
Obsesi dan Cinta
Bab 2
"Senang karena ada kamu yang selalu mengerti aku dan menerima aku apa adanya.”
“Emmm, terharu. Tapi, sumpah aku senang banget. Lihat kamu bahagia begini tu, bikin adem banget! Jadi rasanya pengen cepat-cepat aku nikahin kamu," spontan Bara dengan menatap penuh cinta.
Blushing
“Apaan sih Bar,” salting Lifah.
“Lha kenapa? Apa aku salah, kalau aku ingin segera menikah dengan tunangan aku sendiri,” sambil terkekeh kecil.
“Ih, tapi kamu kan tahu, kalau kita tidak akan bisa nikah tahun ini,” cemberut Lifah.
“Iya, iya. Aku ngerti kok,” sambil memberantakkan rambut Lifah.
“Iiissh! Berantakan tahu!” pura-pura sebal Lifah.
“Aku kan hanya menyampaikan perasaanku, karena aku tidak mau kehilangan kamu. Aku benar-banar mencintai kamu.”
Blushing!
Mungkin saat ini wajah Lifah sudah merah merona kayak kepiting rebus saja. Dan hanya tertunduk malu mendengar pernyataan Bara.
“Udah deh Bar. Oh iya, gimana kabar tante Mila? Lama juga ya aku tidak bertemu dengan beliau,” alihkan pembicaraan Lifah.
Bara tahu Lifah merasa tak nyaman dengan pembicaraannya dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“Baik. Nyokap juga kangen banget sama kamu. Pengen ketemu sama kamu, dan bisa masak bareng lagi sama kamu lagi.”
“Emmm, boleh juga itu. Mungkin weekend kali ya. Itupun belum bisa janji. Karena aku juga belum tahu dan melihat bagaimana dengan sistem kerja di perusahaan tempat aku kerja. Semoga saja lancar dan bisa menjalani hari-harinya seperti di perusahaan lainnya.”
“Kamu, sih, coba saja mau jadi sekertaris pribadi aku aja. Udah pasti akan aku bebasin kerjaan kamu dan bisa kapan aja bertemu dengan nyokap.”
“Iya, enggak gitu juga konsepnya dong Bar, kamu kan tahu tujuan aku kerja itu apa? Jelaslah kalau aku kerja di perusahaan kamu sama halnya aku kerja di perusahaan mama aku sendiri. Aku enggak mau dimanja. Aku mau merasakan___ emmmm sorry Bar, maksud aku,” Lifah merasa tak enak ketika melihat perubahan raut wajah Bara. Terlihat Lifah sangat egois.
Melihat Lifah yang terdiam dan menundukkan kepalanya. Seketika Bara merubah ekspresi wajahnya.
“Sayang, tidak masalah," sembari menatap penuh cinta pada Lifah, "Kamu tenang aja. Aku paham, jika kamu mencari pengalaman dan merasakan menjadi seorang karyawan yang sesungguhnya kan? Iya, It's Ok!” kata Bara diakhiri dengan senyum manisnya.
“Makasih ya Bar, sudah mengerti aku. Enggak kerasa ya. Sudah sampai di rumah. Mau mampir?” tawar Lifah, walau sebenarnya ia ingin Bara langsung pulang saja. Karena badannya terasa sangat lelah.
“Mungkin lain kali aja ya. Kali ini aku langsungan saja. Salam buat Tante Linda dan om Damar.” Bara mengetahui jika tunangannya itu pasti capek, dan ingin segara istirahat.
“Okay. Oh iya, besok aku mau bawa mobil sendiri saja ya Bar, makasih banget sudah mau antar jemput aku hari ini,” kata Lifah.
“Kenapa? Apakah aku membuat kamu tidak nyaman?”
“Enggak sama sekali Bar. Aku hanya tidak ingin selalu bergantung sama kamu. Oh iya mungkin mulai besok aku juga akan tinggal di apartemen lagi.”
“Baiklah kalau itu kemauan kamu. Tapi, yang jelas ketika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku ya. Dan ingat, selalu jaga kesehatan kamu ya Fah. Jangan bikin aku cemas. Selalu kasih kabar apapun itu," protek Bara
Lifah hanya menganggukkan kepalanya dan segera turun dari mobil. Menunggu sampai mobil Bara meninggalkan pekarangan rumahnya dan tak terlihat lagi oleh mata memandang, barulah ia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Begitu Lifah masuk ke dalam, mama sudah menunggunya di ruang keluarga.
“Sudah pulang nak? Bara tidak di ajak mampir?” tanya Linda.
“Masih ada keperluan yang lainnya ma,” jawab Lifah.
“Gimana dengan pekerjaan baru kamu?”
“So far so good!”
“Betah di sana?”
“Ya, masih satu hari kerja sih ma, teman-teman juga asik orangnya. Tapi, entahlah. Terlalu dini untuk menyimpulkan semuanya bukan? Oh iya ma, besok Lifah akan kembali ke apartemen. Bukan apa ma, ini demi kemandirian yang ingin Lifah terapkan pada diri sendiri sebelum nanti saatnya Lifah akan selalu bergantung pada pasangan. Mama tahu maksud Lifah kan?”
“Baiklah nak jika memang itu yang kamu mau.”
“Terima kasih ya ma, sudah selalu mendukung apapun keputusan aku,” sambil memeluk tubuh mamanya. Linda mengagukkan kepalanya dengan senyum manisnya.
Lifah memang terbentuk dengan sistem hidup yang mandiri. Walau terlahir di keluarga yang berada dan semua berfasilitas, dia tak ingin menikmati semuanya tanpa adanya kerja kerasnya sendiri.
Bahkan, mobil pun ia beli sendiri dengan hasil menjadi penulis novel online selama hampir satu tahun belakangan ini, untuk mengisi kekosongan waktu sebelum diterima di perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
Linda benar-benar bangga memiliki anak Lifah. Walau pun seorang perempuan, tapi tekat dan kemandiriannya tak kalah dari seorang anak laki - laki. Kuat dan tegar dalam menjalani kerasnya hidup.
-
Malam ini, Lifah menyiapkan pakaian dan barang seperlunya untuk dibawa ke apartemennya. Rencananya, ia akan langsung menetap di Apartemen sepulang kerja esok hari.
Selesai sarapan pagi bersama keluarga besar, Lifah pun izin kepada semua orang untuk niatannya pindah sementara di apartemen.
“Ya, aku akan kehilangan partner gosip deh,” canda Nissa, dengan wajah melas dan sedih.
“Tenang, masih ada kak Sam. Asik juga kok cerita sama dia,” celetuk Lifah sambil terkekeh.
“Benar banget!" sahut Samudera menimpali jawaban Adiknya. Jika sudah begitu, Nissa lebih baik diam dan pasrah saja.
***
Hari - hari telah di jalani dengan semangat oleh Lifah. Pekerjaan baru, teman kerja baru, dan lingkungan yang baru. Dia begitu cepat beradaptasi dan sangat menyenangi pekerjaan dirinya sampai dengan saat ini. Walaupun, pekerjaan yang diberikan padanya selalu banyak, tapi ia terima dan mengerjakan sesuai dengan waktunya. Atasan sungguh dibuat senang dengan kinerjanya.
Sampai tak terasa, sudah dua minggu ini Lifah bekerja di perusahaan itu. Semuanya berjalan sangat lancar.
“Fah, Lo dipanggil sama pak Menejer tuh, langsung saja keruangannya,” kata Tia yang baru saja dari ruangan beliau.
“Pak Nugraha? Ada apa?” tanya Lifah heran, sambil mengingat apakah ia ada salah dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh beliau.
Tia menggidikkan kedua bahunya, “Mending elo segera masuk gih! Biar enggak penasaran lagi, cuz!”
Lifah pun menyiapkan diri dan mengguk mantap.
Tap
Tap
Tap!
Langkah kaki itu berjalan menuju ruangan manager sekaligus orang yang menjadi wakil atau kepercayaan CEO di kantor cabang itu.
Dengan penuh tanda tanya besar, Lifah melangkah, dan mau tak mau harus menghadapi apapun yang ada di depannya. Sesampainya di depan pintu ruangannya, Lifah mengatur nafasnya dan menyiapkan dirinya.
Tok
Tok
Tok!
Diketuklah pintu ruangan beliau sebelum akhirnya di buka olehnya.
Krrreeeeeek!
Decit suara pintu ruangan terbuka. Lifah langsung memberikan senyum manis dan tatapan hormat pada atasannya itu. Lalu, melangkah masuk kedalam ruanganya.
“Maaf pak, bapak memanggil saya?”
“Iya. Duduk!”
Tanpa menunggu instruksi dua kali, dengan memberikan rasa hormat dan sopan Lifah duduk dihadapan pak Nugraha. Hanya ada sekat meja diantara keduanya.
“Langsung saja, saya memanggil kamu ke mari adalah ingin mengatakan bahwa pekerjaan yang kamu kerjakan akhir-akhir ini memang sangat memuaskan. Dan kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu.
Maka dari itu, besok, di perusahaan ini akan kedatangan seorang anak magang. Dan saya juga manajemen telah memutuskan untuk membekerikan kepercayaan kepadamu, untuk menjadikan anak magang tersebut asisten kamu. Kamu bisa mengajarinya dengan baik bidangnya, yang memang sama dengan kamu, lalu mengajari tentang manajemen waktu dan apapun itu, agar dia bisa menjadi sosok seperti kamu, disiplin, jujur, tepat waktu, dan juga cekatan.
Untuk itu, kami sangat berharap kamu bisa mendidiknya seperti potensi dalam diri kamu, yang kerja cepat, cerdas dan cermat.”
“Tapi, apakah tidak terlalu dini untuk saya bisa mengemban amanat ini pak?”
“Kami rasa kamu bisa menjalankan amanat ini Lifah,” yakinkan Pak Nugraha.
Entah harus bagaimana, tak tahu akan senang atau sebaliknya. Padahal ia juga baru dua minggu kerja di perusahaan itu. Tapi mau bagaimana mama lagi, tak ada pilihan. Ini tugas dan perintah.
Lifah keluar dengan wajah yang tak terbaca. Menghembuskan nafas beratnya.
“Semangat Lifah!” menyemangati diri sendiri dan berjalan kembali ke ruang kerjanya.
Tia dan Agus juga sudah sangat penasaran apa yang tengah terjadi pada Lifah. Karena selepas dari ruangan pak Nugraha, ekspresi Lifah benar-benar tidak terbaca oleh Tia.
“Kenapa? Ada apa? Elo enggak dipindah 'kan ke kantor pusat? Lo masih kerja di sini kan?” brondong Tia dengan berbagi pertanyaan.
Lifah mencoba mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan. Lalu memandang satu persatu wajah serius orang yang akhir -akhir ini dekat dengan dirinya.
Lalu menceritakan semuanya kepada mereka berdua.
“What!! Lo hebat sih Fah! Dua minggu kerja langsung dapat asisiten! Keren! Gua aja yang sudah beberapa bulan di sini boro boro Fah. Tapi, melihat kinerja kamu. Memang patut sih di berikan apresiasi, seperti --- asisiten.”
“Setuju banget! Elo terlalu wonder women Fah. Jadi, harus sih dikasih asisten. Lihatlah, kerjaan kamu setiap hari segunung. Entah apa yang dikerjakan tapi melihat kinerja lo, dan menyelesaikan seorang sendiri, dengan memaksimalkan waktu dan seakan tak memiliki waktu untuk istirahat yang singkat itu. Gue setuju oelo diberikan Asisiten,” timpal Pak Agus.
“Yang gue takutkan sebenarnya setelah masa magan usai.. Tentang konsistensi. Statusnya 'kan hanya magang. Bagaimana jika, nanti gue jadi ketergantungan dengannya, dan ketika ditinggalkan olehnya gue jadi merubah kembali kebiasaan yang sudah berjalan,” ungkap Lifah terlalu khawatir.
“Itu adalah tugas lo Fah, meyakinkan atasan agar asisten lo betah di sini dan berasa nyaman dengan elo. Serta meyakinkan atasan agar anak magang itu, bisa menjadi karyawan tetap di perusahaan ini, sehingga elo enggak akan kehilangan sosoknya, gimana?” saran dan masukan Tia.
“Nah, gue setuju tuh!” sahut Pak Agus.
Lifah pun akhirnya memutuskan untuk mempertimbangkan saran dan masukan teman-teman.
-
Begitu keesokan harinya, Lifah sudah datang seperti biasanya. Dia berjalan dengan gontai dan menyapa dengan ramah setiap berpapasan dengan beberapa karyawan yang lainnya.
Baru saja, Lifah masuki dan mendudukki ruangannya. Pak Nugraha sudah datang menghampirinya, dengan seorang pria di sampingnya.
“Pagi Lifah!” sapa pak Nugraha.
“Pagi pak,” balas Lifah dengan mendongak ke arah di mana suara yang sangat dikenalnya itu, sedang berdiri di depan meja ruangannya. Kemudian, Lifah terhentak. Membeku, mematung dari posisinya.
Anda Mungkin Juga Suka





