Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, mansion Rafhael tampak hening, tetapi ketenangan itu menipu. Di balik dinding tebal dan lampu-lampu mewah, dunia gelap terus mengintai. Nadira Arsyad berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap jalanan kota yang berkilau di bawah cahaya lampu jalan. Hujan baru reda, tapi aroma basah dan dingin masih terasa menusuk. Ia memegang secangkir kopi panas, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

Sejak malam terakhir Rafhael berbicara tentang musuh dan masa lalu, Nadira tidak bisa tidur nyenyak. Setiap bayangan di mansion ini membuatnya gelisah. Ia tahu, ancaman yang datang bukan sekadar kata-kata-itu nyata. Orang-orang yang mengintai Rafhael bukan hanya rival bisnis; mereka adalah bagian dari dunia gelap yang selama ini Nadira tidak pernah bayangkan.

Pagi itu, suasana mansion berubah tegang. Seorang kurir datang dengan paket misterius lagi, kali ini berupa amplop cokelat tua yang disegel dengan lambang yang Nadira tidak kenal. Rafhael memeriksa paket itu dengan mata gelap dan wajah tanpa ekspresi.

"Ada yang ingin bermain-main dengan kita," katanya singkat, membuka amplop itu dan membaca isinya. Nadira mendekat, mencoba melihat isi surat itu tanpa terlihat terlalu penasaran.

Surat itu berisi ancaman jelas: "Aku tahu semua tentang Nadira Arsyad. Jika kau terus dekat dengan Rafhael, anakmu tidak akan selamat. Dunia yang kau masuki terlalu berbahaya untuk hati yang lemah."

Nadira merasakan adrenalin mengalir deras. Kata-kata itu seperti racun, tapi juga menguatkan hatinya. Ia sadar, ia tidak bisa lari dari situasi ini. Ia harus belajar bertahan, bukan hanya untuk Arka, tapi juga untuk dirinya sendiri.

Rafhael menatapnya, ekspresinya tegang namun tenang. "Kau dengar itu?" Nadira mengangguk. "Ini bukan sekadar ancaman. Mereka tahu kita dekat. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu atau Arka. Tapi kau harus mengerti... kadang kita harus menghadapi kegelapan dengan keberanian, bukan ketakutan."

Hari itu, Nadira mencoba melatih diri untuk lebih waspada. Ia berlatih menangani situasi darurat, mulai dari mengunci mansion dengan sistem keamanan baru hingga belajar mengenali perilaku mencurigakan dari orang-orang di sekitarnya. Rafhael mengajarinya secara diam-diam, tidak terlalu terang-terangan, tetapi cukup agar Nadira mengerti bahwa dunia ini bukan tempat yang aman bagi orang yang tidak siap.

Saat siang, Arka bermain di halaman mansion, tertawa riang meski hujan semalam membuat tanah basah. Nadira menatapnya, merasa campur aduk. Anak itu adalah sumber kekuatannya, tetapi juga pengingat bahwa setiap langkahnya kini lebih berat. Ia tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas kehidupan seorang anak kecil yang polos.

Tiba-tiba, Arka berlari ke arah rumah kaca di taman, tertawa riang. Nadira mengikuti langkahnya, dan ketika ia sampai di sana, ia melihat Arka bermain dengan seekor burung merpati yang baru saja lepas dari kandangnya. Hatinya meleleh melihat kebahagiaan anak itu.

Namun, di balik senyum Arka, Nadira menyadari satu hal: kebahagiaan ini rapuh. Dunia yang mereka tinggali penuh dengan ancaman yang bisa menghancurkan semuanya dalam sekejap.

Malamnya, Rafhael memanggil Nadira ke ruang kerjanya. Lampu-lampu redup menciptakan bayangan panjang di ruangan itu. Nadira duduk di kursi di depannya, menatap mata gelap yang penuh rahasia.

"Kau mulai mengerti dunia ini," kata Rafhael. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Suamimu... Alfian... kematiannya bukan sekadar kecelakaan atau kesalahan waktu. Ada pihak yang sengaja mengatur semuanya. Dan sebagian dari itu... menyentuhmu sekarang."

Nadira menahan napas. "Apa maksudmu?"

Rafhael menarik napas panjang. "Alfian terlibat dalam sesuatu yang lebih besar daripada yang kau tahu. Ia mencoba melawan, tapi... terlambat. Dan sekarang, musuh lama masih mengincar mereka yang ia tinggalkan, termasuk kau dan Arka."

Nadira merasakan darahnya berdesir. Semua yang ia pikir sederhana ternyata penuh intrik. Ia merasa dunia ini terlalu rumit untuk dipahami, tapi ia tidak bisa lari. Ia harus bertahan.

Beberapa hari kemudian, mansion menerima tamu tak diundang. Dua pria berpakaian hitam muncul di gerbang, membawa pesan yang jelas: mereka ingin bertemu Rafhael dan Nadira secara langsung. Rafhael segera memerintahkan semua keamanan untuk bersiap, dan Nadira merasakan jantungnya berdegup kencang.

Ketika mereka masuk ke ruang tamu, Nadira merasakan ketegangan luar biasa. Rafhael berdiri di depannya, matanya gelap namun penuh kewaspadaan. Salah satu pria itu membuka mulut. "Rafhael Satrio... kami tahu tentang Nadira. Jangan anggap ini peringatan biasa."

Nadira merasa bulu kuduknya berdiri. Dunia yang ia masuki ternyata lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang menenangkan dalam kehadiran Rafhael. Ia tahu, di balik dinginnya pria itu, ada tekad untuk melindungi mereka.

Malamnya, setelah semua ketegangan mereda, Nadira duduk di balkon lagi. Rafhael muncul dengan dua gelas anggur, duduk di sampingnya.

"Kau tahu... dunia ini penuh ancaman," katanya, menatap kota yang gelap namun berkilau. "Tapi aku percaya kau bisa bertahan. Kau lebih kuat daripada yang kau kira."

Nadira menunduk, jantungnya berdebar. "Aku... aku mencoba. Tapi rasanya... sulit untuk percaya sepenuhnya. Dunia ini terlalu gelap, dan aku merasa... terjebak."

Rafhael menatapnya dalam-dalam. "Aku tahu. Tapi kadang, kita harus menghadapi kegelapan untuk menemukan cahaya. Dan cahaya itu... bisa saja datang dari orang yang tidak pernah kita sangka. Aku... mungkin tidak layak untukmu, tapi aku ingin kau tahu... aku akan melindungimu. Aku akan melindungi Arka. Dan aku... tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama."

Nadira menatap mata Rafhael, dan di saat itu, ia merasakan campuran perasaan yang tak bisa dijelaskan: takut, penasaran, dan... mulai menerima sesuatu yang ia anggap tak mungkin-cinta.

Namun, di balik perasaan itu, ancaman dari musuh Rafhael terus membayang. Nadira menyadari satu hal: hidupnya sekarang bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang memilih siapa yang bisa dipercayai, siapa yang bisa dicintai, dan siapa yang bisa ia lawan.

Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang samar, Nadira dan Rafhael duduk berdampingan, masing-masing menahan rahasia, ketakutan, dan perasaan yang mulai sulit dikendalikan. Dunia mereka mungkin penuh kegelapan, tapi ada satu hal yang menjadi terang di tengah semuanya: satu sama lain.

Pagi itu kota masih diselimuti kabut tipis. Jalanan basah karena hujan semalam, dan aroma tanah basah menembus udara hingga ke dalam mansion Rafhael. Nadira Arsyad duduk di tepi tangga utama, menatap sekilas ke halaman taman yang basah. Ia menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi hari yang ia tahu akan sulit.

Arka bermain sendiri di halaman, meskipun tanah basah membuat beberapa kali ia tersandung. Nadira menatapnya, hatinya hangat sekaligus sakit. Anak itu, polos dan penuh energi, menjadi satu-satunya alasan Nadira tetap bertahan di dunia yang keras ini. Ia tahu, tidak ada ruang untuk lemah.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Nadira segera berdiri dan membuka pintu. Di hadapannya, seorang pria berpakaian jas hitam dengan wajah serius menatapnya. Tanpa basa-basi, pria itu menyerahkan sebuah amplop cokelat tua, sama seperti beberapa hari sebelumnya, lalu pergi begitu saja.

Nadira menatap amplop itu, rasa penasaran dan ketakutan bercampur. Ia membuka amplop dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat foto-foto lama Rafhael dan Alfian, beberapa dokumen rahasia, dan secarik catatan:

"Apa yang kau pikir kau tahu hanyalah permukaan. Kebenaran jauh lebih gelap. Siapkah kau menghadapi masa lalu yang bisa menghancurkan segalanya?"

Jantung Nadira berdegup kencang. Ia tahu satu hal: masa lalu Rafhael dan Alfian ternyata saling terkait lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Rasa takut dan penasaran membuatnya sulit bernapas.

Siang itu, Nadira menemukan Rafhael sedang menunggu di ruang kerjanya, wajahnya serius. Ia segera menyerahkan dokumen yang diterimanya. Rafhael mengambilnya dan menatap beberapa foto dengan wajah dingin, namun matanya gelap menyiratkan emosi yang sulit dijelaskan.

“Ini… masa lalu yang tidak bisa aku sembunyikan lebih lama,” katanya akhirnya. “Alfian dan aku… ada hubungan yang tak terduga. Ia terlibat dalam urusan yang tidak ia pahami sepenuhnya. Dan sebagian dari itu… menyentuhmu sekarang.”

Nadira menahan napas. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

Rafhael menatapnya lama, suaranya berat. “Alfian berusaha melawan mereka. Musuh lama… mereka yang ingin menghancurkan jaringan kami. Ia terlambat… dan sekarang, ancaman itu kembali. Mereka tahu ada orang yang dekat denganku… termasuk anakmu.”

Nadira merasakan ketegangan luar biasa. Semua yang ia pikir sederhana ternyata penuh intrik. Ia tahu dunia ini jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Sore harinya, Nadira memutuskan untuk mengunjungi kafe kecil di kota, tempat Vanya menunggu. Vanya menatap Nadira begitu ia duduk.

“Kau mulai mengerti, kan?” tanya Vanya tanpa basa-basi. “Dunia Rafhael bukan sekadar bisnis dan kekuasaan. Ada banyak pihak yang mengincar posisinya, dan kau… kau sudah terjebak di dalamnya.”

Nadira mengangguk. “Aku tahu sekarang. Tapi aku tidak bisa mundur. Aku harus melindungi Arka… dan diriku sendiri.”

Vanya menatap serius. “Itu benar. Tapi ingat, di dunia ini, tidak semua yang kau anggap teman benar-benar bisa dipercaya. Bahkan mereka yang dekat dengan Rafhael… bisa menjadi ancaman. Kau harus pandai membaca tanda-tanda.”

Nadira menarik napas panjang. Ia tahu dunia ini penuh jebakan, dan satu langkah salah bisa menghancurkan semuanya.

Ketika malam tiba, mansion tampak sepi. Rafhael duduk di ruang tamu, Arka sudah tertidur. Nadira mendekat, membawa secangkir teh hangat.

“Kau lelah?” tanya Rafhael.

“Sedikit,” jawab Nadira. “Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan semua ini. Musuh, masa lalu… semuanya begitu rumit.”

Rafhael menatapnya lama. “Aku tahu. Tapi kau harus ingat satu hal… aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada anakku atau padamu. Namun kau juga harus siap. Dunia ini… kejam.”

Nadira menunduk. Kata-kata itu menegangkan sekaligus menenangkan. Ia tahu, di balik dingin dan kerasnya Rafhael, ada tekad untuk melindungi mereka. Dan itu membuat hatinya campur aduk—takut, penasaran, dan mulai menerima sesuatu yang ia anggap tak mungkin: perasaan terhadap Rafhael.

Beberapa hari kemudian, mansion menghadapi ancaman nyata. Sebuah mobil hitam berhenti di gerbang, dan sekelompok pria bersenjata turun. Rafhael segera memerintahkan semua pengamanan untuk bersiap. Nadira merasa jantungnya berdebar kencang.

Ketika para pria itu masuk, Rafhael berdiri di depan Nadira dan Arka, matanya gelap dan penuh kewaspadaan. Salah satu pria membuka mulut: “Rafhael Satrio… kami tahu tentang Nadira. Jangan anggap ini ancaman biasa.”

Nadira merasakan bulu kuduknya berdiri. Dunia yang ia masuki ternyata lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Tapi di saat yang sama, ada rasa aman di sisi Rafhael. Ia tahu, di balik dinginnya pria itu, ada tekad untuk melindungi mereka.

Setelah ancaman itu berlalu, malam kembali hening. Nadira duduk di balkon, mencoba menenangkan diri. Rafhael muncul, duduk di sampingnya dengan secangkir anggur.

“Kau tahu… dunia ini penuh bahaya,” katanya. “Tapi aku percaya kau bisa bertahan. Kau lebih kuat daripada yang kau kira.”

Nadira menatap matanya, jantungnya berdebar. “Aku… aku mencoba. Tapi rasanya sulit percaya sepenuhnya. Dunia ini terlalu gelap, dan aku merasa… terjebak.”

Rafhael menatapnya dalam-dalam. “Kadang, kita harus menghadapi kegelapan untuk menemukan cahaya. Dan cahaya itu… bisa datang dari orang yang tidak pernah kita sangka. Aku… mungkin tidak layak untukmu, tapi aku ingin kau tahu… aku akan melindungimu. Aku akan melindungi Arka. Dan aku… tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama.”

Nadira menunduk, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, di tengah dunia yang gelap dan penuh rahasia, ada satu hal yang mulai tumbuh di antara mereka: perasaan yang sulit diterima, tapi tak bisa dihindari—cinta.

Namun, ancaman dari musuh Rafhael terus membayang. Nadira sadar hidupnya sekarang bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang memilih siapa yang bisa dipercayai, siapa yang bisa dicintai, dan siapa yang bisa ia lawan.

Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang samar, Nadira dan Rafhael duduk berdampingan, masing-masing menahan rahasia, ketakutan, dan perasaan yang mulai sulit dikendalikan. Dunia mereka mungkin penuh kegelapan, tapi ada satu hal yang menjadi terang di tengah semuanya: satu sama lain.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri kecil tuan mafia
8.9
Hidup Yui Miura hancur saat ia terjebak prostitusi daring dan bertemu pemimpin Yakuza yang bengis. Pria itu mengklaim Yui sebagai budak demi melunasi hutang nyawa sang ayah, Matsumoto. Meski hancur, Yui mencoba bernegosiasi dengan menawarkan rahimnya demi imbalan uang. Kesepakatan gelap ini dimulai dengan tawa sinis sang mafia, membawa mereka ke dalam malam penuh gairah yang justru menjadi awal penyesalan mendalam bagi kehidupan Yui selanjutnya.
Sampul Novel Jalan Raih Mahkota
8.8
Richard Ahmed mengkhianati pertunangan kami dengan berselingkuh bersama Eva Marsh. Eva bahkan mengirimkan video mesra mereka yang didukung penuh oleh keluarga Richard. Melihat penghinaan itu, saya menghubungi ayah saya, seorang bos sindikat kriminal besar, untuk menyiapkan pembalasan melalui siaran langsung di media sosial. Namun, bantuan itu menuntut syarat besar: saya harus kembali ke Zlomont dan memimpin Brooks Group sebagai kepala barunya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Mafia Kejam Jatuh Cinta
9.6
Deo Morte Picasso, pemimpin mafia Italia yang benci wanita, terpaksa kabur ke desa demi menghindari tuntutan nikah orang tuanya. Di sana, sang Dewa Kematian justru terpikat oleh kembang desa hingga terlibat skandal satu malam. Tragedi kematian orang tua memaksa Deo pergi meninggalkan gadis itu dalam kondisi hamil. Dua tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, Deo kini sudah berkeluarga, meninggalkan luka dan tanda tanya besar bagi nasib sang ibu tunggal.
Sampul Novel PAMANKU SUAMIKU
8.2
Pasca kecelakaan maut orang tuanya, Aruna terpaksa menikahi pamannya demi memenuhi wasiat terakhir. Pria itu dirumorkan sebagai bos mafia kejam, namun ketangguhan Aruna selama sembilan belas tahun hidup merana justru berhasil menaklukkannya. Saat rahasia besar mulai terkuak, muncul wanita yang mengaku sebagai calon nyonya rumah dan sosok masa lalu yang menghantui sang suami. Mampukah Aruna mempertahankan rumah tangganya di tengah jeratan dunia gangster?
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM
9.6
Meskipun berusaha keras menjauh dari dunia kriminal dengan melarikan diri dari sang ayah, darah mafia tetap mengalir deras di nadinya. Pria ini dikenal sangat dingin dan kejam, memiliki rupa menawan layaknya iblis Lucifer dengan gerak-gerik yang mematikan. Namun, watak keras dan berbahaya tersebut justru menjadi daya tarik yang tak tertahankan bagi para wanita serta orang-orang di sekelilingnya, menciptakan pesona gelap yang sangat memikat.