
Obsesi dan Cinta
Bab 3
Saat Lifah melihat sosok orang yang berdiri disebelah pak Nugraha, dan tersenyum manis kepadanya. Tiba-tiba semuanya terasa Kelu dan juga tubuhnya mendadak menjadi sangat tegang.
Suara deheman pak Nugraha membuat Lifah tersadar dan kembali pada profesional kerja. Membuang segala rasa canggung dan terkejutnya mengenai fakta yang ada. Lalu memberikan senyuman hormat menyambut kedatangan atasannya, dan seseorang yang ada di sampingnya.
“Pagi pak,” Sahutnya, setelah sekian lama diam terpaku.
“Jadi begini Lifah, ini adalah Asisiten yang bapak maksud kemarin.”
Deg!
‘Apa!! Dia?! Tidak salah? Kenapa harus dia??’ batin Lifah.
“Jadi perkenalkan, nama saya Anggara Prampayoga bisa di pangggil apapun yang terpenting masih nama saya. Dan saya pun mohon bantuan dan bimbingannya,” sambil mengulurkan tangannya pada Lifah.
Sebagai profesional kerja, Lifah pun menerima uluran tangannya dan tersenyum hormat pada Anggara disertai anggukan kecil. Sedikit agak canggung bagi Lifah, dan Anggara tahu akan itu, maka dia memilih untuk tidak mengenal Lifah dan bersikap wajar saja. Seperti belum pernah saling bertemu.
“Karena Kamu saat ini sudah memiliki Asisten, maka, ruangan kamu juga akan kami pindah ke bagian yang ada di pojok sebelah sana," sambil menunjuk ruangan barunya, "Agar bisa lebih nyaman dan besar dari tempat ini. Dan semuanya sudah disiapkan, oleh sebab itu, mulai saat ini Lifah boleh memindah semua berkas dan apapun itu keruangan baru, dan bisa juga dibantu oleh pak Anggara Prampayoga untuk memindah semuanya bukan begitu pak?” tanya Pak Nugraha tersenyum simpul ke arah Anggara.
“Siap pak!” semangat Anggara.
Rasanya semakin tak karuan. Sungguh diluar ekspektasi dan prediksi Lifah.
‘Kenapa harus elo Gar?! Oh Dunia, kenapa sesempit ini?! Tuhan, bolehkah aku memohon bertukar dengan yang lain saja!’ teriaknya dalam hati.
“Baiklah. Kalau begitu silahkan laksanakan tugasnya dan semoga hari kalian menyenangkan. Saya pamit ke ruangan saya kembali.”
Sepeninggalan pak Nugraha, keduanya menjadi sedikit canggung. Lifah memilih membereskan berkasnya untuk dipindah ke ruangan barunya. Sedang Anggara, dengan cekatan membantunya.
“Loh, mau kemana Fah?” tanya Tia yang baru datang, sambil melirik ke arah sosok pria tampan di samping Lifah, “Ini siapa?” tanyanya sambil menunjuk pada Anggara.
“Perkenalkan, saya Anggara Prampayoga. Karyawan magang dan ditugaskan untuk menjadi Asisten dari beliau,” sambil menunjuk Lifah dengan santun.
‘Woooow! Keren sekali Lifah. Nasibnya mujur bener. Dikasih Asisten ganteng. Bisa semangat kerja nih kalau seperti ini, melihat yang bening tiap hari,’ batin Tia mengagumi sosok Anggara.
“Terus, ini kalian mau kemana?”
“Disuruh pindah oleh pak Manager ke tempat baru kami,” jawab Lifah.
“Ya...”
Ada raut kecewa dan sedih di wajah Tia, Karena akan kehilangan teman kerja yang asik dan baik. Dan kehilangan pemandangan yang bening dan baru saja semenit yang lalu dikaguminya.
“Gue hanya pindah ruangan kali Ya. Masih satu kantor kok. Kita masih bisa ke kantin bareng,” kata Lifah seakan tahu apa yang dipikirkan oleh temannya itu diakhiri dengan senyum manisnya.
Akhirnya, Tia pun mengangguk mantap.
Sementara Anggara hanya mengamati interaksi keduanya. Sambil menawarkan bantuan pada Lifah mana dan apa saja yang harus dibawanya ke ruangan baru mereka.
Begitupun Lifah langsung memberikan intruksinya, untuk bisa membantu membawa barang yang sudah dikemas di dalam kardus kosong yang tadi sempat dimintanya dari OB yang lewat.
-
Sepanjang bersiap memindah semua berkas itu, hanya ada keheningan diantara mereka. Anggara juga bingung harus mulai bicara dari mana. Yang jelas, dia memilih menahan segalanya.
Segala rindu, segala rasa, yang berkecamuk dalam dada. Jika boleh jujur, bagi Anggara ini moment yang diimpikannya selama ini. Bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya.
Lifah Putri Sanjaya, sosok perempuan yang sampai saat ini, masih mengisi singga sana hati yang terdalam seorang Anggara Prampayoga.
Ingin rasanya Anggara segera menumpahkan kerinduannya. Namun, melihat keadaan saat ini, membuatnya menciut dengan sikap Lifah yang seakan membatasi diri dengan dirinya. Ekspresinya dan harapannya, kini pupus sudah.
Ya, mungkin masih terkejut, begitulah yang dipikirkan olehnya.
‘Mungkin, kamu masih butuh waktu untuk mencerna semua ini. Karena secara tiba-tiba aku harus hadir kembali dalam hidup kamu Fah. Bagaimanapun, aku senang karena hari-hari baru ini, aku akan selalu bersama kamu. Dekat, tanpa ada halangan dan alasan kembali untuk berjauhan denganmu. Tuhan seakan mendengarkan doaku untuk mempertemukan aku dengan dirimu. Dan kali ini, tak akan pernah aku lepaskan kembali. Aku akan merebut hatimu.
Karena, sampai saat ini, aku belum pernah melepas perasan ini dari dalam lubuk hatiku. Tapi, entah denganmu. Semoga kamu juga menyimpan rasa yang masih sama. Melihat dari sorot mata kamu saat ini, ada gurat kekecewaan saat memandang diriku.
Tapi, itu tak menjadi masalah buatku. Aku akan membuat kamu nyaman kembali denganku, dan merebut hatimu, serta ragamu kembali untuk selamanya. Semoga kali ini alam dan takdir berpihak padaku,’ lamun Anggara sambil memandangi apa yang sedang dilakukan oleh Lifah.
“Kenapa bengong?! Enggak mau istirahat?” kata Lifah dingin kepadanya. Walau nyatanya ingin sekali mengabaikannya. Tapi, hatinya tak bisa membiarkan itu.
Anggara terhentak dari lamunannya. Ia merasa senang karena Lifah masih perhatian padanya.
"Jangan berfikir yang macam-macam, gue nggak mau kalau sampai Asisten gue melewatkan begitu saja jam makan siang dan berakhir sakit! Gue juga yang repot!" Berusaha bersikap setenang mungkin, dan biasa saja.
“Boleh. Kita ke kantin bersama, tunggu aku,” pinta Anggara.
Lifah pun tak menolak, dan tidak membolehkan, diam saja melihat Anggara mengekor di belakangnya.
‘Tahan Anggara, tahan! Khusus hari ini, beri ruang untuknya, mencerna atas pertemuan perdana ini!' batin Anggara.
Anggara sangat ingin bersikap seperti dulu kepadanya. Bisa sedekat dulu dan menagih janjinya. Janji yang menurutnya belum usai --- bagi Anggara.
Sedikit info untuk Anggara, dia adalah teman waktu Sekolah menengah ke atas, yang mana sempat dekat dengan Lifah. (Ada di Cerita; Cinta Tulus Sang Badboy)
-
Sesampainya di kantin. Mereka pun bersama satu meja bersama dengan Tia dan pak Agus. Semuanya berjalan seperti semestinya. Sangat lancar.
Saat semuanya sudah memesan terlebih dulu, Anggara pun memesan makanan untuk dirinya dan juga untuk Lifah. Dengan begitu fasih, Anggara memesankan makanan kesukaan Lifah, dan sering dipesan di sana.
Sikap perhatian Anggara yang terlalu spontan pada Lifah, ternyata mengundang keanehan pada kedua temannya yang lain. Lifah juga menjadi salah tingkah dan tak nyaman, karenanya.
'Anggara masih mengingat semuanya?' batin Lifah.
“Wah, hebat banget ya. Belum juga ada satu hari jadi Asisiten lo Fah. Sudah hafal banget apa aja yang lo suka,” celetuk Tia.
Deg!
Lifah pun menegang mendengarnya.
“Justru Karena baru, jadi gue masih sangat mengingatnya,” alibi Anggara untuk mencairkan suasana dengan diakhiri cengiran ya.
"Oh, sampai hal pribadi gini dia lo beri tahu ya Fah. Dia, Asisten lo di kantor. Bukan 24jam, emang dia calon pendamping lo. Sampai apa yang kamu suka dan tidak, harus lo sampaikan, Apa boleh sedetail itu?” timpal Pak Agus.
“Bener juga ya, kenapa sedetail itu?” tanya Tia mulai ingin tahu.
Lagi-lagi, Lifah harus dibuat bingung dan terjebak di situasi ini.
“Ah... Sebenarnya itu memang pertanyaan dari gue. Enggak lucu juga kan kita partner kerja tapi suatu saat jika membelikan sesuatu jadi salah sasaran, gue ingin juga dong lebih mengenal dekat atasan gue,” Alibi Anggara.
“Iya. Begitulah maksudnya tadi saat dia tanya sama gue. Ya sudah sih sekedar makan dan minuman, apa salahnya? Dan untuk kamu Gar, lain kali, tidak perlu repot-repot memesankan makanan dan apapun untukku. Kamu itu Asisten kerja, cukup jadi Asisten saat bekerja. Dan jadilah diri kita masing-masing saat di luar jam kerja," timpal Lifah tegas.
Sebentar kemudian, pelayanan datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Kedatanganya, sekaligus mengakhiri perdebatan mereka, dan mencairkan suasana kembali kondusif.
Anda Mungkin Juga Suka





