
Obsession Or Love
Bab 3
Sepulang dari kediaman Alexa, Erlangga mengajak ketiga temannya untuk bertemu. Seperti biasa mereka bertemu di sebuah cafe, mereka memesan kopi untuk mereka santap, menemani pembicaraan mereka yang cukup serius. Erlangga dan ketiga temannya dikenal sebagai anak geng motor. Tapi itu dulu ketiga keempatnya masih duduk di bangku SMA, sejak masuk kuliah mereka berempat keluar dari geng motor dengan alasan ingin fokus kuliah.
Namun tak jarang mereka pergi ke bar ketika malam hari untuk memuaskan keinginan mereka, apa lagi Erlangga. Lelaki itu sejak dulu dikenal selalu ganti-ganti perempuan, paling lama dia berpacaran hanya tiga bulan. Penyebabnya adalah Erlangga sering ketahuan selingkuh, karena menurut Erlangga satu wanita itu tak cukup. Anehnya, kali ini ketika melihat Alexa. Niat untuk mencari pengganti perempuan itu tidaklah ada.
Justru Erlangga ingin cepat-cepat menikah dengan Alexa agar tidak ada lelaki lain yang mengambil Alexa darinya, sifat Alexa yang misterius mengundang hawa penasaran Erlangga. Pasalnya, biasa jika perempuan melihat Erlangga pasti akan langsung jatuh hati dan mengemis cinta kepadanya, tapi Alexa berbeda. Dia justru menolak perjodohan tersebut, Erlangga berpikir apakah penyebab Alexa menolak dijodohkan dengannya?
“Pokoknya kalian berdua harus bantu gue, supaya Alexa bisa deket sama gue gimana pun itu caranya,” perintah Erlangga.
“Tapi gimana caranya? Secara kan dia beda jurusan sama kita, beda fakultas, dan yang lebih parah lagi dia misterius banget. Di instagramnya aja kosong melompong, anehnya tetep banyak followers, pp dia juga dark. Gila sih kalo gini gue gak tahu harus gimana.” Lalu, Made menyeruput kopinya sedikit dan kembali hanyut dalam pembicaraan.
Fathan menatap Erlangga serius. “Dan yang lebih parah lagi, kalau Renatta tahu hal ini gimana? Dia pacar lo bro, dia cantik, baik, masa mau lo tinggal gitu aja?”
“Diem.” Satu kata yang keluar dari mulut Erlangga, tapi berhasil membuat teman-temannya langsung bungkam.
“Apa? Kamu mau putus sama aku, Er?” tanya Renatta, yang entah sejak kapan berada tepat di belakang sofa yang Erlangga dudukki.
Erlangga kaget, sontak dia langsung berdiri dan menghampiri Renatta yang kini sedang berdiri sembari menatapnya seolah meminta penjelasan. Mungkin ini waktu yang tepat agar Erlangga bisa menyudahi hubungannya dengan Renatta dan fokus menarik hati Alexa, si gadis misterius yang membuat Erlangga semakin semangat untuk berkuliah. Mulai esok, Erlangga berjanji tidak akan absen kuliah lagi.
Erlangga menatap Renatta lamat, kemudian berucap, “Iya, kita udahan ya. Maaf kalo aku selama ini kurang perhatian sama kamu, intinya maafin apapun kesalahan aku. Jangan nangis ya, Re. aku yakin kamu pasti ketemu sama orang yang lebih baik dari aku,” putusnya.
“Loh? Gak bisa gini dong, kamu bilang aku pacar terakhir kamu. Apa sebabnya kamu mau putus? Oh pasti kamu selingkuh lagi, ya? Siapa perempuannya sini biar aku kasih pelajaran!” tebak Renatta.
“Perempuannya pilihan nyokap dia,” jawab Made dengan santainya.
Mulut Renatta terkatup rapat ketika mendengar jawaban yang dilontarkan Made, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika memang benar perempuan yang sekarang menjadi kekasih Erlangga adalah pilihan Hellen, Renatta bisa apa? Dengan air mata berlinang, Renatta meraih jemari Erlangga. Ini terakhir kalinya bagi Renatta untuk bisa berdekatan dengan Erlangga sebelum perempuan lain yang menggantikan posisinya.
Renatta menundukkan kepalanya. “Makasih ya, semoga kamu bahagia sama pilihan kamu. Kalau nikah jangan lupa undang mantan terakhirmu ini, kalo gitu aku pamit.”
“Sama-sama,” jawab Erlangga tanpa suara, ketika Renatta sudah cukup jauh meninggalkannya.
Ketiga teman Erlangga mati-matian merutuki sikap bodoh Erlangga, bisa dikatakan Erlangga itu mempermainkan hati Renatta seenaknya, padahal Renatta sudah sangat tulus menyayangi bahkan mencintai Erlangga. Ingin rasanya mereka mencaci maki sang ketua dari circle mereka. Tapi sayangnya sifat Erlangga yang keras kepala membuat mereka sulit untuk mencaci maki lelaki itu, karena pada akhirnya pasti Erlangga akan bersikap bodo amat.
“Yah, selesai sudah hubungan kita sampai di sini,” ejek Asep.
“Banyak omong lo,” ucap Erlangga dengan kesal.
***
“Alexa! Devi! Cepat turun!” teriak Eza dari bawah.
Entah ada apa, tengah malam seperti ini Eza sudah berulang kali berteriak memanggil Alexa dan Devi. Padahal kedua gadis itu sedang menikmati tidur nyenyak mereka, Alexa dan Devi cepat-cepat keluar kamar dan menghampiri Eza yang sedang membawa tubuh Gita bersama satpam rumahnya untuk dibawa ke rumah sakit. Alexa yang melihat sang nenek sedang tidak baik-baik saja menangis histeris.
Devi berusaha menenangkan Alexa, dengan mengucapkan kata-kata yang menguatkan. Devi dan Alexa ikut pergi ke rumah sakit meskipun Eza sudah melarangnya tapi mereka berdua tetap memaksa agar diberi ijin untuk ikut. Tangis Alexa sejak tadi belum berhenti, dia membayangkan bagaimana nasib dirinya jika Gita taka da lagi di dunia. Gita itu bagaikan seorang Ibu bagi Alexa, jadi tak heran jika kadang Alexa kelupaan dan memanggilnya dengan sebutan mama.
Sesampainya di rumah sakit, Gita segera dibawa ke ruang UGD dan langsung ditangani oleh dokter dan suster. Lima belas menit berlalu, akhirnya dokter dan suster keluar kemudian memberitakan bahwa kondisi Gita baik-baik saja, Gita hanya banyak pikiran sehingga asam lambungnya naik dan pingsan. Alexa segera masuk ke ruang rawat Gita, duduk di kursi yang ada tepat di sebelah brankar di mana Gita terbaring lemah.
“Nek, gimana kondisinya? Bilang sama aku, nenek mau apa? Apapun itu bakal aku turutin nek,” tawar Alexa.
“Kalo nenek maunya kamu terima perjodohan itu gimana? Nenek mohon Lexa, kamu gak mau lihat nenek kayak gini terus ‘kan? Nenek mau bahagia di hari tua nenek, umur kamu sudah cukup untuk menikah Lexa, terima ya perjodohan itu?” Gita menatap Alexa dengan tatapan memelas.
Alexa terdiam, haruskah dia menerima perjodohan itu? Di satu sisi Alexa memang ingin melihat Gita kembali sembuh tapi di sisi lain Alexa tidak mungkin menerima perjodohan itu karena saat ini hatinya sudah diisi oleh lelaki lain, yaitu Vero. Alexa mengembuskan napasnya perlahan-lahan secara kasar, pikirannya tidak menentu sekarang untuk menolak atau menerima permintaan Gita yang menurutnya cukup berat.
Eza menepuk pundak Alexa pelan, kemudian berkata, “Jangan buat ayah sama nenek kecewa, Lexa,” pesannya.
“Lexa, lebih baik lo terima perjodohan ini. Lo gak mau kan lihat nenek sakit-sakitan terus kayak gini? Kalo gue jadi lo pasti mau banget terima perjodohan itu, secara Erlangga itu ganteng, keluarganya juga kaya, lo tinggal santai di rumah,” ucap Devi, kedua manik matanya menatap Alexa dengan tatapan memohon.
Alexa menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. “Oke nek, aku mau.”
Gita, Eza dan Devi tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban yang diucapkan Alexa, mereka bertiga merasa bahagia. Berbeda dengan Alexa yang justru merasa kesal karena dipaksa untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Tanpa mengatakan apa-apa, Alexa meninggalkan ruang UGD dan berlari menuju taman rumah sakit. Devi segera menyusul Alexa karena takut jika sepupunya itu akan berbuat nekat.
“Gila ya lo! Gue kira lo mau bunuh diri tahu gak? Ngapain sih lo kabur?” komentar Devi. “Sini cerita sama gue, siapa tahu aja gue bisa bantu lo,” bujuknya.
Percuma juga gue cerita sama lo, Dev. Lo gak akan bisa kasih gue solusi dan justru malah nasehatin gue, batin Alexa.
Bukannya menjawab, Alexa malah melamun dan menatap lurus kea rah depannya. Devi melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Alexa, membuat Alexa sedikit merasa kaget. Alexa mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menatap Devi sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Biarlah hanya Alexa yang tahu bagaimana perasaan di hatinya sekarang, daripada membuat masalah semakin rumit.
“Lo kenapa sih Lexa? Kalo ada masalah itu cerita jangan dipendem,” nasehat Devi.
“Kalo masalahnya bersumber dari keluarga sendiri gimana?” tanya Alexa.
Kening Devi berkerut. “Maksud lo? Gimana sih, gue gak ngerti.”
“Gak usah dipikir, lupain aja.” Alexa memejamkan kedua matanya sebentar, kemudian meninggalkan taman rumah sakit.
“Ih! Lexa emang dasar ya lo nyebelin!” teriak Devi.
Anda Mungkin Juga Suka





