
Obsession Or Love
Bab 2
Jadwal kampus Alexa hari ini sudah selesai, Alexa bersama Hera berjalan santai menyusuri setiap lorong kampus. Pulang kuliah hari ini mereka berdua akan pergi menuju sebuah café yang cukup dikenal masyrakat Jakarta untuk belajar bersama di sana. Tapi ketika baru saja tiba di parkiran, ada seorang lelaki yang berteriak memanggil nama Alexa, siapa lagi jika bukan Vero. Lelaki yang baru saja berkenalan dengan Alexa tadi pagi di kantin.
Alexa menatap Vero yang sedang berjalan cukup cepat menuju tempatnya, yaitu tepat di samping mobil Alexa. Selama menatap wajah tampan Vero, kedua mata Alexa tidak berkedip sama sekali. Wajah Vero benar-benar tampan, tubuhnya tegap dan matanya yang membuat Alexa merasa gemas, sipit seperti bias Alexa yang ada di Korea. Setelah Vero tiba di hadapan dirinya, Alexa pun mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
Hera yang sepertinya sudah tahu merasa jengkel, akhirnya Hera memutuskan untuk pulang tanpa sepengetahuan. Hera sudah tahu bagaimana sifat Alexa, jika sudah bersama lelaki yang disukainya tidak akan ingat keadaan sekitar. Alexa mendadak merasa gugup karena Vero sedari tadi menatapnya tanpa berkedip juga. Vero kagum melihat sisi misterius Alexa juga penampilan Alexa yang tidak seperti perempuan lain.
“V-vero? Lo mau apa ke sini? Ada sesuatu yang mau lo sampaikan?” Akhirnya Alexa membuka percakapan.
“Oh iya, besok gue ulang tahun. Lo mau gak nemenin gue jalan? Buat rayain ulang tahun gue aja sih,” jawab Vero.
Alexa menggaruk keningnya pelan. “Eh, kok sama gue? Bukannya lo udah ada cewe, ya? Kenapa harus ajak gue?”
“Ya gitu deh, jadi gimana nih? Mau apa enggak?” tanya Vero tak sabaran. “Kalo gak mau juga gapapa kok gue bisa sendiri,” sambungnya dengan ekspresi wajah dibuat-buat sedih.
Perasaan Alexa jadi campur aduk, dia sangat mau menerima ajakan Vero. Tapi Alexa juga kembali berpikir dan mengingat perkataan Hera tadi pagi. Ketika dipikir-pikir kembali, hal ini bisa Alexa manfaatkan untuk berteman lebih dekat lagi dengan Vero. Akhirnya Alexa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia menerima ajakan Vero, wajah Vero kelihatan sangat bahagia karena besok hari ulang tahunnya tidak akan sama seperti dulu, sendirian.
Tanpa sadar Vero memeluk tubuh Alexa, kemudian berkata, “Makasih ya Lexa, lo emang temen gue yang paling baik. Apa lo tahu? Dari dulu gue nyari banget temen modelan lo, yang mau langsung diajak tukeran media sosial, bisa diajak main dan cerita, sekali lagi makasih Lexa,” ungkapnya.
“Sama-sama, santai aja kali sama gue. Dari dulu gue juga selalu nyari temen cowo yang sefrekuensi tapi karena gue trauma sama masa lalu, jadi ya gitu. Tapi sekarang gue lagi berusaha buka hati buat cowo lain.” Alexa melepaskan pelukannya secara perlahan dari tubuh Vero, kemudian tersenyum.
Keduanya saling berpandangan, terjadi lagi kontak mata yang cukup lama. Kali ini jantung Alexa berpacu lebih kencang, Alexa memang tipe orang yang sangat mudah jatuh cinta. Hanya bertemu satu kali saja bisa langsung membuat Alexa terpesona, apa lagi jika berada di kampus yang sama dan bertemu hampir setiap hari, mungkin itu akan membuat Alexa semakin merasa jatuh cinta. Kontak mata antara Alexa dan Vero akhirnya terputus ketika ponsel Alexa berbunyi. Alexa melihat siapa yang meneleponnya, ternyata Eza.
“Ver, bentar ya gue angkat telepon dulu,” ucap Alexa dan dibalas anggukan kepala oleh Vero.
Alexa mengangkat sambungan telepon itu di tempat yang cukup jauh dari Vero.
“Halo yah, ada apa?”
“Lexa, cepat pulang sekarang. Ada tamu penting.”
“Siapa memangnya yah tamu itu? Harus sekarang banget?”
“Nurut aja Lexa, cepetan pulang jangan pake lama loch.”
Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Alexa, lalu Alexa kembali menemui Vero dengan wajah tidak enaknya. Sial, niat Alexa untuk berduaan dengan Vero batal karena sudah harus cepat-cepat pulang. Bahkan Alexa baru sadar ternyata diam-diam Hera meninggalkannya, sehingga tidsk ada alasan bagi Alexa untuk pulang terlambat. Alexa sudah tahu, pasti tamu penting itu adalah orang yang akan dijodohkan dengan Alexa, sangat malas,
“Duh, Ver. Maaf ya kayaknya gue harus pulang duluan, barusan bokap telepon nyuruh gue pulang cepet. Maaf banget, gue tinggal gapapa ‘kan?” jelas Alexa.
Vero tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Santai aja kali, Lexa. Hati-hati ya pulangnya, besok pulang kuliah jadi ya temenin gue, see you.”
Sebelum meninggalkan Alexa, sempat-sempatnya Vero mengacak rambut Alexa. Jantung Alexa terasa berdebar cukup kencang karena perlakuan Vero barusan, harapan demi harapan Vero berikan kepada Alexa tanpa memikirkan bagaimana nasib kekasihnya, Devi. Setelah Vero benar-benar meninggalkannya, Alexa berteriak kegirangan tak jelas di parkiran. Tak peduli banyak orang yang melihatnya, intinya Alexa sangat bahagia.
“Gila! Gue mimpi apa semalam!” teriak Alexa kegirangan.
***
Ketika tiba di rumah, Alexa melihat ada sebuah mobil alphard berwarna hitam terparkir di halaman rumahnya. Di dalam rumahnya juga kelihatan ada sepasang suami istri yang usianya kira-kira lima puluh tahun sedang mengobrol bersama ayah dan neneknya. Wajah Alexa kusut, tidak ada semangat ketika tiba di rumahnya. Alexa membayangkan bagaimana nasib dirinya jika benar-benar dijodohkan dengan orang lain.
Semua pasang mata kini tertuju kepada Alexa yang baru saja mengucapkan salam di ambang pintu. Termasuk laki-laki yang akan dijodohkan dengan Alexa, yang duduk tepat di samping bundanya, Hellen rekan kerja Eza. Laki-laki yang dikenal bernama Erlangga itu menatap Alexa dari bawah sampai atas berulang kali. Dalam hatinya dia terus memuji kecantikan Alexa dan wajah datar Alexa, Erlangga suka perempuan seperti Alexa.
“Nah, ini cucu saya cantik “kan? Alexa, sini duduk. Kenalin itu Erlangga, laki-laki yang akan dijodohkan dengan kamu.” Gita menatap Erlangga disertai senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Alexa memutar kedua bola matanya malas. “Nek, aku gak mau dijodohin nek. Nenek kan tahu aku juga masih muda banget, gak mau nek. Jangan sekarang ya nek?”
“Gak sekarang kok, Lexa. Kalian bisa temenan dulu aja, kalian gak akan menikah dalam waktu dekat kok. Pendekatan dulu aja supaya bisa lebih tahu satu sama lain,” terang Dio.
Berbeda dengan Alexa, Erlangga justru tak sabar ingin segera pertunangannya dengan Alexa diselenggarakan. Ternyata Alexa itu satu kampus dengan dirinya hanya saja mereka berdua berbeda jurusan. Merasa dirinya ditatap tanpa henti oleh Erlangga, Alexa melemparkan tatapan tajam kepada lelaki dengan wajah datar itu. Tidak ada takutnya, Erlangga tetap menatap Alexa dan kini dia tersenyum melihat Alexa yang jengkel karena ditatap terus-menerus oleh dirinya.
“Om, tante, maaf saya permisi ke kamar dulu.” Lalu, Alexa meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya.
“Cie yang dijodohin, mana cowonya ganteng pula,” goda Devi.
Entah sudah sejak kapan Devi berada di kamar Alexa, membuat Alexa merasa semakin jengkel. Alexa merebahkan dirinya di kasur, kedua matanya terpejam mengingat kembali kejadian di kampus tadi. Lebih baik mengingat hal menyenangkan itu daripada memikirkan perjodohannya dengan lelaki tidak jelas yang ada di bawah. Devi yang melihat tingkah aneh Alexa menyentuh kening Alexa untuk memeriksa apakah suhu tubuh Alexa panas atau tidak.
Kedua bola mata Alexa kembali terbuka, dia menepis tangan Devi dari keningnya. Dia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas kasur, tapi senyuman tetap terpancar di wajahnya. Ini seperti jatuh cinta yang pertama kali Alexa rasakan ketika sd dulu. Tapi kali ini terasa lebih indah karena besok dirinya akan menemani Vero jalan untuk merayakan hari ulang tahun Vero secara kecil-kecilan.
Devi menatap Alexa dengan kening berkerut, kemudian berucap, “Lo kenapa sih? Kayak orang gila gini, lagi jatuh cinta nih pasti ya lo?” tebaknya.
“Kenapa lo tahu? Wah pasti lo ngintilin gue ke kampus ya?” tuduh Alexa.
“Sembarangan lo kalo ngomong, gak guna juga gue ngikutin lo ke kampus. Gue nebak aja sih soalnya ciri-ciri lo kayak orang lagi jatuh cinta. Senyum-senyum gak jelas, apa lagi namanya kalau gak lagi jatuh cinta?” jelas Devi panjang lebar.
Alexa menampilkan cengiran khas di wajahnya, mengingat kejadian di kampus tadi rasanya Alexa tak sabar ingin segera kuliah kembali besok pagi. Kini penyemangat kuliahnya sudah ada, yaitu Vero. Alexa kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat, tak lama kemudian Alexa pun tertidur, deru napasnya mulai tertidur. Devi yang melihat tingkah sepupunya itu hanya bisa menggelengkan kepala saja.
“Dasar lo, Lexa. Ada-ada aja sifat lo, tapi bagus deh lo udah bisa buka hati buat cowo lain,” ucap Devi pelan.
Anda Mungkin Juga Suka





