh?"
Siti masih belum tenang kalau rasa penasarannya belum terjawab. Jadi, mumpung ada orangnya segera ia menjadi orang pertama yang bertanya.
Yang ditanya malah tertawa lebar sambil memilih sayuran.
"Kok ketawa sih, Bu Ning. Kami ini penasaran," sahut Siti gemas.
"Tahu sendiri kan kalau saya itu suka sengaja menyindir si Putri anak Bu Lela jadi ya, kalau nggak sakit hati pengen balas rasa sakitnya nggak bakal lah dia kayak kemarin. Biasa, mumpung ada kesempatan ngejatuhin saya."
Mendengar namanya disebut langkah Lela terhenti. Dia menajamkan pendengarannya dari samping warung Arum, ingin tahu fitnah apa lagi yang akan Ningsih katakan. Lela tak habis pikir, dikasih hati malah minta jantung.
Anda Mungkin Juga Suka





