Sampul Novel Nafkah Istri Pertama

Nafkah Istri Pertama

9.6 / 10.0
Dalam Nafkah Istri Pertama, seorang istri mengizinkan suaminya menikah lagi demi keturunan. Namun, keputusan di romance novel ini berujung petaka saat konflik rumah tangga menguji kesetiaan. Simak kisah modern novel ini di platform web novel kami sekarang.
Ringkasan Nafkah Istri Pertama
Demi mendapatkan keturunan yang belum juga hadir, seorang istri mengambil keputusan berat dengan mengizinkan suaminya berpoligami. Namun, niat tulus untuk melengkapi kebahagiaan keluarga justru berujung pada penderitaan. Pernikahan kedua sang suami ternyata membawa malapetaka yang menghancurkan kedamaian hidup mereka. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dari pilihan yang semula ia anggap sebagai solusi bagi masa depan rumah tangganya.
Baca Selengkapnya

Nafkah Istri Pertama Bab 1

Maaf, sayang. Bulan ini Abi cuma bisa ngasih segini ke kamu. Maaf ya. Soalnya dalam kondisi hamil, Naura membutuhkan lebih banyak uang. Ami tidak marah kan?" Arsyad menyodorkan sebuah amplop coklat tipis kepada Ika istri pertamanya.

"Ya terimakasih, Bi. Masih bersyukur di kasih rezeki." Ika menerima amplop itu.

"Abi ke kamar mandi dulu ya?"

"Iya, Bi. Sementara Ami siapkan untuk makan malam.

Ya hari adalah jadwal Arsyad berkunjung kerumah tersebut, setelah menikahi Naura dua bulan yang lalu. Sesuai komitmen Arsyad, dua minggu bersama Naura, maka ia akan kembali ke rumah yang di diami Ika selama dua minggu juga.

Sepeninggal suaminya, Ika membuka amplop yang tadi di berikan Arsyad padanya.

"Satu juta lima ratus ribu rupiah. Setengah dari bulan lalu." Gumamnya lirih.

Jumlah itu jauh berbeda dari nominal bulan lalu. Bulan lalu Arsyad menyerahkan tiga juta. Total gaji Arsyad sebagai karyawan di perusahaan adalah tujuh juta. Biasanya dulu, enam juta selalu Arsyad serahkan pada Ika. Selebihnya Arsyad gunakan untuk kebutuhannya sendiri.

Namun setelah menikahi Naura. Semua jadi berbeda. Sesungguhnya Ika ikhlas dengan takdirnya. Namun apa yang terjadi sekarang adalah diluar dugaannya semula.

"Mi, bulan ini Abi cuma bisa seminggu bersama Ami. Itu juga melihat keadaan Naura. Apabila keadaannya tidak baik, Abi harus kembali padanya. Noura menuntut Abi untuk lebih sering bersamanya. Karena kondisinya yang sedang hamil muda. Maafkan Abi ya." Arsyad membelai rambut hitam panjang dan lurus milik Ika.

Ika diam sesaat, lalu tersenyum kecut.

"Aku mungkin harus lebih mengerti. Inikah takdir seorang istri yang tak bisa memberikan keturunan." Ika membatin.

"Maaf, Bi. Ami kebelet." Dengan sedikit menyembunyikan mukanya yang mulai memerah. Ia berlari ke kamar mandi.

Di cermin kamar mandi, Ika tidak bisa menahan bulir-bulir bening itu. Ia menyekanya perlahan.

"Sekarang semua terbagi dengan tidak adil. Hiks... Hiks... Ku kira dengan mengizinkanmu poligami akan menambah ladang pahala bagiku. Tapi mengapa semuanya harus seperti ini. Mulai waktumu yang hanya ku dapatkan sepertiga dalam sebulan, nafkah, dan mungkin saja cintamu yang tidak lagi terbagi rata antara aku dan Naura..." Kembali Ika menyeka air mata nya.

"Berbagi memang tak mudah. Namun demi bakti ku, dan juga agar kau mendapatkan momongan, aku ikhlas. Karena aku sadar, rahim ini belum mampu memberikanmu keturunan."

Ika melamun, teringat kembali kejadian beberapa bulan lalu.

***

Beberapa bulan yang lalu

Ika sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Biasa aktivitas yang akan ia lakukan apabila datang berkunjung ke rumah mertuanya. Ia akan membebaskan mertuanya dari tugas dapur. Dari memasak, beres-beres, mengepel hingga membersihkan kamar mandi.

Ika sama sekali tidak merasa di perbudak. Justru ia merasa bangga bisa melakukan itu untuk meringankan pekerjaan rumah sang mertua. Dengan begitu, akan menambah bakti terhadap orang tua bukan?

"Ika,..." Panggil Bu Melia

Ika menghentikan pekerjaannya,

"Ya, Bu." Tanggap Ika cepat.

"Bisa bantu ibu sebentar?"

"Tentu saja."

"Kamu ke pasar, ibu sudah membuat daftar barang belanjaan yang harus di beli."

Bu Melia menyodorkan sebuah kertas berisi daftar barang belanjaan.

"Ya baiklah. Tapi nih Ika belum selesai menyiapkan hidangan di meja makan."

"Tidak apa-apa. Nanti ibu yang akan menyelesaikannya.

"Oh ya. Baiklah, Ika bisa pergi sekarang."

"Terimakasih. Nih kunci mobilnya." Bu Melia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.

"Tidak usah, Bu. Pakai sepeda motor saja, Bu. Lebih leluasa."

Kebiasaan mertuanya adalah membeli kebutuhan dapur di pasar tradisional. Tentu saja sepeda motor adalah pilihan yang pas.

"Ini uangnya." Bu Melia menyodorkan beberapa lembaran uang berwarna merah.

"Tidak usah, Bu. Pakai uang Ika saja."

"Ah, Ika. Ibu jadi tidak enak pakai uang kalian."

"Tidak apa-apa, Bu. Sesekali membeli kebutuhan orang tua sendiri."

"Aduuh terimakasih kalau begitu."

"Sama-sama, Bu."

Ika bergegas mengambil helm dan berjalan menuju sepeda motor matic miliknya.

Dengan cekatan ia mengendarai sepeda motor menuju ke pasar.

Di tengah perjalanan, Ika lupa kalau dompetnya tertinggal di meja ruang keluarga. Dengan cepat Ika segera berbalik arah.

Beberapa menit kemudian, ia sampai kembali di rumah mertuanya.

Tapi tunggu dulu, ketika ingin meraih dompetnya, Ika mendengar ada obrolan serius antara suami dan mertuanya. Perlahan Ika menguping pembicaraan mereka.

"Arsyad, apa kamu yakin ingin tetap mempertahankan istrimu?" Bu Melia bertanya kepada anak lelakinya.

Arsyad sejenak menghentikan aktivitasnya. Nasi yang baru saja ingin ia masukkan ke mulut, di letakkan kembali ke piring.

"Maksud ibu?"

"Maksud ibu, apa kamu masih mencintai Ika sepenuhnya?"

Dahi Arsyad berkerut.

"Tentu saja, Bu. Dia istriku. Tentu saja. Aku mencintainya." Jawab Arsyad sungguh-sungguh.

Wanita paruh baya di hadapannya melengos.

"Apa kamu tidak berpikiran ingin memiliki momongan."

Kali ini Arsyad tidak langsung menjawab, melainkan meneguk air putih yang telah di suguhkan oleh istrinya tadi sebelum ibunya menyuruh Ika sang istri untuk keluar membeli persediaan dapur yang mulai menipis.

"Tentu saja setiap pasangan ingin memiliki buah hati, Bu. Hanya saja terkadang butuh waktu untuk menunggu." Arsyad berusaha menenangkan diri.

"Ini bukan soal waktu, Nak. Tapi ini menyangkut masa depan. Tidak bisa selamanya kalian hanya berdua. Kamu butuh seorang anak."

"Bu, kami sudah sejak dulu menginginkan buah hati. Tapi apa mau dikata, Tuhan belum menganugerahkan." Ucap Arsyad lesu.

"Arsyad, sebaiknya kau dengarkan ucapan ibu."

"Aku selalu dengar ucapan ibu."

"Kali ini bukan hanya mendengar, tapi turuti. Kalau kau ingin masa depanmu ceria dengan hadirnya momongan. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu Ika hamil. Namun nyatanya, perut Ika tidak kunjung bisa hamil cucuku. Ibu ini sudah menua, Arsyad. Sedangkan kau adalah anak ibu satu-satunya. Ibu ingin segera menimang cucu."

Arsyad diam beberapa saat.

"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membuat Ika cepat mengandung?"

"Kalau menunggu perempuan itu mengandung, sepertinya tidak akan menuai hasil, itulah yang kita lakukan selama ini."

"Jangan bilang seperti itu, Bu. Dokter bilang, Ika kemungkinan bisa hamil. Namun seperti yang saya bilang tadi. Kita mesti harus bersabar menunggu."

"Buka pikiranmu, Arsyad. Lima tahun apa tidak cukup untuk bersabar dan menunggu? Program kehamilan sudah di lakukan. Masih saja Ika tak kunjung mengandung. Itu menandakan rahim perempuan itu kering. Tidak mampu menampung benih darimu. Sebaiknya, turuti perkataan ibu. Kali ini saja, ibu mohon."

"Apa sebaiknya yang harus saya lakukan, Bu."

"Nikahi Naura...!"

"Apaaa??" Arsyad terbelalak

Ika yang sedang menguping tidak kuasa menahan bendungan bulir air mata yang jatuh dari sudut matanya.

"Aku tidak bisa menceraikan Ika, Bu. Dia istri yang baik. Aku menginginkan putra dari rahimnya."

"Kalau begitu kau melawan ibu. Tidak bisakah kau lihat Naura bahkan lebih cantik dan alim di banding Ika. Orang tuanya lebih terpandang dari pada orang tua Ika. Begitu juga dengan pendidikannya, yang jauh di atas Ika yang cuma lulusan SMA."

Ada rasa getir menusuk jantung, ketika Ika mendengar ucapan pedas dari bibir mertuanya.

"Sekali lagi ibu tegaskan, nikahilah Naura."

Lagi-lagi Arsyad terdiam cukup lama.

"Baiklah, Bu. Sepertinya ucapan ibu perlu di pertimbangkan. Dan juga aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku harus meminta pendapat Ika."

Akhirnya terdengar juga lelaki itu bicara.

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Nafkah Istri Pertama

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DI ANTARA BUKU DAN RINDU
9.4
Seorang pemuda yang mendedikasikan waktunya sebagai petugas perpustakaan sekolah mulai menaruh hati pada seorang siswi yang rajin berkunjung. Ketertarikan yang tumbuh di sela jajaran rak buku itu terasa manis, namun sebuah misteri besar tersembunyi di balik judul-judul yang sering dipinjam oleh gadis tersebut. Rahasia gelap yang tersimpan dalam lembaran buku itu perlahan terungkap dan siap menjungkirbalikkan seluruh dunia mereka selamanya.
Sampul Novel Ganjaran Nafsu
9.5
Terperangkap dalam kondisi antara hidup dan mati, aku mengalami eksistensi yang mengerikan. Tubuhku lumpuh total dan tidak lagi membutuhkan makanan maupun tidur, namun kesadaranku tetap terjaga sepenuhnya. Di tengah kegelapan pekat tanpa jiwa lain untuk diajak bicara, kewarasanku perlahan terkikis oleh kesunyian yang tanpa batas waktu. Namun, saat keputusasaan hampir merenggut segalanya, keheningan abadi itu mendadak pecah oleh suara ketukan misterius yang tidak terduga dari luar.
Sampul Novel Istri Dadakan Presdir
9.0
Salsabila Ayu Hanifa mengadu nasib ke Jakarta demi mengubur masa lalu kelam. Namun, takdir menyeret gadis desa ini ke dalam pernikahan tanpa cinta dengan Raditya Wijaya. Sebagai pengusaha dingin dan acuh, Radit justru memperlakukan istrinya sendiri layaknya seorang pembantu. Di tengah tekanan batin, mampukah Salsa melunakkan hati suaminya dan diakui sebagai istri seutuhnya, ataukah mahligai rumah tangga mereka akan berakhir dengan kegagalan total?
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Cantika Putri menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis bersama Ardi Permana. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi cinta yang tulus, di mana Ardi sangat mengagumi pesona fisik dan kesempurnaan sang istri. Sementara itu, narasi lain mengikuti sosok miliarder ternama, Reza Dirgantara. Sang konglomerat tengah menjalin hubungan asmara dengan Luna Amara, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam dirinya.
Sampul Novel Perempuan Lain Di Pemakamanmu
8.2
Duka Ayna atas kepergian suaminya, Afnan, berubah menjadi tanda tanya besar saat seorang wanita asing bernama Maria muncul di pemakaman. Dengan tangis yang begitu histeris, Maria mengungkap rahasia kelam bahwa ia adalah istri kedua yang dinikahi Afnan secara siri selama tiga puluh tahun. Kehadiran Maria bersama putra mereka, Riko, seketika menghancurkan kenyataan Ayna, memaksa ia menghadapi pengkhianatan panjang yang tersembunyi rapi selama ini.
Sampul Novel Saat Hati Menyesal
9.1
Ditinggalkan Richard saat pendarahan hingga keguguran membuat sang istri memilih bercerai. Richard baru menyesal setelah tahu bayinya tiada, namun dimaafkan pun tidak. Kenyataan kian memukul Richard dan keluarganya saat mengetahui mantan istrinya adalah pemilik perusahaan sesungguhnya. Kisah tragis dalam novel ini berakhir dengan Richard yang menjadi pasien vegetatif dan meninggalkan utang besar bagi wanita selingkuhannya, sementara sang mantan istri telah hidup bahagia bersama kekasih baru.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan