Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacar Bayaran

Pacar Bayaran

Isack terjebak dalam rasa frustasi setelah hubungannya dengan Chana ditentang keras oleh orang tuanya. Bertahun-tahun melajang, ia tiba-tiba dipaksa sang ayah untuk membawa calon istri ke pesta perusahaan. Di tengah desakan itu, ia bertemu Eve dan menawarinya posisi sebagai kekasih bayaran. Akankah Eve menerima tawaran tersebut? Segalanya menjadi rumit ketika sandiwara ini memicu benih cinta yang nyata di antara mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Setelah Ayah kembali dari New York besok lusa, perusahaan akan mengadakan pesta yang akan dihadiri tamu dari luar negeri dan rekan bangsawan dari luar kota. Pesta ini untuk keberhasilan kerja sama dengan berbagai perusahaan lain." Sejenak Tuan Prhison berhenti berucap menatap Isack lebih dalam. "Ayah ingin, kau membawa seorang wanita untuk menjadi pasanganmu di pesta itu!" tambahnya dengan wajah mulai murka ketika Tuan Prhison mengingat bahwa beberapa koleganya mengetahui tentang kabar kalau putranya setengah mati menunggu Chany . Tak mungkin Tuan Prhison membiarkan hal itu karena mereka pasti akan mencibir bahwa Isack tak bisa bertanggung jawab dalam keluarga Prhison untuk generasi selanjutnya.

"Kenapa terlalu mementingkan pemikiran orang lain?" ucap Isack, baginya tak begitu peduli dengan omongan orang mengenai hubungannya dengan Chany.

Plak!!

Satu tamparan keras mendarat di pipinya dan mampu membuat ujung bibir Isack pecah hingga terlihat merah serta terdapat bercak darah di sana.

"Lancang!!" geram Tuan Prhison. Dia kemudian menghela nafas panjang. "Seharusnya aku membiarkanmu pergi dengan Ibumu waktu itu!" Tuan Prhison bahkan paham kalau Isack sangat membenci ibunya.

Meskipun begitu tak pernah sedikit pun Isack membenci ayahnya karena perlakuan kasar yang selama ini dia terima. Jika ada orang yang harus dia benci tak lain dan tak bukan itu adalah Ibunya.

Tidak ada cara lain untuk memaksa putranya mendengar semua perintahnya kecuali menggunakan Sofia untuk membuat Isack menurut, Tuan Prhison akhirnya terpaksa harus mengancam Isack malam itu.

Sesaat Tuan Prhison memejamkan matanya sebelum mengucapkan kalimat yang akan membuat Isack meradang. "Kau ... datang ke pesta dan perkenalkan seorang perempuan yang kau bawa kepada publik sebagai calon istrimu ... atau Ayah akan menghentikan pengobatan Sofia?"

~♤~

"Datanglah ke pesta, bawa seorang perempuan dan perkenalkan ke publik kalau dia kekasihmu! Ingat keselamatan Sofia ada di tanganmu!"

Ancaman Tuan Prhison terngiang jelas di telinga, Isack hanya diam tertunduk menikmati rasa nyeri yang kini mulai menjalar di pipi, sebuah tamparan keras itu mungkin hanya sedikit rasa sakit yang Isack rasakan ketimbang rasa sakit yang ibunya berikan kepada ayahnya dulu.

Setelah ibunya lebih memilih pergi bersama lelaki lain, Tuan Prhison benar-benar hancur dan dia tak ingin hal itu terjadi pada putranya.

Namun Prhison seolah tak bercermin pada apa yang menimpa ayahnya. Cinta memang mampu membutakan mata hati seseorang tapi setidaknya selalu gunakan logika.

~♤~

Isack melangkah keluar dari ruangan. Tangannya sibuk mengusap bibirnya yang merah.

"Kak, ayah menamparmu lagi?" Sofia ternyata masih berdiri di depan pintu menunggu kakaknya keluar dari ruangan.

Perhatian Isack tertuju ke Sofia. "Kenapa kau masih di sini?" Mencoba mengalihkan perhatian.

"Aku sudah mengira hal ini akan terjari."

"Jangan hiraukan luka kecil ini, tidurlah jaga kesehatanmu." Isack sempat mengusap pipi Sofia sebelum melangkah hendak pergi.

"Tunggu, aku akan mengoles salep di lukamu." Sofia meraih lengannya kemudian mengambil salep dari kotak P3K.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sekarang kau tidur ya ... aku akan kembali ke rumahku."

"Kau tidak menginap?"

Isack menoleh. "Kau bahkan tahu, rumah ini akan menjadi seperti neraka jika ada aku dan ayah di sini ... setidaknya salah satu memilih pergi itu jauh lebih baik."

Sofia meraih tangannya dan meletakkan salep di atas telapak tangan Isack. "Pakai ini sebelum kau tidur Kak ... sayang sekali kalau wajah tampanmu ini ada bekas luka nantinya ... tidak lucu, kan?"

Isack tersenyum tipis dibuatnya. Pffftt! "Baiklah, terima kasih ... aku pergi." Tangannya membelai lembut rambut Sofia kemudian menghadiahi sebuah kecupan dalam di kening.

~♤~

Isack mengendarai mobilnya kembali menuju ke rumah, dalam perjalanan dia terus memikirkan ucapan ayahnya.

Tentu saja kesehatan Sofia jauh lebih penting ketimbang dirinya, namun Isack sangat bingung bagaimana menghadapi segala sesuatunya nanti.

Mobilnya berhenti di sebuah minimarket, setelah membuka pintunya dia melangkah keluar masuk ke dalam dengan pandangan kosong.

"Oh ada pelanggan?" ucap Tifani, perempuan paruh baya pemilik toko. Dia tengah duduk di bangku depan. Saat ingin beranjak dari kursi untuk melayani pembeli tiba-tiba seorang gadis bernama Eve Daphni menahannya.

"Ibu istirahat saja, biar aku yang melayani." Eve beranjak berdiri dan masuk ke dalam toko. Membiarkan Tyfani beristirahat terlebih dulu.

"Terima kasih, Nak."

Setelah berhasil masuk ke dalam toko, Isack melangkah menuju ke almari pendingin mengambil sebuah botol minuman, membuka tutup kemudian meneguk isinya perlahan.

Di sisi lain Eve telah berdiri di meja kasir menunggu dan memperhatikan dari jauh.

"Jika aku menerima perintah ayah, aku tidak yakin semua akan berhenti sampai di situ ... dia pasti akan terus memantauku! Tapi, Sofia ...," bisiknya dalam hati, Isack meremas rambutnya kuat. Wajahnya nampak frustasi mengingat ayahnya mengancam akan menghentikan pengobatan adiknya jika dia tak mengikuti keinginannya.

Huufftt! Isack menghela nafas panjang sembari meneguk kembali sisa minumannya, setelah itu melangkah menuju kasir meletakkan botol di atas meja.

Eve Daphni sejak tadi memperhatikan, Isack terlihat seperti kebingungan dan terus melamun. "17.000 Tuan."

Isack masih diam tak menyahut, membuat Eve harus kembali berucap. "Tuan?" Dia sampai mengeraskan suaranya.

"Oh, iya?" Isack tersadar dari lamunan.

"Semuanya 17.000." Eve Daphni mengulangi ucapannya. Pandangannya teralihkan ke bibir Isack yang mulai terlihat membiru. Dia mengira bahwa lelaki itu baru saja berkelahi dengan seseorang.

Isack membuka jas, bermaksud mengambil dompet untuk membayar tagihan namun justru terdiam saat tak mendapati dompetnya berada di sana. Akhirnya dia teringat bahwa dompetnya berada di jas yang diberikan kepada Sofia.

"Astaga, sial!" umpatnya. Isack sempat melirik ke Eve Daphni, ekspresinya tampak bingung. Mencari cara bagaimana harus membayar minuman yang telah dia ambil. "Uhm, bisakah aku pulang terlebih dulu ... aku janji nanti akan kembali dan membayarnya. Semua 17. 000 'kan?"

"Apa, bagaimana maksud Anda Tuan. Saya kurang paham?" Eve Daphni bertanya dengan sangat lembut dan sopan.

"Mm, begini ... sebenarnya tadi aku sudah membawa dompetku tapi ... waktu di rumah aku harus mengganti jasku dan ...." Isack berusaha keras untuk terus menjelaskan kronologi bagaimana dompetnya bisa tertinggal sehingga dia tak bisa membayar minuman itu. Isack menghela nafas panjang berharap Eve akan mengerti. "Dan ... maaf sebenarnya dompetku tertinggal!"

Eve Daphni terdiam saat mendengar penjelasan dari Isack, kemudian setelah mengetahui permasalahan sebenarnya dia berucap dengan tenang. "Oh, aku mengerti, jadi maksudnya ... Anda tidak bisa membayar minuman ini?" Eve memastikan, masih bertanya dengan lemah lembut, namun Isack malah merasa tersinggung.

Entah karena dia baru saja bertengkar dengan ayahnya atau memang dia mudah terbawa emosi sehingga Isack salah mengartikan ucapan serta maksud Eve. "Kau pikir aku tidak mampu membayar harga sebotol minuman ini, hah!! Kalau dompetku tidak tertinggal aku juga pasti akan membayarnya sekarang juga!" Isack sampai menajamkan matanya mencoba mengendalikan emosi.

Tanpa berpikir panjang, dia melepas jam tangan lalu meletakkannya di meja, mendorong kearah Eve yang berdiri di balik meja kasir.

Eve menatap jamnya sekilas. "Maksud Anda apa Tuan?" Bingung karena Isack justru memberikan jam tangannya.

"Jam ini bahkan bisa untuk membeli motor, kita pakai sistem barter dan ambil kembaliannya." Isack tersenyum tipis. Senyum yang terlihat mengejek.

Eve dibuat terkejut saat Isack berucap dengan nada tinggi bercampur kesal. "Ada apa dengan lelaki ini?" Eve Daphni mengambil jam tangannya. "Maaf Tuan, tapi aku tidak butuh jammu. Mau harganya setinggi apa pun aku hanya butuh tujuh belas ribu!"

Mereka saling menatap tajam sekilas, masing-masing keras dengan pendiriannya.

"Lagi pula kalau kau mampu membayarnya ya sudah, bayar sekarang!!" Eve mulai terpancing emosi.

"Apa kau tidak dengar aku bilang apa tadi!! Jelas-jelas aku bilang kalau dompetku tertinggal! Kau menyuruhku untuk membayar sekarang? Mau aku bayar pakai apa. Misal pun dompetku tidak tertinggal aku juga pasti akan membayarnya penuh!" Isack terus berucap dengan nada tinggi.

Sesaat dia menatap Eve dengan matanya yang tajam marah, Isack tersentak melihat ekspresi wajah Eve Daphni berubah ketakutan namun tak mungkin baginya menurunkan ego karena terlanjur kesal dan malu.

Hah! Eve menghela nafas kasar mencoba menenangkan dadanya yang sempat terpancing emosi, setelah merasa sedikit tenang dia berucap. "Bawalah minumanmu, Tuan! Aku akan membayar tagihannya untukmu." Eve melirik ke arah Tifani yang duduk di luar, berharap perempuan paruh baya itu tak mendengar suara Isack yang sempat marah-marah dengan nada tinggi.

"Tidak perlu!" Isack merasa kesal, dia merasa Eve telah memandang rendah dirinya hanya karena tak bisa membayar sebotol minuman, padahal Eve bertanya dengan sopan dan dia juga bermaksud untuk membayarkan minuman itu namun Isack salah terima dengan maksud kebaikannya. "Tidak usah sok-sokan membayar minumanku kalau ujung ujungnya hanya mencoba merayu dan mendekatiku, basi!" sahutnya.

"Haaa?? Ada masalah apa sih di hidupnya? Apa aku telah mengatakan sesuatu yang salah ... mendekatinya? Merayu? Hahahah ya ampun, lelaki ini terlalu percaya diri!" umpat Eve dalam hati. Dia sangat kebingungan melihat reaksi Isack yang tak terduga.

"Aku anggap ini hutang, catat!! Aku besok akan kembali dan membayarnya!" Isack melirik sinis, terlihat sekali bahwa dia sangat kesal.

Lelaki itu telah keluar dari minimarket dan berdiri di samping mobil, tangannya telah membuka tutup botol dan bermaksud untuk menghabiskan sisa minumannya namun ketika teringat kejadian yang baru saja terjadi, seketika Isack membuang botol itu beserta seluruh isi yang tersisa di dalamnya.

Brak!!

"Menyebalkan!!" umpatnya kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

Eve keluar dari toko, pandangannya terus tertuju ke mobil Isack yang semakin jauh dan menghilang di telan kegelapan.

"Aneh, dasar!"

~♤~

Setelah semalam memenuhi keinginan adiknya dengan berkencan, Isack pun mulai dekat dengan perempuan itu. Namanya Ivory, perempuan bayaran, yang di bayar oleh Sofia untuk mendekati kakaknya agar bisa melupakan Chana. "Turunlah."

Isack mengantar Ivory ke tempat kuliah dan menurunkannya di depan halaman kampus.

"Terima kasih sudah mengantarku. Kau tahu ... aku senang bisa mengenalmu. Tapi, tidak bisakah kita bersama setelah aku selesai kuliah? " Rengek Ivory membuat Isack kesal, tapi kalau sampai menolak bisa-bisa Ivory laporan kepada Sofia.

"Aku banyak pekerjaan dan lagi ...." Isack terdiam saat teringat ucapan ayahnya semalam.

"Kenapa, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Ivory meraih lengannya dan bermanja dengan Isack sebelum berpisah. "Lalu, kapan kita bertemu lagi?"

"Entahlah, aku akan mengatur jadwalku terlebih dulu?" Isack tersenyum palsu. Tak mungkin baginya mengajak Ivory ke pesta, melihat tingkahnya yang binal membuatnya khawatir jika mengenalkannya pada sang ayah. Sekilas Isack membuang pandangannya keluar dari balik kaca, bersamaan dengan itu dia melihat sosok perempuan yang nampak tak asing di mata.

Isack merasa sangat familiar dengan wajahnya. Akhirnya dia teringat bahwa perempuan itu adalah penjaga kasir yang dia temui semalam di mini market. "Dia kuliah di sini juga?" tanyanya dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Hidup eksekutif muda Davina Hadinata hancur setelah menjalin hubungan dengan Aria Wardana yang ternyata beristri. Aria memfitnahnya hingga ia menganggur, sementara bisnis ayahnya bangkrut akibat skandal sang kakak. Tragedi memuncak saat istri Aria bunuh diri, memicu dendam Rajata Bagaskara. Rajata menodai Vina hingga hamil sebagai balasan atas kehilangan keponakannya. Di tengah penderitaan dan kemiskinan, Vina berjuang bertahan hidup demi harapan yang tersisa.
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Embun terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Alih-alih kasih sayang, Putra justru menciptakan neraka karena hatinya terpaku pada wanita lain yang sudah Embun anggap kakak sendiri. Meski telah berkorban demi meraih cinta sang suami, perjuangan Embun selalu dipandang sebelah mata. Luka hatinya kian dalam saat Putra menyebut nama wanita itu usai mereka berhubungan intim. Di tengah kepedihan ini, mampukah Embun tetap bertahan saat kehadirannya tak lagi dianggap?
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.
Sampul Novel My Hot Daddy
8.7
Terdesak masalah ekonomi, Joanna terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menjadi sugar baby bagi Regan. Pria itu memberikan satu syarat mutlak: hubungan mereka tidak boleh melibatkan perasaan. Namun, di tengah kemewahan tersebut, Joanna mendengar rahasia gelap mengenai jati diri Regan yang sebenarnya. Kini, ia terjebak dalam dilema antara bertahan demi uang atau mengikuti kata hati. Akankah benih cinta tumbuh meski sejak awal telah dilarang?
Sampul Novel Pembantuku Menjadi Pendampingku
8.0
Danil dan Karin adalah pasangan kaya raya yang sangat gila kerja. Kesibukan Karin membuatnya memutuskan untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga baru guna melayani kebutuhan suaminya di rumah. Namun, niat baik untuk meringankan beban domestik tersebut justru memicu keretakan dalam rumah tangga mereka. Kehadiran orang baru ini perlahan berubah menjadi ancaman besar yang menghancurkan keharmonisan pernikahan mereka. Sanggupkah cinta mereka bertahan?