Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacar Bayaran

Pacar Bayaran

Isack terjebak dalam rasa frustasi setelah hubungannya dengan Chana ditentang keras oleh orang tuanya. Bertahun-tahun melajang, ia tiba-tiba dipaksa sang ayah untuk membawa calon istri ke pesta perusahaan. Di tengah desakan itu, ia bertemu Eve dan menawarinya posisi sebagai kekasih bayaran. Akankah Eve menerima tawaran tersebut? Segalanya menjadi rumit ketika sandiwara ini memicu benih cinta yang nyata di antara mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kau bisa mengajak Ivory ke pesta lusa nanti." Sofia sedang berada di ruang kerja, membahas masalah dengan siapa Isack akan pergi ke pasta itu.

Isack tersenyum sinis mendengar ide gila dari adiknya. "Kau sudah tidak waras! Ivory terlalu liar ... aku takut dia berulah saat bertemu dengan ayah."

"Lalu siapa lagi, masalahnya teman perempuanku tidak banyak."

"Aku tidak habis pikir kebapa kau bisa mengenalkanku pada Ivory. Apa semua teman perempuanmu seperti itu?"

"Tidak, tapi ... kalau di pikir-pikir, dia memang agak liar dibanding yang lain."

"Dasar kau ini. Kita pikirkan nanti saja ... lagi pula pestanya juga masih beberapa hari lagi."

"Kau ... tidak berniat menghubungi Chana, kan?"

Mata Isack langsung tertuju kepada Sofia. "Aku kehilangan semua kontaknya, lagi pula ...," ucapnya terhenti.

"Lagi pula ... kenapa kau masih saja berharap pada perempuan itu. Sudahlah, aku lelah jika pembicaraan sudah menyangkut tentang perempuan itu. Aku pergi dulu."

"Tunggu, kau mau pergi kemana?" sahut Isack, seketika saja dia teringat dengan hutangnya semalam di mini market.

"Kenapa?"

"Pergilah ke minimarket pertigaan depan gedung."

Alis Sofia menyatu." "Kenapa? Memangnya apa yang harus aku beli di mini market itu?"

"Tidak ada, aku hanya ... aku belum membayar minumanku semalam."

"Kau ... meninggalkan hutang di toko itu? Hahahahah ...."

"Jangan tertawa, itu semua juga katena dirimu."

"Wait! Kenapa jadi aku yang salah?" tawanya seketika menghilang dan berganti dengan kerutan halus di keningnya.

"Semalam dompetku tertinggal di jas yang kau bawa!"

"Oh, hahahaha ... jadi kau berhutang dengan si pemilik toko? Tenang-tenang, aku akan pergi ke sana dan membayar hutangmu." Sofia tertawa geli ketika mendengar Kakaknya, si pemegang saham terbesar di perusahana itu dan memiliki kartu hitam berplakat emas serta uang berlimpah bahkan bisnisnya berada hampir di setiap negara tapi justru memiliki hutang yang sangat tak seberapa kepada toko kecil.

Hahahahha....

Sofia masih tertawa riang dibuatnya, benar-benar tertawa puas mendengar Kakaknya memiliki hutang.

"Diamlah! Apa kau tidak merasa bersalah!" Isack mengambil selembar kertas dan meremasnya membentuk seperti bola setelah itu melemparkannya ke Sofia yang masih tertawa terbahak bahak.

"Pergilah ke sana dan bayar hutangku! Aku malas bertemu dengan penjaga tokonya!"

"Kenapa? Apa penjaga tokonya jelek? sehingga membuatmu malas bertemu dengannya?"

"Entahlah, yang yang pasti dia sangat menyebalkan! Sudah sana cepat pergi, sebelum habis kesabaranku karena teringat dengan perempuan itu!"

"Iya iya, aku akan mampir dan membayar hutangmu nanti. Seperti apa wajahnya sampai sampai kau terlihat kesal sekali dengannya! Aku jadi penasaran."

~♤~

Tring!

Suara bel terdengar ketika ada orang masuk ke dalam toko, Eve langsung menoleh menyambutnya. "Selamat datang," ucap Alluna menyapa Sofia yang baru saja masuk.

"Oh, iya." Bella tersenyum ramah saat melihat Alluna menyapanya. "Apa ini? Dia tak terlalu buruk! Bahkan penjaga toko ini terlihat sangat manis," gumamnya dalam hati setelah melihat sendiri wajah penjaga toko yang sempat membuat kakaknya kesal.

"Ada yang bisa aku bantu?" ucap Eve ketika melihat Sofia hanya berdiri diam kebingungan. Dia melangkah mendekatinya. "Kau mencari sesuatu?"

"Mmm, aku kesini karena ... kakakku," jelasnya.

"Kakak?" Eve terdiam karena kebingungan.

"Kakak yang mana maksudmu aku tidak mengerti?" Eve sempat menutup almari pendingin sebelum akhirnya dia melangkah menuju kasir.

"Maksudku, kakakku ... dia bilang semalam dia meninggalkan hutang di sini?" Sofia memutar tubuhnya mengikuti gerakan Eve yang berjalan menuju ke kasir.

"Hutang?" Alisnya menyatu.

Eve sempat terdiam memikirkan ucapannya, kemudian teringat dengan seorang lelaki dengan luka memar di bibir semalam yang mengambil sebotol minuman dan tak bisa membayar. "Oh, lalu ... kau?" Eve berucap mempertanyakan siapa dirinya.

"Aku Sofia, adiknya."

"Oh, begitu ... sebenarnya kau tidak perlu repot-repot datang kemari karena aku sudah membayar minuman Kakakmu semalam." Eve bahkan sangat ramah dan penuh senyum ketika berucap dengan Sofia.

"Tapi, bagaimanapun juga itu adalah hutang dan aku harus membayarnya untuk Kakakku."

Eve menghela napa spanjang. "Aku melakukannya dengan senang hati, jadi kau tidak perlu mengembalikan uangnya." Eve berusaha menolak dengan sopan namun Sofia bersikuku tetap ingin mengembalikan uang yang tak seberapa itu.

"Oh atau kalau tidak, aku akan mengembalikannya lebih, mungkin 10 atau 20 kali lipat?" Sofia tak bermaksud menghina atau apapun namun maksud baiknya tak diterima positif oleh Eve ketika mengingat perlakuan Kakaknya semalam.

Sofia bermaksud baik namun mungkin caranya yang salah karena itu justru mengundang emosi.

Eve melirik ke mobil yang terparkir di seberang jalan, dia tahu bahwa itu adalah mobil Sofia, karena sebelumnya dia sempat melihatnya keluar dari mobil itu.

Ekspresi wajahnya berubah muram setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sofia. "Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan! Kau tidak perlu mengembalikan uang itu!"

"Kenapa?" Sofia benar-benar tak menyangka kalau Eve akan marah karena maksud baiknya.

Sesaat Eve sempat menatap Sofia dengan lekat, terlihat sekali bahwa dia menahan amarah. "Apa aku terlihat seperti seorang yang membutuhkan uang? Aku melakukannya dengan senang hati ... harus berapa kali aku bilang padamu dan juga bahkan pada kakakmu kalau aku membayar tagihan minuman itu dengan ikhlas. Jadi kalian tidak perlu mengembalikannya! Apa itu kurang jelas!" Eve sangat kesal dia berhenti berucap sesaat, menghela nafas setelahnya kembali berucap, "Keluar dari toko ini!" Eve berfikir semua orang kaya sama saja, selalu melihat orang miskin seperti dirinya tergila gila dengan uang.

"Maaf, tapi aku tidak bermaksud menyinggungmu ... aku hanya–" ucapannya terputus karena Evw memotong pembicaraan.

"Keluarlah!!" sahut Eve dengan tenang, dia tak ingin membuat keributan di mini market.

Sofia menghela nafas panjang dia tahu kalau Eve tersinggung dengan ucapannya namun dia tak bermaksud demikian. Dia akhirnya memilih keluar dari toko dan kembali ke mobil.

"Salahku di mana? Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Baru kali ini aku melihat perempuan menolak uang, bahkan aku menawarinya lebih! Bukannya diterima, malah marah-marah? Salahku di mana coba?"

~♤~

"Benar apa katamu, jika perempuan itu nenyebalkan. Dia aneh!"

Isack dan Sofia tengah nenikmati makan siang di sebuah restoran.

"Apa maksudmu?"

"Perempuan yang bekerja di mini market itu, yang kau bilang kau ada hutang di sana, dia menolak uang dariku ... aku tidak percaya di jaman seperti ini masih ada orang menggunakan keikhlasan untuk membantu orang lain yang tidak di kenal."

Isack terpaku mendengar ucapan adiknya, entah apa yang dia pikirkan namun saat teringat dengan kedua matanya, dia merasa ada berbeda dengan perempuan kebanyakan.

"Kak, woi? Apa kau mendengar ucapanku!" Sofia mengeraskan suaranya agar Isack tersadar dari lamunan.

"Apa?"

"Hah kau ini, kau dan perempuan itu sama-sama menyebalkan. Aku bicara panjang lebar dari tadi tapi kau tak mendengarnya!"

"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

"Oh ya, bagaimana kalau kita minta bantuan padanya?" Sofia berucap seolah lupa dengan kejadian yang baru saja membuatnya kesal.

Keningnya berkerut kasar memikirkan ucapan Sofia. "Bantuan siapa?"

"Perempuan penjaga minimarket itu."

"Apa kau kehilangan akal sehatmu? kita bahkan juga tidak tahu asal usulnya dengan jelas! Dan terakhir kau diusir dari tokonya, lalu sekarang kau memintaku untuk meminta bantuannya??" ucap Isack tak percaya.

"Yang terpenting kau bisa pergi dengan perempuan ke pesta. Tentang dia anak siapa dia berasal dari mana kita pikirkan itu nanti. Kau bisa memalsukan daftar riwayat hidupnya jika ayah mencari tentang dia ... kita bisa membuat latar belakang palsunya, kan? Apa kau ada kandidat lain selain dia?" Sofia mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.

"Lagi pula ayah tidak akan mengenalinya," lanjut Sofia.

Isack hanya diam berfikir keras, baginya tak mungkin dia pergi dengan perempuan penjaga minimarket itu. "Ini, sepertinya tidak mungkin ... aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali, jadi sepertinya akan terasa sedikit aneh ... tapi–" Isack tidak yakin karena pertemuan pertamanya dengan Eve tak begitu baik dan meninggalkan kesan buruk.

~♤~

Uhuk uhuk!

Tyfani terbatuk, sementara Eve tengah sibuk menata kardus di dalam, Tyfani bersiap menutup pintu. "Eve, aku akan menutup pintunya."

"Iya, Bu. Sebentar lagi aku juga selesai," seru Eve dari dalam.

Setelah menghitung uang di kasir, Tyfani memasukkannya ke dalam dompet. Rencananya dia ingin pergi ke bank untuk membayar tagihan hutangnya tapi ketika keluar dari toko, seorang lelaki yang sudah lama mengintai menggunakan kesempatan itu untuk merampok.

Tyfani terkejut bukan main saat dompetnya ditarik paksa. "Lepas!" Dia berusaha mempertahankan miliknya.

Akan tetapi lelaki muda itu justru mendorong Tyfani. "Berikan saja uangmu, tua bangka!"

Aaahh!

Brugh!!

Tyfani terjatuh, kepalanya membentur tiang hingga berdarah.

Setelah berhasil mendapatkan uangnya, lelaki itu berlari secepat mungkin. Kebetulan sekali keadaan sekitar sepi, sehingga tak ada yang melihat kejadian itu.

Tyfani pingsan, darah mengalir dari kepalanya.

Setelah selesai mengurus barang di belakang, Eve melangkah keluar menemui Tyfani. Namun dia justru terkejut melihat Tyfani terbaring di lantai depan toko.

"Bu?" Eve mendekat, melihat darah segar keluar dari kepala, sontak Eve terkejut bukan main. "Bu? Tidak ... Bu, bertahanlah." Membuang perhatiannya ke sekitar mencari bantuan. "Tolong! Siapa pun tolong aku." Eve menunduk, kembali fokus dengan Tyfani.

Kepalanya telah pindah ke pangkuan. Tyfani menangis. "Bagaimana ini?" Tangisnya terisak-isak.

Kebetulan yang tak terduga, saat itu Isack sengaja datang ke toko untuk menemui Eve.

Ketika melihat dua orang perempuan berada di depan toko, Isack segera menepikan mobil ya.

Melangkah turun dari mobil mendekati Eve yang tengah menangis.

Tak, tak, tak!

"Permisi?" Isack tak melihat darahnya karena tertutup Eve. Namun melihat sebagian tubuh lain terkapar di lantai, dia sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres.

Eve menoleh cepat menatap Isack yang telah beralih berdiri di depannya.

"Tolong," ucapnya lirih.

Deg!

Isack merasa ada sesuatu yang bergerak dan terasa aneh ketika melihat penampilan Eve yang berantakan. Kedua matanya merah karena darah, pipinya basah oleh air mata. Saat langkahnya terhenti, Isack melihat darah di kepala Tyfani.

"Apa yang terjadi?" batinnya.

"Please, Tuan ... tolong ibuku." Eve menangis .

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Hidup eksekutif muda Davina Hadinata hancur setelah menjalin hubungan dengan Aria Wardana yang ternyata beristri. Aria memfitnahnya hingga ia menganggur, sementara bisnis ayahnya bangkrut akibat skandal sang kakak. Tragedi memuncak saat istri Aria bunuh diri, memicu dendam Rajata Bagaskara. Rajata menodai Vina hingga hamil sebagai balasan atas kehilangan keponakannya. Di tengah penderitaan dan kemiskinan, Vina berjuang bertahan hidup demi harapan yang tersisa.
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Embun terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Alih-alih kasih sayang, Putra justru menciptakan neraka karena hatinya terpaku pada wanita lain yang sudah Embun anggap kakak sendiri. Meski telah berkorban demi meraih cinta sang suami, perjuangan Embun selalu dipandang sebelah mata. Luka hatinya kian dalam saat Putra menyebut nama wanita itu usai mereka berhubungan intim. Di tengah kepedihan ini, mampukah Embun tetap bertahan saat kehadirannya tak lagi dianggap?
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.
Sampul Novel My Hot Daddy
8.7
Terdesak masalah ekonomi, Joanna terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menjadi sugar baby bagi Regan. Pria itu memberikan satu syarat mutlak: hubungan mereka tidak boleh melibatkan perasaan. Namun, di tengah kemewahan tersebut, Joanna mendengar rahasia gelap mengenai jati diri Regan yang sebenarnya. Kini, ia terjebak dalam dilema antara bertahan demi uang atau mengikuti kata hati. Akankah benih cinta tumbuh meski sejak awal telah dilarang?
Sampul Novel Pembantuku Menjadi Pendampingku
8.0
Danil dan Karin adalah pasangan kaya raya yang sangat gila kerja. Kesibukan Karin membuatnya memutuskan untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga baru guna melayani kebutuhan suaminya di rumah. Namun, niat baik untuk meringankan beban domestik tersebut justru memicu keretakan dalam rumah tangga mereka. Kehadiran orang baru ini perlahan berubah menjadi ancaman besar yang menghancurkan keharmonisan pernikahan mereka. Sanggupkah cinta mereka bertahan?