Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, matahari belum sempat menembus kabut tipis yang menutupi kota. Udara dingin menyelinap lewat celah jendela mansion Rafhael, membuat Nadira Arsyad menggigil. Ia duduk di sofa ruang keluarga, menatap Arka yang sedang bermain dengan mainannya di karpet lembut. Tangannya yang mungil terus bergerak, menyentuh setiap boneka dan balok kayu seakan dunia ini hanya miliknya.

Nadira tersenyum tipis, namun senyum itu tak sampai ke matanya. Semalam, pikirannya tak pernah tenang. Ia terus mengingat kata-kata Rafhael kemarin malam-kata-kata yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat hatinya berputar-putar. Ia tidak bisa menahan rasa penasaran dan amarah sekaligus. Bagaimana mungkin seseorang yang dingin seperti Rafhael bisa menyimpan kelembutan, sekaligus menjadi bagian dari tragedinya sendiri?

Arka menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar, seakan tahu bahwa Nadira sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Nadira... lihat, ini pesawat terbang!" seru Arka, mengangkat balok kayu berwarna biru.

Nadira tertawa pelan, air mata hampir menetes karena haru. "Wah, hebat, Nak. Pesawat terbangnya bisa terbang tinggi ya?"

Arka mengangguk serius, menaruh balok itu di udara seakan terbang sungguhan. Nadira menatap anak itu, dan di saat yang sama hatinya terasa campur aduk-kasih sayang yang perlahan muncul, rasa kehilangan yang tak pernah hilang, dan rasa bersalah yang menghantui. Ia tahu, ia tidak boleh terlalu dekat dengan Rafhael, tapi bagaimana mungkin hatinya tetap dingin ketika melihat Arka?

Tiba-tiba, dering telepon di ruang tamu memecah keheningan. Nadira segera mengangkatnya, dan suara wanita di seberang terdengar tergesa-gesa.

"Nadira, kau harus hati-hati! Ini bukan sekadar urusan anak atau keluarga. Rafhael... dia tidak seperti yang kau kira," kata suara itu.

Nadira mengerutkan dahi. "Siapa ini? Dan maksudmu apa?"

"Namaku... Vanya. Aku kenal dengan situasi Rafhael lebih lama daripada orang lain. Jangan terlalu percaya padanya. Ada sesuatu yang tidak ia katakan padamu... sesuatu yang bisa menghancurkanmu."

Nadira menelan ludah. Suara itu seperti alarm di hatinya. Ia tahu, dunia Rafhael jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan. "Apa maksudmu? Vanya, tolong jelaskan!"

"Jangan terlalu cepat terikat. Kau tidak akan mengerti kalau aku menjelaskannya lewat telepon. Temui aku malam ini di kafe 'Aurora'. Tunggu aku jam delapan. Jangan beri tahu siapapun," kata Vanya, lalu menutup telepon begitu saja.

Sepanjang hari, Nadira tidak bisa fokus. Pikirannya melayang ke peringatan Vanya. Ia tahu mengambil langkah terlalu gegabah bisa berbahaya, tapi rasa ingin tahunya terlalu kuat. Rafhael sendiri tengah berada di kantor keluarga Satrio, menangani urusan bisnis yang rumit dan berbahaya. Mansion terasa sepi tanpa kehadirannya, dan Nadira merasa ada ruang kosong di hatinya yang hanya bisa diisi oleh rasa penasaran-dan rasa takut.

Ketika malam tiba, Nadira mengenakan mantel gelapnya dan keluar dari mansion. Hujan tipis turun, menambahkan ketegangan dalam langkahnya. Kafe 'Aurora' tidak terlalu ramai, cahaya lampu hangat memantul di lantai kayu, menciptakan atmosfer yang kontras dengan dunia gelap Rafhael.

Vanya sudah menunggu di sudut ruangan, seorang wanita berambut panjang dan wajah tegas, menatap Nadira begitu ia masuk.

"Terima kasih sudah datang," kata Vanya, suaranya rendah. "Aku tidak punya banyak waktu. Kau harus tahu, Rafhael memiliki musuh yang bahkan kau tidak bisa bayangkan. Mereka... orang-orang yang akan memanfaatkan posisimu untuk melemahkannya, dan jika kau terlalu dekat, mereka tidak akan ragu untuk mengancammu juga."

Nadira menelan ludah, hatinya berdebar. "Jadi... anaknya, Arka, dan aku... kita menjadi target?"

Vanya mengangguk. "Betul. Dan ada satu hal lagi. Suamimu... Alfian... kematiannya bukan sepenuhnya kebetulan. Ada pihak yang ingin membuat semua tragedi itu terjadi. Dan Rafhael... dia sedang menyembunyikan lebih banyak daripada yang kau tahu."

Nadira menutup mulutnya, terkejut. Dunia yang ia kira mulai ia pahami, ternyata jauh lebih berbahaya. Rasa sakit dan duka yang ia alami bukan sekadar tragedi pribadi; itu bagian dari jaringan lebih besar, sebuah perang yang ia bahkan tidak pernah pilih.

"Vanya... aku harus bagaimana?" Nadira bertanya, suaranya hampir berbisik.

"Bersikap hati-hati. Jangan tunjukkan rasa takut. Jangan terlalu dekat dengan Rafhael... dan jangan pernah lupakan tujuanmu. Kau di sini bukan hanya sebagai ibu Arka. Kau ada di sini untuk bertahan hidup," kata Vanya, lalu bangkit dan meninggalkan kafe sebelum Nadira sempat bertanya lebih banyak.

Dalam perjalanan kembali ke mansion, pikiran Nadira berputar liar. Ia sadar satu hal: ia semakin terjebak dalam dunia yang gelap, dan setiap langkahnya bisa menjadi taruhan nyawa. Namun, ada satu hal yang membuat hatinya campur aduk: Rafhael.

Begitu ia memasuki mansion, Rafhael sudah menunggunya di ruang keluarga, Arka tertidur di pangkuannya. Ia menoleh, matanya gelap namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

"Kau pulang lebih cepat," katanya. Suaranya terdengar lembut, berbeda dari biasanya.

"Ada... seseorang yang menemuiku. Mengatakan hal-hal yang seharusnya aku dengar," jawab Nadira, mencoba menahan emosi.

Rafhael mengamati wajahnya, menatap tajam. "Apapun yang kau dengar... jangan biarkan itu mempengaruhiku. Percaya padaku atau tidak, aku tidak akan pernah menyakiti anakku. Dan aku... tidak akan membiarkanmu terluka."

Nadira menelan ludah. Kata-kata itu menimbulkan rasa hangat di hatinya, tapi juga ketegangan. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Rafhael, dan rasa ingin tahunya semakin kuat.

Beberapa hari kemudian, mansion dipenuhi ketegangan. Rafhael sibuk menangani urusan bisnis, menghadapi ancaman dari rivalnya yang berani. Nadira di satu sisi, berusaha menjaga Arka, tapi hatinya terus dihantui pertanyaan tentang suaminya sendiri dan dunia gelap Rafhael.

Suatu malam, ketika Nadira sedang membersihkan kamar Arka, ia menemukan sebuah laci rahasia di meja Rafhael. Rasa penasaran menguasai dirinya. Ia membuka laci itu dan menemukan dokumen, foto-foto, dan catatan yang mengungkap hubungan antara suaminya Alfian dan dunia Rafhael-hubungan yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Alfian ternyata tidak sepenuhnya tidak bersalah, dan beberapa tindakannya ternyata mempercepat tragedi yang menimpa dirinya.

Ketika Rafhael muncul di pintu, Nadira menegak. "Apa ini?" tanyanya, suaranya tegang.

Rafhael menatapnya tanpa ekspresi. "Itu... masa lalu. Sesuatu yang harus kau ketahui jika ingin bertahan di sini. Tapi ingat... bukan untuk disebarkan. Dunia ini keras, Nadira. Sekali kau masuk, kau tidak bisa mundur lagi."

Nadira menatap mata Rafhael, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh yang jarang terlihat. Rasa sakit, kehilangan, dan beban tanggung jawab membayangi sorot matanya. Nadira merasakan sesuatu yang tidak ia mengerti: campuran ketertarikan, rasa iba, dan amarah yang sama-sama membakar hati mereka.

Hari-hari berikutnya menjadi permainan keseimbangan yang rumit. Nadira berusaha merawat Arka, memahami Rafhael, dan mempelajari rahasia dunia yang baru ia masuki. Ia harus berpura-pura kuat, sementara Rafhael juga mulai menurunkan temboknya sedikit demi sedikit.

Di satu malam, ketika hujan deras turun lagi, Rafhael duduk di balkon dengan Nadira mendekat membawa selimut. Mereka duduk dalam diam, mendengar suara hujan yang menenangkan sekaligus menakutkan.

"Kau tahu," kata Rafhael tiba-tiba, suaranya rendah. "Aku tidak pernah percaya cinta akan muncul di dunia ini... tapi anehnya, aku merasa sesuatu yang berbeda padamu. Sesuatu yang tidak boleh aku rasakan."

Nadira menelan ludah, hatinya berdebar. Ia tahu-bahkan di tengah rahasia, dendam, dan luka-ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka. Sebuah cinta yang tak mudah diterima, tapi sulit dihindari.

Dan malam itu, Nadira menyadari satu hal: ia berada di persimpangan jalan antara dendam dan cinta, kehilangan dan harapan, keselamatan dan bahaya. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dunia Rafhael gelap, berbahaya, tapi juga memikat-dan ia tahu, sekali langkahnya salah, ia bisa kehilangan segalanya.

Namun, di tengah ketakutan dan rahasia itu, satu hal menjadi jelas: ia harus bertahan. Untuk Arka, untuk dirinya sendiri, dan untuk sesuatu yang mungkin... meskipun sulit diterima, disebut cinta.

Malam itu kota diselimuti kabut tebal. Lampu-lampu jalan seakan memudar di balik tirai hujan yang turun perlahan, menciptakan suasana yang sunyi namun menekan. Di lantai atas mansion Rafhael, Nadira Arsyad duduk di tepi balkon, memandang jauh ke arah kota yang gemerlap. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat, tapi hawa dingin dari angin malam menembus kulitnya, membuat tubuhnya menggigil.

Di dalam mansion, suara langkah Rafhael terdengar berat, menghampiri balkon. Nadira tidak menoleh, hanya merasakan kehadirannya. Rafhael berdiri di sampingnya, diam beberapa saat sebelum berbicara.

“Kau masih terjaga?” suaranya terdengar lembut, tapi ada ketegangan yang tak bisa diabaikan.

“Ya,” jawab Nadira singkat. “Ada yang tidak bisa kupahami… tentang dunia ini… tentangmu… tentang semuanya.”

Rafhael menatap kota itu sejenak sebelum menoleh padanya. “Dunia ini memang tidak mudah dimengerti. Tapi kau… kau lebih kuat daripada yang kau kira.”

Nadira menunduk, menahan perasaan yang mulai menguasai hatinya. Kata-kata Rafhael seperti racun dan obat sekaligus. Ia ingin membencinya, tapi sulit. Ada sesuatu dalam cara Rafhael menatapnya, sesuatu yang membuat hatinya bergetar tanpa bisa dijelaskan.

Beberapa jam sebelumnya, siang itu, Nadira menerima paket misterius. Sebuah kotak kecil berisi dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masa lalu Rafhael dan keluarganya. Beberapa foto menunjukkan Rafhael muda dengan orang-orang yang Nadira tidak kenal—beberapa terlihat jelas sebagai anggota jaringan gelap, beberapa lainnya sebagai pejabat kota yang tampak bersih namun memiliki hubungan rahasia dengan dunia mafia.

Di antara dokumen itu, ada sebuah catatan tulisan tangan yang berbunyi:

"Percayalah, tidak semua yang terlihat seperti yang mereka katakan. Dunia ini tidak ramah bagi hati yang lemah."

Nadira menatap tulisan itu, hatinya dipenuhi rasa penasaran sekaligus takut. Siapa yang mengirimkannya? Apakah ini bagian dari permainan Rafhael, atau ada pihak lain yang ingin memperingatkan atau mengancamnya?

Ia mencoba melupakan rasa takut itu saat kembali merawat Arka. Anak itu tampak riang, tertawa saat ia bermain dengan balok kayu dan boneka. Nadira menyadari satu hal: di tengah kekacauan dan rahasia yang mengelilinginya, Arka adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap kuat.

Di sisi lain, Rafhael mulai merasakan tekanan dari rival bisnisnya, seorang pengusaha misterius bernama Herman Darmawan, yang berani menantangnya secara terbuka. Herman bukan hanya rival biasa; ia memiliki jaringan sendiri, licik dan tanpa ampun. Rafhael tahu, jika ia lengah, Arka dan Nadira bisa menjadi target.

Rafhael memanggil Nadira ke ruang kerjanya sore itu. Ia menutup pintu dengan tegas dan menatap Nadira dengan mata gelap yang tak bisa disembunyikan.

“Kau harus tahu sesuatu,” kata Rafhael, suaranya berat. “Dunia ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku… aku bisa melindungimu, tapi ada batasnya. Orang-orang di luar sana… mereka tidak peduli siapa kau atau siapa Arka. Mereka hanya ingin keuntungan dan kekuasaan.”

Nadira menelan ludah. “Maksudmu… kita… kita bisa diserang?”

Rafhael mengangguk, ekspresinya tegang. “Ya. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Arka. Tapi kau harus mengerti, aku tidak bisa selalu berada di sisimu. Kau harus belajar bertahan… bukan hanya untuk anakmu, tapi untuk dirimu sendiri.”

Nadira merasakan campuran rasa takut dan kemarahan. “Kau… kau ingin aku hidup dalam ketakutan terus-menerus?”

“Bukan itu maksudku,” jawab Rafhael, nadanya lembut. “Aku ingin kau kuat. Kuat untuk anakmu… dan untuk dirimu sendiri. Dunia ini… tidak ramah bagi yang lemah.”

Malamnya, Nadira duduk di kamar Arka, mengamati anak itu tertidur pulas. Ia merasakan campuran emosi—rasa sayang yang semakin kuat pada Arka, ketakutan akan ancaman yang mengintai, dan rasa penasaran yang tak kunjung reda tentang Rafhael. Ia menyadari satu hal: ia semakin sulit menjaga jarak dari pria itu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Rafhael masuk, menutup pintu dengan lembut. Nadira menatapnya, jantungnya berdebar.

“Kau masih di sini?” tanyanya.

“Ya,” jawab Nadira. “Aku… tidak bisa tidur.”

Rafhael duduk di kursi dekat tempat tidur Arka. “Aku juga tidak bisa tidur. Pikiran tentang masa lalu… tentang musuh-musuhku… tentangmu… semua bercampur aduk.”

Nadira menunduk, hati berdebar. “Aku… aku ingin mengerti, tapi semuanya terlalu rumit.”

Rafhael menatapnya, mata gelapnya seakan menembus jiwanya. “Aku tahu. Tapi kau harus percaya… sedikit saja. Aku tidak akan menyakitimu. Tidak Arka, dan tidak kau. Tapi kau harus siap menghadapi dunia ini. Kau harus kuat.”

Nadira menarik napas dalam. Kata-kata Rafhael terdengar menenangkan, tapi juga menegangkan. Ia tahu dunia itu berbahaya, dan setiap langkahnya harus diperhitungkan. Namun ada satu hal yang semakin jelas di hatinya: ia mulai… mempercayai Rafhael. Dan rasa itu membuatnya takut, karena rasa percaya itu bisa berbalik menjadi luka jika sesuatu terjadi pada Rafhael atau Arka.

Beberapa hari kemudian, mansion menjadi target serangan kecil dari orang-orang Herman. Seorang kurir datang dengan ancaman tersembunyi, dan Rafhael segera menyadari bahwa ini adalah peringatan.

Rafhael mengajak Nadira ke ruang kerjanya. “Kau harus tetap tenang. Ini hanya peringatan. Tapi mereka tahu Arka ada di sini, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapat apa yang mereka inginkan.”

Nadira menatapnya, takut tapi juga marah. “Kau bilang kau bisa melindungiku. Tapi sekarang… kita sudah diserang. Apa yang aku lakukan kalau kau tidak di sini?”

Rafhael menatapnya dengan mata gelap penuh tekad. “Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu atau Arka. Tapi kau harus tahu… kadang dunia ini tidak memberi kita pilihan. Kadang kita harus bertarung, dan kadang kita harus menunggu.”

Nadira mengangguk perlahan, hatinya bergetar. Ia sadar, ia tidak bisa selalu bergantung pada Rafhael. Ia harus belajar menjadi kuat, bukan hanya untuk anak itu, tapi juga untuk dirinya sendiri.

Malam itu, setelah Arka tertidur, Nadira berjalan ke balkon lagi. Hujan baru saja reda, dan udara malam terasa segar tapi menusuk tulang. Rafhael muncul di belakangnya, membungkusnya dengan selimut hangat.

“Kau terlalu dingin,” kata Rafhael, suaranya rendah. “Kau harus menjaga dirimu sendiri. Aku bisa melindungimu, tapi kau juga harus menjaga hatimu.”

Nadira menatap mata Rafhael, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan yang tulus. “Aku… aku mencoba. Tapi rasanya… sulit untuk percaya sepenuhnya.”

Rafhael menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi percayalah… kadang orang yang paling dingin pun memiliki sisi yang hangat. Dan aku… aku ingin kau tahu itu.”

Nadira menunduk, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, di tengah dunia gelap dan rahasia yang mengelilingi mereka, ada satu hal yang mulai tumbuh di antara mereka—perasaan yang sulit diterima, tapi tak bisa dihindari: cinta.

Namun, di balik itu semua, ancaman dari rival Rafhael terus membayangi. Dunia mereka penuh intrik, rahasia, dan bahaya yang bisa datang kapan saja. Nadira menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus membakar hati: hidupnya sekarang bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang memilih siapa yang bisa dipercayai, siapa yang bisa dicintai, dan siapa yang bisa ia lawan.

Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang samar, Nadira dan Rafhael duduk berdampingan, masing-masing menahan rahasia, ketakutan, dan perasaan yang mulai sulit dikendalikan. Dunia mereka mungkin penuh kegelapan, tapi ada satu hal yang menjadi terang di tengah semuanya: satu sama lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri kecil tuan mafia
8.9
Hidup Yui Miura hancur saat ia terjebak prostitusi daring dan bertemu pemimpin Yakuza yang bengis. Pria itu mengklaim Yui sebagai budak demi melunasi hutang nyawa sang ayah, Matsumoto. Meski hancur, Yui mencoba bernegosiasi dengan menawarkan rahimnya demi imbalan uang. Kesepakatan gelap ini dimulai dengan tawa sinis sang mafia, membawa mereka ke dalam malam penuh gairah yang justru menjadi awal penyesalan mendalam bagi kehidupan Yui selanjutnya.
Sampul Novel Jalan Raih Mahkota
8.8
Richard Ahmed mengkhianati pertunangan kami dengan berselingkuh bersama Eva Marsh. Eva bahkan mengirimkan video mesra mereka yang didukung penuh oleh keluarga Richard. Melihat penghinaan itu, saya menghubungi ayah saya, seorang bos sindikat kriminal besar, untuk menyiapkan pembalasan melalui siaran langsung di media sosial. Namun, bantuan itu menuntut syarat besar: saya harus kembali ke Zlomont dan memimpin Brooks Group sebagai kepala barunya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Mafia Kejam Jatuh Cinta
9.6
Deo Morte Picasso, pemimpin mafia Italia yang benci wanita, terpaksa kabur ke desa demi menghindari tuntutan nikah orang tuanya. Di sana, sang Dewa Kematian justru terpikat oleh kembang desa hingga terlibat skandal satu malam. Tragedi kematian orang tua memaksa Deo pergi meninggalkan gadis itu dalam kondisi hamil. Dua tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, Deo kini sudah berkeluarga, meninggalkan luka dan tanda tanya besar bagi nasib sang ibu tunggal.
Sampul Novel PAMANKU SUAMIKU
8.2
Pasca kecelakaan maut orang tuanya, Aruna terpaksa menikahi pamannya demi memenuhi wasiat terakhir. Pria itu dirumorkan sebagai bos mafia kejam, namun ketangguhan Aruna selama sembilan belas tahun hidup merana justru berhasil menaklukkannya. Saat rahasia besar mulai terkuak, muncul wanita yang mengaku sebagai calon nyonya rumah dan sosok masa lalu yang menghantui sang suami. Mampukah Aruna mempertahankan rumah tangganya di tengah jeratan dunia gangster?
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM
9.6
Meskipun berusaha keras menjauh dari dunia kriminal dengan melarikan diri dari sang ayah, darah mafia tetap mengalir deras di nadinya. Pria ini dikenal sangat dingin dan kejam, memiliki rupa menawan layaknya iblis Lucifer dengan gerak-gerik yang mematikan. Namun, watak keras dan berbahaya tersebut justru menjadi daya tarik yang tak tertahankan bagi para wanita serta orang-orang di sekelilingnya, menciptakan pesona gelap yang sangat memikat.